Dunia Kelabu

Posted: March 12, 2013 in Short Stories
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

“Hei, Jimmy! Udah berapa ratus kali gue bilang, jangan buang sampah sembarangan! Jangan mentang-mentang ada yang piket, lo seenaknya buang sampah sembarangan di sini. Pungut!” bentak Cherri, si seksi kebersihan yang sok bersih.

“Ah, bising! Terserah gue dong mau buang sampah dimana,” makiku.

Aku memang tidak pernah peduli dengan lingkungan sekitarku. Bagiku, bumi ini memang sudah rusak dan tidak ada gunanya lagi untuk dipulihkan. Toh nantinya bumi ini akan kiamat, jadi untuk apa peduli.

Bel pulang berbunyi, semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Aku berjalan kaki menuju rumah seperti biasa. Tiba-tiba, aku mendengar ada suara familiar yang meneriakkan namaku.

“Jimmy!”  teriak suara itu.

Dari kejauhan, terlihat sesosok gadis mungil yang sedang berlari ke arahku. Rambut hitamnya yang panjang dikuncir ekor kuda. Ia menggendong ransel kecil berwarna hijau dan melambai-lambaikan selembar kertas.

Ah, Cherri. Mau apa sih dia? Aku malas berurusan dengannya, jadi aku pun terus berjalan dan pura-pura tidak mendengarnya.

“Jimmy!” teriak Cherri sekali lagi dengan suara khasnya yang tinggi, sambil berusaha meraih pundakku.

Aku pun terpaksa berhenti dan menanggapinya. “Ada apa?” tanyaku sinis.

“Ini!” Ia menyodorkan selembar kertas padaku. “Itu brosur seminar. Gue rasa lo perlu ikut seminar itu,” ujarnya.

Aku pun melirik tulisan yang tertera pada secarik kertas itu. ‘Membasmi Musuh Dunia’.

“Tentang apa ini?” tanyaku.

“Ada deh, pokoknya datang aja. Tempat dan waktunya udah tertera di sana. See ya.” Ia pun beranjak pergi.

Aku memandangi selembar kertas itu. Ah, siapapun tahu aku tidak akan datang. Aku meremas brosur itu dan melemparnya ke sembarang tempat.

Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Pagi yang indah, udara yang segar, kicauan burung yang memecah keheningan pagi, langit yang biru, sang matahari pagi yang baru saja beranjak dari singgasananya, jejeran pohon yang rindang di sepanjang jalan, orang-orang yang berlalu lalang. Ah, suasana pagi yang selalu kunikmati. Aku memasuki gerbang sekolah dan menyusuri jalan setapak menuju gedung sekolahku. Bunga-bunga indah menghiasi taman sekolah, warna-warninya memperindah suasana.

Aku berhenti di ambang pintu kelas, lalu melihat ke sekeliling. Kelasku terlihat seperti biasa – lantai dan papan tulis yang masih bersih, meja dan kursi yang tersusun rapi, pot-pot bunga yang berjejeran di depan kelas, segala perabot kelas yang terletak pada tempatnya dan terlihat mengkilap, suasana yang nyaman untuk belajar.

Bel masuk pun berbunyi dan semua siswa beranjak memasuki kelas. Aku menyiapkan buku-buku dan alat tulis yang dibutuhkan dan siap untuk memulai kegiatan belajar mengajar hari ini. Kegiatan belajar mengajar pun berjalan seperti biasa.

Jarum jam menunjukkan pukul 1 siang, saatnya untuk pulang. Aku mengemas barang-barangku dan bergegas pulang. Sesampainya di rumah, aku melakukan hal-hal yang biasa lakukan, seperti makan, mandi, menyusun buku untuk esok hari, dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Tiba-tiba, bel pintu rumahku berbunyi. Aku segera membukakan pintu. Ternyata, yang datang adalah Cherri, mengenakan terusan berwarna ungu muda, dengan bando yang menghiasi rambutnya dan sepatu sutra yang membaluti kaki mungilnya.

“Loh, Cher? Ngapain lo ke sini?” tanyaku kebingungan. Tidak biasanya Cherri berpenampilan seperti ini. Biasanya ia tidak pernah memedulikan penampilannya.

“Lo lupa, ya? Hari ini jam 6 kan ada seminar yang kemarin gue kasih tau. Jadi pergi, kan? Ayo siap-siap, terus kita berangkat,” ujarnya bersemangat.

Butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna kata-katanya. “Loh, loh, loh? Sejak kapan gue bilang gue mau ikut? Ogah ah, gue ada banyak kerjaan.” tolakku.

“Ah, ayolah. Kan jarang-jarang kita pergi bareng.” Ia pun menarik-narik bajuku dan menatapku dengan pandangan persuasif.

“Iya, iya, gue ikut. Gue siap-siap dulu. Lo masuk dan duduk aja dulu. Mau minum apa?” tanyaku basa-basi, berusaha sopan, tetapi sepertinya gagal.

“Nggak usahlah, habis lo siap-siap kita langsung berangkat,” jawabnya.

Aku pun masuk ke kamarku dan mengambil kemeja lengan pendek dan celana panjang terbagusku dan mengganti pakaian. Beberapa menit kemudian, aku sudah selesai bersiap-siap dan kami pun segera berangkat. Sesampainya di tempat tujuan, beberapa orang yang sudah sampai di sana menyambut kami – lebih tepatnya, menyambut Cherri. Rupanya seminar ini adalah acara gereja Cherri yang memang terbuka untuk semua orang. Cherri pun berbaur dengan beberapa kenalannya dan memperkenalkanku kepada mereka.

Gerejanya cukup besar dan nyaman, full AC, ada banyak kursi yang tersusun rapi, proyektor dan laptop yang siap digunakan untuk seminar, spanduk besar yang bertuliskan judul seminar tersebut, dan beberapa pernak-pernik berbau rohani yang menghiasi sekeliling gedung gereja.

Selang beberapa menit, seminar tersebut pun dimulai. Pembicaranya masih muda, pria yang berusia sekitar 20-25 tahun, tubuhnya tinggi dan tegap, rambutnya tersisir rapi, mengenakan jas hitam yang terlihat masih baru, senyumnya yang ramah dan suaranya yang lantang membuat para pendengar bersemangat untuk mendengarnya.

“Selamat sore, saudara-saudari yang saya hormati. Terima kasih atas kehadiran saudara sekalian. Seminar pada sore ini akan membahas tentang bagaimana cara kita membasmi musuh dunia. Kata ‘musuh dunia’ memiliki banyak makna. Tetapi, masalah terbesar yang sedang dihadapi oleh dunia ini adalah polusi. Polusi ada banyak macam, contohnya polusi udara, tanah, air, dan sebagainya. Hampir semua hal di dunia ini telah terkontaminasi oleh polusi.

Pernahkah Anda bayangkan, apa yang akan terjadi 10 tahun lagi, bila kita sebagai penghuni dunia yang bertanggung jawab atas bumi ini, tidak peduli terhadap polusi dan membiarkannya begitu saja? Mungkin pohon-pohon yang rindang akan digantikan oleh tumpukan-tumpukan sampah yang berbau busuk. Atau mungkin udara segar yang kita hirup setiap pagi akan digantikan oleh bau asap yang menyesakkan dada. Kicauan burung akan digantikan oleh dengungan knalpot kendaraan-kendaraan bermotor. Langit yang biru akan berubah warna menjadi abu-abu karena diselimuti oleh gumpalan asap. Matahari tidak akan terlihat lagi, tidak akan ada hari cerah yang menyenangkan lagi. Pernahkah terbayangkan oleh Anda?

Mungkin terlintas di benak Anda bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Tetapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bila kita terus membiarkan polusi di bumi ini merajalela, tentu polusi itu akan membludak dan merusak bumi ini. Maka dari itu, kita harus menghentikannya.”

Ya, ya, ya. Semua orang juga sudah tahu itu, gerutuku dalam hati. Aku paling tidak suka membahas hal-hal seperti ini. Semua itu hanyalah omong kosong yang selalu menjadi motto banyak orang. Go Green, Save the Earth, bla bla bla. Aku sampai bosan mendengarnya. Kata-kata itu hanya sekadar keluar dari mulut, tetapi tidak benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika benar-benar diterapkan pun, tidak akan memberi dampak yang besar, toh masih banyak orang lain yang terus mencemari bumi ini.

Jarum jam seakan-akan sudah sangat lelah untuk terus bergerak, sehingga waktu berlalu dengan sangat lambat. 2 jam yang membosankan itu pun akhirnya berakhir. Seminar tersebut ditutup dengan hidangan ramah tamah.

“Ayo dimakan, Jim, jangan malu-malu,” ujar Cherri.

Aku pun mencicipi beberapa jenis makanan, lalu pamit pulang. Sesampainya di rumah, jarum jam rumahku telah menunjukkan pukul 9 malam. Aku pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk tidur. Sungguh hari yang melelahkan. Aku pun berbaring dan segera terlelap.

Aku melihat cahaya putih yang sangat terang menyinari kamarku. Tidak seperti biasanya, matahari bersinar sangat terik hari ini. Sepertinya matahari telah bertumbuh dua kali lipat dari ukuran semula. Tiba-tiba aku teringat, sudah jam berapa sekarang? Mengapa hari sudah terang begini? Aku pun segera membuka mataku dan melirik jam. Oh, untunglah, ternyata baru pukul 6 pagi. Aku pun bergegas bangun, membereskan tempat tidur, menggosok gigi, mandi, mengenakan seragamku, sarapan, dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Aku mengenakan sepatu sekolahku dan beranjak pergi.

Begitu aku membuka pintu, pemandangan pertama yang tertangkap mataku membuatku terpana. Benda-benda di sekitarku tidak terlihat jelas, seperti diselimuti oleh kabut yang tebal. Yang terlihat hanyalah warna abu-abu dimana-mana. Aku menghirup nafas, dan yang terhirup bukanlah udara yang segar, tetapi asap yang menyengat paru-paruku dan bau busuk sampah. Aku pun berjalan perlahan, berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Aku menyusuri jalan yang biasa kulalui, tetapi jalan itu tidak terlihat familiar, sehingga aku pun ragu. Namun, tidak ada jalan lain yang mengarah ke sekolahku, jadi aku yakin aku menyusuri jalan yang tepat. Tidak ada lagi pohon-pohon rindang di sepanjang jalan itu, melainkan tumpukan-tumpukan sampah yang menggunung di sepanjang jalan, sungguh bau dan menjijikkan. Selama 15 tahun aku tinggal di pemukiman ini, baru pertama kali aku melihat lingkungan ini begitu kotor. Ada apa gerangan?

Kicauan burung tidak lagi terdengar, yang kudengar hanyalah dengungan mesin mobil dan motor yang berlalu lalang. Biasanya jalan-jalan di sekitar rumahku sepi, tidak pernah sepadat ini. Aku memasuki gerbang sekolah dan menyusuri jalan setapak menuju gedung sekolahku. Terlihat tanaman-tanaman yang layu di taman sekolah dan sampah yang bertebaran di sekelilingnya. Seperti habis hujan sampah aja, batinku.

Sesampainya di ambang pintu kelas, pemandangan tidak indah itu pun berlanjut. Kelasku yang biasanya bersih cemerlang, sekarang terlihat seperti gudang tua. Lantainya diselimuti oleh debu yang tebal, seperti tidak pernah dibersihkan selama 1 abad. Papan tulisnya pun berubah warna dari putih mengkilap menjadi kuning kecoklatan. Bunga-bunga di dalam pot-pot yang berjejeran di depan kelas layu, tidak terurus. Segala perabot di kelasku kotor dan penuh debu. Apa Cherri buta? Biasanya ia tidak akan pernah membiarkan satu titik debu pun mengotori kelas ini, tetapi mengapa ia membiarkan kelas kami menjadi sekotor ini?

Aku pun menghampiri teman-temanku dan menanyakan apa yang terjadi.

“Loh, nggak salah nih? Biasanya lo yang paling nggak peduli sama lingkungan, kok sekarang malah lo yang sibuk dan prihatin?” tanya Cherri dengan nada menyindir.

“Lo nggak baca berita? Polusi di bumi ini udah merajalela, nggak tertangani lagi. Ada terlalu banyak sampah, asap dan debu dimana-mana. Benar apa kata lo selama ini, emang nggak ada gunanya lagi mengatasi polusi di bumi ini. Bumi udah nggak terpulihkan. Semua orang angkat tangan mengenai hal ini,” ujar Sonia, si juara kelas.

Apa yang terjadi? Mengapa semua orang yang biasanya sangat peduli dengan lingkungan sekarang menjadi acuh tak acuh seperti ini? Apa telah terjadi ledakan bom dahsyat yang mengeluarkan asap yang menyelimuti bumi ini, dan meracuni pikiran-pikiran manusia sehingga mereka tidak peduli lagi terhadap habitatnya sendiri? Atau ada sebuah meteor yang sangat besar yang menghantam dunia ini sehingga terbalik seratus delapan puluh derajat? Aku terus berpikir keras mengenai apa yang menyebabkan semua hal buruk ini. Apa yang terlewatkan olehku?

Perjalanan pulang pergi yang selama ini selalu kunikmati, hari ini terasa sangat berbeda. Cahaya matahari semakin menyengat kulitku. Aku pun berlari menuju rumah – tidak seperti biasanya. Biasanya aku berjalan santai sambil menikmati lingkungan sekitarku yang indah. Tetapi tidak ada lagi yang dapat kunikmati, semuanya sirna begitu saja. Aku memang tidak peduli pada lingkunganku, tetapi itu bukan berarti aku tidak suka menikmati lingkunganku yang asri.

Sesampainya di rumah, aku segera menyalakan televisi dan komputerku bersamaan. Seraya aku mencari tahu apa yang terjadi melalui internet, aku juga menonton berita-berita yang ditayangkan televisi. Aku menggonta-ganti chanel di televisi dan hampir semua berita membahas hal yang sama. Informasi yang kudapat dari internet juga tidak jauh berbeda. ‘Pemerintah dan masyarakat angkat tangan dalam hal menangani polusi yang melanda bumi ini. Program Go Green gagal total.’

Tiba-tiba saja, polusi benar-benar merajalela dan menghancurkan bumi ini. Aku tidak mengerti, mengapa semuanya terjadi secara tiba-tiba seperti ini. Kemarin masih marak-maraknya program go green dan segala bentuk upaya untuk memberantas polusi, sedangkan hari ini, semuanya terhapus begitu saja tanpa alasan.

Hari aneh itu pun berlalu begitu saja. Aku tidak mendapat jawaban sedikit pun tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh hari yang membingungkan dan melelahkan. Aku pun beristirahat. Aku berharap semua ini hanyalah mimpi buruk dan akan segera berakhir setelah aku memejamkan mata.

Pagi pun tiba dan aku segera membuka mataku dan melongok ke jendela. Pemandangan yang kulihat masih sama dengan pemandangan yang kemarin pagi kulihat. Semuanya masih diselimuti oleh kabut yang tebal. Tetapi hari ini jauh lebih sepi dibandingkan kemarin. Kapan mimpi buruk ini akan berakhir? Hal buruk apa lagi yang akan terjadi hari ini?

Aku pun beranjak dari tempat tidur dengan lesu. Untungnya hari ini adalah hari Minggu. Aku tidak berniat untuk pergi kemana-mana. Kurasa aku akan menghabiskan hari ini di rumah. Aku pun menyalakan televisi.

“Berita aktual. Kabut asap yang dikeluarkan oleh industri-industri dan juga kendaraan bermotor telah menyelimuti sepertiga kota ini. Gas beracun yang terkandung dalam asap tersebut telah meracuni banyak orang sehingga beberapa diantaranya tewas karena tidak tahan oleh gas tersebut.” Reporter melaporkan berita di televisi.

Oh, tidak. Semua hal benar-benar bertambah buruk. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tahu mimpi buruk ini pasti dapat diakhiri. Aku pun berlari keluar. Sepanjang perjalanan, yang kulihat hanyalah asap, tumpukan sampah yang meninggi, beberapa orang yang lesu sedang berjalan, beberapa diantaranya terlihat hampir pingsan. Bumiku yang permai telah berubah menjadi dunia kelabu yang tak berujung.

Aku terus berlari sambil melihat sekelilingku. Hatiku sakit bagaikan tertusuk panah saat melihat semua pemandangan indah yang selama ini kunikmati hancur dan sirna begitu saja. Selama ini aku salah total. Seharusnya aku mendengar semua perkataan orang-orang yang mengingatkanku betapa pentingnya rasa peduli pada bumi ini. Pola pikirku yang terlalu sempit telah membutakan mata tubuh dan mata hatiku. Andai aku dapat memutar kembali waktu, jelas aku tidak akan bertingkah seperti dulu. Aku akan mendukung segala jenis upaya untuk memulihkan bumi ini. Memang bumi ini akhirnya akan kiamat, tetapi bukan berarti kita tidak perlu merawatnya. Aku tidak ingin bumi ini kiamat dengan keadaan seperti ini

Perasaan menyesal memenuhi pikiranku dan air mata pun menggenang di pelupuk mataku. Aku segera menghapus air mata itu. Menangis tidak menyelesaikan masalah. Mengapa rasa menyesal selalu datang terlambat? Rasa bersalah menggerakkanku untuk terus berlari dan memacu otakku untuk terus berpikir. Aku berlari tanpa tujuan. Amarah, rasa bersalah dan menyesal, semua bercampur aduk di hatiku. Semua ini menguncangku dengan sangat dahsyat, dan membuatku ingin meneriakkan seluruh isi hatiku.

Dari kejauhan aku melihat sekerumunan orang di pinggir jalan. Aku pun berhenti untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata sedang dilakukan pengambilan gambar untuk berita di televisi. Seorang reporter paruh baya yang berpakaian rapi, berdiri di tengah-tengah kerumunan tersebut, menghadap kamera sambil memegang mike, sedang melaporkan keadaan lingkungan di sekitarnya. Hanya berita buruklah yang keluar dari mulut reporter tersebut. Dan para manusia yang mengelilinginya tidak melakukan apapun, hanya berdiri mematung dan mendengar kabar buruk tersebut. Kurasa semua orang tahu apa yang sedang dan akan terjadi, tetapi mengapa mereka hanya duduk diam tanpa berbuat apa-apa? Tiba-tiba, sekelebat ide muncul di benakku. Aku pun segera berlari menuju kerumunan tersebut dan merampas mike dari tangan si reporter.

“Perhatian semua, saya Jimmy dari SMA Jalan Mas. Maaf bila saya menyela berita hari ini, tetapi saya rasa hal ini jauh lebih penting untuk didengar oleh Anda semua. Dulu saya tidak pernah peduli pada bumi ini. Saya pikir, bumi ini telah rusak dan tidak dapat dipulihkan lagi. Saya menganggap bahwa dunia ini akan kiamat juga pada akhirnya, jadi tidak ada gunanya memulihkan bumi ini. Tetapi saya salah total. Sekarang setelah semua hal buruk ini terjadi, barulah saya sadar betapa pentingnya memelihara bumi ini. Saya salah karena telah menganggap remeh bumi ini. Bumi adalah pemberian dari Tuhan sebagai habitat kita yang seharusnya kita lindungi dan pelihara.

Memang sekarang sepertinya sudah terlambat untuk mengubah mimpi buruk ini, tetapi kita tidak bisa hanya duduk diam dan menuggu kiamat tiba. Kita diciptakan Tuhan dengan akal sehat dan hati, maka gunakanlah. Mungkin kelihatannya sudah tidak ada jalan lagi, tapi saya percaya pasti akan terpikir jalan keluar yang tepat. Kita hanya perlu bersatu dan memikirkannya bersama-sama.”

Semua orang terpaku dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya, seorang ibu yang terlihat lesu, memberi tanggapan. “Percuma saja, semua itu sia-sia. Apa yang dapat kita lakukan? Semuanya telah hancur lebur seperti ini. Lebih baik kita menunggu ajal datang menjemput daripada memperjuangkan sesuatu yang tidak mungkin.”

Semua orang mulai mengangguk-angguk dan membenarkan perkataan ibu itu. Beberapa orang berbisik-bisik, dan kerumunan itu mulai bubar, meninggalkanku sendiri, berdiri terpaku. Aku tidak percaya betapa tidak pedulinya mereka pada habitat mereka sendiri. Mengapa saat dunia masih baik-baik saja, mereka dengan tidak jenuh-jenuhnya menyorak-nyorakkan motto-motto untuk memulihkan bumi ini, tetapi saat bumi sudah menjadi seperti ini, mereka malah tidak peduli? Rasa geram pun menggetarkan seluruh tubuhku.

“Argh!” Aku berteriak sekuat tenaga sampai akhirnya aku merasa kehabisan oksigen dan semuanya terlihat kabur dan menjadi  gelap gulita.

Aku perlahan-lahan membuka mataku. Aneh, tiba-tiba saja aku sudah terbaring di tempat tidurku dan agak sulit bagiku untuk mengingat apa yang terjadi kemarin. Aku beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ketika aku membuka pintu, pemandangan pertama yang kulihat mengagetkanku. Aku melihat ada sesuatu yang menjulang tinggi seperti gunung di depan rumahku. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Ada beberapa benda yang bulat dan berambut yang menghiasi benda itu, terlihat seperti batok kelapa. Tetapi ada yang berambut panjang, dan semakin dilihat semakin menyerupai kepala manusia. Aku pun berjalan mendekati benda itu dengan sikap waspada. Benda itu mulai terlihat jelas. Aku melihat benda yang menyerupai tangan dan kaki manusia menghiasi benda itu. Dan akhirnya aku menyadari bahwa benda yang menjulang tinggi itu adalah tumpukan manusia, atau lebih tepatnya tumpukan MAYAT.

Tiba-tiba aku membuka mataku dan sekujur tubuhku berkeringat. Aku sudah kembali ke kamarku. Mungkinkah semua hal buruk itu hanyalah mimpi? Dan hal buruk mana yang merupakan mimpi, tumpukan mayat mengerikan itu atau seluruh hal buruk yang terjadi? Aku segera beranjak menuju pintu dan membukanya. Ternyata pemandangan yang kulihat adalah pemandangan yang sama seperti yang biasa kulihat sebelumnya. Tumpukan-tumpukan sampah di sepanjang jalan telah sirna digantikan oleh pohon-pohon rindang yang memang tidak berpindah kemana-mana, tetap berdiri kokoh menghiasi sepanjang jalan setapak itu. Semua kabut dan asap telah tersapu bersih oleh udara segar yang menyejukkan. Matahari bersinar cerah, menerangi langit biru yang dihiasi awan-awan yang putih seperti kapas, sungguh pemandangan yang sangat kurindukan. Burung-burung berkicauan menyambut hari indah yang kurindukan ini.

Phew, semua hal buruk itu hanyalah mimpi. Semuanya telah kembali seperti semula. Mimpi buruk semalam merupakan mimpi terburuk yang pernah kualami. Tetapi aku bersyukur karena mimpi itu telah menyadarkanku betapa pentingnya memelihara bumi ini.

“AKU BERJANJI AKU TIDAK AKAN MEREMEHKANMU LAGI, BUMIKU TERCINTA! MULAI SEKARANG AKU AKAN MEMELIHARAMU DENGAN BAIK!” teriakku, meluapkan seluruh rasa legaku. Dan aku takkan membiarkanmu berubah menjadi dunia kelabu itu lagi, tambahku dalam hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s