[Ini Cerita Lebaranku, Mana Ceritamu?] Akulturasi dan Reuni

Posted: August 12, 2013 in Travel Notes
Tags: , , , , ,

[COPYRIGHTED!]

Joining  : Giveaway

Held by : Winnaddict (twitter fanbase of Winna Efendi)

Status    : Win

(P.S: I modified it a bit)

Bulan Agustus tahun 2013, teman kakak perempuanku menikah di Singapura. Berhubung negara singa itu letaknya dekat dengan kotaku, maka kakakku dan suaminya, yang menjadi bride’s maid dan best man di acara pernikahan teman mereka itu, memutuskan untuk mampir ke kotaku. Pas sekali, kedatangan mereka berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri – alias lebaran, jadi kami memutuskan untuk sekalian mudik ke Pontianak. Tidak bisa dibilang mudik, sih, karena kami tidak merayakan lebaran, dan Pontianak bukan benar-benar “kampung” kami. Aku hanya pernah tinggal di sana selama 2 tahun. Tapi ya, anggap saja ini mudik.

Ada banyak saudara kami yang menetap di Pontianak, dan makam papaku juga berada di sana, jadi ya, sekalian, mumpung sekolah sedang libur. Jadilah aku dan keluargaku (Mama, adik, kakak dan kakak iparku) berangkat ke Pontianak. Kami numpang di rumah kakek-nenekku (orangtua Almarhum Papa) – yang dulunya sempat kutinggali semasa kelas 3-4 SD. Setiap kali pulang, kami selalu menginap di sini.

Begitu sampai, kami langsung dibawa ke sebuah rumah makan yang khas dengan nasi plus berbagai macam dagingnya.

Nasi Ayam

Kota ini memang khas dengan berbagai macam makanan lezat. Ada kakek dan nenekku, tante (kakak perempuan Papa), suaminya, dan anak laki-lakinya (sepupuku). Setelah makan siang, kami diantar pulang untuk mandi dan beristirahat. Pukul enam, kami kembali dijemput untuk makan malam bersama. Ada adik dari kakekku beserta istrinya, juga sepupuku yang lain. Kami makan di rumah makan lain, dengan meja makan bulat dan kursi-kursi yang mengitarinya.

Kakakku melanjutkan kuliah di Australia, lalu menikah dengan orang sana, dan sudah hamil. Semua orang merasa senang dengan kabar baik ini. Kami sekeluarga memang sering pulang ke Pontianak untuk ziarah makam Papa dan mengunjungi saudara, tapi ini kali pertama kakak iparku ikut pulang. Hampir semua anggota keluargaku tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan, rata-rata dari kami menggunakan bahasa Khek. Ini membuat kakak iparku kebingungan ketika mendengar percakapan kami. Terkadang, kakakku menerjemahkan untuknya.

Kedatangan bule di keluarga kami mengubah suasana. Bukan menjadi canggung, justru menjadi semakin ceria. Karena budaya keluargaku cukup terpengaruh keluarga kakek dan nenekku, maka kami (aku dan saudara-saudaraku) diajari untuk memanggil kerabat yang lebih tua dengan sebutan dalam bahasa Khek. Contohnya, kakekku dipanggil akung, dan nenekku dipanggil apho. Kakek dan nenekku pun meminta kakak iparku untuk memanggil mereka dengan sebutan yang sama.

Lucunya, beberapa kata dalam bahasa Khek sangat pas di lidah kakak iparku. Ia bisa menyebutkannya dengan pelafalan dan intonasi yang tepat. Namun, terkadang ia kesulitan dan salah sebut. Itu menjadi bahan tertawaan kami. Selain itu, setiap kerabat memiliki nama panggilan yang berbeda-beda, semua dalam bahasa Khek, sehingga kakak iparku kesulitan dalam mengingatnya. Kadang, ada yang sengaja mengecohnya, sehingga ia jadi salah panggil.

Kakakku juga mengajarkan suaminya untuk memanggil kerabat setiap kali bertemu, dan ia sungguh melakukannya. Kami tidak pernah lelah memintanya untuk melakukannya, dan selalu terasa lucu bila sebutan-sebutan itu keluar dari mulutnya. Akulturasi benar-benar menyenangkan.

Ada satu hal yang paling lucu. Di rumah kakek dan nenekku, kamar mandinya menggunakan bak, bukan shower ataupun bathtub. Jadi, air untuk mandi ditampung dalam satu bak penampungan, lalu diambil dengan gayung. Kakak iparku tidak tahu tentang cara mandi seperti itu. Ia kira, bak itu untuk berendam, dan ia hampir saja mencemplungkan diri ke dalamnya. Untung kakakku tahu, lalu mengajarinya.

Kami semua senang dengan kehadiran kakak iparku itu. Kasihan juga, sih, melihatnya dibully terus. Tapi, sepertinya ia tidak keberatan. Aku rasa ia menikmati kunjungannya. Ia bilang, ia suka dengan makanan-makanan yang ada di sini.

Di hari kedua, kami bangun cukup pagi, dan berangkat ke makam Papa pukul 6, supaya tidak panas. Setelah itu, kami pergi sarapan bubur. Siangnya, kami jalan-jalan ke mall dan makan siang di Pizza Hut, lalu makan chai kue di sebuah rumah makan khusus. Kakakku juga pesan es. Yum!

Chai Kue

Es

 

 

 

 

 

Memang tidak banyak yang bisa kami lakukan di kota ini. Kegiatan kami hanya berkisar pada makan, makan, dan makan. Oke, ada jjalan-jalan ke mall dan ngumpul-ngumpul juga. Dan hal-hal simpel itulah yang semakin mendekatkan kami.

Jarak kadang memisahkan kami cukup lama, jadi, ada banyak hal yang dapat kami ceritakan. Hubungan kami jadi terasa lebih dekat sekarang. Aku sangat menikmati kebersamaan kami. Saat-saat seperti ini sangat layak untuk dinikmati dan dihargai, karena tidak ada yang tahu apakah ini yang terakhir atau bukan.

Di hari ketiga, Mama dan kerabat lainnya pergi sarapan entah kemana, dan membelikan aku dan adikku nasi kari (dibawa pulang). Nasi karinya enak! Lalu, setelah mandi dan sebagainya, kami mengunjungi rumah adik kakekku, yang dipanggil Nyi Ku Pho dan suaminya Nyi Ku Chong Kung. Namanya lebih sulit dan panjang, membuat kakak iparku susah payah menyebutnya – terutama Nyi Ku Chong Kung. Awalnya, kakak iparku salah sebut, jadi Nyi Chu Khong Kung. Lucu sekali!

Sebelumnya, kakak iparku juga belajar berhitung dalam bahasa Khek. Satu sampai sepuluh: Jit Nyi Sam Si Eng Liuk Chit Pat Qiu Sip. Ia susah payah menyebut dan menghafalkannya. Kurasa sampai sekarang, ia masih belum hafal. Ia paling ingat nomor lima: Eng. Dan yang paling sulit disebut nomor sembilan: Qiu.

Lalu, kakak iparku juga pernah menirukan kami yang berbicara dalam bahasa Khek dan Indonesia. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan nada yang dibuat-buat seperti orang Cina, dan mencampurnya dengan kata-kata yang ia sebut sembarangan, membuatnya menjadi sangat lucu. Ia juga bisa menirukan kelakukan kakakku dengan sangat mirip, saking miripnya, kami sampai tertawa terbahak-bahak. Kakakku selalu memarahinya jika ia menaruh benda apapun terlalu ujung. Ia menirukan kakakku yang marah-marah, dan itu benar-benar lucu. Seharusnya, aku merekamnya, ya. Sayang sekali.

Setelah itu, kami mengunjungi Ligo – supermarket favoritku sejak kecil. Di sana, kami belanja beberapa makanan, dan kakakku membeli beberapa keperluan hamilnya. Kakak iparku membeli ikat pinggang baru. Lucunya, saat ia ingin mencobanya, ia tidak tahu bagaimana cara memakainya, sampai-sampai pelanggan lain yang melihatnya tertawa dan bilang, “Wah, bule nggak bisa pakai ikat pinggang!”, lalu mengajarkan kakak iparku cara memakainya. Setelah selesai, kakak iparku mengucapkan terima kasih dalam bahasa Khek, padahal orang yang membantunya bukan orang Khek (pribumi). Sungguh lucu!

Setelah asyik belanja di Ligo, kami pulang dan makan siang di rumah. Nenekku memasak sayur-sayur favorit kami. Malamnya, kami makan malam di rumah makan yang sama dengan malam pertama, karena rumah makan lain tutup, dan rumah makan itu yang paling enak di antara yang lain.

Sepulang dari makan malam, kami mampir ke rumah adik kakekku yang lain (yeah, kakekku punya banyak saudara). Di sana, kami juga hanya mengobrol. Saat sudah mau pulang, kakak iparku menyalami semua orang dan berterima kasih, sambil menyebut panggilan tiap kerabat satu per satu. Saat sampai giliranku, ia menyebut nama Cinaku dengan tepat, padahal awalnya ia salah sebut (ia memanggilku “Keng-Keng”, dan aku hampir mati tertawa karenanya).

Kupikir ia tidak akan salah menyebut nama adikku, karena awalnya ia dapat menyebutnya dengan tepat, Tapi siapa sangka, ia malah memanggil adikku “Keng-Keng”, dan tidak merasa salah sama sekali. Kami semua tertawa terbahak-bahak. Keesokan harinya, hari Minggu (hari keempat lebaran), kami pulang. Empat hari itu adalah empat hari mudik yang paling menyenangkan dalam hidupku😀

Aku ingin mengupload foto-foto kami selama di sana, tapi semuanya ada di kamera kakakku, jadi menyusul, ya!😀

Anyway, untuk mengikuti giveaway ini, butuh beberapa perjuangan dan kreatifitas. Kenapa? Selama pulkam, tidak ada laptop dan internet. Hanya ada paket internet dari HP, itupun dengan pulsa pas-pasan (lupa isi pulsa sebelum berangkat. Tsk!). Tadinya, aku sudah mau menyerah, tapi ternyata, otakku yang lemot ini bisa bekerja dengan baik.

Androidku punya aplikasi Polaris Office, jadi bisa mengetik di Android dan disave dalam bentuk file Ms Word. Lalu, ada paket internet yang bisa dipakai untuk kirim email. Jadilah aku mengetik cerita ini di Android, lalu dikirim via Bluetooth ke HPku yang berkoneksi internet, dan mengirim email ke admin lewat HP itu. Aku bahkan tidak tahu jumlah kata yang kutulis, karena Polaris Office tidak punya fasilitas word count.

Untungnya perjuanganku itu tidak sia-sia. Aku menang! Sama sekali di luar prediksi. Senangnya!😀

Yeeha!

Hadiahnya? Aku memilih novel London: Angel by Windry Ramadhina.

London: Angel

Sumber: Goodreads

What a lovely Lebaran!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s