Archive for the ‘Book Reviews’ Category

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : Let Go

Pengarang        : Windhy Puspitadewi

Penerbit           : Gagas Media

Jumlah Halaman  : 244 halaman

Let Go

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Dari awal, aku penasaran sama karyanya kak Windhy, apalagi yang berjudul Let Go. Karena udah langka, aku beli online, deh. Cukup susah, loh, tapi untungnya ketemu. Dari semua karya kak Windhy, yang pernah kubaca baru Seandainya dan Let Go, dan terasa banget dua karya ini ditulis oleh orang yang sama. Dua-duanya punya moral lessons dan kisah yang menyentuh – bukan kisah romance menye-menye ala remaja. Ini yang kusuka – karya yang bermutu. Sayangnya, dari dua karya ini, jujur aja aku lebih suka Let Go, sih, karena tokoh-tokohnya lebih terasa nyata dan unik, terus kisahnya lebih menyentuh, somehow.

Kenapa aku penasaran sama Let Go? Karena banyak yang bilang novel ini bikin sedih – tipe yang kusuka juga, didukung oleh cover berwarna biru yang melambangkan ‘mellow’ atau ‘haru biru’, juga judul yang menarik – Let Go, melepaskan. Biasanya yang berhubungan dengan kata ini pasti ‘menyedihkan’ dan ‘menyakitkan’. Just an assumption, which is true, anyway – in this case. Dan seperti novel Gagas lainnya, novel ini juga memilik blurb yang bikin gregetan.

 

Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya.

      Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain. Selama ia merasa benar, dia akan melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang dengan sifat yang berbeda, yang terpaksa bersama untuk mengurus mading sekolah.

      Nathan, si pintar yang selalu bersikap sinis. Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta bantuan orang lain. Dan Sarah, cewek pemalu yang membuat Raka selalu ingin membantunya. Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.

 

Bedanya dari novel Gagas yang lain, blurb novel ini lebih jelas – sedikit mendeskripsikan isi novel, sedangkan novel lainnya – terutama novel-novel Gagas yang baru-baru ini dicetak, semua blurbnya hanya berisi kata-kata puitis yang menggugah hati, tapi justru membuat pembaca bingung, mana yang harus dibeli karena semua terdengar manis di telinga. Itu bagus, punya blurb yang menarik, tapi kelemahannya, kadang kata-kata manis itu memberi harapan kosong. Pembaca jadi mengharapkan sesuatu yang terlalu bagus, jadinya malah kecewa sendiri. Novel ini berbeda. Aku nggak kecewa sama sekali setelah baca novel ini – bahkan baca ulang-ulang dan ngumpulin quote-quote bagusnya.

‘Kehilangan’, sama seperti ‘melepaskan’, berkaitan dengan dua rasa yang kusebut di atas: ‘menyedihkan’ dan ‘menyakitkan’. Kehilangan dan melepaskan itu dua kata yang berbeda, tapi kadang saling berhubungan. Saat kita kehilangan seseorang, nggak ada yang bisa kita lakukan selain melepaskan orang tersebut. Kurasa semua orang tau melepaskan bukan hal yang mudah – sama sekali nggak mudah.

Caraka mengalaminya – kehilangan sang Ayah, dan sulit melepaskannya. Ia membenci ayahnya karena tega meninggalkannya dan ibunya, sehingga ia selalu menolak untuk mengunjungi makam sang Ayah. Lalu, ia bertemu dengan Nathan – cowok pintar yang selalu beraura dingin, Nadya – ketua kelas yang mandiri, dan Sarah – cewek pemalu yang sulit menolak permintaan orang lain.

Awalnya, ia tidak suka berteman dengan mereka, namun, situasi menjebaknya, dan lama kelamaan, ia pun terbiasa, bahkan menikmatinya. Sifatnya yang terlalu baik membuatnya menjadi ‘tukang ikut campur’. Ia tidak tahan melihat orang lain kesulitan dan selalu ingin membantu, tapi terkadang ia tidak menyadari batas-batas privasi seseorang. Beberapa orang senang akan sifatnya itu, sisanya merasa keberatan. Namun, berkat sifatnya itu, Raka belajar banyak – persahabatan, rela berkorban, dan tentu saja, melepaskan.

Seperti yang udah kusebut di atas, novel ini mengajarkan banyak hal, dan sanggup membuat pembaca terharu. Kisahnya sederhana aja, tapi nggak ditulis sembarangan. Konflik-konfliknya nyata, dialami oleh pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula tokohnya – sifat-sifat mereka sering ditemui di dalam diri kita maupun orang lain, tapi kak Windhy berhasil membuat mereka unik, in their own way.

Aku suka banget sama karakter Caraka. Kurasa semua fans kak Windhy yang udah baca novel ini juga kecantol sama dia. Nathan is fine, too. Dia yang bikin cerita ini makin sedih. Oh, bisa dibilang, it’s a sad ending, tapi karena tokoh utamanya belajar sesuatu dari itu, we can say it’s somewhere between.

Banyak banyak kalimat-kalimat bermakna yang bisa dijadikan pelajaran buat kehidupan kita. Aku ingat, aku baca novel ini selama liburan lebaran yang lalu. Aku pulang kampung, dan bawa novel ini. Aku baca tanggal 8, terus besoknya masih belum bisa move-on, jadi ulang baca sambil ngutip kalimat-kalimat bagus, dan (ehem, malu, nih) aku post di twitter.

Let Go

      Pokoknya, novel ini recommended, deh. Everyone should read it! Pengen rate 5 of 5, tapi entar dibilang mainstream, jadi 4.5 of 5, deh. Hehehe.

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku        : Swiss: Little Snow In Zurich

Pengarang        : Alvi Syahrin

Penerbit           : Bukune

Jumlah Halaman  : 308 halaman

Swiss

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Pertemuan antara Yasmine dan Rakel adalah pertemuan yang biasa-biasa saja. Mereka kebetulan sama-sama suka nongkrong di sebuah dermaga, dan selalu bertemu di sana. Namun, mereka tidak pernah menyangka bahwa kisah mereka akan lebih dari itu. Dimulai dari percakapan basa-basi, sampai janji untuk terus bersama.

Awalnya, mereka tidak menyadari ada sesuatu yang lebih besar dari rasa penasaran yang mengikat mereka berdua. Dan ketika akhirnya mereka sadar, semuanya terasa terlambat. Sebenarnya, mereka bisa terus bersama dari awal, namun kebutaan mereka terhadap rasa yang nyata itu membuat mereka harus menemui rintangan demi rintangan.

Saya sama sekali tidak menyangka kalau penulis novel ini adalah seorang laki-laki. Maaf, tapi jujur saja, namanya mirip nama cewek – well, karena ada teman cewek saya yang namanya Alvi, jadi ya, mindset saya langsung mengira Alvi yang ini juga cewek. Tapi, sepertinya saya tidak sendirian dalam hal ini. Gaya penulisannya jelas berbeda dari penulis cewek, tetapi ada unsur-unsur tertentu yang membuat saya terus menganggap kalau ini adalah tulisan cewek (sungguh maaf, Kak!).

Ide ceritanya bisa dibilang sederhana dan umum, namun ada unsur unik dan twistnya sedikit. Tetapi jujur saja, saya tidak begitu tertarik dengan novel yang ini. Settingnya keren di Swiss, tapi entah mengapa saya tidak terlalu merasakannya. Mungkin diksi dan pengembangan karakternya yang kurang, sehingga saya tidak terlalu terjerumus ke dalam cerita. Namun, akurnya cukup bikin gemas juga, sih.

Di novel inilah pertama kalinya saya lebih suka sama tokoh sampingannya daripada tokoh utama. Biasanya, saya tergila-gila sama tokoh utama cowoknya, tapi di novel ini, saya malah cenderung memihak pada tokoh sampingan cowoknya. Mungkin karena dia lebih manis.

Covernya keren, menggambarkan pemandangan Swiss yang bersalju – cocok sekali. Lalu ada bonus bookmark dan postcard yang tidak kalah keren. Novel ini tetap masuk daftar rekomendasi saya, namun kalau harus dikasih bintang, mungkin 3 of 5.

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : London: Angel
Pengarang        : Windry Ramadhina
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman  : 330 halaman

London: Angel

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Menceritakan tentang seorang pemuda bernama Gilang, yang jatuh cinta pada sahabat masa kecilnya, Ning. Namun, sebelum ia sempat menyatakan perasaannya pada Ning, gadis itu sudah pindah ke London untuk berkuliah dan lanjut bekerja. Akhirnya, atas dukungan teman-temannya, Gilang berangkat ke London untuk menemui Ning.

Sesampainya di sana, ia menemukan bahwa Ning sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Gilang memang sengaja tidak memberitahu Ning tentang kedatangannya. Ia ingin membuat kejutan.

Selama menunggu kepulangan Ning, ia bertemu dengan seorang gadis berambut ikal berwarna emas yang sangat cantik bak malaikat. Namun, gadis itu selalu menghilang saat hujan berhenti. Ia meninggalkan payung merahnya begitu saja, dan Gilang pun membawa payung itu pulang. Ia bertemu beberapa kali dengan gadis itu, namun tidak berhasil mendapatkan jawaban mengenai kemisteriusan gadis itu.

Gilang berteman baik dengan Ed – pelayan di motel tempat ia menginap, dan Mister Loweslie – pemilik toko buku di seberang motel. Ia juga bertemu dengan Ayu, gadis pengoleksi buku cetakan pertama yang juga berasal dari Indonesia dan sedang berlibur di London.

Saat Ning pulang, ia benar-benar kaget akan kedatangan sahabatnya itu. Mereka pun menggunakan waktu yang singkat itu – Gilang hanya menetap selama lima hari, sebaik-baiknya. Suatu hari, mereka bertemu dengan seorang seniman yang sangat dikagumi oleh Ning, Finn – begitu Gilang memanggilnya. Gilang menyadari perbedaan pada Ning ketika ia berada di sekitar Finn.

Awalnya Gilang tidak memedulikan itu. Ia tetap menyatakan perasaannya pada Ning. Namun kemudian, saat Ning menerima cintanya, ia malah melepas gadis itu, karena tahu gadis itu mencintai pria lain. Ia tidak mau memaksa gadis itu untuk mencintainya.

Banyak hal yang terjadi selama lima hari itu. Dan payung merah milik gadis berwajah malaikat itu membawa keajaiban cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Mister Loweslie yang akhirnya mendapat cinta dari Madam Maudge, pemilik motel tempat Gilang menginap. Lalu pria yang duduk di sebelah Gilang selama penerbangan ke London, tidak jadi bercerai dengan istrinya. Dan Ning, yang cintanya dibalas oleh Finn.

Sedangkan Gilang? Tanpa ia sangka, ia pun menerima keajaiban cintanya sendiri dari payung merah itu.

Kisah yang menarik, menggabungkan mitos (tentang malaikat yang turun bersama hujan) dan kenyataan. Penuh misteri, tidak tertebak kemana jalan cerita akan membawa kita. Sudut pandang orang pertama – sisi Gilang, sehingga kita bisa mendalami karakternya dengan baik.

Pendeskripsian setting yang luar biasa, membawa kita berkeliling kota London yang lembab. Benar-benar menyenangkan. Kita dapat membayangkan setiap adegan dengan jelas di dalam benak kita. Penggambaran fisik tokoh dan suasana yang terbentuk juga bagus, sehingga segalanya benar-benar terasa nyata.

Konflik yang ada kebanyakan konflik batin, dan rata-rata masalah cinta, namun pengembangannya sangat baik, sehingga tetap terasa fresh. Bisa dibilang kisah ini berakhir bahagia, namun di sisi lain masih menggantung. Saya rasa novel ini masih ada lanjutannya – atau setidaknya masih bisa dilanjutkan menjadi kisah lain.

Saya benar-benar jatuh cinta dengan covernya – berwarna merah dengan tulisan “London” yang terkesan royal. Benar-benar menggugah hati. Intinya, novel ini worth to read. Recommended!

Always, Laila by Andi Eriawan

Posted: August 12, 2013 in Book Reviews
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : Always, Laila

Pengarang        : Andi Eriawan

Penerbit           : GagasMedia

Jumlah Halaman  : 240 halaman

Always Laila

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Cinta pada pandangan pertama. Menurut saya, itu yang dialami Pram terhadap Laila. Saat ia pertama kali melihat Laila, ia langsung tertarik seperti magnet. Cinta pada pandangan pertama biasanya berbicara tentang ketertarikan fisik. Laila memanglah sangat cantik, jadi tidak heran banyak yang tertarik padanya. Tetapi berbeda dengan Pram. Cinta pada pandangan pertama biasa disebut cinta yang dangkal dan beralasan, sehingga mudah luntur. Sedangkan cinta Pram pada Laila tak pernah luntur, bahkan semakin hari semakin bersinar.

Mereka masuk ke SMA yang sama, bertemu dan berkenalan, menjadi teman dekat dan akhirnya berpacaran. Hubungan mereka dekat layaknya sahabat. Hari-hari yang mereka lalui ceria. Walaupun tidak seromantis pasangan lain, tapi mereka bahagia. Tetapi seperti hubungan lain, hubungan mereka pun ada yang menghalangi. Laila memutuskan hubungan itu satu pihak, karena suatu alasan, lalu meninggalkan Pram begitu saja. Pram yang sangat mencintai Laila sangat terpuruk.

Laila sebenarnya masih sangat mencintai Pram, tapi ia terus menyangkalnya. Dan ketika akhirnya ia sadar bahwa cintanya pada Pram lebih besar dari apapun, semuanya sudah terlambat.

Kisah yang mengharu-biru, seperti cerita cinta lainnya. Namun, yang membuat novel ini berbeda dari yang lainnya adalah gaya menulisnya. Novel ini ditulis oleh kaum adam, bukan hawa seperti biasanya. Jelas tampak perbedaan yang jelas di antara tulisan kedua gender ini. Sesama gender saja bisa berbeda, apalagi berlawanan gender. Karena kaum pria cenderung menggunakan otak dibandingkan perasaan, sehingga kisah cinta yang sedih ini pun tidak overdramatik. Gaya bahasanya simpel, namun sangat menyentuh.

Saya suka permainan alur yang digunakan. Bab yang satu menceritakan keadaan saat ini, bab selanjutnya mudur ke masa lalu, dan begitu seterusnya. Membangkitkan rasa penasaran. Menyimpan misteri, yang satu per satu diungkapkan. Alurnya begitu mengalir dan menghanyutkan.

Adegan-adegan yang disajikan pun unik. Sederhana, tapi menyenangkan. Tidak romantis-romantis amat, tapi berkesan. Saya suka sekali dengan kedua tokohnya. Laila yang cerewet dan lucu. Pram yang jahil dan menggemaskan, juga penuh kejutan. Begitu hidup. Begitu nyata. Saya sangat menikmati perjalanan hubungan mereka yang berkembang di setiap babnya.

Konflik yang muncul pun tidak disangka-sangka. Bukan konflik pasaran yang tidak kuat, melainkan konflik yang cukup rumit. Walaupun penulis tidak mendeskripsikan sesuatu dengan detail, tetapi justru itulah yang membuatnya to the point, tidak bertele-tele, langsung jleb!

Saya suka sekali dengan novel ini. Sangat berbeda dari novel-novel yang pernah saya baca sebelumnya. Recommended!

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku        : First Love Dilemma

Pengarang        : Pricillia A.W.

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Jumlah Halaman  : 256 halaman

First Love Dilemma

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Salah satu novel teenlit favoritku, karena novel ini tidak hanya menyuguhkan novel ringan khas remaja, namun memiliki makna mendalam dan alur yang menarik.

Novel ini mengisahkan tentang dua orang, Azura dan Tristan, yang dipertemukan dalam satu kurun waktu. Keduanya memiliki kesamaan: membenci waktu yang terus berjalan dan tidak mau menunggu, juga kehilangan cinta pertama. Namun setelah dipertemukan, keduanya saling melengkapi dan memulihkan.

Ketika keduanya sudah merasa lebih baik, masa lalu mereka seolah tak terima. Mereka kembali dipertemukan dengan cinta pertama mereka, dan dihadapkan pada dilemma. Haruskah mereka memberi kesempatan kedua pada cinta lama atau merajut cinta baru?

Novel ini sarat akan konflik tak terduga yang saling berhubungan. Jenius! Pengaturannya juga baik, dimana tidak ada penumpukan informasi di satu bagian, tetapi tersebar dan diungkapkan bertahapan. Pembaca akan dikagetkan dengan rahasia-rahasia baru yang tersingkap.

Tokoh-tokohnya juga menarik, walaupun tidak semua tokohnya terasa hidup. Settingnya memang tidak WOW, namun memang bukan itu fokus sang penulis. Pesan moral yang tersirat dalam novel ini juga sangat menarik. Bahasa yang digunakan ringan dan sederhana, layaknya novel teenlit pada umumnya.

Covernya juga khas teenlit, dengan ilustrasi yang imut. Judulnya sangat cocok, menggambarkan keseluruhan isi novel, namun tidak tertebak isinya.

Novel ini sangat recommended, bukan hanya novel-novel dengan cerita pasaran, tetapi sudah dikemas oleh penulis dengan sangat baik dan menarik.

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : The Chronicles of Audy: 4R

Pengarang        : Orizuka

Penerbit           : Penerbit Haru

Jumlah Halaman  : 320 halaman

Audy 4R

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Ini salah satu novel Orizuka favoritku! Orizuka selalu berhasil membuat cerita-cerita simpel menjadi sangat menghibur dan menarik.

Novel ini menceritakan tentang Audy, mahasiswa UGM yang tinggal skripsi. Tetapi, keadaan orangtuanya yang tidak memungkinkan, membuatnya harus bekerja. Ia mendapat pekerjaan di sebuah rumah beranggotakan 4 bersaudara, semuanya laki-laki. Awalnya, ia menandatangi kontrak untuk bekerja sebagai babysitter seorang bocah berumur 4 tahun. Namun, karena tidak membaca dengan teliti isi kontrak tersebut, ia jadi harus mengurus rumah itu dan mengerjakan berbagai macam urusan rumah tangga layaknya pembantu.

4R adalah inisial dari keempat bersaudara itu, yang namanya semua diawali huruf R. Regan, Romeo, Rex, dan Rafael. Keempatnya memiliki karakter yang berbeda-beda. Awalnya, Audy merasa frustasi dalam mengurus mereka. Namun, lama-kelamaan, ia jadi menikmati pekerjaannya itu.

Novel ini memiliki ide cerita yang simpel, namun dibumbui konflik yang cukup bervariasi, sehingga menjadi sangat menarik. Nilai moral dan kekeluargaan dari novel ini sangat menyentuh hati. Orizuka berhasil menyajikan kisah yang ringan super kocak, namun penuh makna dan pesan moral.

Kelima tokoh utamanya disajikan dengan sangat baik, sehingga terasa sangat nyata dan hidup. Setiap tokoh memiliki sifat yang unik dan menggemaskan.  Mereka seakan mengisahkan cerita mereka masing-masing. They’re really alive.

Settingnya memang tidak WOW, hanya di Jogjakarta, namun memang bukan itu yang menjadi fokus sang penulis. Covernya begitu imut, dengan pinggiran kertas berwarna pink dan 5 jenis bookmarks yang bergambarkan ilustrasi kelima tokoh utama. Unik!

The Chronicles of Audy: 4R adalah sebuah series. Akan ada kelanjutannya, membuat semua pembaca tidak sabar menunggunya.

Novel ini sangat recommended bagi semua jenis orang. Novel ini bisa menghilangkan penat seberat apapun!

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : Melbourne: Rewind

Pengarang        : Winna Efendi

Penerbit            : Gagas Media

Jumlah Halaman  : 340 halaman

Melbourne

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Cinta yang hilang lalu ditemukan kembali, atau cinta yang tumbuh dari benih baru? Atau mungkin, cinta yang tak pernah hilang, hanya terkikis sedikit oleh waktu? Max dan Laura tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang mereka rasakan. Benang merah mereka memang pernah saling tertaut, namun itu di masa lalu.

Tahun-tahun berlalu, mereka mulai move on. Namun, ketika takdir kembali mempertemukan mereka, mereka jadi bingung dengan perasaan masing-masing. Mereka mulai kembali merajut kenangan, mengisi tanda tanya besar di kepala mereka selama mereka berpisah, melakukan hal-hal yang dulu mereka lakukan bersama.

Ada hal-hal yang berubah, namun ada juga hal-hal yang masih tetap sama seperti dulu. Rasa-rasa mulai bermunculan, membuat mereka semakin bingung kemana harus mereka bawa hubungan mereka. Konflik-konflik berdatangan dan berusaha memisahkan mereka. Namun, cinta sejati memang selalu kembali pulang ke rumahnya yang tepat, bukan begitu?

Aku cinta setiap inchi dari novel ini. Mulai dari tema yang diangkat, mengenai cinta lama, kenangan, masa lalu, patah hati dan jatuh cinta. Tema yang umum, namun diracik sedemikian rupa hingga menjadi sesuatu yang sangat fresh dan menggugah selera. Bagaimana alurnya yang maju mundur mengombang-ambing pembaca. Di satu waktu membuat pembaca merasa sangat penasaran, di waktu lain membuat pembaca ber-oh-ria. Tidak ada tumpukan informasi. Rahasia demi rahasia diungkapkan satu per satu, sehingga pembaca tidak ngos-ngosan mengejar alur, namun mengalir begitu saja, menikmati setiap kejutannya.

Lalu bagaimana permainan sudut pandangnya sangat menakjubkan. Pergantian sudut pandang, membuat pembaca mengenal tokoh lebih dalam, dan melihat dari berbagai sisi. Tokoh yang ada, juga sangat loveable. Kedua tokoh utamanya berhasil membuat saya benar-benar jatuh cinta. Penulis benar-benar menyelami setiap tokoh, mengenali seluk beluk kehidupan sang tokoh. Apa yang disukanya, apa yang dibencinya, kebiasaan-kebiasaan kecilnya, hobinya, ambisinya, semuanya.

Belum lagi latar yang digunakannya, sangat menarik, dan jarang diangkat. Melbourne, satu kota di Australia, yang jarang dimasukkan dalam destinasi travelling, namun justru itu yang membuatnya menarik. Winna menjamah setiap sudut kota Melbourne, memperkenalkan kota yang tak kalah indah ini pada para pembaca. Pendeskripsian dan research yang luar biasa, membuat pembaca merasa seperti sedang berada di sana. Bahkan, jadi mendamba-damba untuk pergi ke sana (seperti saya).

Cover, desain layout, semuanya, benar-benar fantastis! Bagaimana setiap bab diberi judul lagu, yang mewakili seisi bab tersebut, dengan potongan-potongan lirik yang benar-benar pas. Juga ilustrasi-ilustrasi yang menggambarkan tempat-tempat yang menjadi latar, membuat pembaca semakin mudah membayangkan tempatnya. Dan ada juga postcard dan bookmark yang keren di dalam novel ini.

Novel yang sangat bagus, wajib dibaca, terlalu sayang untuk dilewatkan. Percayalah, Anda tidak akan menyesal membacanya. Bahkan, mungkin Anda rela membacanya berulang kali saking bagusnya (itulah yang akan saya lakukan).

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku        : Kau: Cinta pada Pandangan Pertama

Pengarang         : Sylvia L’Namira

Penerbit            : Gagas Media

Jumlah Halaman  : 212 halaman

Kau

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Banyak orang yang tidak percaya pada cinta pada pandangan pertama. Banyak yang bilang, biasanya itu suka pada pandangan pertama, bukan cinta. Namun, berbeda dengan yang dirasakan Viola.

Viola Sembiring, yang biasa dipanggil Piyo, berprofesi sebagai seorang reporter. Ia suka mengamati bentuk awan. Bahkan, ia percaya bentuk-bentuk awan itu memberikan pertanda tersendiri. Ia juga suka memakai topi rajut berwarna mentereng untuk menanggapi pertanda itu.

Piyo yang umurnya sudah 25 tahun tetapi belum memiliki pacar ini membuat mamanya sibuk menjodohkannya dengan anak teman-temannya. Tetapi Piyo menolaknya mentah-mentah.

Suatu hari, Piyo ikut serta menjadi wartawan perang, dan dikirimkan ke daerah konflik. Ia bertemu dengan seorang pilot bernama Igo, dan tertarik padanya. Tetapi, mamanya terus menjodohkannya dengan anak sahabatnya. Apa yang akhirnya Piyo lakukan?

Kisah cinta yang menarik, dengan akhir yang mengharubiru. Ide ceritanya sederhana, namun tetap menyentuh hati. Saya suka dengan keunikan-keunikan yang penulis tambahkan pada setiap tokohnya, terutama Piyo, si tokoh utama.  Profesi yang dipilih juga menarik. Detail-detail mengenai profesi tersebut pun menjadi sesuatu yang fresh.

Covernya yang berwarna biru langit dengan gambar awan berbentuk hati sangat menarik untuk dilihat, dan sesuai dengan isi novelnya. Saya suka sentuhan pada covernya ini.

Novel ini sangat direkomendasikan kepada seluruh kalangan. Tidak akan menyesal deh setelah baca. Terbitan Gagas gitu loh!

Infinitely Yours by Orizuka

Posted: June 22, 2013 in Book Reviews
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : Infinitely Yours

Pengarang        : Orizuka

Penerbit           : Gagas Media

Jumlah Halaman  : 304 halaman

Infinitely Yours

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Terkadang, orang yang kita kira sangat cocok dengan kita, dan akan menjadi pasangan yang pas untuk kita, bukanlah orang yang tepat. Orang yang kita pikir sangat tidak cocok dengan kita, malah bisa menjadi pasangan yang terbaik untuk kita. Itulah yang dirasakan Jingga dan Rayan.

Jingga, gadis yang sangat ceria, ekstentrik, dan cerewet, sangat mengangumi sosok Yun Jeon. Ia bertemu dengan pria itu saat ia pertama kalinya jalan-jalan ke Korea Selatan. Yun Jeon adalah tour guidenya. Jingga yang sangat tergila-gila dengan Korea, jelas merasa jatuh hati dengan pria Korea itu. Sampai-sampai, setahun kemudian, ia mengikuti tour yang sama, dengan tujuan yang sama, yaitu Korea, demi bertemu lagi dengan pria itu.

Rayan, pria yang kaku, serius workaholic, dan sangat membenci Korea terpaksa pergi ke sana demi suatu urusan. Urusan yang berkaitan dengan masa lalunya, yang ingin segera ia selesaikan.

Dua pribadi yang sangat berbeda, dipertemukan dalam satu perjalanan yang sama. Ya, Rayan juga mengikuti tour yang sama dengan Jingga. Mereka bahkan duduk bersebelahan di pesawat, dan dipasangkan bersama. Awalnya, keduanya saling tidak suka. Rayan yang sangat serius bekerja, jelas merasa terganggu dengan sifat Jingga yang over ceria dan berisik. Jingga juga tidak menyukai sifat Rayan yang terlalu kaku dan datar.

Namun, benang merah mereka telah terkait, membawa mereka melalui berbagai aksi konyol dan masalah-masalah lain bersama. Setelah apa yang mereka lalui bersama, apakah mungkin untuk merasa saling tidak suka?

Satu kata untuk novel ini, KOCAK! Berbagai adegan yang dilalui Jingga dan Rayan yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Kisah cinta yang manis, yang dihiasi berbagai kejadian tak disangka dan juga hal-hal konyol yang membuat perut saya sakit.

Jujur saja, saya sama seperti Rayan, tidak suka dengan Korea, dan awalnya tidak berniat membaca novel ini karena tahu temanya itu. Namun, karena teman-teman saya bilang bagus, saya akhirnya membacanya juga. Dan untungnya novel ini tidak terlalu banyak mencantumkan bahasa Korea, sehingga saya tidak pusing saat membacanya.

Ceritanya yang unik dan lucu, membuat saya tetap menikmati alurnya walaupun tidak menyukai settingnya. Dan untungnya kedua tokoh utamanya orang Indonesia, dengan nama biasa sehingga saya dapat dengan mudah mengingatnya. Nama Korea kadang agak sulit untuk diingat.

Tokohnya juga sangat hidup, dengan kepribadian yang unik dan loveable. Saya jatuh cinta dengan personality kedua tokoh utama. Benar-benar menarik!

Novel ini adalah novel pertama Orizuka yang saya baca. Dan saya harus berterimakasih pada teman yang merekomendasikan novel ini kepada saya, karena selain ceritanya menarik, saya juga jadi mengenal Orizuka dan sekarang telah menjadi number one fansnya.

Novel yang menyenangkan, sangat layak untuk dibaca oleh siapa saja. Novel ini sanggup membuat saraf-saraf tertawamu bergetar, dan penat atau apapun yang menganggu kepalamu akan segera minggat. Recommended!

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : Rate My Love

Pengarang        : Cassandra dan Ela

Penerbit           : Gagas Media

Jumlah Halaman  : 214 halaman

Rate My Love

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Satu lagi novel Gagas Media yang membuat saya tergelak. Rate My Love, novel romance comedy yang menceritakan tentang seorang gadis bernama Feel, yang patah hati karena pacarnya yang berselingkuh dan mencampakkannya. Di tengah kegalauannya itu, ia akhirnya mengikuti acara reality show di televisi, yang berjudul Rate My Love. Jadi, acara ini menampilkan kisah Feel yang mencari cinta.

Produser acara Rate My Love, Dimitri, memanfaatkan sisi realita hidup Feel untuk bahan acara tersebut. Ia melakukan segalanya untuk mengejar rating. Namun,  apa daya, ia malah terjebak dalam perangkapnya sendiri.

Novel yang kocak dan menyenangkan. Tingkah Feel dan segala hal konyol yang dilaluinya benar-benar menghibur. Alur yang menarik dan tak disangka-sangka. Siapa yang mengira novel kocak ini juga bisa berakhir sedih?

Novel ini benar-benar memiliki daya tariknya sendiri. Unik, beda dari yang lain. Pendeskripsian setiap adegan yang detail dengan bahasa yang mengalir membuat pembaca hanyut dalam arus ceritanya.

Setiap tokoh memiliki karakter dan latar belakang masing-masing, membuatnya semakin hidup. Penulis juga tidak melupakan logika cerita, dimana segala hal ada alasan dan keterkaitan dengan hal lain.

Covernya yang kartunis terlihat lucu dan menggemaskan. Pertama kali saya melihat covernya, saya pikir, “Tumben cover Gagas kayak begini.” Ya, karna ini novel lama sih, jadinya covernya belum secanggih yang sekarang. Tapi, walaupun novel lama, isinya tetap kece seperti biasa.

Novel ini sangat direkomendasikan. Walaupun tipis, namun komposisi ceritanya pas. Bacaan ringan ini cocok untuk menghilangkan rasa penat di kepala. Aksi konyol Feel akan membuat Anda tertawa terpingkal-pingkal.