[The Truth About Forever Fan Fiction] Setitik Harapan

Posted: June 20, 2013 in Fan Fictions
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Joining    : Writing Fan Fiction Challenge

Held by   : Fan Page GagasMedia

Status      : Win

The Untold Story of ‘The Truth About Forever’ by Orizuka

Truth About Forever cover baru

(Sumber: Goodreads)

Yogas tersentak dari lamunannya ketika menyadari taksi yang sedang ditumpanginya telah berhenti. Yogas melemparkan pandangan keluar jendela dan menatap gedung tua di hadapannya. Ia ingat, beberapa waktu yang lalu, ketika ia baru sampai di gedung ini. Hatinya masih begitu keras dan penuh kebencian. Otaknya hanya diisi oleh satu tujuan, mencari orang yang menyebabkan penderitaannya ini dan memberinya pelajaran.

Namun sekarang, ia kembali dihadapkan dengan gedung ini, dalam keadaan yang seratus delapan puluh derajat berbeda. Hatinya telah dipenuhi harapan dan kobaran semangat, dan otaknya dipenuhi oleh wajah seorang gadis yang keras kepala itu, Kana. Saat ia kembali lagi ke tempat ini, ia pasti sudah menyandang gelar sutradara. Harus.

Yogas membayar supir taksi tersebut, lalu keluar sambil menenteng ranselnya. Setelah ia bisa duduk tenang di kursi kereta, Yogas memejamkan matanya dan mulai memikirkan apa yang hendak ia lakukan begitu ia sampai di Jakarta. Yang jelas, ia akan menemui keluarganya dan Wulan. Lalu, mendaftar kuliah di bidang perfilman? Ya, mungkin itu ide yang bagus.

Yogas merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah berjam-jam menghabiskan waktu di kereta. Begitu ia menginjakkan kaki di depan pagar rumahnya, ibu dan ayahnya langsung berlari keluar. Ibunya langsung menghambur ke arahnya dan memeluknya erat-erat, sampai Yogas kesulitan bernafas.

“Oh, Yogas. Akhirnya kamu pulang juga, Sayang. Kamu nggak apa-apa? Sudah makan? Sudah minum obat?” Ibu Yogas menerornya dengan ribuan pertanyaan.

“Yogas nggak apa-apa kok, Ma. Tenang aja,” jawab Yogas santai.

Ayah Yogas menepuk pundak anaknya pelan. “Selamat datang kembali, Gas. Maafin Papa, ya.” Pria itu tersenyum tipis.

Yogas sempat terpaku beberapa saat, memandangi wajah pria yang sudah begitu lama tak ditemuinya. Ia mengangguk pelan, lalu sudut-sudut bibirnya ikut terangkat.

Ah, akhirnya, takdir kembali menolehkan kepalanya pada Yogas. Hidupnya yang tadinya terasa begitu berantakan, pelan-pelan ditata ulang.

Welcome home, Gas,” sambut Wulan begitu Yogas memasuki ruang tamu rumahnya.

Yogas tersenyum dan menatap gadis di hadapannya. Gadis yang dulu sangat dicintainya, tetapi sekarang semua sudah berubah.

So, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Wulan ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman belakang rumah Yogas.

“Aku udah janji ke Kana, kalo aku bakal ngejar cita-citaku,” jawab Yogas sambil tersenyum kecil. Matanya menerawang, kembali mengingat janji yang ia buat dengan gadis itu.

“Kalo gue udah jadi sutradara, dan lo udah jadi penulis best seller, ayo kita ketemu lagi.”

“Kalo gitu, janji ya? Kalo kita sudah sama-sama ngeraih cita-cita kita, kita ketemu lagi.”

Senyum Yogas semakin melebar ketika mengingat janji itu. Semangatnya semakin tersulut. Ia jadi tidak sabar untuk cepat-cepat meraih cita-citanya, dan bertemu lagi dengan gadis itu.

Wulan menatap Yogas dengan pandangan haru. Akhirnya, sahabatnya yang satu ini dapat menemukan kembali harapan untuk berjuang hidup. “Jadi, apa yang bakal kamu lakuin demi ngeraih cita-citamu itu?”

Yogas tampak menimbang-nimbang sejenak. “Mungkin, masuk kuliah dan ambil jurusan perfilman?”

Wulan tersenyum puas. “Good idea.”

Dan di sinilah Yogas. Duduk di salah satu kursi di Jurusan Perfilman Institut Kesenian Jakarta. Sejauh ini, ia telah mengikuti pelajaran dengan antusias. Semua ini demi gadis itu.

Yogas sedang menyusuri lorong di depan kelasnya dan menemukan kerumunan orang di depan mading. Penasaran, ia pun menghampiri kerumunan itu. Ia menyelip di antara desak-desakan mahasiswa dan berhasil mencapai barisan terdepan untuk melihat poster besar yang terpajang di atas mading.

Yogas tersenyum penuh harapan setelah melihat tulisan demi tulisan yang tertera di poster itu. Ini adalah kesempatan untuknya. Kesempatan untuk unjuk gigi. Ia jelas akan mengikuti lomba film indie ini. Lagipula, ia sudah mendapat ide untuk film yang akan dibuatnya.

Semenjak Yogas mendaftarkan diri untuk mengikuti perlombaan itu, ia semakin terlihat bersemangat. Setelah pulang kuliah, atau setiap memiliki waktu luang, Yogas pasti berkutat dengan handycam dan filmnya. Tiada hari tanpa syuting. Ia benar-benar bertekad untuk memenangkan lomba ini.

Berkat kegigihan dan semangat yang berkobar-kobar, akhirnya film itu pun jadi, dan segera Yogas kumpulkan ke panitia. Yogas menunggu dan menunggu. Terus menghitung hari demi hari hingga akhrinya, hari yang ditunggu-tunggunya pun tiba.

Pada hari H, semua peserta diundang ke bioskop Hollywood XXI. Gedung bioskop yang megah itu benar-benar nyaman. Semua peserta telah duduk tenang di sofa empuk dalam salah satu theater yang telah disewa panitia.

“Selamat siang, para peserta Lomba Film Indie. Terima kasih telah hadir tepat waktu. Seperti yang telah Anda ketahui, hari ini kami akan mengumumkan hasil lomba yang telah Anda ikuti. Kami mengumpulkan Anda semua di sini karena film yang memenangkan lomba  ini akan langsung diputar di tempat ini.”

Suasana menjadi sangat hening. Masing-masing peserta terlihat gugup dan berharap-harap cemas film merekalah yang terpilih. Yogas meremas jarinya dengan gelisah. Ini dia waktu yang ditunggu-tunggunya. Dalam waktu beberapa menit lagi, ia akan mengetahui apakah ia akan mendapat setitik celah untuk menggapai mimpinya.

“Baiklah, kami akan segera memutar film yang menjadi pemenangnya. Selamat menonton.”

Lampu di ruangan itu mulai menggelap, dan layar lebar di hadapan Yogas mulai melebar. Layar kosongnya mulai menampilkan background hitam dengan tulisan putih di atasnya. Yogas menahan nafasnya ketika membaca serentetan kata-kata itu.

Setitik Harapan. A Short Movie by Yogas.

Layar berubah menampilkan sebuah ruangan praktik dokter di sebuah rumah sakit. Sang dokter sedang membaca sebuah berkas dengan saksama, kemudian menatap pasien di hadapannya dengan pandangan prihatin.

“Maafkan saya, Dik. Tidak ada kesalahan diagnosa. Anda memang positif mengidap penyakit HIV/AIDS.”

Raut wajah sang pasien berubah pucat pasi. Ia mengangguk dengan linglung, kemudian beranjak keluar dari ruangan itu. Pemuda itu menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Sebuah suara mengiringinya berjalan.

“Jika kau didiagnosa mengidap penyakit mematikan yang tidak bisa disembuhkan, apa yang akan kau lakukan? Bukan, bukan hanya mematikan dan tidak bisa disembuhkan, namun penyakit yang akan membuat orang-orang merasa jijik.”

“Kau akan dijauhi dan dicampakkan oleh orang-orang yang kau kasihi.”

Layar berganti lagi, kali ini menampilkan seorang pria paruh baya yang meninggalkan sebuah rumah, tidak menghiraukan tatapan sedih seorang wanita – yang tak lain dan tak bukan adalah istri pria itu, dan pemuda tadi – yang jelas merupakan anaknya. Lalu, adegan selanjutnya menampilkan seorang gadis – kekasih pemuda itu, yang pergi meninggalkan pemuda tadi sendirian.

“Saat satu demi satu orang yang berharga yang kau miliki pergi meninggalkanmu, siapa lagi yang dapat kau percayai? Pada akhirnya, kau tinggal sebatang kara, menenggelamkan diri ke lubang yang paling gelap, dan menyembunyikan diri dari dunia ini.”

Pemuda tadi mulai suka menyendiri, menjauhi teman-teman sekolahnya.

“Kau mulai menarruh dendam. Dendam kepada orang-orang yang mencampakkanmu. Dendam kepada orang yang menjadi dalang atas semua penderitaanmu. Kau mulai membenci hidupmu. Kau mulai membenci dirimu sendiri.”

Pemuda itu sedang berdiri di atas atap sebuah gedung tinggi, sendirian. Angin sepoi-sepoi bertiup dan memainkan ujung-ujung rambutnya.

“Matamu tertutup. Yang kau lihat hanyalah kebencian. Kau menutup diri. Tidak membiarkan siapapun memasuki duniamu. Kau menepis segala kebaikan orang di sekitarmu. Kau mengabaikan kepedulian dan ketulusan orang lain. Kau menghukum dirimu sendiri dengan tidak membiarkan dirimu merasakan secuil kebahagian.”

“Kau merasa dirimu tidak pantas menggenggam harapan. Tidak pantas menikmati sedikit pun kebahagiaan.”

Pemuda itu sedang berjalan di sebuah lorong yang panjang dan gelap, seakan tidak memiliki ujung.

“Namun, di tengah kegundahan yang kau alami, tidak tertutup kemungkinan kau akan menemukan setitik harapan.”

Di ujung lorong tersebut, mulai terlihat sebuah titik putih yang amat kecil.

“Semua orang pantas merasakan kebahagiaan. Semua orang pantas menggenggam harapan, sekecil apapun itu. Dan selama kita masih berharap, semuanya mungkin.”

Pemuda itu mulai melangkah menghampiri titik putih itu, dan semakin lama, titik itu semakin terlihat jelas.

“Perlu disadari, bahwa hidup ini berbicara tentang keseimbangan. Kita tidak mungkin terus  menerus merasakan kesedihan, pasti ada kebahagiaan yang menunggu kita di balik sana. Teruslah berharap.”

Pemuda itu sampai di ujung lorong dan menemukan sebuah pintu yang terbuka. Di balik pintu itu, ada keluarga dan sahabat-sahabatnya yang sedang tersenyum ke arahnya, lalu merentangkan tangan lebar-lebar.

“Terkadang, untuk bertahan hidup, yang kita perlukan hanyalah setitik harapan.”

Layar kembali berubah hitam, dengan tulisan THE END berwarna putih.

Tepukan tangan dan sorak sorai penonton menyentak Yogas ke alam sadar. Saat ia mengedipkan mata, ia baru sadar bahwa matanya kering dan pipinya telah basah. Yogas segera menghapus jejak air mata di pipinya ketika namanya dipanggil untuk maju ke depan.

Seorang pria memberikan sebuah piala kecil kepada Yogas, beserta sekeping CD yang Yogas yakini berisi film buatannya, lalu menyalaminya. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu bertepuk tangan sambil memuji-mujinya. Yogas tidak bisa menghapus senyuman di wajahnya.

Seusai acara, Yogas langsung bergegas pulang. Ia tidak sabar untuk memberitakan kabar gembira ini pada keluarganya dan juga Wulan. Sepanjang perjalanannya menuju halte bus, Yogas terus bersiul ria sambil sesekali tersenyum kepada orang yang berpapasan dengannya. Biar sajalah jika dikira orang gila. Ia tidak peduli. Suasana hatinya benar-benar baik hari ini.

Langkah Yogas terhenti ketika seorang anak kecil tidak sengaja menabraknya. Anak kecil itu menatap Yogas sebentar, kemudian berlalu begitu saja. Well, Yogas memang tidak mengharapkan permintaan maaf anak itu, mengingat umurnya yang masih kecil. Tetapi, sesuatu membuat kening Yogas berkerut. Kenapa anak sekecil itu berkeliaran di jalanan sendirian?

Yogas menoleh ke arah anak kecil yang telah melewatinya itu. Anak itu sedang berdiri di tepi jalan, bersiap untuk menyeberang jalan. Yogas berjalan pelan mendekatinya. Anak itu masih sangat kecil, jadi ada baiknya jika ia temani menyeberang.

Ketika jarak antara Yogas dan anak itu tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba anak itu mulai menyeberang, dan tidak sengaja tersandung. Bukannya langsung bangkit, anak itu malah duduk diam di tengah jalan sambil mengelus-ngelus lututnya. Anak itu sama sekali tidak menyadari ada sebuah kontainer yang sedang melaju ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Yogas langsung berlari ke arah anak itu dan mendorongnya ke tepi jalan, membiarkan kontainer itu menabrak dan mementalkan tubuhnya.

Supir kontainer itu langsung menginjak rem kuat-kuat, dan turun dari mobilnya, menghampiri tubuh Yogas yang mengalami pendarahan hebat. Yogas langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Ibu dan ayah Yogas yang telah dihubungi langsung bergegas menjenguk putra semata wayang mereka itu. Wulan juga segera datang. Mereka yang menunggu di luar hanya bisa berharap-harap cemas. Dokter dan para suster sedang sibuk menangani Yogas di ruang UGD.

Ketika akhirnya dokter keluar dari ruangan, mereka yang sedang menunggu dapat merasa sedikit lebih tenang.

“Yogas masih dalam keadaan kritis. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa. Sekarang kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya,” ujar dokter.

“Boleh saya masuk, Dok?” tanya ibu Yogas dengan nada yang sarat kecemasan.

“Tentu saja.”

Ibu Yogas kembali terisak ketika melihat putra satu-satunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan perban di sekujur tubuhnya. “Gas, ini Mama, Sayang.”

Ibu Yogas mengelus pelan kepala anaknya. “Ayo dong, Gas. Bangun. Jangan tidur terus,” gumamnya lirih. “Kamu bikin Mama, Papa, dan Wulan khawatir saja.”

Ibu Yogas mengenggam tangan Yogas yang bebas dari perban. “Ayo, Nak. Berjuang hidup. Demi Mama. Demi Papa. Demi Wulan. Dan, demi Kana. Kamu selama ini udah berjuang melawan penyakitmu demi Kana, masa kamu malah pergi karena hal ini?”

Ibu Yogas kembali menangis tersedu-sedu dan membenamkan wajahnya di samping tangan Yogas. Tiba-tiba, ia merasakan gerakan dari tangan yang digenggamnya. Ibu Yogas mengangkat wajah dan menatap tangan dan wajah Yogas secara bergantian.

“Kana…” gumam Yogas lirih.

Mata Ibu Yogas berbinar. “Kamu udah sadar, Nak? Ayo buka matamu.”

“Kana…” Yogas kembali menggumamkan nama itu.

Ibu Yogas tersenyum sedih. “Kamu pasti kangen berat ya, sama Kana? Sayang, dia nggak bisa ada di sini.”

“Kana, maafin aku.”

Ibu Yogas memasang telinganya untuk mendengar lebih jelas gumaman lirih yang keluar dari mulut Yogas.

“Maafin aku karna nggak bisa nepatin janji itu.”

Tepat setelah Yogas mengatakan itu, mesin di sebelahnya berbunyi “beep” yang panjang dan datar, menampilkan garis lurus tanpa ujung. Ibu Yogas mulai meraung-raung dan mengguncang-guncang tubuh anaknya, namun tidak ada gunanya. Dokter dan para suster memasuki ruangan dengan tergesa-gesa dan segera menangani Yogas. Ayah Yogas dan Wulan juga masuk untuk menarik Ibu Yogas keluar dan menenangkannya.

Ada yang mengatakan, ketika kau sudah berada di ambang pintu kematian, potongan-potongan kehidupanmu akan muncul satu per satu di depan matamu. Itulah yang Yogas lihat saat ini. Seperti potongan-potongan rekaman yang disatukan menjadi sebuah film, begitulah kenangan-kenangan hidupnya terpampang jelas di depan matanya.

Dimulai dari awal segala penderitaannya. Saat Joe, sahabatnya, mengajaknya bertemu di belakang sekolah. Kemudian anak-anak berandal itu datang, menahan tubuhnya, tidak membiarkannya menghindar ketika Joe menyuntikkan jarum itu ke lengan kirinya.

Lalu saat Joe pindah sekolah karena ketahuan menggunakan narkoba, Yogas mengira hidupnya akan baik-baik saja dan kembali seperti sedia kala. Namun ia salah. Penyakit itu datang tanpa diundang, meluluhlantakkan kehidupan Yogas.

Semua orang yang disayanginya pergi meninggalkannya. Ayahnya, lalu Wulan, kekasihnya. Yogas merasa hampa. Dan akhirnya ia memutuskan ia tidak mau menderita sendirian.

Yogas ingat ketika ia memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta, berharap akan menemukan Joe dan membalas dendam. Namun, ia malah bertemu Kana, gadis yang ngekos di kamar sebelahnya. Gadis yang entah mengapa membuat Yogas harus berjuang keras untuk mengabaikannya. Gadis yang selalu ada di sisinya, yang tulus peduli padanya, tanpa mengacuhkan penyakit yang diidapnya. Gadis yang membuat Yogas mencicipi secuil kebahagian dan memberi Yogas setitik harapan.

Lalu saat Yogas akhirnya menemukan Joe, namun malah mendapat berita pahit. Jarum suntik yang digunakan untuk menyuntik Yogas ternyata adalah milik Joe, yang berarti penyakit itu ditularkan dari Joe, sahabat masa kecilnya.

Semua kenangan, baik yang manis maupun yang pahit, semuanya berseliweran di hadapan Yogas, sampai kepada janji itu. Janji yang menjadi alasan Yogas untuk berjuang hidup, walaupun hidupnya harus mengejar waktu dan bergantung pada sebutir demi sebutir pil.

Maaf ya, Kana. Sepertinya pertemuan kita harus tertunda sedikit lebih lama lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s