Seasons to Remember by Ilana Tan

Posted: June 15, 2013 in Book Reviews
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : Seasons to Remember

Pengarang        : Ilana Tan

Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman  : 160 halaman

Seasons to Remember

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Ilana Tan adalah penulis bestseller yang top. Semua novel yang ia tulis masuk ke jajaran novel bestseller. Karyanya memang benar-benar cemerlang. Tidak heran ia memiliki banyak sekali penggemar yang selalu mengharapkan karya terbarunya. Saya termasuk salah satunya. Sejak novel terakhirnya Sunshine Becomes You terbit, tidak ada kabar mengenai karyanya yang selanjutnya. Saya terus menanti dan berharap ia akan menerbitkan karyanya yang lain. Makanya saat ada kabar bahwa karyanya yang berjudul Seasons to Remember akan terbit, saya senang bukan main, dan menantikannya dengan tidak sabar.

Begitu ada kabar buku ini sudah terbit dan telah beredar di toko buku, saya langsung pergi membelinya, walaupun harganya yang cukup mahal, yaitu lima puluh ribu. Saya langsung membelinya tanpa pikir panjang, karena karya Ilana Tan tak pernah mengecewakan siapapun.

Saya berharap ini menjadi novel yang tidak kalah bagus dengan novel selanjutnya. Awalnya saya agak heran, mengapa tipis sekali? Biasanya novel Ilana Tan tidak pernah setipis ini. Walalupun begitu, saya tetap membelinya. Namun, alangkah kagetnya saya ketika menemukan buku itu hanya berisi kumpulan quotes dari empat novel pertamanya, Tetralogi Empat Musim. Jujur saja, saya tidak tahu bahwa buku ini hanya merupakan kumpulan kutipan-kutipan. Saya mengharapkan lebih, sehingga ketika harapan saya pupus begitu saja, saya merasa kecewa.

Tapi, setelah membacanya, saya merasa lebih baik. Kutipan-kutipan yang ada kembali membangkitkan berbagai rasa yang saya rasakan saat membaca keempat novel itu. Saya jadi kangen dengan keempat novel brilian itu, dan berniat untuk membaca ulang semuanya.

Di kata pengantar, ada pesan dari sang penulis:

“Ketika pertama kali aku menulis Summer in Seoul, gagasan untuk membuat tetralogi sama sekali tidak terpikirkan olehku. Summer in Seoul, yang pada awalnya memiliki judul yang sama sekali berbeda, kutulis untuk diikutsertakan dalam lomba. Karena aku tidak menang (hiks…), aku membongkar dan merapikan kembali cerita itu, mencari judul yang lebih menarik (terus terang saja, judul awalnya sangat mengerikan), lalu mengirimkannya kepada Gramedia Pustaka Utama. Hasilnya? Summer in Seoul pun diterbitkan. Hore!

Setelah itu, aku mulai memikirkan buku berikut. Dan Tara Dupont, yang pertama kali muncul di Summer in Seoul sebagai tokoh sampingan, terlihat seperti karakter yang menarik. Dia terkesan seperti seseorang yang punya banyak cerita. Jadi aku pun menghampirinya dan membiarkannya bercerita.

Ide untuk membuat tetralogi muncul setelah Autumn in Paris selesai ditulis. Saat itu aku berpikir, ”Karena sudah ada musim panas dan musim gugur, sebaiknya aku melanjutkan dengan musim dingin dan musim semi. Baiklah, sekarang apa yang harus kutulis untuk cerita musim dingin?” Langsung saja, Ishida Keiko melangkah maju dan bertanya apakah aku bersedia menulis cerita tentang dirinya. Aku tidak mungkin menolak kesempatan itu.

Di tengah-tengah penulisan Winter in Tokyo, aku sadar bahwa setelah ini aku harus menelusuri kehidupan kembaran Keiko, Naomi, yang hanya pernah diungkit-ungkit namun tidak pernah terlihat. Banyaknya kemungkinan alur cerita yang bisa diberikan Naomi yang misterius menegaskan keputusanku untuk mengikutinya dan menulis kisah hidupnya.

Masing-masing penulis memiliki cara tersendiri dalam menulis. Aku pun begitu. Aku tidak membuat rencana atau kerangka ketika menulis. Satu cerita hanya diawali satu ide sederhana, lalu aku menunggu ide itu berkembang dengan sendirinya. Aku mengamati ke mana alur cerita itu mengalir dan menulis mengikuti aliran itu. Aku tidak pernah menyuruh tokoh-tokohku melakukan tindakan tertentu atau mengucapkan kata-kata tertentu. Aku hanya menempatkan mereka dalam suatu keadaan, lalu melihat apa yang mereka lakukan dan apa yang akan mereka katakan. Karena ini kisah mereka, bukan kisahku.

Gramedia Pustaka Utama-lah yang pertama kali memberikan ide untuk membuat journal ini, dan dengan journal ingin aku ingin mengajak kalian mengenang kembali setiap kisah dalam keempat musim itu. Kuharap kalian bisa menemukan kutipan kesukaan kalian dalam journal ini. Silakan menambahkan kesan-kesan kalian sendiri di setiap halamannya.

Akhir kata, aku ingin berterima kasih atas dukungan kalian selama ini. Kuharap kalian menikmati kisah setiap musimnya sebesar aku menikmati menulis setiap patah kata dalam setiap kisahnya.”

Kata pengantar itu membuat saya merasa senang, seperti membaca isi hati penulis. Di akhir kata pengantar, ada tanda tangan Ilana Tan, yang membuat saya menjadi lebih senang. Lalu, ada foto-foto yang menggambarkan setting keempat novel itu. Fotonya sangat indah, cocok sekali dengan setting yang ingin digambarkan, membuat saya lebih gampang membayangkan setting dalam cerita. Selain itu, novel ini full color dengan design layout yang menarik. Pantas saja harganya mahal.

Yah, ujung-ujungnya saya tidak begitu menyesal telah membeli novel ini. Karena isinya hanya berupa kutipan, tidak memerlukan waktu yang lama untuk membacanya, sehingga, setiap kali saya kangen dengan karya Ilana Tan, saya tinggal membaca buku ini. Saya harap, para pembaca yang membelinya tidak merasa kecewa dan menyesal telah membeli buku ini, karena seperti yang saya katakan, karya Ilana Tan tidak pernah mengecewakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s