Montase by Windry Ramadhina

Posted: February 28, 2013 in Book Reviews
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku        : Montase

Pengarang        : Windry Ramadhina

Penerbit           : Gagas Media

Jumlah Halaman  : 368 halaman

Montase

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Cinta itu seperti pencuri di malam hari. Datang diam-diam tanpa diundang, mencuri hati kita. Kita bisa jatuh cinta kapan saja dan dengan siapa saja. Semuanya muncul secara tiba-tiba, tanpa alasan, karna cinta yang didasari oleh sebuah alasan tidak akan bertahan lama. Ketika alasan itu sudah tidak cukup kuat atau pudar, rasa cinta itu pun lama kelamaan akan hilang bersamanya.

Karya brillian dari Windry yang berjudul Montase ini menceritakan mengenai seorang pemuda bernama Rayyi yang hidup di bawah bayang-bayang ayahnya, sang produser sinetron yang terkenal. Ia ditekan oleh harapan ayahnya untuk melanjutkan takhtanya.  Padahal ia tidak menyukai bidang ayahnya itu. Ia memiliki cita-citanya sendiri. Namun, ia tidak cukup berani untuk memperjuangkan cita-citanya itu, jadi ia hanya tunduk di bawah perintah sang ayah.

Lalu ia bertemu dengan seorang gadis transferan dari Jepang bernama Haru, yang juga menekuni bidang film dokumenter, seperti dirinya. Kasus pada Haru juga mirip dengannya. Haru ingin menjadi pelukis, tetapi kedua orangtuanya sangat menyukai film dokumenter, sehingga ia memutuskan untuk menjadi pembuat film dokumenter. Yang berbeda adalah, Haru tidak dipaksa oleh orangtuanya. Itu adalah keinginannya sendiri.

Haru membuka mata Rayyi, menyentaknya ke dalam dunia yang berbeda. Sudut pandangnya diubahkan, dan gadis itulah yang memberinya keberanian untuk memperjuangkan cita-citanya.

Sifat ceroboh Haru, dan segala yang ada padanya sangat menarik perhatian Rayyi, tetapi ia berusaha mengabaikannya. Namun takdir berkehendak lain. Seakan ada magnet di antara mereka, yang terus mempertemukan dan akhirnya menyatukan mereka.

Tanpa sadar, benang merah di antara mereka telah ditautkan oleh sang takdir, dan Haru telah menorehkan kesan yang sangat dalam di hati Rayyi, sehingga ketika mereka berpisah, sebagian hatinya ikut pergi bersama gadis itu. Kalau Haru benar-benar pergi, sanggupkah Rayyi menghadapi kenyataan itu?

Novel yang sangat mengharukan ini sanggup menyayat hati siapapun yang membacanya. Novel ini bukan sekadar kisah cinta biasa. Ceritanya sarat akan pesan moral, yang berpesan kita harus terus mengejar mimpi kita dan kalau kita terus berusaha, kita pasti bisa mencapainya. Selain itu, novel ini juga mengisahakn tentang obsesi seseorang, yaitu pada film dokumenter, dan mendeskripsikannya dengan baik – latar tempat, suasana, dan detail-detail lain yang bisa mengaktifkan daya imajinasi para pembaca.

Bahasanya yang komunikatif menciptakan hubungan yang akrab dan hangat dengan pembaca. Pembaca merasa seakan-akan sang tokoh sedang menceritakan isi hatinya pada pembaca. Kisah penuh perjuangan dan romantisme itu ditutup dengan sebuah ending yang tak disangka-sangka, dan menjadi magnet yang menarik bulir-bulir air mata.

Sudut pandang yang digunakan hanya satu, yaitu sudut pandang orang pertama dari sisi Rayyi. Itu membuat cakupan penulis menjadi agak sempit, karena tidak dapat menyelami pikiran tokoh lain. Tapi Windry dapat menyulapnya menjadi sesuatu yang misterius dan menumbuhkan rasa ingin tahu pembaca, lalu dengan cara yang unik ia mengungkap rahasia dan misteri-misteri yang muncul satu per satu. Alurnya yang maju-mundur membuatnya terasa lebih menarik. Flashback mengenai hal-hal yang menjadi misteri atau kenangan indah memang menambah cita rasa yang berbeda pada sebuah cerita.

Pendeskripsian akan karakter dan pikiran tokoh disajikan dengan sangat mendetail, sehingga tokoh-tokoh yang ada terasa hidup dan nyata. Windry sangat menghayati perannya sebagai ‘aku’ atau sang tokoh utama di novel ini – Rayyi, sehingga segalanya terasa real.

Warna sampulnya memang kurang cerah – warna cream dengan goresan sketsa pensil, sehingga kurang menarik perhatian pembaca, tetapi sentuhan ujung pensil yang mensketsa gambar sebuah taman dengan pohon sakura dan bangku taman itu sungguh bermakna, seakan Haru yang menggambar latar tempat ia berada itu. Lalu ganbar itu disketsa di atas sebuah kertas foto lama – yang masih berupa rol dan berwarna hitam-putih, membuat kesan unik dan antik, dan juga menggambarkan isi novel. Belum lagi judulnya yang unik, yang merupakan istilah dalam fotografi yang terdengar asing di telinga kaum awam, membuat pembaca merasa penasaran dengan isi novel tersebut. Dan saya yakin kata ‘montase’ itu memiliki makna yang dalam.

Novel ini sangat menarik dan mengharukan. Saya sangat merekomendasikan novel ini kepada siapa saja, karena novel ini bukan novel yang mendayu-dayu dan terlalu romantis, sarat akan pesan moral pula, sehingga dapat dibaca oleh semua kalangan. Novel ini selain dapat menghilangkan rasa jenuh yang melanda, juga sanggup membangkitkan rasa semangat para pembaca untuk terus mengejar mimpi, setinggi apapun itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s