Percikan Api dan Semburan Air Es

Posted: July 13, 2013 in Short Stories
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Pintu otomatis lift terbuka dan pria itu pun melangkah keluar. Ia sedang menarik nafas dalam-dalam ketika sudut matanya menangkap sosok seorang gadis dalam balutan gaun putih. Ia sedang berdiri mematung di ujung atap gedung itu. Jika ia bergerak maju satu senti lagi, ia akan jatuh. Tatapannya menerawang ke depan. Wajah bersihnya terlihat pucat dan matanya terlihat merah dan bengkak. Entah mengapa perasaan pria itu tidak enak ketika melihat pemandangan itu.

Tanpa sadar, kaki pria itu bergerak pelan menuju gadis itu. Ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa sentimeter lagi, tiba-tiba tubuh gadis itu oleng dan terhempas ke depan. Sontak tangan pria itu terulur, berusaha menggapai lengan gadis itu. Ia menghela nafas ketika tangannya berhasil mencengkeram lengan kecil gadis itu. Ia menarik tubuhnya yang ringan ke atas.

“Hey, kau gila, ya?” protes pria itu.

Gadis itu terlihat linglung. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu bergerak-gerak, berusaha melepaskan cengkraman kuat pria itu. Pria itu merenggangkan cengkramannya dan gadis itu bergerak menjauh dalam diam.

Pria itu memerhatikan gadis mungil yang saat ini sudah duduk di pojokan sambil mendekap kedua lututnya itu. Gadis itu meletakkan kepalanya di atas lututnya. Tubuh rampingnya berguncang, membuat saraf penasaran pria itu semakin tergelitik. Ia pun memutuskan untuk menghampiri gadis itu.

Ia berjongkok di sebelahnya, lalu menepuk pelan bahu gadis itu. “Hei, kamu nggak apa-apa?”

Gadis itu bergeming, tidak mengindahkan satu patah katapun yang keluar dari mulut pria itu. Melihat tidak ada respons dari gadis itu, ia pun mengulang pertanyaannya. “Kamu nggak apa-apa?”

Gadis itu mengangkat wajahnya yang basah. Matanya merah dan bengkak. Gadis itu merengut. “Nggak. Aku sangat apa-apa,” jawabnya skeptis.

Pria itu mengelus tengkuknya dengan canggung. “Kenapa tadi kamu mau loncat?”

Gadis itu mendengus, lalu menghapus jejak air mata di pipinya dengan kasar. “Bukan urusanmu. Pergi sana, lanjut kerja. Nanti kau diomeli bos brengsekmu itu pula,” usir gadis itu.

Pria yang berjongkok di sebelahnya itu mengernyit. “Bos brengsek?” ulangnya.

Gadis itu mendelik. “Iya! Bosmu itu orang terberengsek yang pernah kukenal!” teriaknya.

Pria itu kembali mengelus tengkuknya, bingung. “Kalau boleh tahu, kenapa ya? Setauku dia orang yang baik.”

Gadis itu mencibir. “Cih. Baik apanya. Serigala berbulu domba!” gerutunya.

Pria itu memerhatikan gadis di hadapannya dengan saksama, berusaha memilah-milah informasi yang ada. Gadis ini masih terlihat sangat muda. Wajahnya masih bersih dan mulus. Sinar matanya masih terlihat polos. Dan tubuhnya yang mungil semakin mendukung bukti-bukti yang ada.

Pria itu meneguk ludahnya. Bosnya itu memang baik, tapi reputasinya mengenai wanita sering dirumorkan yang tidak-tidak. Dengar-dengar, bosnya itu suka main perempuan, dan biasanya yang lebih muda. Apa gadis ini…

“Kenapa kau masih di sini?” tanya gadis itu dengan nada sengit, menyentak pria di hadapannya.

Pria itu menarik nafas. “Aku nggak akan pergi sampai kamu tersenyum dan pulang ke rumah,” sahutnya ringan.

Gadis itu mendengus. “Memangnya kau siapa? Kau bukan ayahku, jadi kau nggak berhak menyuruh-nyuruhku seperti itu. Lagian, orang patah hati mana sih yang bisa tersenyum?”

Pria itu terdiam sejenak, lalu tangannya terangkat pelan-pelan, dan jari terlunjuknya menunjuk ke arah dirinya sendiri. Ia mengangkat kedua sudut bibirnya. “Aku bisa,” sahutnya santai.

Untuk yang kesekian kalinya, gadis itu mendengus. “Memangnya kau lagi patah hati?”

Pria itu mengangkat bahu. “Begitulah,” sahutnya. “Kau juga? Apa karna…” Ia berdeham. “Bosku?”

Gadis itu mendesah. “Begitulah,” jawabnya singkat, meminjam jawaban pria tadi.

Pria itu mengerutkan dahi. “Jadi, kau mau bunuh diri cuma karena patah hati?” tanyanya tak habis pikir.

Gadis itu berkacak pinggang. “Enak saja! Aku nggak sedangkal itu! Jangan sok tau deh!” bentaknya.

Pria itu mengernyit. “Jadi?”

“Udah kubilang, bukan urusanmu. Kau nggak diajarin tata krama, ya? Mencampuri urusan orang lain itu nggak sopan, tau!”

Pria itu mengangkat bahu. “Ini kan kantorku, jadi aku punya hak dong buat mencari tau hal-hal yang mencurigakan, untuk menghindari masalah yang tidak diharapkan.”

Gadis itu merengut, memutuskan untuk tidak menjawab.

“Sudah, jangan sedih-sedih lagi. Udah gelap loh. Mending kamu pulang deh. Entar dicariin lagi,” usul pria itu.

Gadis itu kembali mendelik. “Dicariin siapa? Aku tinggal sendirian dan udah nggak punya pacar, jadi nggak akan ada yang nyariin,” sahutnya judes.

Pria itu kembali terkekeh. “Iya, iya. Jangan judes gitu, ah. Lupain aja si brengsek itu. Kamu pasti dapat yang jauh lebih baik darinya.”

Gadis itu mencibir. “Ogah, deh. Kapok sama yang namanya cinta.”

Pria itu mengangkat alis. “Wah, jangan sampe gitu juga, kali.”

“Habis mau gimana? Hatiku udah kebakar,” sahut gadis itu. “Dasar percikan api sialan!”  umpatnya.

Pria itu mengerutkan dahinya. “Maksudnya?”

Gadis itu mendesah. “Nothing. It’s just a theory of mine,” sahutnya pelan.

“Teori apa?” tanya pria itu, kelihatan tertarik.

Gadis itu kembali mendesah dan menatap langit biru tua di hadapannya dengan tatapan menerawang. “Cinta itu kayak percikan api di hati. Awalnya percikan itu hanya percikan kecil, menghadirkan rasa hangat di hati kita, lalu membuat rasa cinta yang ada membara, membuat kita berapi-api. Tapi lama kelamaan, api itu menjalar ke seluruh penjuru hati kita, semakin lama semakin besar, lalu akhirnya membakar hati kita. Rasanya sakit dan perih. Dan kalau dibiarkan saja, api itu akan menghanguskan hati kita.”

Pria itu terpaku di tempatnya, salut dengan serentetan kata-kata yang diucapkan gadis itu barusan. Teori yang unik, begitu menurutnya. “Aku juga punya teori sendiri,” komentarnya.

Gadis itu menoleh dan menatap pria yang kini duduk di sampingnya, menunggu kelanjutannya.

Pria itu memandang lurus ke depan. “Cinta itu seperti semburan air es. Hati kita terasa dingin dan sejuk berkat keberadaannya. Tapi jangan lupa, es itu bertemperatur sangat rendah, sanggup membekukan apapun, termasuk hati kita. Rasanya ngilu. Dan kalau dibiarkan saja, hati kita akan benar-benar beku dan lama-lama jadi mati rasa.”

Gadis itu terdiam. Lalu, pelan-pelan senyum di wajahnya mengembang. “Bagus juga teorimu,” komentarnya.

Pria itu balas tersenyum, puas karena telah berhasil menenangkan dan menghibur gadis itu.

Tiba-tiba, tubuh gadis itu menegak. Ia menoleh ke arah pria yang duduk di sebelahnya. “Eh, tadi kau bilang kau juga lagi patah hati. Ayo cerita! Aku kan udah cerita, sekarang giliranmu!” perintahnya. Oke, sekarang mereka benar-benar terlihat seperti dua sahabat yang saling mencurahkan isi hati masing-masing, bukan dua orang yang baru saja bertemu.

Pria itu terdiam sejenak, lalu akhirnya mendesah. “Kalau kamu mengencani pria yang lebih tua darimu, aku terbalik. Aku mengencani gadis yang lebih muda dariku.” Pria itu memulai.

“Aku sangat menyayanginya, tapi aku emang bukan orang yang romantis-romantis amat. Aku nggak gitu menganggap serius masalah percintaan. Menurutku, pacaran itu nggak harus ketemu dan memberi kabar tiap saat, nggak harus mesra-mesraan, atau hal-hal norak lainnya. Yang terpenting adalah komitmen. Komitmen untuk saling percaya pada satu sama lain. Komitmen untuk selalu ada untuk dia.”

“Tapi pacarku nggak sependapat. Menurutnya, cinta itu bukan hanya dirasakan, tapi harus diperlihatkan lewat setiap perkataan dan perbuatan. Ia suka hal-hal romantis, yang jarang ia dapatkan dariku. Jadi, ya… Lama-lama kami merasa nggak cocok, jadi kami putus.”

Gadis itu terdiam beberapa saat. “Sepertinya, aku harus mencari cowok yang lebih muda dan kau mencari cewek yang lebih tua. Ganti suasana,” guraunya.

Mereka tergelak bersama. Tiba-tiba, pria itu berhenti tertawa. “Jadi… apa alasanmu mau loncat tadi?”

Gadis itu seketika terdiam, lalu menunduk. “Orangtuaku meninggal sebulan yang lalu. Aku anak tunggal, and nggak ada keluargaku di sini, jadi aku cuma sendirian. Bosmu itu satu-satunya ‘keluarga’ yang aku punya. Aku sadar, sejak orangtuaku meninggal, aku jadi lebih manja, karna ya, you know, family complex. Tapi itu dianggap kekanakan sama mantanku. Tadi itu puncaknya, dia bilang dia ngerasa kami udah nggak cocok lagi, jadi dia putusin aku. Tentunya aku sangat terpukul. Aku ngerasa aku nggak punya siapa-siapa lagi. Aku nggak tau harus gimana, jadi kupikir…”

“Hey, jangan terlalu gampang mengakhiri hidup yang secara cuma-cuma Tuhan kasih,” sela pria itu. Ia memutar tubuhnya menghadap gadis itu. “Life is too precious to be ended that way.”

Gadis itu menunduk. “Ya, aku tau.”

“Akhir dari hidup seseorang itu keputusan Tuhan, bukan manusia. Jadi jangan bermain-main dengan keputusan itu, mengerti?”

Gadis itu mengangguk.

Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan kanannya. “Kalau begitu, ayo, aku antar pulang.”

Baru saja gadis itu menerima uluran tangan di hadapannya, ia langsung tersentak ketika merasakan tarikan yang kuat dari tangan itu. Ia yang belum siap karena tubuhnya masih lemas, tersentak ke depan dan kehilangan keseimbangan. Pria yang menariknya tadi dengan sigap menangkapnya.

Lalu, segalanya seakan membeku. Mereka terpaku dalam posisi masing-masing – tubuh mungil gadis itu yang sedang setengah dipeluk oleh pria di hadapannya. Pria itu tersadar lebih dulu. Ia berdeham, lalu melepaskan cengkramannya. Ia berjalan mendahului gadis itu menuju lift.

“Ayo,” ajaknya.

Gadis yang diajak bicara masih terpaku di tempatnya berdiri sambil menangkup pipinya yang terasa hangat. Kehangatan yang sudah lama tidak hinggap di pipinya. Ia merasa seakan ada angin sejuk yang berhembus menerpa hatinya.

Sepanjang perjalanan pulang, mereka lebih banyak diam, sibuk dengan pikiran masing-masing, dan juga detak jantung masing-masing. Mobil yang mereka naiki telah berhenti, tapi tidak ada yang bereaksi. Gadis itu melirik pria yang duduk di sebelahnya, tepat ketika sang pria juga sedang melirik ke arahnya. Pandangan mereka bertemu, namun mereka segera mengalihkannya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, berharap udara sejuk sanggup menghapus jejak kegugupan dalam hatinya, namun percuma saja.

“Kamu tau, teorimu itu benar.” Suara berat pria itu memecah keheningan. “Cinta itu seperti percikan api. Walaupun ia bisa menjalar dan membakar, tapi panas apinya sanggup meluluhkan hati yang beku.”

Gadis itu terdiam. Apa maksud pria ini…

“Kau tau, teorimu juga benar,” sahut gadis itu setelah terdiam beberapa saat. “Cinta seperti semburan air es. Walaupun mengilukan dan membekukan, tapi rasa dinginnya sanggup menyejukkan hati yang terbakar.”

Mereka berdua sama-sama terdiam, mencerna kata-kata masing-masing.

“Kamu tau,” suara pria itu kembali memecah keheningan. “Aku berumur dua puluh empat tahun.”

Gadis itu mengernyit. Lalu? Ia menoleh ke arah pria di sebelahnya, meminta penjelasan, tapi pria itu bergeming. Gadis itu mengerutkan dahinya, lalu teringat sesuatu. Ah, ya, pria itu lebih muda satu tahun darinya.  Ia jadi teringat kata-katanya sendiri.

“Sepertinya, aku harus mencari cowok yang lebih muda dan kau mencari cewek yang lebih tua. Ganti suasana.”

Ia melirik pria yang masih duduk diam di sebelahnya. Ia harus melakukan sesuatu. Ia bergerak ke kanan, mendekatkan wajahnya ke arah wajah pria itu, lalu mengecup pipinya dengan cepat. Lalu, ia melompat keluar dari mobil itu tanpa berkata satu patah kata pun.

Pria itu terpaku di tempatnya. Tangannya terangkat, mengelus pipi kirinya. Perlahan, senyuman mengembang di wajahnya. Ia merogoh saku kemejanya dan menemukan secarik kertas. Setelah mengecup pipinya tadi, gadis itu menaruh sesuatu ke dalam saku kemejanya. Ia membuka lipatan kertas itu dan menemukan sederet angka dan huruf yang tertulis rapi di atasnya.

Magenta Cerulean. +628xxxxxxxxx

 

Pria itu mengeluarkan benda kecil dari sakunya. Ia menekan-nekan tombol-tombol kecil pada benda itu dengan semangat baru.

Gadis itu melangkah riang menuju kamarnya. Langkahnya terasa semakin ringan. Ia meraih gagang pintu kamarnya dan hendak memutarnya ketika ia merasakan getaran di tas kecil yang ia tenteng. Ia mengeluarkan sebuah benda segiempat dari tasnya dan menekan beberapa tombol, lalu kedua sudut bibirnya terangkat.

From: +628xxxxxxxxx

I am no prince. I am no saint. I am not anyone’s wildest dream. But I will stand behind, and be someone to fall back on (;  – Valentino Roberts 

Nama dan nomor yang asing, tapi gadis itu tahu jelas siapa pengirimnya. Ia merasakan percikan api dan semburan air es di hatinya – keduanya sekaligus. Dan anehnya, kombinasi keduanya terasa… sempurna. Aneh memang, bagaimana ia begitu cepat pulih dari patah hatinya dan kembali jatuh cinta. Well, like they said, love is the best medicine. Ia tidak bisa menghindarinya seumur hidup. Lagipula, ia punya firasat baik tentang ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s