Senjata Makan Tuan

Posted: February 20, 2013 in Flash Fictions
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Joining  : FF2in1

Held by : nulisbuku.com

Status    : Didn’t win 

(P.S: I modified it a bit) 

Aku membenturkan kepala ke meja sambil memegangi perut. Entah kenapa, perutku tiba-tiba sakit sekali. Saat aku kembali mengangkat kepala, aku tersentak ketika menemukan seseorang sedang berdiri tidak jauh dari mejaku dengan tatapan tertuju lurus-lurus padaku. Begitu melihatku mengangkat wajah, pemuda itu langsung mengalihkan pandangan dan berjalan kembali tempat duduknya. Aneh.

Bel istirahat pun berbunyi, membuatku mendesah lega. Aku segera melesat menuju kantin sendirian. Selesai membeli makan, aku kembali ke kelas. Entah kenapa, sepanjang perjalanan pulang-pergi ke kantin tadi, aku merasa ada yang membuntutiku. Ketika aku sampai di lantai tiga, aku melewati sebuah cermin dan melihat pantulan seorang pemuda yang berjalan di belakangku. Wajah yang familiar.

Aku melahap makananku dalam kurun waktu tiga menit dan merasa jauh lebih baik. Pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Inggris. Sepanjang KBM, aku merasa diperhatikan. Beberapa kali aku melirik ke arah pemuda itu, dan pandangan kami selalu bertumbukan. Aku jadi merasa… entahlah. Risih? Atau yang lain? Aku juga tidak tahu jelas.

Usai pelajaran Bahasa Inggris, teman-temanku mulai berkeliaran kemana-mana, mumpung guru yang mengajar pelajaran selanjutnya belum datang. Aku menghampiri kedua temanku yang duduk di deretan paling belakang dan bercanda ria dengan mereka. Tiba-tiba, terdengar suara dentingan gitar dan suara sayup-sayup orang yang sedang bernyanyi. Aku menoleh ke arah sumber suara dan menemukan dua orang temanku sedang bermain gitar di sudut kelas sambil bernyanyi.

Salah satu dari mereka adalah pemuda itu. Saat aku melihat ke arahnya, ia sedang memainkan gitarnya sambil bernyanyi dengan pandangan mata tertuju ke arahku. Aku bisa menangkap senyuman tipis di sela-sela nyanyiannya. Aku sontak menunduk dan kembali memusatkan perhatianku pada kedua temanku, tapi tidak bisa. Kedua bola mataku secara otomatis bergerak ke arah sudut kelas, dan setiap kali aku melakukannya, aku menangkap pemandangan yang sama – pemuda itu sedang tersenyum dalam nyanyian dan dentingan gitarnya, dengan tatapan tertuju ke arahku. Entah kenapa, hal itu membuat jantungku memompa darah lebih cepat daripada yang seharusnya. Oke, mungkin ini yang namanya ‘merasa risih karena diperhatikan’?

Selama beberapa hari ini, entah sudah berapa kali aku mendapati pemuda itu sedang memerhatikanku. Apa ini hanya perasaanku saja? Mungkin ia sedang melihat ke arah lain yang kebetulan searah denganku? Entahlah. Tapi, aku tidak bisa menghentikan gerakan bola mataku yang selalu melirik ke arahnya.

Sebenarnya, pemuda itu manis juga. Aku suka mata hitamnya yang dalam, seperti lautan kelam yang jernih. Pasti asyik jika bisa menyelaminya. Belum lagi senyumannya yang bisa dibilang breath-taking itu, dan sikapnya yang cool, tapi malu-malu, membuatnya terkesan imut dan menggemaskan.

Terima kasih pada rasa percaya diriku yang berlebihan, sekarang seperti ada magnet di antara kami. Apapun yang ada pada pemuda itu menarik perhatianku. Bola mataku tidak bisa berhenti meliriknya, dan jika ada kesempatan, aku selalu beranjak dari kursiku ke dekat tempat duduknya.

Aku juga jadi lebih bersemangat ke sekolah. Setiap masuk ke kelas, hanya satu sosok yang dicari-cari bola mataku. Dan setiap kali menemukannya, hatiku berlonjak girang. Aneh, padahal awalnya pemuda itu yang ‘sepertinya’ memerhatikanku. Kenapa sekarang jadi aku yang memerhatikannya? Dan sekarang, saat aku sudah memerhatikannya, aku malah merasa ia sudah berhenti memerhatikanku.

Saat aku meliriknya, kadang ia tidak sedang melihat ke arahku. Saat aku beranjak ke arahnya, aku merasa ia malah pergi menjauh. Aku merasa…. kecewa. Uh, apa sih maunya? Kenapa ia membuatku berharap? Dan kenapa pula aku berharap? Sepertinya, selama ini aku kegeeran. Ia tidak benar-benar memerhatikanku. Bodoh. Aku jatuh ke lubang yang kugali sendiri.

P.S (again): A lil bit about this event. So, I was given a topic and I only got 30 minutes to write a flash fiction, with maximum 500 words long (if I stand corrected). So as you can see, it’s a very short and simple story, and yeah, it is not good, that is why it didn’t win. But I hope you enjoyed it, though! Thanks for reading😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s