Message of Regret

Posted: March 12, 2013 in Short Stories
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

“Pagi, girls,” sapa Chelsea pada teman-temannya.

“Pagi, Chels,” balas mereka.

Chelsea pun meletakkan tas ranselnya ke tempat duduknya dan ikut berkumpul dengan teman-temannya yang sedang bergosip ria.

Aaron  memerhatikannya sambil merenung. ‘Ia sudah berubah,’ pikirnya.

Sepulang sekolah, Chelsea dan teman-temannya berjalan menuju gerbang sekolah bersama-sama. Beberapa temannya pamit pulang karena mereka sudah dijemput. Akhirnya sisa Chelsea sendiri yang belum dijemput.

‘Tumben dia belum dijemput,’ komentar Aaron dalam hati.

Sedaritadi ia memerhatikan Chelsea dari kejauhan. Ia ingin menawarkan bantuan, tetapi ia yakin Chelsea tidak membutuhkannya. Maka, ia pun melanjutkan perjalanan pulangnya.

Sudah selang satu jam dari jam pulang Chelsea, tetapi ia masih belum juga dijemput. ‘Mama kemana sih?’ gerutu Chelsea dalam hati.

Ia melihat sekelilingnya, karena tidak ada tanda-tanda bahwa mamanya akan datang menjemputnya, ia pun memutuskan untuk berjalan pulang. Untung rumah Chelsea tidak terlalu jauh dari sekolah, hanya 10 menit berjalan kaki.

Dari kejauhan, ia melihat ada beberapa orang yang berkerumunan di depan rumahnya. Ia juga melihat beberapa mobil polisi yang mengelilingi rumahnya.

‘Ada apa ini?’ batinnya.

Mama dan papa Chelsea sedang membawa beberapa koper keluar dari rumah mereka dan beberapa polisi sedang menempelkan kertas panjang berwarna kuning ke sekeliling rumah Chelsea. Chelsea pun segera berlari menuju rumahnya untuk mencari tahu apa yang terjadi.

“Ada apa ini?” tanya Chelsea begitu ia sampai di depan rumahnya.

“Nanti baru Mama jelasin ya, Sayang. Sekarang ayo ikut Papa Mama pergi dari sini,” ajak mamanya.

Chelsea pun menuruti mamanya. Mereka berjalan menjauh dari rumah mereka sambil membawa beberapa koper. Papa Chelsea memutuskan untuk menyewa sebuah rumah yang tidak jauh dari sekolah Chelsea agar mulai besok Chelsea dapat berjalan kaki menuju sekolah.

“Perusahaan Papa mulai bangkrut, jadi Papa minjem 3 milyar ke bank. Papa kira keadaan akan membaik, tapi malah sebaliknya, perusahaan Papa malah makin bangkrut, jadinya nggak sanggup bayar utang itu. Jadi bank nyita rumah dan mobil kita. Maafin Papa, ya.”

Chelsea terdiam sejenak setelah mendengarkan penjelasan papanya. Jelas ia tidak mungkin menyalahkan papanya atas kejadian ini. Tetapi ia sangat terpukul karena ia telah kehilangan segalanya.

Keesokan harinya, Chelsea masuk ke sekolah seperti biasa – tidak sepenuhnya, mulai hari ini ia berjalan kaki menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, ia berjalan menyusuri lorong sekolahnya. Ia melihat beberapa orang berkumpul di ujung-ujung lorong dan berbisik-bisik sambil memandangnya.

‘Ada apa lagi sekarang?’ gerutu Chelsea dalam hati.

Ia memasuki ruang kelasnya dan menghampiri teman-temannya. Aneh, begitu Chelsea menghampiri mereka, pembicaraan mereka berhenti dan mereka bubar begitu saja. Chelsea merasa bingung dan sedih. Ia pun memutuskan untuk duduk diam di kursinya.

“Eh, kalian udah denger berita belum? Katanya, perusahaan papa Chelsea bangkrut, papanya nggak bisa bayar utang ke bank, jadi rumah dan mobilnya disita,” bisik sebuah suara di belakang Chelsea.

Chelsea mendengarnya, tetapi tidak menghiraukannya. ‘Cepat sekali berita menyebar. Semua orang sepertinya bakal ngejauhin gue mulai sekarang, bahkan teman-teman dekat gue sekalipun. Ternyata selama ini mereka cuma berteman sama gue karna gue kaya,’ batin Chelsea.

Ia tidak menyangka semua hal buruk itu terjadi dalam sekejap. Ia kehilangan segalanya – rumah, mobil dan teman-temannya. Untung keluarganya masih ada bersamanya.

‘Mulai hari ini, semua akan terasa berbeda,’ pikir Chelsea.

Aaron juga mendengar berita tersebut, tetapi itu tidak akan mengubah apapun. Ia merasa prihatin pada Chelsea dan keluarganya, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Esok paginya, Aaron sampai di sekolah agak terlambat. Kelasnya telah ramai dipenuhi para siswa. Ia pun meletakkan tasnya dan duduk di kursinya. Bel masuk pun berbunyi dan semua siswa beranjak memasuki kelas. Wali kelas Aaron memasuki kelas dengan raut wajah yang sedih.

“Selamat pagi, anak-anak. Silahkan duduk di tempat kalian masing-masing. Ibu ingin menyampaikan berita dukacita.”

Semua siswa pun duduk di tempat mereka masing-masing dengan wajah heran. Semua tempat duduk terisi, kecuali tempat duduk Chelsea.

‘Kemana dia?’ pikir Aaron.

“Ayah dari salah satu teman kita, Chelsea, telah dipanggil Tuhan kemarin malam. Sebagai rasa amal dari kita, mari kita menyisihkan sedikit dari uang jajan kita untuk disumbangkan kepadanya.”

Semua siswa terdiam sejenak, kemudian merogoh saku mereka. Aaron tidak menyangka kejadian buruk berturut-turut akan menimpa keluarga Chelsea. Ia pun mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah dari dompetnya dan memasukkannya ke kotak sumbangan tersebut.

Chelsea kembali masuk ke sekolah setelah tidak masuk selama satu minggu. Banyak kegiatan belajar mengajar yang tidak diikutinya, maka ia pun berniat untuk meminjam catatan temannya. Tetapi, semua temannya sepertinya enggan untuk meminjamkan catatan mereka padanya. Ia pun mengurungkan niatnya itu.

‘Mengapa semua orang menjadi begitu jahat?’ tanyanya dalam hati.

Seusai istirahat pertama, Chelsea beranjak dari kantin menuju kelasnya. Ia berjalan perlahan menuju tempat duduknya. Dari kejauhan, ia melihat setumpuk kertas yang terletak di atas mejanya. Ia pun mengangkat tumpukan kertas itu dan melihatnya. Itu adalah hasil fotocopy dari semua catatan yang tidak ia ikuti.

‘Dari siapa ini?’ pikir Chelsea.

Ia melihat ke sekelilingnya lalu menyimpan setumpuk kertas itu.

Bel pulang pun berdering, semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Chelsea mengemas semua barang-barangnya dan bergegas pulang. Sesampainya di depan gerbang sekolah, ia baru menyadari bahwa hujan sedang turun dengan derasnya.

‘Kalau ujan begini, gimana gue mau pulang?’ batinnya dengan kecewa.

Ia pun terpaksa berteduh di depan gerbang sekolah sambil menunggu hujan berhenti.

Aaron sedang berjalan menuju gerbang sekolah ketika ia melihat hujan sedang turun dengan derasnya.

‘Untung gue bawa payung.’ batinnya.

Ia melihat Chelsea sedang berteduh di depan gerbang sekolah. Ia hendak membantunya, tetapi ia tidak berani. Ia pun melanjutkan perjalanan pulangnya.

Chelsea mendengar suara jejak kaki di belakangnya, tetapi saat ia melihat ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Lalu pandangannya terpaku pada sebuah payung yang bersandar di dinding di sebelahnya dengan secarik kertas yang tertempel di atasnya, bertuliskan ‘Pakai saja payung ini dan pulanglah, mamamu pasti khawatir.

‘Dari siapa ini?’ batin Chelsea kebingungan.

Ia pun membuka payung itu dan berjalan pulang.

Esok paginya, Chelsea membuka matanya perlahan. Ia pun melirik jam, pukul 06.30 WIB.

‘Haiya! Gue telat bangun!’

Ia pun tergesa-gesa mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah. Setelah selesai bersiap-siap, ia pun pamit pada mamanya dan berlari menuju sekolah.

‘Aduh, kok bisa telat bangun sih?’ gerutu Chelsea sambil berlari sekuat tenaga.

Karena terlalu tergesa-gesa, ia tidak melihat ada batu kerikil yang menghalangi jalannya. Ia pun tersandung dan terjatuh. Kakinya terluka dan berdarah.

“Duh!” Chelsea meringis. ‘Tidak ada waktu untuk mengobatinya.’ batin Chelsea sambil melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.

“Akhirnya sampai juga.” ujar Chelsea ketika ia sampai di depan gerbang sekolahnya.

Ia berjalan perlahan menuju kelasnya sambil menahan sakit. Ia pun duduk di kursinya dan hendak meletakkan beberapa bukunya ke dalam laci mejanya. Ketika ia ingin meletakkan bukunya, ia menemukan sebotol betadine, selembar hansaplast dan secarik kertas yang bertuliskan ‘Cuci bersih lukamu biar gak infeksi, keringkan, lalu pakai betadine dan hansaplastnya.’

‘Aneh, udah berapa kali gue dapat bantuan dari orang misterius ini?’ batin Chelsea.

Ia pun segera mengikuti perkataan yang tertulis di secarik kertas itu.

“Eh, besok Valentine’s Day loh. Lo mau kasih coklat ke sapa?” tanya sebuah suara di belakang Chelsea pada seorang temannya.

“Nggak tau juga, ya. Belum ada rencana.” jawab temannya itu.

‘Ah, masih jaman ya Valentine’s Day?’ batin Chelsea sambil melirik jam.

Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB.

‘Sudah waktunya untuk pulang.’ pikir Chelsea sambil mengemas barang-barang sekolahnya.

Valentine’s Day pun tiba. Biasanya Chelsea selalu menanti-nantikan hari itu. Tetapi tidak untuk sekarang. Ia tidak mengharapkan satu coklatpun hari ini. Ia yakin tidak akan ada yang memberinya coklat ataupun bunga. Ia berjalan memasuki kelasnya. Seperti biasa, ia langsung duduk di kursinya dan mengeluarkan beberapa buku yang akan ia gunakan dan meletakkannya ke dalam laci mejanya.

Kegiatan belajar mengajar hari itu terasa membosankan. Chelsea memerhatikan seluruh isi kelasnya. Ada beberapa temannya yang sedang memerhatikan penjelasan guru di depan dan ada juga yang sedang asyik mengobrol sendiri. Pandangannya terhenti pada sebuah kursi kosong.

‘Bukannya itu kursi Aaron? Kemana dia?’ batin Chelsea.

Tak terasa, bel pulang pun berdering. Chelsea mengemas barang-barangnya. Ketika ia mengeluarkan buku-buku dari laci mejanya, ia menemukan sekotak coklat. Ia penasaran dari siapa coklat tersebut. Sang pengirim tidak mencantumkan namanya. Chelsea merasa heran. Belakangan ini, ia sering menerima bantuan ataupun barang dari seseorang yang misterius.

‘Siapakah dia?’ pikir Chelsea. Ia pun menyimpan coklat tersebut dan bergegas pulang.

Sepulang sekolah, Chelsea membereskan isi tasnya dan menemukan sekotak coklat yang ia temukan di dalam laci mejanya tadi. Ia pun membuka kotak tersebut. Seperti yang diharapkan, kotak tersebut berisi coklat dan juga sebuah amplop putih yang bertuliskan ‘Untuk Chelsea.’ Aneh, tidak dicantumkan nama pengirimnya. Chelsea pun membuka amplop itu dan membaca surat di dalamnya.

Dear Chelsea,

Apa kabarmu, Chels? Sudah lama kita tidak bertemu. Mungkin kita sekelas, tetapi semenjak perusahaan papamu semakin sukses, kamu menjadi semakin kaya dan populer, teman-temanmu semakin banyak dan kamu pun lebih memilih berteman dengan mereka dibanding aku. Aku maklum akan hal itu, aku memang tidak pantas menjadi temanmu. Tetapi, mereka juga tidak pantas. Tidak sadarkah kamu bahwa mereka berteman denganmu hanya karena kekayaanmu?

Kurasa semua telah terbukti sekarang. Setelah perusahaan papamu bangkrut, mereka semua meninggalkanmu. Aku turut berdukacita atas apa yang menimpa keluargamu. Aku ingin membantu, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku hanya bisa membantumu secara diam-diam sebisaku. Tetapi kurasa sekarang akan lebih susah bagiku untuk membantumu. Kuharap keadaanmu akan segera membaik. Titip salam untuk mamamu.

P.S : I want you to know that I did it all because I love you.

                                                                                            Sign,

Your old friend

Tulisannya terlihat familiar.

My old friend? Sekelas? Siapa ya?’ pikir Chelsea.

Tiba-tiba, Chelsea terpikir sesuatu. Tulisan di surat itu mirip dengan tulisan ‘si misterius’. Chelsea menebak semua barang dari ‘si misterius’ – payung, hansaplast dan betadine, setumpuk kertas hasil fotocopy, coklat dan juga surat ini berasal dari orang yang sama. Kalimat ‘Aku hanya bisa membantumu secara diam-diam sebisaku.’ pada surat itu mendukung dugaannya.

It’s so sweet of him, tapi siapa dia?’ pikir Chelsea.

Ia mulai menerka-nerka. Tiba-tiba, sekelebat pikiran menyerbu otaknya. ‘Mungkinkah dia Aaron?’

Chelsea sudah mengenal Aaron sejak kecil, orangtua mereka adalah rekan kerja sehingga mereka saling berteman, tetapi sejak kelas 1 SMA, pertemanan mereka merenggang.

‘Mungkin itu maksudnya ‘semenjak perusahaan papamu semakin sukses, kamu menjadi semakin kaya dan populer, teman-temanmu semakin banyak dan kamu pun lebih memilih berteman dengan mereka dibanding aku.’

 Perasaan bersalah memenuhi pikiran Chelsea. Selama ini, Aaron tetap setia membantunya dalam kesusahan, padahal ia tidak pernah menghiraukannya. Tetapi apa maksudnya ‘Kurasa sekarang akan lebih susah bagiku untuk membantumu.’ ?

Kata-kata itu membuat Chelsea cemas. Bukan karena ia takut bahwa tidak akan ada lagi teman yang akan membantunya, tetapi ia takut sesuatu yang buruk sedang menimpa Aaron.

‘Ia tidak  masuk sekolah hari ini. Mungkin gue harus mengecek keadaannya.’

Ia pun melipat surat itu, menaruhnya ke dalam sakunya dan beranjak pergi menuju rumah Aaron.

Sesampainya di sana, ia menekan bel pintu rumah Aaron. Tidak ada yang menjawab atau membukakan pintu. Ia pun membunyikan bel tersebut sekali lagi. Tetap saja tidak ada yang membukakan pintu.

‘Apa mereka sedang pergi? Atau sudah pindah rumah?’ pikir Chelsea.

“Cari siapa, Dik?” tanya seorang ibu paruh baya yang tinggal di sebelah rumah Aaron.

“Pemilik rumah ini sedang pergi kemana ya, Tan?” tanya Chelsea.

“Oh, mereka semua sedang berada di rumah sakit. Katanya Aaron sudah lama terdiagnosa penyakit kanker otak, tetapi ia tidak mau dirawat ataupun diobati. Tadi pagi tiba-tiba saja ia pingsan dan akhirnya ia dibawa ke rumah sakit dan dirawat di sana.” Ibu tersebut menceritakan kronologi kejadiannya.

“Tante tau dimana ia dirawat?” tanya Chelsea dengan cemas.

“Di Rumah Sakit Harapan Kasih, ruang 147,” jawabnya.

“Terima kasih, Tan,” seru Chelsea sambil berlari.

Kepanikan memenuhi pikiran Chelsea, ia pun berlari sekuat tenaga. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung berlari menuju ruang 147. Dari kejauhan, ia melihat seorang pria dan istrinya sedang menangis tersedu-sedu. Seorang dokter juga berdiri di sana sambil menenangkan mereka. Hal itu menghentikan langkah Chelsea. Ia berjalan perlahan menuju orang-orang tersebut. Ia mengenali kedua sosok suami-istri itu. Mereka adalah orang tua Aaron.

‘Mungkinkah..’

Chelsea segera memasuki ruangan yang bernomor 147. Begitu ia masuk, ia melihat seorang lelaki yang berbaring lemah di atas tempat tidur. Chelsea berjalan perlahan mendekati tempat tidur itu. Di sebelah tempat tidur itu, terpasang sebuah mesin yang layarnya menunjukkan garis horizontal yang lurus. Air mata menggenang di kelopak mata Chelsea, mendesak untuk keluar. Ia pun mulai menangis tersedu-sedu.

“Aku terlambat,” ujarnya di sela tangisannya.

Ia menenangkan dirinya, menghapus air matanya dan mengambil secarik kertas dan sebuah pena. Ia pun mulai menulis.

Dear Aaron,

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tetapi pertama-tama, aku ucapkan terima kasih banyak. Terima kasih karena kamu sudah menjadi temanku selama ini. Terima kasih karena kamu masih setia menjadi temanku walau aku tidak menghiraukanmu. Terima kasih karena kamu masih setia menjadi temanku dan membantuku saat aku dalam kesusahan. Maafkan aku karena selama ini aku tidak menjadi teman yang baik untukmu. Aku menyesal atas semua perbuatanku. Andai aku dapat mengulang waktu, jelas aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir seperti ini. Semoga kamu bahagia di dunia barumu. I’ll miss you. You’ll always be in my heart.

     Sign,

  Chelsea

Chelsea melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop dan menuliskan ‘MESSAGE OF REGRET’ di atasnya lalu menaruhnya di atas telapak tangan Aaron.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s