Let Go by Windhy Puspitadewi

Posted: November 21, 2013 in Book Reviews
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : Let Go

Pengarang        : Windhy Puspitadewi

Penerbit           : Gagas Media

Jumlah Halaman  : 244 halaman

Let Go

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Dari awal, aku penasaran sama karyanya kak Windhy, apalagi yang berjudul Let Go. Karena udah langka, aku beli online, deh. Cukup susah, loh, tapi untungnya ketemu. Dari semua karya kak Windhy, yang pernah kubaca baru Seandainya dan Let Go, dan terasa banget dua karya ini ditulis oleh orang yang sama. Dua-duanya punya moral lessons dan kisah yang menyentuh – bukan kisah romance menye-menye ala remaja. Ini yang kusuka – karya yang bermutu. Sayangnya, dari dua karya ini, jujur aja aku lebih suka Let Go, sih, karena tokoh-tokohnya lebih terasa nyata dan unik, terus kisahnya lebih menyentuh, somehow.

Kenapa aku penasaran sama Let Go? Karena banyak yang bilang novel ini bikin sedih – tipe yang kusuka juga, didukung oleh cover berwarna biru yang melambangkan ‘mellow’ atau ‘haru biru’, juga judul yang menarik – Let Go, melepaskan. Biasanya yang berhubungan dengan kata ini pasti ‘menyedihkan’ dan ‘menyakitkan’. Just an assumption, which is true, anyway – in this case. Dan seperti novel Gagas lainnya, novel ini juga memilik blurb yang bikin gregetan.

 

Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya.

      Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain. Selama ia merasa benar, dia akan melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang dengan sifat yang berbeda, yang terpaksa bersama untuk mengurus mading sekolah.

      Nathan, si pintar yang selalu bersikap sinis. Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta bantuan orang lain. Dan Sarah, cewek pemalu yang membuat Raka selalu ingin membantunya. Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.

 

Bedanya dari novel Gagas yang lain, blurb novel ini lebih jelas – sedikit mendeskripsikan isi novel, sedangkan novel lainnya – terutama novel-novel Gagas yang baru-baru ini dicetak, semua blurbnya hanya berisi kata-kata puitis yang menggugah hati, tapi justru membuat pembaca bingung, mana yang harus dibeli karena semua terdengar manis di telinga. Itu bagus, punya blurb yang menarik, tapi kelemahannya, kadang kata-kata manis itu memberi harapan kosong. Pembaca jadi mengharapkan sesuatu yang terlalu bagus, jadinya malah kecewa sendiri. Novel ini berbeda. Aku nggak kecewa sama sekali setelah baca novel ini – bahkan baca ulang-ulang dan ngumpulin quote-quote bagusnya.

‘Kehilangan’, sama seperti ‘melepaskan’, berkaitan dengan dua rasa yang kusebut di atas: ‘menyedihkan’ dan ‘menyakitkan’. Kehilangan dan melepaskan itu dua kata yang berbeda, tapi kadang saling berhubungan. Saat kita kehilangan seseorang, nggak ada yang bisa kita lakukan selain melepaskan orang tersebut. Kurasa semua orang tau melepaskan bukan hal yang mudah – sama sekali nggak mudah.

Caraka mengalaminya – kehilangan sang Ayah, dan sulit melepaskannya. Ia membenci ayahnya karena tega meninggalkannya dan ibunya, sehingga ia selalu menolak untuk mengunjungi makam sang Ayah. Lalu, ia bertemu dengan Nathan – cowok pintar yang selalu beraura dingin, Nadya – ketua kelas yang mandiri, dan Sarah – cewek pemalu yang sulit menolak permintaan orang lain.

Awalnya, ia tidak suka berteman dengan mereka, namun, situasi menjebaknya, dan lama kelamaan, ia pun terbiasa, bahkan menikmatinya. Sifatnya yang terlalu baik membuatnya menjadi ‘tukang ikut campur’. Ia tidak tahan melihat orang lain kesulitan dan selalu ingin membantu, tapi terkadang ia tidak menyadari batas-batas privasi seseorang. Beberapa orang senang akan sifatnya itu, sisanya merasa keberatan. Namun, berkat sifatnya itu, Raka belajar banyak – persahabatan, rela berkorban, dan tentu saja, melepaskan.

Seperti yang udah kusebut di atas, novel ini mengajarkan banyak hal, dan sanggup membuat pembaca terharu. Kisahnya sederhana aja, tapi nggak ditulis sembarangan. Konflik-konfliknya nyata, dialami oleh pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula tokohnya – sifat-sifat mereka sering ditemui di dalam diri kita maupun orang lain, tapi kak Windhy berhasil membuat mereka unik, in their own way.

Aku suka banget sama karakter Caraka. Kurasa semua fans kak Windhy yang udah baca novel ini juga kecantol sama dia. Nathan is fine, too. Dia yang bikin cerita ini makin sedih. Oh, bisa dibilang, it’s a sad ending, tapi karena tokoh utamanya belajar sesuatu dari itu, we can say it’s somewhere between.

Banyak banyak kalimat-kalimat bermakna yang bisa dijadikan pelajaran buat kehidupan kita. Aku ingat, aku baca novel ini selama liburan lebaran yang lalu. Aku pulang kampung, dan bawa novel ini. Aku baca tanggal 8, terus besoknya masih belum bisa move-on, jadi ulang baca sambil ngutip kalimat-kalimat bagus, dan (ehem, malu, nih) aku post di twitter.

Let Go

      Pokoknya, novel ini recommended, deh. Everyone should read it! Pengen rate 5 of 5, tapi entar dibilang mainstream, jadi 4.5 of 5, deh. Hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s