Pensil Warna Hidupku

Posted: January 9, 2013 in Flash Fictions
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Joining   : FF2in1

Held by : nulisbuku.com

Status    : Didn’t win

(P.S: I modified it a bit) 

Aku merasakan guncangan di bahuku, semakin lama semakin kencang, memaksaku untuk membuka mata. Aku  mendongak dan mendapati seorang pemuda sedang berjongkok di hadapanku dengan senyuman lebar.

Hey, you okay?” tanyanya lembut.

Aku mengerjapkan mata dan menatapnya heran. “What happened?

Pemuda itu terkekeh. “Kamu amnesia, kah? Tadi, waktu aku baru aja masuk lewat gerbang sekolah, aku liat kamu lari keluar sambil nangis. Penasaran, aku ngikutin kamu. Kamu berenti di bawah pohon ini dan terlihat sangat kacau, lalu kamu tertidur,” ceritanya panjang lebar.

Aku mengerutkan dahi, berusaha mengingat-ingat. Oh, ya. Karna orang sinting itu mendatangiku, dan memintaku kembali padanya setelah mencampakkanku begitu saja. Stupid jerk.

Aku memasang tampang datar. “Jadi, kamu ikut membolos juga?”

Pemuda itu terkekeh. “Mendingan nemenin kamu kan, daripada sekolah?” Ia duduk di sampingku. “So, will you tell me what happened? Atau amnesiamu belum sembuh?”

“Amnesiaku belum sembuh.” Aku membeo.

Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya. “Udah baik-baik kutenemani di sini, masa tidak dihargai?” protesnya.

Aku mendengus. “Salahkan amnesiaku yang kambuh tiba-tiba,” sahutku ketus.

Pemuda itu mendekatkan wajahnya padaku. “Tadi aku melihat mobil Joe. Apa dia kembali ke sini?” tanyanya lirih.

Aku meliriknya tajam. “I don’t wanna talk about it.”

Pemuda itu mengangguk-angguk. “Fine,” sahutnya singkat.

Suasana menjadi sangat hening. Beberapa menit berlalu, tetapi kami tetap bergeming.

Akhirnya, aku menyerah. “Alright,” ujarku pasrah. ” Dia menyesal dan memintaku kembali,” ceritaku singkat. Aku tidak pernah tahan menyembunyikan sesuatu dari pemuda ini.

Pemuda itu menoleh cepat ke arahku. “Apa?”

Yeah, unbelievable, right,” sahutku skeptis, lalu membenturkan dahiku ke lutut.

“Lalu, kamu bilang apa?” kejarnya.

Aku mengangkat bahu. “Tentu saja aku tidak mau,” sahutku datar.

Pemuda itu menepuk-nepuk pundakku. “Hey, I’m here, okay? Kamu masih ingat apa yang Mark Gold katakan pada Maggie saat dia diputusin cowoknya di 17 Again?”

Aku sengaja tidak merespon, membiarkan lawan bicaraku itu menjawab pertanyaannya sendiri.

When you’re young, everything feels like the end of the world. But it’s not. It’s just the beginning. You might have to meet a few more jerks, but one day, you’re gonna meet a boy who treats you the way you deserve to be treated. Like the sun rises and sets with you.”

Aku memejamkan mataku, meresap kata demi kata yang diucapkan pemuda ini. Entah mengapa, kehadirannya selalu bisa membuatku merasa lebih baik. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum lemah. “Aku ingat, kok, dan itu betul sekali. Thanks, Jer.”

Jerome membalas senyumku dengan tulus. “You’re welcome.”

Aku menatap senyuman tulusnya itu. Setidaknya, aku punya sahabat sepertinya. Dan setiap kali aku menatap mata hitamnya yang teduh itu, aku tahu hidupku takkan abu-abu lagi.

Jerome mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambutku. Aku memberengut, membuatnya mendekat dan mengecup puncak kepalaku. Saat itulah aku sadar, hatiku tidak lagi hancur, dan ruang yang kosong itu telah terisi kembali.

(This one is actually a sequel of this one)

P.S (again): A lil bit about this event. So, I was given a topic and I only got 30 minutes to write a flash fiction, with maximum 500 words long (if I stand corrected). So as you can see, it’s a very short and simple story, and yeah, it is not good, that is why it didn’t win. But I hope you enjoyed it, though! Thanks for reading😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s