[Twilight Saga Fan Fiction] When Fiction Becomes Reality (Part 2)

Posted: September 12, 2013 in Fan Fictions
Tags: , , ,

[COPYRIGHTED!]

Sorry it took so long for me to post the second part. I was quite busy here, and I could only write a bit. I hope you enjoy it!

Oh yeah, check out Part 1

Aku menatap orang-orang (oke, maksudku, vampir-vampir) di hadapanku dengan takjub, namun sedikit kecewa. Well, harus kuakui, aku sedikit berharap The Cullens mirip dengan para artis yang memerankan mereka di film. Tapi, aku tahu itu mustahil.

Namun, mereka tetap tampak mengagumkan, mirip dengan yang dideskripsikan oleh Stephenie Meyer di novelnya. Pria berwajah bak bintang film, yang duduk tepat di hadapan Vaughn, dengan rambut pirang sepanjang tengkuk dan tubuh tinggi agak berotot, kukenali sebagai Carlisle Cullen, pemimpin klan ini. Lalu di sebelah kanannya, wanita bertubuh ramping dengan wajah berbentuk hati dan rambut bergelombang berwarna cokelat karamel, itu pasti Esme. She looks really gorgeous.

Pria tinggi lain yang berdiri di ujung sofa, dengan rambut pendek berwarna pirang madu, kuyakini sebagai Jasper Hale. Aku tidak berani menatapnya lama-lama, karena ia sedang menatapku tajam. Wajahnya tampak sangat serius dan sedikit mengerikan. Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita mungil yang bergelayut manja di lengan kirinya. Rambut hitamnya yang pendek mencuat-cuat keluar. Ia terseyum tipis ke arahku, membuatku merasa sedikit lebih baik. Si vampir bertubuh kecil yang mirip peri, Alice.

Pria lain yang menyandarkan tubuh berototnya ke bagian belakang sofa, tepat di belakang Carlisle, sedang tersenyum lebar ke arahku, membuat lesung pipinya muncul, dan memberi kesan polos yang menggemaskan di wajahnya. Padahal, ia pria yang bertubuh paling besar dan paling tinggi, tapi aku tidak merasa takut sama awkali padanya. That’s Emmet!

Wanita yang berdiri tegak di sebelahnya tampak kontras sekali dengan Emmet. Bukan soal warna kulit atau warna rambut (Well, memang sih, warna rambut mereka kontras, Emmet berambut cokelat tua hampir hitam, sedangkan wanita itu berambut panjang bergelombang berwarna pirang), tapi soal ekspresi. Aku mengerti mengapa Jasper dan Rosalie dianggap kembar. Mereka memiliki cukup banyak kesamaan. Warna rambut mereka sama-sama pirang, dan mereka sama-sama sering terlihat serius dan…jutek? Pokoknya aku merasa tidak nyaman jika menatap Rosalie lama-lama. Padahal, ia berwajah sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Nikki Reed. Dan postur tubuhnya benar-benar mengagumkan. Pantas saja Emmet pernah mengiranya salah satu malaikat dari Surga.

Dan yang terakhir, dua pasangan favoritku, yang berkumpul beraam di ujung lain sofa. Si pria yang bertubuh paling tinggi dan terlihat sangat kontras dengan semua orang (err, vampir, atau makhluk) yang ada di dalam ruangan ini, dengan kulit sawo matang (mengingatkanku pada Ben), rambut cepak berwarna hitam, dan sepasang mata cokelat yang sedang menatapku tajam. Jacob Black berdiri dengan posisi siaga sambil menatapku lekat-lekat, berusaha menyembunyikan (oke, melindungi) gadis mungil yang berdiri di belakangnya. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, hanya sekilas melihat rambut ikalnya yang berwarna perunggu. Seketika itu juga aku terkesiap. Itu… Renesmee? Wow, ia sudah tumbuh dewasa. Ah, tentu saja. Sudah tujuh tahun berlalu sejak ia lahir, jadi ia pasti sudah mencapai kedewasaan.

Dua vampir terakhir juga berdiri dengan posisi melindungi yang kurang lebih sama dengan Jacob, tetapi tidak semengintimidasi werewolf itu. Si pria tinggi yang – uh, sungguhan charming, dengan rambut perunggu yang acak-acakan dan tatapan tajam, awalnya sedang menatapku dalam-dalam dengan ekspresi datar, namun sekarang ia sudah mulai tersenyum tipis. Oh no, he must bee reading mu absurd minds. Ya, siapa lagi kalau bukan Edward!

Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita cantik yang sedang digandeng Edward. Aku mendesah kagum. Akhirnya aku bertemu dengannya. Vampir dengan rambut cokelat tua yang panjang, tebal, dan lurus, kening lebar, rahang sempit, dagu lancip, hidung runcing, bibir tebal, dan alis gelap yang tampak lurus itu tampak lebih cantik dari Kristen Stewart. Saking terpesonanya, sulit bagiku untuk mengalihkan pandangan. Ia tersenyum tipis ke arahku, membuatku merasa semakin senang.

Aku dan Vaughn akhirnya sampai di Kanada, setelah berminggu-minggu berkelana. Rumah keluarga Cullen jelas berbeda dengan yang ada di film. Jauh lebih besar dan megah.

Vaughn baru saja menjelaskan segala sesuatu tentangku, yang membuat seluruh anggota keluarga agak kaget, dan kelihatannya tidak sepenuhnya percaya pada cerita Vaughn, terutama perihal “daya tahan”ku terhadap darah.

Tapi Edward – yang jelas-jelas dapat membaca seluruh isi benakku, menyatakan bahwa Vaughn berkata jujur sambil menatapku takjub. Mau tidak mau aku merasa bangga.

“Katakan padaku, Nak. Apa kau sungguh-sungguh mengidolakan kami, sampai-sampai pernah mengimpikan untuk menjadi vampir?” tanya Carlisle dengan sedikit aksen Inggris yang membuatnya semakin….keren.

Aku mengangguk sambil tersenyum malu.

“Dan kau selalu membayangkan jika dirimu menjadi vampir, kau tidak akan meminum darah apapun?” tanyanya lagi, dengan nada yang terdengar seperti sedang mempertanyakan kewarasanku.

Lagi-lagi, aku mengangguk dengan senyuman malu.

“Luar biasa,” puji Carlisle tulus, membuatku merasa sedikit lebih baik.

“T-tapi akhirnya aku tetap meminum darah hewan, tetapi yang sudah diracik oleh temanku,” sahutku pelan.

“Teman?” ulang Edward dengan nada…menggoda?!

Tanpa sadar aku mendelik ke arahnya, membuatnya terkekeh.

“Kau hanya sanggup meminum darah yang sudah diracik? Berarti selama perjalanan ke sini, kau belum minum darah sedikitpun?” Kali ini, Jasper yang bertanya.

Aku mengangguk, lalu menggeleng. “Ben membawakan persediaan darah racikan itu untuk perjalananku ini,” jawabku.

Aku bisa merasakan tatapan takjub dari berbagai arah.

“So, what can we help you with?” tanya Carlisle ramah. “Kau berpikir untuk bergabung dengan kami?”

Aku mengangguk, lalu menggeleng, lalu mengangguk lagi. Oke, sebenarnya aku masih belum memutuskan apapun.

“Kau ingin bergabung agar tidak merepotkan Benmu itu, tapi kau juga tidak sanggup untuk hidup jauh darinya,” ujar Edward, mewakiliku untuk angkat bicara.

Aku segera menanggapi. “Bukan itu saja. Aku kan, hanya bisa menium darah racikannya,” elakku. Entah mengapa aku tidak suka diledek begitu oleh Edward – well, ia jelas-jelas meledekku dengan kata “Benmu” barusan.

“Kami – aku dan Carlisle, bisa belajar untuk membuat racikan itu untukmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu,” sahut Edward enteng, membuat mataku berbinar.

“Kalian sungguh mau melakukan itu untukku?” tanyaku penuh harap.

Edward dan Carlisle mengangguk bersamaan.

“Atau mungkin kau mau belajar meminum langsung darah hewan segar? Itu akan lebih baik,” ujar Emmet. “Don’t be a coward, Mildred,” ejeknya.

Aku mendengus. “Hate to admit, but I am a coward,” ujarku sambil mendesah.

“Tapi, bukan itu pokok masalah kita,” ujar Edward sambil melirik ke arahku.

Aku langsung merasa tidak enak.

Ia terkekeh. “Mildred, kalau kau memang tidak bisa hidup tanpanya, tinggallah bersamanya. Ia tidak merasa keberatan, kan?”

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. “Aku tidak mau merepotkannya.”

“Ah, love,” desah Emmet sambil tersenyum menggoda. “Kasusnya mirip denganmu, ya, Edward? Jatuh cinta pada manusia,” ejeknya sambil melirik Edward, yang langsung mendelik ke arahnya.

“Tapi kasus Mildred lebih complicated,” sahut Bella tanpa kusangka-sangka.

Edward tersenyum ke arahku, membuatku meleleh. “Tenang saja, Mildred, aku yakin Ben mencintaimu sebesar kau mencintainya,” ujarnya tenang.

Aku senang mendengarnya berkata begitu, tapi…. Sungguh, ini dilema yang menyebalkan.

“Atau kau bisa mengubahnya menjadi vampir juga dan membawanya ke sini. Jauh lebih mudah begitu, kan?” usul Emmet.

Aku ingin melemparnya dengan batu. “Enak saja. Aku tidak mau mengambil kehidupannya begitu.”

“Well, kau bisa meminta pendapatnya dulu. Siapa tahu ia memang mau menjadi vampir juga dan hidup bersamamu. You know,” ujar Bella sambil melirik ke arah Edward.

“Yeah.” Alice ikut menimpali. “I can see bright future for both of you, as vampires.”

Aku mengangkat sebelah alis. “Really? Tapi, aku…”

“Bella benar,” sela Carlisle. “Kau bisa mencoba menanyakan hal ini padanya.”

Aku menimbang-nimbang sejenak, dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

-TO BE CONTINUED-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s