Bayang-Bayangmu

Posted: March 12, 2013 in Short Stories
Tags: , ,

[COPYRIGHTED!]

Aku memasuki ruang makan dengan langkah gontai. Begitu sampai di ambang pintu, aku melihat semua anggota keluargaku telah duduk rapi di kursi masing-masing – Papa di tengah, Mama di sebelah kirinya, dan Kak Fredrico di sebelah kanannya.

“Pagi, Pa, Ma, Kak,” sapaku sambil menyeret langkahku menuju kursi di sebelah Kak Fredrico dan duduk di sana – seperti biasa.

Kami semua sudah berpakaian rapi – aku dengan seragam sekolahku, Kak Rico dengan kemeja lengan pendek dan celana panjangnya, Papa dengan setelan jasnya, dan Mama dengan terusan biru mudanya. Sarapan pun telah terhidang rapi di atas meja makan – sepiring penuh sandwich untuk kami berempat, segelas susu coklat panas untukku, dua cangkir kopi untuk Papa dan Kak Rico, serta secangkir teh untuk Mama.

Setelah mengucapkan doa singkat, kami pun menyantap sarapan kami. Aku menggigit sandwichku dengan tak selera. Aku sangat tidak bergairah hari ini. Mengerjakan soal-soal Fisika semalam suntuk telah menguras habis energiku. Tetapi, aku sudah terbiasa.

“Pagi-pagi kok udah lesu begitu? Contoh dong kakakmu, tiap pagi wajahnya pasti cerah dan bersemangat,” tegur Papa.

Aku mengangkat bahuku acuh tak acuh. “Aku bukan dia,” jawabku dingin.

Ruang makan kami pun kembali hening. Semua sibuk dengan makanan masing-masing. Aku menghabiskan sandwichku dalam sekali suap dan dengan susah payah menelannya sambil meneguk habis susu cokelatku. Begitu selesai, aku langsung bangkit berdiri, lalu menggendong tas ranselku meninggalkan ruangan, sedikit terburu-buru. Bukan apa-apa, aku hanya tidak mau berlama-lama di sana dan membiarkan ocehan-ocehan yang keluar dari mulut Papa membakar telinga dan hatiku.

Aku muak dengan perlakuan Papa yang selalu mendewa-dewakan Kak Rico dan menganggapku tidak ada. Memang, Kak Rico adalah sosok yang nyaris sempurna. Seberapa kuat pun aku berusaha untuk menyamainya, tetap saja tidak berarti apa-apa di mata Papa. Jadi aku bertekad untuk membuktikan bahwa aku juga bisa sehebat Kak Rico, bahkan lebih. Apapun caranya, aku akan melakukannya, termasuk belajar tanpa henti 24/7.

Setelah berpamitan, aku melangkah ke luar rumah dan Jazz hitamku pun melaju pelan menuju gedung SMA Pelita. Aku benar-benar tidak berniat berangkat ke sekolah hari ini, tapi ada tujuan penting yang harus kucapai, yang membuatku tetap bertahan di sekolah ini.

Suasana kelasku pagi ini sangatlah ribut. Semua temanku sedang heboh membahas soal-soal Fisika. Aku berjalan pelan menuju tempat dudukku dan menghempaskan tubuhku di atas kursi.

“Udah siap ulangan, Ric? Dapat cepek lagi lah, ya?” ujar Rayan, teman sebangkuku.

Aku hanya mengangkat bahuku dengan lesu. Aku sudah belajar mati-matian, jelas saja aku mengharapkan nilai sempurna. Aku membuka buku Fisikaku dan mulai tenggelam di dalamnya. Tak terasa, bel masuk berbunyi nyaring, menghentakku kembali ke dunia nyata. Suara seorang guru dari speaker kelas pun mulai terdengar. Seperti biasa, kegiatan belajar mengajar diawali oleh renungan singkat dan doa pagi.

Begitu doa berakhir, Pak Rahmat, guru Fisika kami, memasuki ruangan sambil mengenggam tumpukan kertas yang penuh dengan tulisan tangan. Semua murid menatapnya dengan pandangan horor. Maklum, pelajaran Fisika selalu menjadi pelajaran yang paling ditakuti siswa-siswi, karena soal-soal killernya yang sanggup membuat kepala meledak dalam hitungan menit.

“Oke, ulangan akan segera dimulai. Ayo masukkan buku kalian,” perintah Pak Rahmat.

Semua temanku menurutinya dengan wajah-wajah gugup. Pak Rahmat mulai membagikan soal dan ulangan pun dimulai.    Aku menghela nafas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu mulai membaca tulisan yang terpampang di atas kertas di hadapanku. Soal demi soal dapat kujawab dengan mudah, walaupun ada beberapa soal yang memakan waktu lama dan mengobrak-abrik isi otakku. Aku sempat merasa pusing dan mual sejenak, mungkin karena otakku mulai penat dengan soal-soal pembunuh jiwa ini.

Saat tanganku sedang asyik menari-nari di atas kertas ulangan, tiba-tiba saja tulisan-tulisan di hadapanku mulai bergoyang-goyang. Meja di hadapanku berputar-putar, pandangan dan pendengaranku mulai mengabur, lalu sekonyong-konyong darahku terasa surut dari seluruh tubuhku.

Beberapa detik kemudian, aku membuka mataku perlahan dan melihat sosok-sosok familiar mengelilingiku. Berbagai macam suara bercampur aduk di telingaku. Aku mengerjap beberapa kali dan berusaha bangkit dari tempatku terbaring. Kepalaku terasa sangat pusing, seperti sehabis dihantam beban lima ton.

“Kamu nggak apa-apa, Ric?” Suara berat seorang laki-laki terdengar jelas di telingaku.

Aku menoleh dan melihat Pak Rahmat sedang berdiri memegangi lenganku. Ada apa ini? Apakah aku tertidur dan terbang ke alam mimpi? Pandanganku semakin lama semakin jelas. Wajah-wajah panik dan pucat sedang menatapku horor, yang kubalas dengan pandangan heran.

Felicia memasuki ruangan sambil membawa secangkir teh panas, diikuti oleh dua orang guru. Felicia menyodorkan cangkir teh itu ke arahku. Aku menyambutnya dan Pak Rahmat menyuruhku untuk meminumnya sampai habis. Setiap teguk teh panas itu seakan mengembalikan setiap tetes darah yang surut, membuatnya kembali mengalir dalam pembuluh darahku. Aku merasa seribu kali lebih baik sekarang.

“Ayo ke UKS, Nak. Kamu butuh istirahat,” ajak Bu Shanny, guru BPku.

Setelah beberapa menit termangu, akhirnya otakku sanggup mencerna semua kejadian ini. Aku mengangguk dan membuntuti langkah kecil Bu Shanny. Aku berbaring di tempat tidur UKS yang nyaman sambil memijat kepalaku. Mengapa aku bisa sampai pingsan? Padahal selama ini aku tidak pernah pingsan. Bisa dibilang, tubuhku kuat. Aku jarang sakit. Tapi mengapa di kala aku sedang berjuang keras demi mencapai tujuanku, aku malah tumbang tanpa sebab seperti ini? Benar-benar mengecewakan.

Bel istirahat pertama pun berbunyi. Aku sudah merasa pulih, jadi aku memutuskan untuk kembali ke kelas, daripada duduk diam di ruang UKS.

“Ric, kamu nggak apa-apa? Udah baikan?” sambut teman-temanku heboh begitu aku sampai di ambang pintu kelasku.

Aku tersenyum lemah. “Aku nggak apa-apa kok. Santai aja,” sahutku menenangkan.

“Ah, kamu ini! Jangan terlalu maksa diri dong! Nggak baik, tau. Kesehatan itu nomor satu,” omel Agatha.

“Yup. Kami tau kamu mau jadi yang terbaik, tapi kasihanin fisikmu juga. Jangan terlalu dipaksa,” sahut Stefani.

Aku memutar bola mataku. “Ya, ya, aku tau,” sahutku acuh tak acuh.

Hari itu kuhabiskan dengan mengangguk dan menenangkan teman-temanku yang terus menceramahiku akibat peristiwa pingsan tadi. Bukan keinginanku untuk pingsan tiba-tiba seperti itu. Kejadian ini benar-benar tak disangka-sangka.

Begitu sampai di rumah, aku segera beranjak menuju kamarku. Untung saja Papa dan Mama sedang tidak ada di rumah jam segini, jadi mereka tidak perlu tahu soal hal ini.

“Udah pulang, Ric?” tanya sebuah suara yang berasal dari ruang duduk.

Aku tersentak sedikit, lalu sedetik kemudian aku teringat kalau hari ini Kak Rico pulang lebih awal dari biasanya.

“Kakak dengar kamu tadi pingsan, ya?” tanyanya lagi.

Aku tersentak. Bagaimana Kak Rico bisa mengetahuinya?

“Yeah. Kok Kakak bisa tahu?” tanyaku heran.

“Tadi sekolah telepon ke rumah,” sahut Kak Rico singkat. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya lagi.

Aku meringis begitu mendengar pertanyaan itu. Entah sudah berapa kali aku mendengar pertanyaan itu dilontarkan hari ini.

“Tenang aja, Kak. Aku masih hidup kok,” sahutku sekenanya sambil berlalu menuju kamarku.

Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur dan memejamkan kedua mataku. Karena peristiwa ini, aku jadi harus mengulang ulangan tadi. Sudah susah-susah belajar, malah begini pula hasilnya, keluhku dalam hati. Aku mendesah. Apa boleh buat. Yang terpenting adalah hasilnya. Walaupun ulangan ulang, aku harus mendapat nilai terbaik.

Tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamarku diketuk. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan merenggangkan tubuhku. Sepertinya aku sudah terlelap selama beberapa jam. Mungkin teman-temanku benar, aku memang kelelahan dan butuh istirahat.

“Ric, ini aku. Boleh masuk?” Suara Kak Rico terdengar dari balik pintu.

Aku mendengus. Kak Rico pasti ingin membicarakan masalah tadi. Aku sama sekali tidak berminat untuk membahas masalah itu. Aku melirik jam dinding yang terpajang manis di dinding kamarku. Pukul 6 tepat. Sebentar lagi Papa dan Mama pulang, dan aku yakin Kak Rico akan melaporkan kejadian tadi pada mereka. Daripada aku mendengar omelan-omelan pedas mereka, lebih baik aku pergi dari sini.

Aku mencuci mukaku dan beranjak menuju jendela besar di sudut ruangan. Suara ketukan pintu dan panggilan Kak Rico masih terdengar sesekali, tapi aku mengabaikannya. Biar saja Kak Rico menganggap aku sedang tidur dan akhirnya berhenti mengetuk pintuku. Aku membuka jendela kamarku, lalu menyelinap keluar.

Tanpa sadar, kakiku sudah membawaku pergi menuju padang ilalang di belakang gedung terbengkalai di dekat rumahku. Tempat ini sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya dan tidak pernah ada yang datang untuk mengurusnya lagi. Aku memilih tempat yang agak tersembunyi dan duduk di atas rumput yang hijau. Suasana di tempat itu sunyi dan tenang. Aku selalu datang ke sini untuk mencari udara segar dan menenangkan hati.

Udara sore menjelang malam yang dingin menyapu kulit dan wajahku. Suara jangkrik mulai terdengar dari berbagai arah, membuat suasana sunyi ini semakin hampa. Aku menyandarkan kepalaku pada tembok di belakangku dan memejamkan mata sejenak. Kejadian-kejadian tadi kembali terputar di otakku seperti sebuah film. Begitu mengingat usaha sia-siaku demi dihargai oleh Papa, kepalaku terasa berat dan dadaku terasa sesak.

“Suasana yang menenangkan, ya?” Sebuah suara familiar yang berasal dari belakangku membuatku terlonjak kaget.

Aku menoleh dan kembali tersentak ketika mengenali sosok tinggi yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku. Sosok itu sedang menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.

“Kamu sering ke sini?” tanyanya lagi.

Aku tidak menjawab. Entah karena masih kaget atau karena aku sedang tidak berminat untuk mengobrol.

Listen, you know you don’t have to study that hard,” jelasnya.

Aku mendengus. “Kelihatannya nggak seperti itu,” sahutku sinis. “Sudahlah, Kak, aku lagi nggak niat ngebahas ini, leave me alone,” pintaku.

Kak Rico tidak mengindahkan kalimat terakhirku. Ia malah duduk di sebelahku dan menatapku lekat-lekat. “Mungkin Papa emang sering ngebandingin kamu sama aku, dan kesannya kayak Papa mau kamu jadi seperti aku. Tapi itu bukan berarti kamu harus ngikutin semua jejakku. Kamu bisa ngeraih mimpimu dengan caramu sendiri.”

Aku membalas tatapan kakakku. “Aku capek selalu dibandingin sama Kakak. Aku mau buktiin kalau aku juga bisa sehebat Kakak, bahkan lebih. Dan satu-satunya cara ya, seperti ini,” jawabku.

Sorry, kalau kamu ngerasa terpojok karna aku. Tapi, kamu harus tau, kamu bisa jadi lebih hebat daripada aku. Dan caranya bukan dengan belajar nonstop seperti yang kamu lakukan sekarang. Kamu nggak harus selalu jadi juara umum, atau ikut olimpiade, atau menangin lomba ini dan itu. Kamu bisa buktiin dengan cara lain, caramu sendiri.”

Aku menatap pemandangan padang ilalang di hadapanku sambil menerawang. Aku tidak punya kelebihan yang spesial. Kak Rico bisa dibilang hampir sempurna – ia tampan, gagah, lembut tapi tegas, ceria dan bersemangat, pintar, cakap, serta bijaksana. Ia hebat dalam berolahraga dan bermain musik. Aku takkan pernah bisa menandinginya. Soal fisik, mungkin aku mirip dengannya. Tapi, untuk bakat dan keahlian, sampai saat ini, aku hanya sanggup menjadi juara umum berturut-turut sepertinya dulu. Aku tidak jago berolahraga ataupun bermain musik.

“Caraku sendiri? Seperti apa? Aku nggak punya bakat khusus kayak Kakak,” ujarku.

Kak Rico mengangkat sebelah alisnya. “Kamu salah. Siapa bilang kamu nggak punya bakat khusus?”

Kali ini, giliran aku yang mengangkat alisku. “Emangnya bakatku apa?”

Kak Rico memutar bola matanya. “Itu, foto-foto yang kamu pajang di kamarmu dan kamu masukkin ke album-album, itu apa namanya?” tanyanya gemas.

“Itu bukan apa-apa, hanya sekadar hobi. Lagian, itu semua nggak ada artinya di mata Papa,” sahutku ketus.

Kak Rico mendesah. “Kamu salah lagi. Aku udah sering ngelihat hasil fotomu, dan itu bukan cuma sekadar objek yang diabadikan dengan kamera. It’s so much more than that. Setiap fotomu punya makna tersendiri, dan nggak mungkin Papa nggak bangga ngelihatnya. Papa cuma nggak nunjukkin rasa bangganya aja,” jelas Kak Rico.

Aku terdiam. Benarkah begitu? Aku memang sangat menyukai fotografi. Ada banyak sekali objek di dunia ini yang sangat indah untuk diabadikan. Aku selalu membawa kameraku ke mana-mana, memotret setiap hal yang menurutku menarik untuk dipotret. Tetapi, aku hanya menganggapnya sebagai hobi. Aku tidak menyangka itu adalah bakat terpendamku.  Lagipula, Papa tidak pernah mengindahkannya. Ia menganggap itu hanyalah hobi tak berguna. Yang berharga di mata Papa hanyalah penghargaan-penghargaan dan sertifikat-sertifikat, seperti yang selalu diraih Kak Rico.

Are you sure? Kurasa Papa nggak nganggap bakatku ini sesuatu yang berarti.”

Kak Rico menggeleng dan kembali mendesah. “Ini yang salah. Mindset dan caramu menanggapi nasihat Papa. Emang bener Papa sering mojokkin kamu dengan kelebihanku, tapi itu bukan berarti kamu harus jadi seperti aku. Kamu selalu merendahkan diri, menganggap aku yang paling hebat. Kamu rasa, untuk menjadi hebat, kamu harus bisa ngalahin aku dan ngebuktiin kalau kamu juga bisa ngelakuin apa yang kulakuin. Padahal, kamu bisa ngebuktiinnya dengan cara lain. Misalnya, dengan nunjukkin bakat khususmu, yang nggak aku punya. Kamu jago fotografi, sedangkan aku nggak. It means something, right?

Aku kembali terdiam. Memang benar yang dikatakan Kak Rico. Tapi, apakah aku benar-benar bisa menjadi seperti yang Kakak katakan?

Seperti bisa membaca pikiranku, Kak Rico melanjutkan. “Jangan meragukan dirimu sendiri. Kamu harus yakin kamu bisa. Yang paling penting, kamu harus percaya sama dirimu sendiri dulu, baru orang lain bisa percaya sama kamu. Mulai sekarang, cari bakat dan minatmu yang sesungguhnya, temukan tujuan hidupmu, dan terus kejar mimpimu. Jangan terlalu pedulikan perkataan orang lain. Buktikan kalau kamu bisa meraih apa yang kamu mau.”

Aku menghela nafas dalam-dalam. Kata-kata Kak Rico barusan mulai teresap ke dalam otakku dan menjadi motivasi baru dalam hidupku. Aku tahu semua yang Kak Rico katakan benar. Mulai sekarang, aku akan menjalani hidupku dengan caraku sendiri. Walaupun aku masih berjalan di bawah bayang-bayang kesempurnaan Kak Rico, tapi aku tidak keberatan. Aku akan menjadikannya panutan, dan suatu hari, aku akan membuktikan bahwa aku juga bisa menjadi panutan seperti dirinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s