Life Without You is Doom

Posted: December 27, 2012 in Flash Fictions
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Joining : FF2in1

Held by : nulisbuku.com 

Status      : Didn’t win

(P.S: I modified it a bit) 

Aku memasuki kamar dengan gusar dan membanting pintu di belakangku kuat-kuat. Aku menghempaskan diri ke atas tempat tidur dan menutup wajahku dengan bantal. Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar, disusul suara pintu terbuka.

“Ada apa, Sayang?” Suara lembut itu bertanya. Tanpa melihat pun aku tahu itu suara Mama.

Aku mendesah kesal. “Aku bosan sekolah. Aku mau berenti aja,” keluhku.

Mama berjalan mendekatiku dan mennyingkirkan bantal yang menutupi wajahku. “Kenapa ngomong begitu?”

Aku duduk dan menyandarkan kepalaku di bahu Mama. “Mama ingat tugas sekolahku yang disuruh bikin short movie itu?”

Aku merasakan anggukan Mama. “Udah cuman dikasih deadline dua minggu, yang bikin kami buru-buru kerja and aku ngedit cuman dalam sehari, pake acara bergadang lagi, eh, nggak dihargai sama sekali. Gurunya nggak bilang mau dikumpul dalam bentuk CD. Aku yang buru-buru kerjanya mana sempat lagi burn ke CD, jadi ya, aku cuman masukkin ke flashdisk aja. Dia dengan sombongnya bilang, dia sengaja minta dalam bentuk CD supaya nggak perlu simpan flashdisk orang. Takut ilang lah, kalo pake CD bisa dia simpan lah, bla bla bla. Ugh! Bete banget!” omelku panjang lebar. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menekan emosiku yang meluap-luap.

Mama mengelus lembut kepalaku. “Terus gimana, tuh?”

Aku menghembuskan nafas kuat-kuat. “Apa boleh buat. Kami nyusul kumpul besok dalam bentuk CD, tapi nilai tertinggi cuma B. Ah, percuma kerja susah-susah!” seruku kesal.

Mama menepuk-nepuk punggungku. “Yang sabar, ya. Sekolah kan, bukan soal nilai, tapi soal pengalaman. Jadikan ini pengalaman buatmu.”

Aku mendengus. “Pengalaman buruk buat apa disimpan?”

“Justru pengalaman buruk itulah yang berharga, Sayang. Kamu jadi dapat pelajaran,” nasihat Mama.

“Pelajaran apa? Nggak perlu kerja tugas susah payah karna nggak bakal dihargai?” sahutku skeptis.

“Ya, bukan begitu. Nanti saat kamu kerja, kamu kan, nggak tau bosmu bakal kayak gimana. Kamu nggak bisa pilih mau punya bos yang kayak gimana. Nah, bisa aja kamu ketemu bos yang lebih menyebalkan. Kalau sekarang kamu udah terbiasa dengan model orang menyebalkan yang seperti itu, kan jadi gampang buat kamu beradaptasi,” jelas Mama.

Aku mendengus. “Ogahlah kalau punya bos kayak gitu. Langsung berenti aku.”

Mama mengangkat sebelah alis. “Wah, kalau gitu, gimana bisa sukses? Cari pekerjaan susah, loh. Kalau tiap bentar mau ganti kerja, repot, dong.”

Aku menghela nafas. Ya, Mama benar juga. Well, Mama memang selalu benar. Kata-katanya selalu bijak dan menenangkan. Aku nggak bisa membayangkan hidup tanpa Mama. Ergh, pasti mengerikan.

Aku pun memeluk Mama erat-erat. “Yeah, you’re right. Thanks, Ma. Emang cuman Mama yang bisa redain emosiku. I can’t live without you.”

Mama tersenyum lembut, lalu mengecup keningku. “I will always be there for you, dear.”

P.S (again): A lil bit about this event. So, I was given a topic and I only got 30 minutes to write a flash fiction, with maximum 500 words long (if I stand corrected). So as you can see, it’s a very short and simple story, and yeah, it is not good, that is why it didn’t win. But I hope you enjoyed it, though! Thanks for reading😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s