Paper Plane

Posted: March 12, 2013 in Short Stories
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Ah, sore yang indah. Matahari hendak kembali ke singgasananya. Langit yang berwarna oranye tua menghiasi suasana sore itu. Pemandangan sunset memang sangat indah. Jeremy sedang mendayuh sepedanya mengelilingi perumahan tempat ia tinggal.

Tiba-tiba, sesuatu menabrak kepalanya dengan pelan, lalu jatuh ke tanah. Jeremy sontak berhenti lalu mengangkat benda berwarna putih itu. Ternyata benda itu adalah sebuah pesawat kertas. Ia membuka pesawat kertas itu dan menemukan sebuah pesan di dalamnya.

Dear God,

Where are You? Aku sudah tidak tahan lagi. Kapan Engkau akan menjemputku? I’m waiting for You, God. Tidak ingatkah Engkau? Parasit mematikan ini telah menyiksaku sejak lahir. Sudah 16 tahun berlalu, mengapa Engkau belum juga datang menjemputku? I’ll wait for You, God. Come as soon as possible.

 

Wow, dari siapa ini?’ pikir Jeremy sambil mencari-cari orang yang menerbangkan pesawat kertas itu.

Ia melihat ke sekelilingnya, tetapi tidak menemukan siapa-siapa. Ia pun menyimpan surat itu, lalu melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanannya, ia melewati sebuah rumah yang cukup besar. Ia melihat sebuah tangga yang tersandar pada dinding rumah itu. Tangga itu berujung pada atap rumah tersebut. Sesosok gadis sedang duduk merenung di atas sana.

Tiba-tiba, Jeremy teringat pada pesawat kertas yang ia temukan tadi. Pagar rumah itu terbuka, Jeremy pun menyelinap masuk dan menaiki tangga menuju atap rumah tersebut. Ia berjalan mendekati gadis itu dengan hati-hati.

“Permisi, maaf bila saya tidak sopan memasuki rumah Anda tanpa izin, tetapi saya menemukan pesawat kertas ini saat saya sedang mendayuh sepeda, apakah ini milik Anda?” Jeremy berusaha berbicara sesopan dan selembut mungkin.

Si gadis terkejut, lalu menoleh ke belakang dan melihat selembar kertas yang dipegang Jeremy. “Oh, ya, itu punyaku. Maaf.” ujarnya sambil mengambil selembar kertas itu dari tangan Jeremy.

Jeremy hendak meninggalkan tempat itu, tetapi sesuatu menghentikannya. Isi surat tadi membuatnya penasaran. “Apakah Anda keberatan jika saya ikut duduk di sini?” tanya Jeremy.

“Tentu tidak.” jawabnya singkat.

Jeremy pun duduk tidak jauh dari si gadis. “Boleh saya tahu nama Anda?” Jeremy memulai pembicaraan.

“Aku Shinta. Tidak perlu pakai ‘saya’ dan ‘Anda’. Terlalu formal. Pakai ‘aku’ dan ‘kamu’ saja.” ujarnya.

“Oh, oke. Perkenalkan, namaku Jeremy.” Jeremy mengulurkan tangannya dan Shinta menyalaminya. Tangan gadis itu terasa dingin.

“Kalau boleh tahu, apa alasanmu berada di sini?” tanya Shinta.

“Well, aku sudah membaca isi surat itu, maaf bila itu tidak sopan, tetapi, aku sedikit penasaran dengan isinya. Bolehkah aku menanyakan sesuatu tentangnya?” tanya Jeremy ragu-ragu.

“Aku tahu apa yang mau kamu tanyakan. Apa itu tentang penyakitku? Aku mengidap penyakit anemia sel sabit, itu adalah penyakit turunan.” Shinta menceritakannya tanpa ditanya.

Anemia sel sabit adalah kondisi serius di mana sel-sel darah merah menjadi berbentuk bulan sabit. Sel darah merah normal berbentuk lingkaran, pipih di bagian tengahnya, sehingga memungkinkan mereka melewati pembuluh darah dengan mudah dan memasok oksigen bagi seluruh bagian tubuh. Sulit bagi sel darah merah berbentuk bulan sabit untuk melewati pembuluh darah, terutama di bagian pembuluh darah yang menyempit, karena sel darah merah ini akan tersangkut dan akan menimbulkan rasa sakit, infeksi serius, dan kerusakan organ tubuh. Sel sabit ini umurnya tidak panjang, sehingga menyebabkan jumlah sel darah merah sedikit.

“Penyakit itu menyiksaku sejak kecil. Itu membuatku harus bersekolah di rumah. Seumur hidupku kuhabiskan di dalam rumah. Aku ingin bebas seperti anak-anak lain, tetapi aku tidak bisa.” Shinta melanjutkan ceritanya.

Jeremy tertegun beberapa saat, lalu bertanya. “Lalu mengapa kamu ada di sini? Tidakkah berbahaya?”

“Inilah satu-satunya tempat di rumahku yang nyaman bagiku untuk menyendiri.” jawabnya.

“Apa mereka tidak mencarimu?” tanya Jeremy lagi.

“Siapa? Orangtuaku sibuk bekerja, aku anak tunggal, dan suster yang biasa merawatku sedang sibuk mengurus urusan rumah tangga. Ia bahkan tidak menyadari bahwa aku sedang berada di sini.”

“Apakah penyakit itu bisa disembuhkan?” tanya Jeremy dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik, tetapi Shinta mendengarnya.

“Kata dokter yang menanganiku, belum ada obat untuk penyakit ini.” jawab Shinta dengan raut muka putus asa.

Jeremy memperhatikan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia terlihat sangat kurus, rapuh, lemah, dan kulitnya pucat. Tetapi di balik semua itu, ia tetap terlihat cantik. Rambutnya yang hitam legam dan panjang menghiasi wajahnya, kulitnya yang putih bersih, dan juga matanya yang besar.

Sebercak rasa iba memenuhi batinnya. Gadis itu cantik dan kelihatannya baik, tetapi ia harus melalui hari-hari sengsaranya sendirian. Tiba-tiba sesuatu menggerakkan hatinya.

“Jangan bersedih, Shin. Aku tahu penyakit itu menyiksamu dari kecil, tetapi itu bukan berarti kamu tidak bisa menikmati hidupmu.” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Jeremy.

Shinta terdiam sejenak, lalu menatap Jeremy dengan mata hitam kecoklatannya. “Bagaimana caranya?” tanyanya.

Well, kita bisa mulai dari hal-hal yang belum pernah kamu lakukan. Kamu bilang kamu menghabiskan masa kecilmu di rumah, kan? Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi? Kita bisa bikin jadwal berisi tempat-tempat yang akan kita kunjungi.” Jeremy memberi ide.

“Kedengarannya menyenangkan. Kamu yakin kamu mau nemenin aku?” tanyanya pelan.

Why not? It’ll be fun.” jawab Jeremy tanpa pikir panjang.

Mereka berdua pun menghabiskan sore itu sambil menyusun jadwal perjalanan mereka.

Keesokan harinya, Jeremy menjemput Shinta di rumahnya. Jeremy berhasil mendapat izin dari susternya untuk membawa Shinta berjalan-jalan seharian. Mereka pun memulai perjalanan mereka.

First day’s destination: Viva’s Zoo, Viva’s Sea World, and Viva’s Theatre. Tidak jauh dari perumahan Jeremy dan Shinta, terdapat beberapa tempat wisata yang cukup terkenal. Pertama-tama, mereka mengunjungi Viva’s Zoo. Kebun binatang ini cukup besar, terdapat sekitar 30 jenis binatang dari seluruh dunia di dalamnya.

Kebun binatang itu tidak begitu ramai pada hari itu, sehingga lebih leluasa bagi mereka untuk menikmati perjalanan mereka. Sesampainya di sana, mereka berkeliling sambil melihat-lihat binatang-binatang yang ada di sana. Shinta sangat bersemangat, ia tidak berhenti mengagumi setiap hewan yang mereka lihat.  Mereka menghabiskan sekitar satu jam di sana, lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Viva’s Sea World terletak tepat di sebelah Viva’s Zoo, jadi mereka cukup berjalan kaki menuju tempat itu. Viva’s Sea World tidak kalah  besar dari Viva’s Zoo. Ada beraneka ragam binatang laut di dalam sana. Shinta tidak bisa berhenti mengambil foto sepanjang perjalanan mereka. Melihat Shinta begitu bersemangat, Jeremy pun ikut merasa bersemangat. Ia merasa seperti sedang berjalan-jalan dengan adiknya sendiri.

Setelah berkeliling selama kurang lebih 45 menit, mereka mulai merasa lapar. Mereka pun mengunjungi rumah makan yang tidak jauh dari sana. Mereka memesan makanan seadanya lalu menyantapnya.

“Bagaimana? Asik nggak perjalanan hari ini?” tanya Jeremy sambil menyantap makanan yang dipesannya.

“Asik banget. Hari ini adalah hari terbahagia dalam hidupku. Thanks, ya.” jawab Shinta dengan semangat. Jeremy hanya membalasnya dengan senyuman.

Setelah mereka selesai menyantap makan siang mereka, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Untungnya, jarak antar tempat wisata yang akan mereka tuju tidak berjauhan, jadi mereka cukup berjalan kaki saja. Tujuan mereka selanjutnya adalah Viva’s Theatre.

Theatre itu cukup ramai hari itu, karena theatre itu akan menayangkan film yang cukup terkenal, yaitu Titanic. Film tragic-romantic yang sudah cukup lama, tetapi kembali terkenal karena tayangannya dalam bentuk third-dimension (3D), dimana ketika menonton, penonton harus menggunakan kacamata khusus yang akan mendukung efek tambahan pada film itu yang membuat penonton merasa mereka tidak hanya menonton, tetapi juga ikut masuk ke dalam film itu.

Jeremy sudah pernah menonton film itu sebelumnya, tetapi bukan dalam bentuk 3D. Film itu adalah film 3D pertama bagi Shinta, itu membuatnya sangat bersemangat. Petugas di theatre memberikan setiap penonton sebuah kacamata yang terlihat seperti kacamata hitam. Penonton pun duduk pada tempat mereka masing-masing dan mengenakan kacamata mereka. Film itu pun dimulai.

Film dalam bentuk 2D dan 3D tidak berbeda jauh, hanya saja pada film 3D, semua hal di dalam film tersebut terlihat lebih nyata. Hal itu membuatnya lebih menarik dan seru. Film berdurasi 3 jam itu pun selesai, para penonton mengembalikan kacamata khusus itu kepada petugas dan beranjak keluar.

“Bagaimana filmnya? Bagus?” tanya Jeremy, seakan-akan ia tidak ikut menonton film tersebut.

“Bagus banget. Sedih, ya.” jawab Shinta sambil menyeka air matanya. Film tragedi itu membuatnya menangis.

“Kok kamu gak nangis? Emangnya menurutmu itu gak sedih ya?” tanya Shinta tiba-tiba.

“Cowok gak boleh nangis.” jawab Jeremy diikuti tawa renyahnya.

“Mana ada peraturan kayak gitu.” balas Shinta jutek.

Perjalanan mereka hari itu pun berakhir, Jeremy mengantarkan Shinta ke rumahnya, lalu pulang ke rumahnya sendiri.

Second day’s destination: Fantasy Land. Tempat tersebut juga tidak terlalu jauh dari perumahan Jeremy dan Shinta. Mereka berangkat ke sana dengan menggunakan taksi, seperti hari sebelumnya. Setelah 20 menit perjalanan, mereka pun sampai di Fantasy Land. Shinta terlihat lebih bersemangat dari hari sebelumnya. Dengan senyuman di wajahnya dan semangatnya yang menggebu-gebu, ia tidak terlihat seperti orang yang mengidap penyakit sama sekali. Ia terlihat segar bugar, sehat wal’afiat.

Mereka memasuki Fantasy Land dan mencoba setiap permainan yang ada di dalamnya. Mereka menghabiskan sepanjang hari itu dengan bermain-main di sana. Shinta tidak dapat menghapus senyuman di wajahnya, ia terus tersenyum dan tertawa sepanjang hari itu. Jeremy merasakan kebahagiaan yang berbeda ketika ia sedang bersama Shinta. Membahagiakan orang lain memang hal yang menyenangkan. Hari itu pun berlalu dengan cepat, mereka berdua terlihat sangat lelah tetapi bahagia. Keduanya pun pulang ke rumah masing-masing.

Third day’s destination: Marina Beach and Central Park. Hari itu mereka berangkat pagi-pagi sekali.

“Kok kita berangkat pagi banget hari ini? Biasa kan kita berangkat jam 8, hari ini kita berangkat jam setengah 6.” keluh Shinta.

“Karena tempatnya jauh. Dan pemandangan pantai dan taman paling bagus pas sunrise and sunset. Jadi kita ke pantai pas sunrise and ke taman pas sunset.” Jeremy menjelaskan.

Tepat pukul 6.00 WIB, mereka sampai di tempat tujuan. “Wah, benar katamu. Indah banget pemandangannya.” ujar Shinta terkagum-kagum.

Mereka berjalan di sepanjang pesisir pantai sambil menikmati indahnya pemandangan di sana. Lalu Shinta mengambil sebuah ranting pohon yang tergeletak di tepi pantai, lalu menuliskan sesuatu di atas pasir. ‘Shinta & Jeremy were here’. Jeremy tersenyum melihatnya.

Setelah puas menikmati pemandangan pantai, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Central Park. Central Park adalah taman yang luas dan sangat indah. Banyak orang yang mengadakan piknik keluarga di sana.

“Kamu pernah piknik di taman seperti ini?” tanya Jeremy sambil memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Shinta menggeleng pelan.

Well, ayo berpiknik.” ajak Jeremy sambil menarik tangan Shinta.

“Loh, bukannya perlu persiapan, ya? Kita kan gak ada bawa peralatan piknik?” tanya Shinta kebingungan.

“Siapa bilang?” Jeremy menarik Shinta ke atas bukit di dekat taman itu.

Mereka berhenti di bawah pohon yang rindang, di sana telah disiapkan peralatan piknik. Sebuah tikar tebentang luas dengan keranjang yang berisi makanan di atasnya.

Wow, kamu yang menyiapkan semua ini? How?” tanya Shinta.

“Di sini ada layanan buat menyiapkan peralatan piknik.” jawab Jeremy. Mereka pun duduk di atas tikar dan menikmati makanan yang telah disediakan.

Dari atas sana, pemandangan sunset yang indah itu terlihat lebih jelas. Jeremy sedang menikmati pemandangan di sekitarnya, lalu pandangannya terhenti pada sebuah stand gulali.

By the way, kamu pernah makan gulali?” tanya Jeremy tiba-tiba.

“Belum. Apa itu?” tanya Shinta polos.

“Aku beliin deh, tuh ada standnya di sana. Tunggu bentar, ya.” Jeremy beranjak dari tempat duduknya menuju stand gulali tersebut.

Shinta mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya pada pohon di belakangnya dan memejamkan mata. Jeremy pun membeli dua batang gulali lalu kembali ke tempat Shinta berada. Sesampainya di sana, ia melihat Shinta sedang bersandar pada sebuah pohon, ia memejamkan mata dengan senyuman di wajahnya.

‘Apa dia sedang tidur?’ pikir Jeremy.

Ia pun duduk di sebelah Shinta, lalu menemukan sebuah pesawat kertas yang terletak di atas tangan Shinta. Dengan ragu, Jeremy mengambil pesawat kertas itu lalu membukanya. Isinya adalah sebuah pesan.

Dear Jeremy,

Mungkin ini adalah surat kedua yang kamu terima dariku dalam bentuk pesawat kertas, tetapi kali ini, surat ini untukmu. Tepat sebulan sebelum kita bertemu, dokter yang merawatku mengatakan bahwa hidupku sudah tidak lama lagi, sekitar satu bulan dari hari itu. Jadi pada hari dimana kita bertemu, saat aku sedang duduk di atas atap rumahku, aku sedang menanti ajalku. Tetapi, ajalku tidak kunjung tiba. Maka, aku memutuskan untuk menulis surat pada Tuhan, saat itu aku sudah tidak tahan lagi, jika Tuhan tidak segera mengakhirinya, aku akan mengakhirinya sendiri.

Aku sudah hampir melompat dari atap rumahku, ketika kamu menghentikanku dan mengembalikan surat itu. Aku pikir itu adalah tanda bahwa Tuhan tidak akan mengabulkan permintaanku. Rupanya aku salah. Tuhan memang tidak langsung membuat penyakitku sirna, tetapi ia mengirimmu padaku untuk membantuku menikmati sisa-sisa hidupku. 3 hari Ia tambahkan untukku, itu cukup bagiku, walau aku berharap aku dapat memperpanjangnya.

Selama 16 tahun aku hidup, hanya 3 hari itulah yang paling berkesan di hatiku. Bersamamu, penyakit itu terasa sirna walaupun ia masih ada. Thanks for everything, Jer. I’ll always remember you. The time that we spent together was priceless. I wish I could get it back to you, but I coudn’t. I could only wish you luck and love. Setelah ini, tetap jalani dan nikmati hidupmu, ya.

 

                                                                                                            Love,

         Shinta

Jeremy terpaku dan menjatuhkan surat itu. Ia memandang Shinta selama beberapa saat, lalu mengecek nafas dan detak jantungnya.

Oh no, you can’t leave me now, Shinta!’ seru Jeremy dalam hati, lalu memeluk Shinta dengan erat. Air mata mengalir deras di pipinya.

Jeremy tidak menyangka bahwa waktunya bersama Shinta akan berlalu begitu cepat dan sangat singkat. Jika ia mengetahuinya dari awal, ia akan membuat hari-hari terakhir itu lebih spesial. Setidaknya ia dapat mengucapkan selamat tinggal secara langsung, bukan melalui paper plane.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s