Bet on Me

Posted: February 20, 2013 in Flash Fictions
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Joining  : FF2in1

Held by : nulisbuku.com

Status    : Didn’t win

(P.S: I modified it a bit) 

Aku sedang asyik mengobrol dengan kedua sahabatku, ketika tiba-tiba pemuda itu datang menghampiri kami.

“Nik, kamu kerja PR Kimia, nggak? Pinjem, dong,” pintanya pada sahabatku, Niki.

Niki mengangguk, lalu menyodorkan buku tulisnya ke arah pemuda itu.

“Kenapa coba, dia pinjem ke kamu? Kan, banyak teman yang lain,” komentar Alvin ketika pemuda itu sudah berlalu dari hadapan kami.

Niki mengangkat bahu. “Entah, tuh. Padahal kan, banyak temen yang lebih pinter dari aku.”

“Aku nggak suka lah, sama dia. Kayaknya belakangan ini dia suka gangguin kamu, deh. Dia sering sms kamu untuk nanya hal-hal yang nggak penting, kan?” tanya Alvin, dan Niki mengangguk.

Alvin mendesah. “Inget, ya, dia itu playboy, jangan mau sama dia.”

Niki mengernyit. “Siapa juga yang mau sama dia?”

Aku tergelak. “Niki kan, setia sama kamu, Vin. Jadi kamu tenang aja,” godaku sambil memasang tampang jail, dan kami semua tergelak.

Benar kata Alvin, belakangan ini, pemuda itu sering menganggu Niki. Entah melepas ikatan rambutnya lah, menyembunyikan barang-barangnya lah, dan lain-lain. Dan selalu aku yang membantu Niki untuk menghadapi pemuda itu.

Lama kelamaan, aku jadi kesal sendiri. Karena ulah pemuda itu, hubungan Niki dan Alvin – kedua sahabatku yang saling suka dan sedang kucomblangin itu, jadi berantakan.

“Eh, Jer, jangan suka gangguin Niki, dong. Gara-gara kamu, dia jadi berantem sama Alvin,” tegurku pada Jere, pemuda yang menjadi sumber masalah sahabatku itu.

Jere mengerutkan dahi. “Loh, apa hubungannya sama aku?” tanyanya heran.

“Alvin  itu orangnya cemburuan. Dia nggak suka Niki deket-deket sama cowok lain. Belakangan ini kan, kamu sering gangguin dan deketin Niki terus. Dia nggak seneng. So, please, stop it. Cari orang lain aja.”

Jere mengernyit. “Emangnya siapa yang ngedeketin Niki?”

Aku mendengus. “Pokoknya, jangan ganggu kami lagi, deh,” ujarku menutup perdebatan kami. Aku tidak mau berurusan dengan pemuda itu lebih lama lagi.

Aku baru saja berbalik untuk meninggalkan pemuda itu, ketika ia menghentikan langkahku. “Aku kan, belum setuju. Kok udah mau cabut aja?”

Aku kembali mendengus kesal. “Jadi, supaya kamu setuju, aku harus ngapain? Aku cuma minta kamu berhenti gangguin kami kok. Is it too much to ask?”

Jere tersenyum jahil. “Way too much.”

Aku memberengut, membuat Jere buru-buru melanjutkan kata-katanya. “Oke, aku bakal setuju, tapi dengan satu syarat.”

Aku mengerutkan dahi. “Apa?”

“Jadi pacarku.”

Aku hampir saja terjatuh dari kursiku. “Hah?!” seruku kelewat kencang.

Jere langsung tertawa terbahak-bahak, dan aku mencubitnya sekuat tenaga. “Cuma bercanda, kan? Nggak lucu!”

Tawa Jere seketika itu juga mereda. Wajahnya berubah serius. “Kamu kira aku gangguin Niki karna mau ngedeketin dia?”

Aku mengangguk ragu, membuat Jere memutar bola matanya. “Well, think again,” sahutnya ringan.

Aku memasang ekspresi menuntun. “To the point, please? You know I hate guessing.”

Jere mendesah pasrah – sedikit dibuat-buat dan berlebihan. “Buat apa coba aku ngedeketin Niki yang udah jelas-jelas sama Alvin? They look good together.”

So?” tanyaku, semakin heran.

“Well, I don’t know. Kadang, cowok nyari perhatian ke cewek yang dia suka dengan cara yang beda-beda, kan? Mungkin aku mau narik perhatian seseorang? Someone who is close to Niki.”

Aku memasang tampang kaget. “Alvin?” ujarku dengan nada shock yang berlebihan. “Aku nggak nyangka kamu gay, Vin.”

Jere menatapku datar. “Aku tau kamu pasti ngebelain Niki tiap aku ganggu,” lanjut Jere tanpa menghiraukan ejekanku.

Aku terdiam, memutar otak untuk memberi respon yang tepat. Sedangkan Jere mengambil diamku sebagai kesempatan untuk melanjutkan aksinya. “Aku masih sayang sama kamu, Lin.”

Aku tertawa skeptis, yang jujur saja terdengar sangat kaku.

Jere merengut. “Serius. Kita emang udah nggak deket lagi, tapi bukan berarti aku udah nggak ada feel lagi sama kamu. Aku tiba-tiba ilang, karna dulu aku masih ragu sama feeling aku. Sekarang aku udah yakin, you’re the one, jadi aku bakal ngejar kamu sampai dapat.”

Aku meneguk ludah. “Aku nggak suka cowok playboy,” sindirku, sengaja menekankan kata ‘playboy’.

Jere mendelik. “Siapa bilang aku playboy? Jangan dengar omongan mereka. Pacaran aja aku belum pernah.”

“Tapi kamu kan, sering PHPin cewek!” ujarku ketus.

“Bukan PHPin. Mereka aja yang kegeeran. Sejak awal, aku cuma suka sama kamu.”

Aku terdiam (lagi). Apa aku bisa memercayai perkataannya?

Jere mendesah. “Aku tau nama baikku udah jelek, tapi please, jangan percaya mereka. Kasih aku kesempatan. Aku bakal buktiin kalo aku nggak kayak yang mereka bilang.”

Aku menatap kedua bola mata pemuda itu, mencari-cari kesungguhan di dalamnya, dan tanpa kusangka, aku menemukannya. Dan aku pun mengangguk.

P.S (again): A lil bit about this event. So, I was given a topic and I only got 30 minutes to write a flash fiction, with maximum 500 words long (if I stand corrected). So as you can see, it’s a very short and simple story, and yeah, it is not good, that is why it didn’t win. But I hope you enjoyed it, though! Thanks for reading😀

Comments
  1. Nathalia DP says:

    cieee..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s