Revanche

Posted: October 27, 2013 in Flash Fictions
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Joining  : Tantangan Nulis Seru 

Held by : nulisseru.com

Status    : Win

“Jangan mendekat!” teriak wanita itu sambil terus melangkah mundur. “Atau aku akan melompat!” ancamnya.

Pria di hadapannya tetap bergerak maju dengan langkah pelan, sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada. “Jangan takut,” ucapnya dengan nada menenangkan, tetapi malah membuat wanita itu semakin panik.

Pria itu melambaikan tangan ke arah pemandangan yang terpampang di belakang si wanita. “Indah, ya? Bukankah kau selalu mengagumi pemandangan ini?”

Pemandangan yang indah itu, dengan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi tiap lekuk kota Paris yang tampak mungil, bukannya mengingatkan si pria pada kenangan manis yang terbentuk di menara ini, melainkan kejadian dejavu yang menyakitkan. Di menara yang sama, jam yang sama, tetapi hari yang berbeda. Saat itu, ia juga sedang meyakinkan seseorang untuk tidak melompat dari puncak menara ini.

Sedangkan si wanita, yang ia ingat hanyalah pertemuan sederhana yang tanpa disangka membawa malapetaka padanya.

Hari itu adalah hari yang indah, bahkan hampir menjadi hari terindah dalam hidupnya. Ia akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya untuk mengunjungi menara fenomenal ini. Ia naik sampai ke puncak, dan begitu terpesona pada pemandangan indah yang terpampang di hadapannya. Saking terpesonanya, ia tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, seakan-akan pemandangan menakjubkan di hadapannya tidak bernilai sama sekali. 

Beautiful, isn’t it?” komentar wanita itu tanpa berpikir. Ia pun tidak tahu apa yang mendorongnya untuk memulai percakapan. Ia hanya merasa penasaran, mengapa pria itu tidak tampak takjub sama sekali pada pemandangan indah yang disajikan kota Paris.

Pria itu menoleh. “Pemandangan dari atas Arc de Triomphe lebih bagus,” sahutnya datar, membuat lawan bicaranya melongo.

“Tetapi, suasana yang terbentuk di menara ini berbeda. Ini menara cinta, kau tahu? Banyak kisah cinta yang terjalin di sini.” Wanita itu tidak tahu mengapa ia merasa harus membela menara favoritnya ini.

Pria itu masih menatap lawan bicaranya dengan tatapan datar. “Kau tahu, di sini juga sering terjadi kasus bunuh diri.”

Wanita itu mengangkat kedua alis sambil meringis. “Ya, aku pernah mendengarnya.”

“Kita hidup di dunia nyata, bukan di dunia fiksi. Menara ini tidak seindah yang diceritakan oleh dongeng-dongeng,” lanjut pria itu dengan nada dingin, membuat lawan bicaranya meneguk ludah dan menatapnya lekat-lekat.

“K-kau tidak sedang berniat untuk melompat dari sini, kan?” tanya wanita itu takut-takut.

Si pria melirik ke bawah sambil tersenyum samar. “Aku penasaran berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk sampai ke bawah,” ujarnya pelan sambil bergerak maju satu langkah, membuatnya berdiri tepat di ujung menara.

Wanita itu membekap mulutnya. “No, no! Jangan melompat!” serunya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, hendak mencari pertolongan. Namun, sedetik kemudian, terdengar suara tawa menggelegar, yang membuat wanita itu kembali menoleh ke arah lawan bicaranya.

“K-kau cuma bercanda, kan?” tanya wanita itu memastikan, sedangkan si lawan bicara masih terkekeh.

Pria itu melangkah ke arah lawan bicaranya, menjauhi ujung menara. “Ayo, akan kutunjukkan padamu kalau pemandangan dari puncak Arc de Triomphe lebih bagus dari ini.”

Saat itu, si wanita tidak tahu apa yang membuatnya menerima ajakan lawan bicaranya. Dan sekarang, ia sangat menyesali keputusannya itu, terlebih karena ia membiarkan pria itu mengantarnya pulang. Kalau ia tahu pria itu akan menculiknya seperti ini, ia tidak akan pernah membiarkan dirinya terlibat dengan pria gila ini.

“Sebenarnya, apa maumu?” tanya si wanita dengan nada sedingin mungkin.

Lawan bicaranya tersenyum misterius. “Siapa namaku?” tanyanya pelan, membuat si wanita mengernyit.

“Arthur. Right?” sahut si wanita ragu.

Pria yang bernama Arthur itu mendengus sinis. “Arthur-what?” tanyanya lagi,

“Kau tidak pernah memberitahu nama belakangmu,” sahut si wanita.

“Baiklah, akan kuberitahu sekarang. Namaku Arthur Clement. Does that ring a bell?”

Kedua mata cokelat wanita itu melebar. “Clement… Are you-”

Yes, I’m Lucas’s brother,” sela Arthur tak sabar.

Ekspresi wanita itu seketika berubah. “Wow, why didn’t you say so? How’s he? Sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya. Tiba-tiba saja dia bilang dia ingin pindah ke Eropa, tapi dia tidak menyebut ke negara mana. Apa dia pindah ke sini?”

“Tiba-tiba saja?” ulang Arthur skeptis. “Bukannya kau tahu jelas kalau dia memutuskan untuk pindah tepat setelah kau menolaknya?”

Wanita itu langsung terdiam. “A-aku… He said he was okay with it. Dia bilang dia mau pindah karena sudah bosan menetap di New York,” ujarnya membela diri.

Arthur mendengus sinis. “Kau ini polos sekali, ya,” komentarnya skeptis.

“K-kalau begitu, dimana dia sekarang?” tanya si wanita, benar-benar penasaran.

Arthur bergerak maju satu langkah, mempersempit jarak di antara kedua insan itu. “Kau ingat percakapan pertama kita di sini?”

Wanita itu mengangguk ragu. Lagi-lagi, pria ini mengganti topik seenaknya, gerutunya dalam hati.

Arthur meraba saku belakang celananya, membuat lawan bicaranya menahan nafas sambil memerhatikan gerak-geriknya lekat-lekat. Sebuntal koran tua terlempar ke arah wanita itu. Tercantum tanggal hari itu, tetapi dengan tahun yang berbeda – tahun lalu.

Wanita itu melirik pria di hadapannya sekilas, lalu memungut koran itu hati-hati. Sedetik kemudian, dahi wanita itu berkerut dalam. Semua tulisan yang tertera di koran itu ditulis dalam bahasa Prancis. Ia tidak mengerti sama sekali. Tetapi, foto yang terpampang besar di halaman pertama menjelaskan segalanya. Foto seorang pria yang sedang berdiri di ujung menara. Wanita itu membekap mulut saat mengenali pria itu.

“Kau tahu apa kata-kata terakhirnya?” tanya Arthur sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.

Lawan bicaranya masih terlalu shock untuk merespon, sementara kenangan pahit itu menyerbu masuk ke dalam benak Arthur.

“Jangan lakukan ini, Lucas. Pikirkan keluargamu. Mom, Dad, aku. Aren’t we more precious than that ungrateful girl?” tanya Arthur dengan nada memelas.

“Kau tidak mengerti, Arthur,” sahut Lucas lesu.

Exactly. Aku tidak mengerti sama sekali. Jadi, jelaskan padaku!”

Lucas mendesah. “Inilah caraku untuk menjelaskannya padamu. Kau tidak tahu betapa aku sangat mencintai gadis itu, dan inilah buktinya.”

Setelah berkata begitu, semuanya bergerak dengan sangat cepat. Tubuh Lucas yang terhuyung ke belakang, Arthur yang berusaha menggapai tangan kakaknya, Lucas yang mengabaikan uluran tangan Arthur, dan tubuhnya yang terjun bebas dengan cepat.

“Ja-jadi, kau ingin membalas dendam?” Suara bergetar wanita di hadapannya mengembalikan kesadaran Arthur. Wanita itu sedang melirik ngeri ke arah benda yang dipegang Arthur.

Arthur tersenyum tipis. “Ah, itu terdengar terlalu kejam. Aku hanya ingin kau tahu betapa kakakku mencintaimu, dan aku ingin kau ikut merasakan apa yang dirasakannya.”

Wanita itu meneguk ludah, lalu memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya tepat di mata. “Kalau begitu, kenapa kau tidak membiarkanku melompat daritadi?”

Arthur tersenyum penuh arti, lalu sedetik kemudian, terdengar suara ledakan, bersamaan dengan terhuyungnya tubuh si wanita ke belakang. Kali ini, Arthur berani menatap tubuh yang berlumuran darah di bagian dada itu terjun bebas, hingga menghilang di balik kegelapan malam.

“Karena aku tidak hanya ingin kau merasakan apa yang kakakku rasakan. Aku ingin kau lebih menderita.”

Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s