Archive for the ‘Fan Fictions’ Category

[COPYRIGHTED!]

Joining   : Restart Giveaway

Held by : Nina Ardianti

Status    : Didn’t win

1. Fedrian Arsjad >>> Chris Pine

Tipikal rockstar kece yang pede kayak Fedrian, entah kenapa cocok aja sama muka ganteng dengan senyum mautnya Chris Pine. Chris Pine yang charming ini menurutku punya kepercayaan diri yang tinggi. Bisa dilihat dari karakter yang dimainkannya di film-film, seperti Princess Diaries 2, Star Trek, dan This Means War. Dia selalu jadi cowok ganteng yang penuh percaya diri (ya iyalah, ganteng begitu, mana mungkin nggak pede?)

Chris Pine

Sumber: http://www.thatstopten.com/view.php?id=42

Emang sih, dia bukan rockstar atau anak band, tapi mukanya yang asli memikat itu cocok-cocok aja jadi rockstar (imho). Ini nih, ada foto yang bikin tambah cocok.

Chris Pine

Sumber: http://www.theplace2.ru/photos/Chris-Pine-md2680/pic-399500.html

2. Syiana Alamsjah >>> Katie Cassidy

Syiana itu tipe cewek sinis dan sarkastik, kan? Aku udah kenal Syiana sejak baca Fly To The Sky, dan di bayanganku itu selalu ada cewek metropolitan yang stylish gitu, deh. Nah, menurutku, dia cocok sama Katie Cassidy.

Katie Cassidy

Sumber: http://borg.com/tag/katie-cassidy/

Aku kenal cewek manis ini dari serial di Fox Crime ‘Harper’s Island’. Dia itu cantik dan stylish, dan kadang bisa sinis dan jutek, juga. Bikin inget Syiana banget, deh. Ini nih, muka serius Katie, terkesan sinis gitu, kan?

Katie Cassidy

Sumber: http://www.fanpop.com/clubs/harpers-island/images/14467396/title/trish-wellington-photo

Terus, foto ini. Di foto ini, Katie keliatannya lagi mental break down, bikin ingat Syiana yang lagi patah hati.

Katie Cassidy

Sumber: http://cursetheflame.livejournal.com/28327.html

2. Aulia Astrawinata >>> Christopher Gorham

Kayaknya semua orang yang udah baca novel ini awalnya ngira Aulia itu cewek. Aku juga. Tapi ternyata dia cowok. Lol. Banyak yang bilang, Aulia bikin inget Ihsan di Fly To The Sky, tipikal best friend cowok yang selalu ada buat sahabatnya. Aku setuju. Dan karna itu, dia bikin aku inget sama karakter Henry Dunn yang diperani oleh Christopher Gorham.

Christopher Gorham

Sumber: http://www.topnews.in/christopher-gorham-wondercon-day-3-2134924

Henry Dunn ini tokoh di Harper’s Island juga. Bahkan, dia itu tunangannya Trish, yang diperanin oleh Katie Cassidy di atas. Tadinya pengen sih, sekalian dipasangin aja. Tapi, Christopher Gorham bawaannya lebih kalem, dan nggak sepede Chris Pine, jadi nggak cocok jadi Fedrian.

Henry Dunn ini ceritanya punya sahabat cewek yang udah dia kenal dari kecil, namanya Abby. Henry selalu ada buat Abby, bahkan waktu dia lagi sibuk sekalipun. So sweet banget, ya? Cocok kan, sama karakter Aulia (dan Ihsan juga).

Christopher Gorham

Sumber: http://www.justjared.com/photo-gallery/2548729/christopher-gorham-da-man-june-july-2011-03/fullsize/

Selain itu, pemainnya, Christopher Gorham, punya tatapan teduh yang bikin orang ngerasa tenang dan nyaman (terutama aku!). Dia ganteng dan charming, lagi! Senyumnya (yang selalu berhasil bikin aku klepek-klepek) juga bersahabat. Cocok, deh, sama tipikal-tipikal Aulia (dan Ihsan).

4. Edyta Fauzi >>> Mandy Moore

Aku kenal Edyta dari Fly To The Sky juga, dan udah kenal karakternya, yang menurutku lumayan manja, ceroboh, dan cerewet. Tapi, dia juga ceria dan lucu. Karna itu, mari aku perkenalkan Edyta dengan kembarannya, Mandy Moore. Bukan kembar secara fisik (wong aku nggak pernah ketemu Edyta), tapi lebih ke sifat. Bukan sifatnya Mandy Moore, sih, tapi tokoh Anna di Chasing Liberty yang diperani oleh Mandy Moore.

Mandy Moore

Sumber: http://www.imdb.com/media/rm1875613952/tt0360139

Anna ini ceritanya anak tunggal seorang presiden, yang merasa terkurung dengan segala aturan dan perintah ayahnya. Akhirnya, dia kabur untuk mencari kebebasan. Sebagai anak presiden (anak tunggal, lagi), otomatis pembawaan Anna ini agak manja, karna dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau, dan semua hal udah dikerjakan untuk dia. Mirip-mirip lah, sama Edyta, yang masalahnya sering diselesaikan oleh orang-orang di sekitarnya (di Fly To The Sky).

Ada banyak hal lain dari Anna yang bikin aku keinget sama Edyta. Waktu Anna lagi jutek atau kesal, bikin inget Edyta di bad day-nya (di hari dia ketemu Ardian). Kalo liat foto keselnya Mandy Moore yang ini, bikin aku inget Edyta yang lagi bad mood.

Mandy Moore

Sumber: http://www.imdb.com/media/rm1825282304/tt0360139

Terus, Anna juga kadang cerewet dan ceria (mirip Edyta). Setelah dimirip-miripin begini, jadi makin cocok, deh, rasanya.

5. Tokoh pilihanku jatuh kepada… Ardian! Ardian Putra Perdana >>> Matthew Goode

Dapat inspirasi buat Ardian ini berkat tokoh Anna yang bikin keinget Edyta. Tokoh cowok di film yang sama (Chasing Liberty), yang jadi pasangan Anna, ternyata cocok sama karakter Ardian (pas banget, ya?)

Matthew Goode

Sumber: http://www.hotflick.net/movies/2004_Chasing_Liberty/matthew_goode.html

Ben, yang diperankan oleh Matthew Goode, ketemu sama Anna pas Anna kabur dari rumahnya. Dia yang ngebantu Anna ngejalanin lari dari kejaran anak buah ayahnya, dan menikmati kebebasannya. Pembawaan Ben yang tenang dan nurut selama ngehadapin tingkah Anna, bikin aku inget sama Ardian. Jadi mirip gitu, deh, sama kisah mereka (padahal beda jauh).

Terus, hal yang nggak kalah penting, Matthew ini ganteng banget! Kebiasaan kecilku, kalau tokoh cowok di novel itu selalu dibayangin yang ganteng-ganteng (ya iyalah!). Dan Matthew ini bukan cuma sekedar ganteng, tapi bisa bikin klepek-klepek! Anyway, adegan ini bikin inget Edyta sama Ardian, deh!

Anna-Ben

Sumber: http://www.kidzworld.com/article/4082-chasing-liberty-dvd-review

Bukan karna kesamaan adegan atau apa, tapi di sini Annanya lagi kesel dan nyebelin, sedangkan Ben tetap sabar dan berusaha nenangin Anna. Mirip hubungan awal Edyta-Ardian, kan?

Advertisements

[COPYRIGHTED!]

Sorry it took so long for me to post the second part. I was quite busy here, and I could only write a bit. I hope you enjoy it!

Oh yeah, check out Part 1

Aku menatap orang-orang (oke, maksudku, vampir-vampir) di hadapanku dengan takjub, namun sedikit kecewa. Well, harus kuakui, aku sedikit berharap The Cullens mirip dengan para artis yang memerankan mereka di film. Tapi, aku tahu itu mustahil.

Namun, mereka tetap tampak mengagumkan, mirip dengan yang dideskripsikan oleh Stephenie Meyer di novelnya. Pria berwajah bak bintang film, yang duduk tepat di hadapan Vaughn, dengan rambut pirang sepanjang tengkuk dan tubuh tinggi agak berotot, kukenali sebagai Carlisle Cullen, pemimpin klan ini. Lalu di sebelah kanannya, wanita bertubuh ramping dengan wajah berbentuk hati dan rambut bergelombang berwarna cokelat karamel, itu pasti Esme. She looks really gorgeous.

Pria tinggi lain yang berdiri di ujung sofa, dengan rambut pendek berwarna pirang madu, kuyakini sebagai Jasper Hale. Aku tidak berani menatapnya lama-lama, karena ia sedang menatapku tajam. Wajahnya tampak sangat serius dan sedikit mengerikan. Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita mungil yang bergelayut manja di lengan kirinya. Rambut hitamnya yang pendek mencuat-cuat keluar. Ia terseyum tipis ke arahku, membuatku merasa sedikit lebih baik. Si vampir bertubuh kecil yang mirip peri, Alice.

Pria lain yang menyandarkan tubuh berototnya ke bagian belakang sofa, tepat di belakang Carlisle, sedang tersenyum lebar ke arahku, membuat lesung pipinya muncul, dan memberi kesan polos yang menggemaskan di wajahnya. Padahal, ia pria yang bertubuh paling besar dan paling tinggi, tapi aku tidak merasa takut sama awkali padanya. That’s Emmet!

Wanita yang berdiri tegak di sebelahnya tampak kontras sekali dengan Emmet. Bukan soal warna kulit atau warna rambut (Well, memang sih, warna rambut mereka kontras, Emmet berambut cokelat tua hampir hitam, sedangkan wanita itu berambut panjang bergelombang berwarna pirang), tapi soal ekspresi. Aku mengerti mengapa Jasper dan Rosalie dianggap kembar. Mereka memiliki cukup banyak kesamaan. Warna rambut mereka sama-sama pirang, dan mereka sama-sama sering terlihat serius dan…jutek? Pokoknya aku merasa tidak nyaman jika menatap Rosalie lama-lama. Padahal, ia berwajah sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Nikki Reed. Dan postur tubuhnya benar-benar mengagumkan. Pantas saja Emmet pernah mengiranya salah satu malaikat dari Surga.

Dan yang terakhir, dua pasangan favoritku, yang berkumpul beraam di ujung lain sofa. Si pria yang bertubuh paling tinggi dan terlihat sangat kontras dengan semua orang (err, vampir, atau makhluk) yang ada di dalam ruangan ini, dengan kulit sawo matang (mengingatkanku pada Ben), rambut cepak berwarna hitam, dan sepasang mata cokelat yang sedang menatapku tajam. Jacob Black berdiri dengan posisi siaga sambil menatapku lekat-lekat, berusaha menyembunyikan (oke, melindungi) gadis mungil yang berdiri di belakangnya. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, hanya sekilas melihat rambut ikalnya yang berwarna perunggu. Seketika itu juga aku terkesiap. Itu… Renesmee? Wow, ia sudah tumbuh dewasa. Ah, tentu saja. Sudah tujuh tahun berlalu sejak ia lahir, jadi ia pasti sudah mencapai kedewasaan.

Dua vampir terakhir juga berdiri dengan posisi melindungi yang kurang lebih sama dengan Jacob, tetapi tidak semengintimidasi werewolf itu. Si pria tinggi yang – uh, sungguhan charming, dengan rambut perunggu yang acak-acakan dan tatapan tajam, awalnya sedang menatapku dalam-dalam dengan ekspresi datar, namun sekarang ia sudah mulai tersenyum tipis. Oh no, he must bee reading mu absurd minds. Ya, siapa lagi kalau bukan Edward!

Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita cantik yang sedang digandeng Edward. Aku mendesah kagum. Akhirnya aku bertemu dengannya. Vampir dengan rambut cokelat tua yang panjang, tebal, dan lurus, kening lebar, rahang sempit, dagu lancip, hidung runcing, bibir tebal, dan alis gelap yang tampak lurus itu tampak lebih cantik dari Kristen Stewart. Saking terpesonanya, sulit bagiku untuk mengalihkan pandangan. Ia tersenyum tipis ke arahku, membuatku merasa semakin senang.

Aku dan Vaughn akhirnya sampai di Kanada, setelah berminggu-minggu berkelana. Rumah keluarga Cullen jelas berbeda dengan yang ada di film. Jauh lebih besar dan megah.

Vaughn baru saja menjelaskan segala sesuatu tentangku, yang membuat seluruh anggota keluarga agak kaget, dan kelihatannya tidak sepenuhnya percaya pada cerita Vaughn, terutama perihal “daya tahan”ku terhadap darah.

Tapi Edward – yang jelas-jelas dapat membaca seluruh isi benakku, menyatakan bahwa Vaughn berkata jujur sambil menatapku takjub. Mau tidak mau aku merasa bangga.

“Katakan padaku, Nak. Apa kau sungguh-sungguh mengidolakan kami, sampai-sampai pernah mengimpikan untuk menjadi vampir?” tanya Carlisle dengan sedikit aksen Inggris yang membuatnya semakin….keren.

Aku mengangguk sambil tersenyum malu.

“Dan kau selalu membayangkan jika dirimu menjadi vampir, kau tidak akan meminum darah apapun?” tanyanya lagi, dengan nada yang terdengar seperti sedang mempertanyakan kewarasanku.

Lagi-lagi, aku mengangguk dengan senyuman malu.

“Luar biasa,” puji Carlisle tulus, membuatku merasa sedikit lebih baik.

“T-tapi akhirnya aku tetap meminum darah hewan, tetapi yang sudah diracik oleh temanku,” sahutku pelan.

“Teman?” ulang Edward dengan nada…menggoda?!

Tanpa sadar aku mendelik ke arahnya, membuatnya terkekeh.

“Kau hanya sanggup meminum darah yang sudah diracik? Berarti selama perjalanan ke sini, kau belum minum darah sedikitpun?” Kali ini, Jasper yang bertanya.

Aku mengangguk, lalu menggeleng. “Ben membawakan persediaan darah racikan itu untuk perjalananku ini,” jawabku.

Aku bisa merasakan tatapan takjub dari berbagai arah.

“So, what can we help you with?” tanya Carlisle ramah. “Kau berpikir untuk bergabung dengan kami?”

Aku mengangguk, lalu menggeleng, lalu mengangguk lagi. Oke, sebenarnya aku masih belum memutuskan apapun.

“Kau ingin bergabung agar tidak merepotkan Benmu itu, tapi kau juga tidak sanggup untuk hidup jauh darinya,” ujar Edward, mewakiliku untuk angkat bicara.

Aku segera menanggapi. “Bukan itu saja. Aku kan, hanya bisa menium darah racikannya,” elakku. Entah mengapa aku tidak suka diledek begitu oleh Edward – well, ia jelas-jelas meledekku dengan kata “Benmu” barusan.

“Kami – aku dan Carlisle, bisa belajar untuk membuat racikan itu untukmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu,” sahut Edward enteng, membuat mataku berbinar.

“Kalian sungguh mau melakukan itu untukku?” tanyaku penuh harap.

Edward dan Carlisle mengangguk bersamaan.

“Atau mungkin kau mau belajar meminum langsung darah hewan segar? Itu akan lebih baik,” ujar Emmet. “Don’t be a coward, Mildred,” ejeknya.

Aku mendengus. “Hate to admit, but I am a coward,” ujarku sambil mendesah.

“Tapi, bukan itu pokok masalah kita,” ujar Edward sambil melirik ke arahku.

Aku langsung merasa tidak enak.

Ia terkekeh. “Mildred, kalau kau memang tidak bisa hidup tanpanya, tinggallah bersamanya. Ia tidak merasa keberatan, kan?”

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. “Aku tidak mau merepotkannya.”

“Ah, love,” desah Emmet sambil tersenyum menggoda. “Kasusnya mirip denganmu, ya, Edward? Jatuh cinta pada manusia,” ejeknya sambil melirik Edward, yang langsung mendelik ke arahnya.

“Tapi kasus Mildred lebih complicated,” sahut Bella tanpa kusangka-sangka.

Edward tersenyum ke arahku, membuatku meleleh. “Tenang saja, Mildred, aku yakin Ben mencintaimu sebesar kau mencintainya,” ujarnya tenang.

Aku senang mendengarnya berkata begitu, tapi…. Sungguh, ini dilema yang menyebalkan.

“Atau kau bisa mengubahnya menjadi vampir juga dan membawanya ke sini. Jauh lebih mudah begitu, kan?” usul Emmet.

Aku ingin melemparnya dengan batu. “Enak saja. Aku tidak mau mengambil kehidupannya begitu.”

“Well, kau bisa meminta pendapatnya dulu. Siapa tahu ia memang mau menjadi vampir juga dan hidup bersamamu. You know,” ujar Bella sambil melirik ke arah Edward.

“Yeah.” Alice ikut menimpali. “I can see bright future for both of you, as vampires.”

Aku mengangkat sebelah alis. “Really? Tapi, aku…”

“Bella benar,” sela Carlisle. “Kau bisa mencoba menanyakan hal ini padanya.”

Aku menimbang-nimbang sejenak, dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

-TO BE CONTINUED-

[COPYRIGHTED!]

Hello, hello, Twilight Saga’s fans! I’m here to announce a good news. I have made a Twilight Saga fan fiction! Horray! But it’s half done. I promise I will finish it soon. It’s pretty long, though. So, enjoy!

P.S: It’s in Indonesian. I will make the English version soon. Amen to that!

Oh, mimpiku barusan benar-benar mengerikan. Aku bermimpi dibakar hidup-hidup! Segalanya terasa begitu nyata. Kurasa aku menggeliat seperti cacing kepanasan dan berteriak-teriak dalam tidurku. Seharusnya aku merasa lega setelah terbangun dari mimpi buruk itu, tapi…. Kurasa mimpi burukku itu berlanjut. Entah mimpi itu menjadi kenyataan, atau aku yang belum sepenuhnya terbangun.

Yang jelas, saat ini aku merasa tenggorokanku sangat sakit, seperti habis dibakar sungguhan. Entah haus macam apa ini, rasanya seperti belum minum selama ratusan tahun. Aku mencengkeram leherku kuat-kuat, berharap dengan begitu, rasa sakitnya akan berkurang, tapi percuma saja.

Lalu, aku melihat pemuda yang tampak familiar itu. Malaikatkah? Entahlah. Mungkin aku benar-benar dibakar hidup-hidup dan pemuda itu adalah malaikat penjemputku? Mungkin. Entah apa yang membuatku berpikir begitu. Yang jelas, aku sangat senang melihat pemuda-garis-miring-malaikat itu.

Aku menatap malaikat berwajah pemuda yang sangat familiar itu. Apa saking rindunya aku pada pemuda itu, sampai-sampai wajah malaikat penjemputku pun mirip dengannya? Bukan hanya mirip, tapi sama persis. Kulitnya yang berwarna cokelat, mata bulatnya yang berwarna hitam, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, rambut cepaknya yang hitam legam… Semuanya!

Beberapa saat kemudian, aku menyadari beberapa hal yang janggal. Aku sudah tidak memakai kacamataku, namun aku dapat melihat dengan sangat jelas, bahkan yang jarak pandangnya sangat jauh. Padahal, tanpa kacamata, aku nyaris buta.

Lalu, saat aku menarik nafas, ada nuansa aneh yang menyergap indera penciumanku. Aroma yang sangat menggiurkan, sekaligus menjijikkan. Berbagai aroma lain juga tercium, namun tidak sekuat aroma yang satu ini.

Aku juga mendengar dengan sangat jelas. Bunyi daun-daun yang bergesekan oleh angin, sampai suara nafas pemuda di hadapanku ini. Tunggu sebentar, apakah malaikat bernafas?

“K-kau… tidak apa-apa?”

Aku menoleh cepat ke arah pemuda yang barusan bersuara itu. Suaranya pun sama persis dengan sosok yang menghantui kalbuku tiap malam. Ingin sekali aku menyahutnya, tapi selain tidak tahu apa yang harus kujawab – karena aku tidak tahu keadaanku ini bisa dibilang “tidak apa-apa” atau tidak, aku juga tidak bisa bersuara. Tenggorokanku masih sangat sakit.

“Kau… terlihat sangat pucat,” ujarnya lagi sambil mendekat ke arahku.

Semakin ia bergerak mendekat, aroma yang begitu menggangguku itu tercium semakin kuat. Saat ia menyentuh lenganku, aku merasa kehangatan menjalar keluar dari tubuhnya. Bukan hanya hangat, nyaris panas. Dan ini bukan efek dari “jatuh cinta” atau semacamnya. Kau tahu? Biasanya jika kita disentuh oleh seseorang yang kita cintai, akan muncul “rangsangan-rangsangan” tidak jelas, seperti rasa hangat ini. Atau itu hanya terjadi padaku?

“Tubuhmu sangat dingin,” komentar pemuda itu lagi.

Ia semakin mendekat, dan tanpa sadar aku langsung bergerak menjauh. Aku tidak pernah menyangka aku punya refleks secepat itu. Maksudku, saat ini, aku sudah berjarak kira-kira lima meter dari pemuda itu, dalam waktu sepersekian detik – entahlah, aku tidak sempat menghitungnya. Lagipula, aku tidak memakai jam tangan atau stopwatch.

Dan kenyataan itu menendang otakku sampai terpental jauh. Aku menatap ngeri pemuda itu, yang balas menatapku dengan pandangan sejenis. Apa yang dilihat pemuda itu dariku? Apa…. kedua bola mata merah yang mengerikan dan kulit putih pucat yang tampak keras?

Dari tatapan kedua bola matanya yang dalam itu, aku bisa melihat pengertian yang sama. Apa ia juga menyadari kenyataan ini? Bagaimana mungkin? Maksudku, bahkan untukku, kenyataan ini masih sangat sulit untuk kuterima.

“A-aku rasa, kita sama-sama menyadari apa yang telah terjadi padamu,” ujar pemuda itu lagi, yang mulai sekarang akan kunamai…. Ben? Ya, aku suka nama itu.

“K-kau tahu?” Akhirnya aku berhasil bersuara. Dan rupanya suaraku tidak terdengar aneh seperti yang kukira.

“Ini memang sulit dipercaya, dan tidak masuk akal, tapi… Ya, kurasa aku tahu apa yang telah terjadi padamu. Maksudku, aku menemukanmu tiga hari yang lalu, dengan bekas gigitan di lehermu. Dan selama tiga hari itu, kau kejang-kejang dan tidak sadarkan diri.”

Aku menatap Ben lurus-lurus. “Kau menemaniku selama… proses transformasi? Kau tidak tidur?”

Ben mengangguk. “Dan aku melihat semua perubahanmu itu. Benar-benar ajaib. Aku bahkan tidak bisa memercayai mataku sendiri. Bagaimana lukamu itu pelan-pelan menghilang, kulitmu yang semakin pucat, namun terlihat sangat indah, dan segala hal lain dalam tubuhmu, seperti melalui proses penyempurnaan.”

“Jadi, kau percaya pada hal-hal itu? Dan bagaimana kau tahu tentang semua hal itu? Aku kira aku yang menjadi fans berat Twilight Saga di sini,” ujarku pelan.

Ben tertawa kecil, yang anehnya masih berefek sama seperti saat aku masih menjadi manusia. Menyenangkan.

Well, aku tahu cukup banyak hal. Ini memang tidak masuk logika manusia, tapi anehnya, inilah satu-satunya penjelasan yang cocok.”

Aku mengangguk setuju. Dan aku baru sadar, saat mengobrol dengannya, baik saat aku masih menjadi manusia maupun sekarang, aku selalu tenggelam dalam obrolan itu. Aku sampai melupakan rasa sakit di tenggorokanku. Dan bodohnya, aku malah membahas itu, jadinya sekarang aku kembali merasakan rasa sakit itu.

“Kau… haus?” tanya Ben, membuatku tersentak dan berhenti mencengkeram leherku.

Tentu saja itu yang membuat tenggorokanku sakit. Aku tahu jelas itu. Namun, membayangkan diriku meminum darah…

“Kau hebat,” ujar Ben lagi, membuatku menatapnya heran. “Sepertinya kau mendapat kekuatan yang mirip dengan Bella. Amazing self-control. Bahkan, kau lebih hebat darinya.”

Aku mencengkeram rumput yang ada di sekitarku, yang sedikit lagi akan tercabut dari akarnya. Ini benar-benar menyiksa, namun aku tidak mungkin menerkam pemuda yang ada di hadapanku ini.

Sebenarnya, apa yang terjadi? Yang aku ingat, aku tidak bisa tidur malam itu, lalu memutuskan untuk berjalan-jalan di tengah hutan, sendirian. Aku tahu itu berbahaya, tapi rasa cintaku pada hutan terlalu dalam untuk merasakan rasa takut itu. Lalu, aku mendengar suara-suara aneh dan berusah mencari tahu. Aku menemukan seorang pria berkulit pucat bernuansa zaitun, sedang menatapku tajam dari balik pohon.

Setelah itu, semua berjalan dengan sangat cepat. Ia bergerak ke arahku dan aku langsung merasakan rasa sakit luar biasa di leherku, yang langsung menjalar ke seluruh tubuhku dalam hitungan detik. Dan mimpi burukku itu pun dimulai.

Ya, pria itu vampir, sosok yang kuidam-idamkan, dalam dunia FIKSI. Aku tak pernah menyangka akan bertemu yang asli, apalagi menjadi salah satunya. Aku memang pernah mengimpikannya, tapi jelas itu hanya angan-angan yang tidak benar-benar ingin kucapai.

Semua ini masih terasa sangat semu. Mungkinkah aku masih bermimpi? Tapi bagaimana caranya untuk bangun dari mimpi aneh ini?

“Aku tahu semua ini sulit untuk diterima maupun dicerna, tapi mau tidak mau, kau harus menerimanya untuk saat ini. Dan kita harus bertindak cepat. Anggota camp lain akan bangun dan menyadari kepergian kita,” ucap Ben, mengembalikanku ke alam sadar.

Pikiranku mulai menerawang ke hal-hal lain. Hal-hal yang lebih penting. Oke, anggap saja aku benar-benar telah menjadi vampir. Lalu, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan pada keluargaku? Teman-temanku? Orang-orang lain? Satu hal yang pasti…

“Mereka tidak boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ucapku tegas.

Ben tampak bingung dengan pernyataanku itu.

Aku menjelaskan, “Anggap saja dunia supernatural ini benar-benar nyata. Tapi tidak mungkin kan semua orang akan memercayainya? Lagipula… kalau vampir sungguhan ada – setidaknya seperti yang digambarkan Stephenie Meyer, berarti Volturi juga ada. Which means, aku harus mengikuti aturan mereka. Aku harus merahasiakan eksistansiku.”

Pemikiran yang aneh, memang. Tapi, hanya itu yang terpikir olehku saat ini.

Ben tampak sedang berusaha menahan senyum geli, entah apa yang lucu. “Aku masih belum sepenuhnya menangkap hal-hal aneh ini,” akunya. “Tapi, baiklah. Kita memang tidak bisa memberitahukan ini pada siapapun. Selain mereka akan sulit menerima dan memercayainya, kita juga tidak tahu bagaimana reaksi mereka nanti. Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

Aku berpikir sejenak, dan terpaksa memutuskan segalanya lebih cepat, sebelum fajar tiba. “Aku harus memalsukan kematianku.”

Mata Ben melebar. “Apa?”

Aku mengangguk mantap. “Dengan keadaan seperti ini, aku tidak mungkin kembali pada kehidupan manusiaku. Aku harus pergi. Dan segalanya akan lebih mudah jika semua orang menganggapku sudah mati.”

Ben masih tampak kaget dengan keputusan tiba-tibaku itu. Tapi kemudian, ia mendesah pasrah. “Sepertinya, itu memang satu-satunya cara, tapi… kau tidak kasihan pada orang-orang yang menyayangimu? Mereka akan merasa kehilangan.”

Aku tersenyum sedih. “Tapi aku tidak mau membahayakan mereka.”

Dan akhirnya, kami bergerak cepat. Aku memutuskan untuk pura-pura bunuh diri dengan cara menggantung diriku sendiri dan meninggalkan sepucuk surat. Mengenai isi surat itu… Intinya aku sudah bosan hidup dan memilih untuk mengakhirinya. Aku juga berpesan pada keluarga dan teman-temanku untuk tidak terlalu bersedih dan menjaga diri mereka baik-baik.

Ben tidak begitu setuju dengan isi surat itu, karena sulit untuk percaya kalau aku merasa bosan hidup dan memilih untuk mati. Dia bilang, “It’s so not you.”

Aku tersentuh, karena rupanya ia mengenalku cukup baik sampai bisa berkata begitu. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Lebih mudah untuk menerima fakta bahwa seorang gadis ceria ternyata merasa bosan hidup dan memilih bunuh diri, daripada seorang gadis yang berubah menjadi vampir penghisap darah, bukan?

Aku memilih gantung diri sebagai caraku bunuh diri, karena itu yang paling mudah diakali, dan juga paling mungkin kulakukan. Saat menjadi manusia, aku sangat takut pada darah, jadi mustahil bagiku untuk menggunakan pisau ataupun benda tajam lainnya.

Setelah selesai menyiapkan segalanya, aku menyuruh Ben untuk kembali ke perkemahan sebelum matahari terbit. Mereka harus menemukan dan menguburkanku sebelum sang raja siang mengintip dari balik awan. Untung saja hutan tempat kami berkemah ditumbuhi berbagai tumbuhan liar yang sangat lebat, sehingga sinar matahari agak sulit untuk menembusnya.

Aku menggantung diriku dengan sulur tanaman yang panjang. Agak aneh memang, jika setelah menggantung diri, kulit leherku tidak berbekas apa-apa. Namun, aku tidak bisa membuat luka bohongan. Tidak ada yang bisa melukai vampir, selain makhluk supernatural lain.

Aku hanya berharap mereka tidak terlalu memikirkan hal itu. Lagipula, Ben adalah seorang yang jenius. Ia bisa memberikan penjelasan yang dapat dipercaya.

Aku harus berusaha kuat untuk tetap diam dan berpura-pura mati, saat gerombolan anggota campingku mulai berdatangan menghampiri pohon tempat aku menggantung diri. Bukan hal yang sulit, karena vampir tidak perlu bernafas ataupun bergerak. Hanya saja, aku tidak tahan mendengar suara tangisan dan histeria teman-temanku itu. Juga aroma mereka. Untung aku tidak perlu bernafas.

Setelah beberapa waktu ditangisi oleh teman-temanku, mereka memutuskan untuk mengakhiri acara camping kami dan berangkat pulang. Yang berarti, setelah ini, aku akan dihadapkan dengan situasi yang lebih sulit. Entah bagaimana reaksi Mama dan adikku saat melihat “mayat”ku ini.

Seperti yang kubayangkan, reaksi Mama marah, sedih, histeris, semua menjadi satu. Mama marah dan menyesal karna telah memperbolehkanku mengikuti kegiatan camping itu, tapi lebih banyak menangis sambil memeluk tubuhku. Kalau vampir bisa menangis, mungkin aku sudah melakukannya sejak tadi.

Oh, aku tahu apa yang dipikirkan Mama saat ini. Ia pasti merasa sangat tidak berguna. Ia pasti merasa gagal menjadi istri dan ibu yang baik. Lima tahun yang lalu, ia kehilangan suaminya dengan cara yang kurang lebih sama. Sekarang, ia harus kembali menghadapi situasi buruk ini.

Aku jadi merasa bersalah, namun, apa lagi yang dapat kuperbuat?

Di luar prediksiku, adikku juga ikut menangis. Aku ingat, dulu, ia pernah mengatakan bahwa ia tidak akan menangis saat aku meninggal. Oh, ingin rasanya aku bangun saat ini juga, dan berteriak, “Aha! I knew it!” sambil menunjuk wajahnya dan tertawa mengejek. Sayangnya, aku tidak bisa melakukan itu.

Aku tahu Mama akan segera menghubungi kakak perempuanku – yang kini tinggal di Australia, dan aku juga yakin, ia dan suaminya pasti sama shocknya dengan Mama, dan pasti sama histerisnya juga. Bisa-bisa, kakakku itu akan segera memesan tiket pulang saat itu juga. Tapi untungnya tidak. Ia sedang hamil, dan mustahil pulang dengan keadaan itu.

Oh, aku jadi ingat. Aku tidak sempat melihat keponakanku. Oke, aku memang tidak benar-benar mati. Aku bisa saja mengunjungi mereka diam-diam untuk melihat keadaan keponakanku itu, tapi tetap saja, rasanya pasti berbeda. Sangat berbeda.

Aku tahu, aku telah menorehkan luka yang sangat dalam di hati Mama, adikku, dan juga kakakku. Luka yang pernah tertoreh juga di hatiku lima tahun yang lalu, kembali kutorehkan di hati mereka. Sekarang, mereka punya dua luka, yang sama dalamnya, dan tidak akan pernah sembuh. Sungguh, aku merasa sangat amat bersalah sekali.

Lucu. Di satu sisi, aku telah bertransformasi menjadi makhluk imortal yang sangat kuat. Namun, di sisi yang lain, aku tidak berdaya. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk memperbaiki situasi kacau ini.

Aku dikuburkan di sebuah kompleks khusus pemakaman. Aku bisa merasakan suasana berkabung yang sangat dalam di sekitarku. Ini semua membuatku terharu. Aku memang sempat bertanya-tanya, jika aku mati, siapa saja yang akan bersedih? Dan sekarang, aku mendapat jawabannya. Ditangisi begini, membuatku merasa penting. Tapi, itu bukan hal yang sepenuhnya menyenangkan.

Aku tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya tinggal di bawah permukaan tanah selama berhari-hari. Sebagai manusia, aku tidak akan bertahan hidup. Namun untuk vampir, ini bukan hal yang sulit. Aku sudah sedikit terbiasa untuk mengabaikan rasa hausku, yang semakin hari semakin menyiksa ini.

Aku sengaja membiarkan tubuhku terkubur selama beberapa hari. Sampai akhirnya, pada suatu malam, saat aku yakin keadaan di sekitarku sudah aman, aku berusaha keluar dari kuburku, dan menutup kubur itu kembali, seperti semula.

Aku sempat berpikir untuk mengecek keadaan keluargaku, tapi itu terlalu berisiko. Akhirnya, aku tinggal di hutan dekat kompleks pemakamanku itu, sambil memantau orang-orang yang datang melayat. Aku bisa melihat sinar kesedihan di setiap pasang mata yang datang melayat makamku. Ingin rasanya aku menghampiri dan memeluk mereka semua.

Suatu hari, aku melihat Ben datang ke makamku sendirian, saat keadaan kompleks itu sudah cukup sepi. Aku memutuskan untuk memanggilnya. Bukan dengan teriakan atau telepon, tentu saja. Aku berjalan cukup dekat ke arahnya, dan melemparinya batu – oke, ini mungkin terdengar sadis, namun percayalah, ini tidak semengerikan yang kalian kira. Aku hanya melemparinya kerikil yang sangat kecil untuk menarik perhatiannya.

Setelah cukup lama mencoba, akhirnya aku berhasil. Ia menghampiriku dengan ekspresi lega.

“Untunglah kau tidak apa-apa,” ujarnya.

Tentu saja aku tidak apa-apa, secara fisik.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tidak ada rencana apapun yang terlintas di benakku. Yang ada hanyalah rasa hampa yang sangat mengusikku.

“Aku… sempat terpikir sebuah ide,” ujarnya pelan, membuatku menatapnya. “Bagaimana kalau kau tinggal denganku?”

Mataku melebar. “What?” seruku tak habis pikir. “Mana mungkin bisa,” protesku.

Ben menggeleng. “Tentu saja bisa. Aku akan pindah ke Bandung untuk kuliah, kau ingat? Dan di sana, aku tinggal sendirian. Daerahnya terpencil, dekat hutan, lagi, jadi akan lebih mudah bagimu untuk berburu.”

Aku menatapnya ngeri. “Berburu…?”

Ben mengangguk. “Kau tidak mungkin meminum darah manusia, kan? Aku yakin kau pasti akan mengadopsi gaya hidup The Cullens yang kau idolakan itu.”

Aku tersenyum miring. “Aku memang pernah bermimpi menjadi vampir, tapi aku tak pernah mengharapkan mengonsumsi darah sebagai kebutuhan.”

Ben mengangkat bahu. “We’ll find a way. Kau tidak mungkin tidak minum darah. Kau memang tidak bisa mati kelaparan, tapi kau akan menjadi lemah, dan… tersiksa. Aku tidak mau melihatmu seperti itu,” ujar Ben pelan.

Oke, vampir mungkin tidak memiliki emosi seperti manusia. Do they? Aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta saat sudah menjadi vampir. Yang jelas, aku senang mendapat perhatian dari pemuda itu. Ya, vampir yang senang mendapat perhatian dari seorang manusia.

Jadilah kami berangkat ke Bandung. Kami tidak berangkat bersama, tentunya. Ia berangkat naik pesawat, sedangkan aku… Aku berlari dan berenang menyeberangi lautan. Sesuatu yang benar-benar baru, dan menakjubkan. Semasa hidupku sebagai manusia, aku tidak pandai berolahraga. Seluruh tubuhku pasti sakit setiap kali selesai berolahraga. Dan aku tidak pernah bisa berenang.

Aku sampai di rumah yang disebut Ben itu, sesuai arahannya. Rumah itu memang terletak di pedalaman, dekat dengan hutan. Suasananya sangat nyaman dan menyenangkan. Ben sudah ada di sana terlebih dahulu. Aku sengaja berangkat sehari setelah ia sampai.

“Kau mau pergi berburu?” tanya Ben, setelah ia selesai berbenah.

Aku hanya menatapnya hampa. Seumur hidupku, aku selalu membenci darah. Aku takut setiap kali melihatnya – terutama dalam jumlah yang besar. Walaupun sekarang aku sudah menjadi vampir, aku tetap tidak punya hasrat untuk meminum darah. Rasa haus yang menyiksa inipun – yang menjadi satu-satunya hal yang bisa menumbuhkan hasrat untuk meminum darah, tidak sanggup membuatku cukup berani untuk melakukannya.

“Sepertinya, rasa takut-akan-darah-mu masih ada, walaupun kau sudah menjadi vampir, ya? Mungkin itu yang menumbuhkan self-control yang begitu kuat dalam dirimu,” ujar Ben. “Tapi, kau hanya takut dengan darah manusia, kan? Seharusnya tidak masalah meminum darah hewan, kan?”

Aku menggeleng lemah. “Kurasa, aku takut pada semua jenis darah,” sahutku sambil mengernyitkan wajah. Aneh, vampir yang takut dan merasa jijik dengan darah. Membenci hal yang bisa membuatmu bertahan hidup adalah hal yang konyol.

“Tapi, kau tidak mungkin menahan rasa hausmu begitu. Awalnya mungkin akan terasa menjijikkan, tapi setelah kau berhasil menembus rasa takutmu itu, aku yakin kau akan berubah pikiran,” ujar Ben yakin, seakan ia pernah mengalami hal yang sama.

Aku tahu yang dikatakannya memang benar, tapi… Aku tidak merasa aku membutuhkan darah. Jadi, aku hanya duduk diam di sofa, dan mulai membaca novel.

Ah ya, aku mencuri semua novelku yang ada di rumah. Saat keluargaku sedang pergi, aku menyelinap masuk ke dalam rumah dan mengambil beberapa barangku, termasuk novel dan pakaianku.

Mama sudah mengepack semuanya dalam kardus, jadi mudah bagiku untuk mengambilnya tanpa diketahui. Kecuali kalau Mama kembali mengecek isi kardus-kardus itu. Kuharap ia tidak melakukannya.

Ben mendesah pasrah melihat sikap keras kepalaku itu dan akhirnya membiarkanku melakukan apa yang aku mau. Aku senang mendapat perhatiannya, namun, aku benar-benar tidak ingin meminum darah. Hal yang sangat aneh, tapi begitulah kenyataannya.

Being a vampire is a gift and a curse. Gift, karena vampir tidak punya kebutuhan sebanyak manusia. Aku tidak perlu makan, mandi, dan tidur, membuatku punya banyak sekali waktu untuk melakukan hobiku. Inilah alasan mengapa dulu aku pernah bermimpi untuk menjadi vampir. Cursenya hanya satu, merasakan sakit luar biasa pada tenggorokanku ini.

Dan sekarang aku mengerti kenapa Edward suka memperhatikan Bella saat ia sedang tidur. Raut wajah seseorang yang sedang tertidur memang enak dilihat. Mereka terlihat damai dan polos. Terutama wajah Ben. Aku suka memerhatikan wajah tidurnya. Ia terlihat semakin tampan. Aku jadi penasaran, bagaimana tampangnya jika menjadi vampir. Pasti terlihat lebih menarik…

Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak mau ia menjadi vampir sepertiku. Walaupun itu artinya kami tidak akan bisa bersama, tapi tidak masalah. Aku tahu ia bahagia dengan kehidupan manusianya. Ia sudah diterima di universitas dan fakultas idamannya. He has got all the things he needs.

Aku menatap gelas hitam bertutup dengan sedotan mencuat keluar dari balik lubang tutupnya itu dengan bingung, lalu mengalihkan pandanganku pada orang yang memegang gelas itu.

“Cobalah minum ini,” pinta Ben sambil tersenyum lelah. Belakangan ini, ia sibuk dengan kuliahnya. Ia sering mengurung diri di kamar, dan itu membuatku merasa kesepian. Senang rasanya ketika aku kembali mendapat perhatiannya.

Aku kembali menatap gelas di hadapanku. “Aku kan tidak bisa mencerna apapun selain darah. Itu pun tidak bisa dibilang ‘mencerna’,” ujarku.

Ben menggoyang-goyangkan gelas itu. “Coba saja minum dulu.”

Aku menatapnya curiga. “Ini darah, ya?”

Ben mengerutkan dahinya. “Minum,” perintahnya lebih tegas, membuatku mau tidak mau menerima gelas itu dan menyeruput isinya.

Ajaib, rasa sakit di tenggorokanku mulai menghilang. Aku langsung meneguk minuman itu sampai tak tersisa dalam hitungan detik. Dan aku merasa jauh lebih baik. Ben tersenyum senang melihatnya.

Mataku menyipit. “Jadi…. Ini beneran darah?” tanyaku lagi.

Ben mengambil tempat di sebelahku dan duduk di sana. “Berhari-hari kuhabiskan untuk berburu, mengambil darah, dan meraciknya agar tidak tercium dan terasa menjijikkan,” jelasnya pelan, membuatku terbelalak.

“Ba-bagaimana kau punya waktu untuk semua itu? Bukannya kau sibuk kuliah?”

Ben kembali tersenyum. “Maaf. Aku berbohong soal itu. Aku baru akan mulai kuliah bulan depan.”

Aku menatapnya tak percaya. “Jadi… dari kemarin itu kau sibuk untuk melakukan semua ini? Untukku?”

Ben mengangguk dan menyunggingkan senyum lebarnya. “Tentu saja.”

Jawaban sesingkat itu berhasil membuatku merasa begitu tersentuh. Ingin rasanya memeluk pemuda yang duduk di sampingku ini, tapi aku takut aku akan meremukkan tulang-tulangnya.

“Jangan terlalu memikirkannya. Anggap saja itu susu yang kau suka.”

Aku mengangguk pelan. Aku merasa sedikit mual jika mengingat aku baru saja meminum darah, namun segera kutepis pemikiran itu. Ben sudah bersusah payah membuatkannya untukku, jadi aku harus menghargainya.

“Karna kau begitu takut dengan darah, aku yakin kau tidak berani memburu hewan itu sendiri dan langsung meminum darahnya seperti yang dilakukan vampir ‘vegetarian’ pada umumnya. Jadi kupikir, jika aku menghidangkannya dengan cara lain, kau pasti mau mencobanya,” jelasnya lagi, membuatku semakin tersentuh. “Jadi mulai sekarang, aku akan berburu untukmu, dan menyajikan minuman itu.”

“Tapi, apa itu tidak merepotkanmu? Kau kan sudah mau kuliah.”

Ben kembali tersenyum – senyum yang selalu membuatku meleleh. “We can work this out,” sahutnya santai.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “ITB tidak salah memilih. Kau pasti akan menjadi anak farmasi terbaik yang pernah mereka punya,” pujiku.

Ben terkekeh. “Anak farmasi yang memelihara vampir. Kedengarannya keren juga.”

Aku ingin memukulnya – untuk main-main, seperti biasa, tapi itu akan menghancurkan tulang belulangnya, jadi… Aku hanya memutar bola mataku.

Hari-hari selanjutnya berjalan dengan lebih menyenangkan. Aku rutin mengonsumsi ‘minuman’ buatan Ben, dan merasa jauh lebih baik sekarang. Karena sudah berkali-kali mengelola ‘minuman’ itu, tidak sulit bagi Ben untuk menghidangkannya.

Dan karena merasa tidak enak hati, akhirnya aku membantunya berburu – which is easier for me now. Tapi urusan mengolah darah, itu sepenuhnya urusan anak farmasi pemelihara vampir.

Ben sudah mulai kuliah, dan menjadi lebih sibuk dari biasanya. Aku kembali merasa kesepian. Aku sudah selesai membaca semua novel koleksiku, bahkan sudah mengulangnya beberapa kali. Akhirnya, aku mulai membaca buku-buku pelajaran Ben dan membantunya sebisaku.

Ajaib, memang. Aku tak pernah membayangkan aku bisa membantu Ben dalam hal apapun, terutama studinya. Ia terlalu jenius, dan aku jauh di bawahnya. Tapi, berkat daya tangkap vampir yang melebihi manusia, aku bisa mengerti bab-bab pelajaran Ben dan bisa membantunya. Itu membuatku merasa bangga.

Kalian mungkin akan merasa bingung dengan cerita ini. Terlalu nonsense. Vampir tidak mungkin ada di dunia asli, apalagi seperti yang diceritakan dalam novel Twilight Saga. Kalaupun ada, mereka pasti tersebar di daerah Amerika dan Eropa, seperti yang ada di buku. Apa mungkin bisa nyasar sampai ke Indonesia?

Aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga bingung dan merasa sangat penasaran. Sampai saat ini, aku masih menganggap semua ini mimpi. Terlalu sulit untuk diterima akal sehat. Tapi, sampai kapan aku akan terjebak dalam mimpi ini?

Rasa penasaranku terus bertumbuh, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mencari tahu. Aku tidak tahu jelas mau mulai dari mana, tapi setidaknya aku harus berusaha mencari. Mungkin, aku bisa mencoba menjelajahi seluruh Indonesia untuk mencari jejak vampir penciptaku?

Aku mengungkapkan ideku ini pada Ben, dan pemuda itu menolaknya mentah-mentah. Ia mengkhawatirkanku. Aku senang mengetahuinya, tapi aku benar-benar ingin mencari tahu asal-usul semua ini.

Setelah membujuknya mati-matian, akhirnya ia mengizinkanku pergi, dengan perbekalan yang sangat lengkap. Ia menyuruhku berjanji untuk kembali lagi. Ia memberiku waktu satu bulan. Waktu yang lama dan singkat. Aku tidak tahu.

Aku pun berangkat, menyusuri hutan demi hutan, kota demi kota. Aku memulai pencarianku dari daerah Jawa terlebih dahulu, lalu terus ke Bali, Nusa Tenggara, dan sekitarnya. Setelah berkeliling dan tidak mendapat apa-apa, aku mulai menyeberang ke arah Sulawesi, terus ke Kalimantan, dan Sumatera.

Saat sampai di Sumatera, aku tidak bisa menahan keinginanku untuk mengecek keadaan keluargaku. Akhirnya, saat malam tiba, aku menyelinap masuk ke rumahku dengan sangat berhati-hati. Tidak begitu sulit untuk melakukannya. Dan aku bisa tersenyum lega saat menemukan Mama dan adikku dalam keadaan baik-baik saja.

Selama perjalanan ini, aku baru menyadari, bahwa menahan nafsu meminum darah manusia tidak sesulit saat sedang bersama Ben. Aroma darah manusia lain tidak sekuat dan semenggiurkan aroma Ben. Mungkin, Benlah yang disebut ‘penyanyi’ untukku. Darahnya bagaikan ‘menyanyi’, memintaku untuk meminumnya.

Butuh pertahanan yang luar biasa untuk tidak menerkam Ben dan menghisap habis darahnya. Sekarang, aku mengerti bagaimana perasaan Edward saat bersama Bella semasa manusianya. Darah Bella juga ‘menyanyi’ pada Edward, dan Edward mampu menahan nafsunya berkat rasa cintanya yang begitu besar pada Bella.

Same thing happens to me, with Ben. Aku tidak menyangka rasa cintaku padanya sebesar ini. Aku pikir, aku hanya ‘naksir’. Kami satu sekolah selama SMA. Hanya semasa SMA, tiga tahun yang singkat. Dan aku mulai suka padanya di tahun terakhir. Aneh, kan? Berarti, rasa itu tumbuh dengan sangat pesat. Terlalu pesat.

Saat tidak menemukan apapun di Sumatera, aku pun bertolak ke Papua. Dari ujung ke ujung, memang. Tapi, aku menikmati perjalanan ini. Berlari dengan kekuatan super, membuatku merasa seperti sedang terbang. Benar-benar menyenangkan. Dan sekarang aku mengerti mengapa teman-temanku suka berenang. Berenang memang menyenangkan.

Aku sampai di salah satu hutan belantara di Papua beberapa hari kemudian. Aku tidak pernah pergi ke Papua sebelumnya. Bahkan, aku tidak pernah keliling Indonesia seperti ini sebelumnya. Aku memang sering pindah-pindah sekolah dan tempat tinggal, tapi belum sampai keliling Indonesia. Ini pengalaman yang menyenangkan, sayangnya, dalam keadaan yang tidak mengenakkan.

Langkahku terhenti ketika mencium aroma yang tidak lazim. Darah segar. Bukan hanya sekedar darah segar. Darah segar manusia. Dalam jumlah yang banyak.

Aku mulai bergerak mendekati sumber bau-bauan itu dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bisa saja ada perang saudara atau apa.

Aku terpana ketika melihat puluhan manusia tergeletak di rerumputan dalam keadaan yang mengenaskan – aku cukup yakin darah mereka sudah dihisap sampai habis. Dan mataku melebar ketika melihat sesosok pria sedang berjongkok di dekat salah satu mayat, dengan gigi tertancap pada lehernya.

“Ka-kau vampir juga?” todongku langsung.

Si vampir pria itu menoleh ke arahku dengan tenang, seperti sudah mengetahui kedatanganku sedaritadi. Pria itu menatapku lama, lalu menyunggingkan senyum. “Oh, kau rupanya.”

Aku membelalakkan mata. “Ka-kau mengenaliku? Bagaimana bisa?” tanyaku tak habis pikir. Lalu, suatu fakta menyetakku. “Oh! Kau… penciptaku?”

Pria itu tertawa. “Secara tidak sengaja,” jawabnya ringan. “Bagaimana hari-harimu? Indah? Oh, apa kau sudah makan?”

Aku menatapnya ngeri. “Mengapa kau mengigitku?” tanyaku langsung. Aku tidak perlu berbasa-basi lagi.

Pria itu kembali tertawa. “Itu hanya sebuah kecelakaan, kalau bisa dibilang begitu. Atau keberuntunganmu,” sahutnya.

Aku mengernyit. Beruntung, katanya?

“Tadinya, aku ingin meminum darahmu, tapi seseorang datang – bergerombol, sebenarnya, jadi aku terpaksa pergi. Hukum Volturi belaku, kau tahu? Kita harus merahasiakan keberadaan kita dari manusia,” lanjutnya.

“Dan ini caramu merahasiakannya?” tanyaku sambil melirik mayat-mayat yang tergeletak di mana-mana.

Vampir pria itu tertawa. “Tempat ini sangat sepi dan terpencil, kau tahu? Jadi, kurasa tidak masalah menyerang mereka seperti ini. Tidak akan menarik perhatian siapapun,” sahutnya santai.

Aku bergidik. “Lalu, kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya… seharusnya kalian ada di daerah Amerika dan Eropa?”

Pria itu mengangkat sebelah alisnya. “Oh? Kau salah satu pembaca novel itu?” tanyanya, membuatku mengernyit heran.

“Kau tahu tentang novel itu?” Aku balik bertanya. Kurasa kami membicarakan novel yang sama.

“Ya, novel yang mengancam keberadaan kami,” sahutnya.

“Jadi… semua yang ada di dalam novel itu nyata?” tanyaku tak percaya. Apa aku salah menangkap maksud vampir di hadapanku ini?

“Ya,” sahutnya mantap. “Dan soal pertanyaanmu sebelumnya, kami memang tinggal di sekitar Amerika dan Eropa, beberapa mulai menyebar ke Afrika dan Asia juga. Kami ini berjumlah banyak, kau tahu? Dan kebanyakan dari kami nomaden. Kami berpindah dan mulai menyebar kemana-mana. Jadi, menemukan salah satunya di sini, bukan sesuatu yang mengherankan,” jelasnya dengan cepat.

“Untuk kasusku, memang sedikit berbeda. Aku penjelajah. Aku suka berkeliling, berpindah tempat kemanapun yang aku mau, sendirian. Dan tahukah kau, darah setiap manusia yang berasal dari tempat yang berbeda memiliki rasa yang berbeda-beda juga? Aku suka menikmati rasa yang berbeda-beda itu,” lanjutnya, membuatku mengangkat alis.

Ia mengatakannya seperti seorang wisata kuliner. Konyol, sekaligus mengerikan.

Ada sangat banyak pertanyaan yang hinggap di kepalaku, membuatku bingung, mana yang harus kutanyakan terlebih dahulu. Tapi aku tahu aku menemukan orang yang tepat. Ia yang mentransformasiku – walau tidak sengaja, dan sepertinya ia mengetahui banyak hal, jadi aku bisa memuaskan rasa penasaranku ini.

“Ceritakan padaku tentang novel itu. Bagaimana mungkin Stephenie Meyer tahu segalanya tentang vampir dan mengeksposnya begitu saja?”

Vampir pria itu menggelengkan kepalanya. “Bukan dia yang mengetahuinya, tapi vampir lain.”

Aku yakin mulutku sudah terbuka sangat lebar saat ini, mungkin akan robek jika aku bukan vampir. “Vampir lain? Dia berteman dengan vampir lain?”

Pria itu kembali menggeleng. “Kau tahu Vladimir dan Stefan?”

Aku mengangguk. “Mereka dalang di balik semua ini?” tanyaku tak percaya. Well, bisa jadi, sih. Vladimir dan Stefan mempunyai dendam dengan Volturi. Bisa saja mereka menggunakan ini untuk menjatuhkan mereka?

“Mereka menciptakan satu vampir berbakat bernama Bannister. Dia dulunya seorang penghipnotis yang handal, sehingga saat menjadi vampir, dia bisa mengontrol pikiran manusia maupun vampir lain,” ceritanya. “Bannister mengontrol Stephenie untuk menceritakan semua hal tentang vampir, untuk menjatuhkan Volturi, tentu saja.”

Limpahan informasi ini begitu sulit untuk kucerna, bahkan dengan ‘otak’ vampir. “Lalu, bagaimana tindakan Volturi terhadap kasus ini?”

“Karena manusia menganggap hal ini hanyalah sebuah cerita yang tidak nyata, Volturi tidak mempermasalahkannya. Mereka hanya menginstruksikan para vampir untuk lebih berhati-hati dalam berburu,” jawab penciptaku itu.

“Dan kau mengabaikannya,” tuduhku, masih sedikit kesal karena vampir di hadapanku ini telah merengut jiwa manusiaku seenaknya.

Vampir pria itu mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Aku tidak merasa begitu. Buktinya, belum ada yang menangkap basah perbuatanku, kan?” tanyanya – pertanyaan retoris, yang ia jawab sendiri. “Kecuali kau, tentunya.”

“Jadi, sekarang apa yang harus kulakukan?”

“Kau bisa ikut berkelana denganku, kalau kau mau. Atau berkelana sendirian. Terserah padamu,” sahut vampir itu santai. “Ngomong-ngomong, aku Vaughn,” ujarnya, dan bergerak dengan cepat – nyaris terbang, ke arahku.

“Aku Mildred,” sahutku singkat.

Vampir yang kini berdiri beberapa sentimeter dariku menatapku takjub. “Kau… vegetarian?” tanyanya heran, sambil menatap lurus-lurus ke dalam kedua bola mataku yang mulai berubah kekuningan. Mungkin sekarang warnanya jingga? Entahlah.

Aku mengangguk.

“Padahal kau baru saja melewati masa liarmu,” lanjut Vaughn.

Aku kembali mengangguk. “Aku… fans keluarga Cullens,” jawabku sekenanya. Well, itu memang benar. Walaupun bukan alasan utamanya. “Oh ya, apakah kau mengenal mereka?”

Vaughn tertawa. “Tentu saja, siapa yang tidak mengenal mereka?” tanyanya skeptis. “Apa kau mau bertemu dengan mereka? Atau mungkin bergabung dengan mereka?”

Aku berpikir sejenak. Sebenarnya, ide itu kedengaran sangat menarik. Hanya saja…

“Sekarang mereka tinggal dimana?”

“Kanada. Aku bisa mengantarmu kalau kau mau,” sahut Vaughn santai.

Kanada? Jauh sekali. Tapi, aku punya waktu yang cukup untuk itu.

“Baiklah. Antarkan aku ke sana.”

Check out Part 2 

[COPYRIGHTED!]

Joining    : Writing Fan Fiction Challenge

Held by   : Fan Page GagasMedia

Status      : Win

The Untold Story of ‘The Truth About Forever’ by Orizuka

Truth About Forever cover baru

(Sumber: Goodreads)

Yogas tersentak dari lamunannya ketika menyadari taksi yang sedang ditumpanginya telah berhenti. Yogas melemparkan pandangan keluar jendela dan menatap gedung tua di hadapannya. Ia ingat, beberapa waktu yang lalu, ketika ia baru sampai di gedung ini. Hatinya masih begitu keras dan penuh kebencian. Otaknya hanya diisi oleh satu tujuan, mencari orang yang menyebabkan penderitaannya ini dan memberinya pelajaran.

Namun sekarang, ia kembali dihadapkan dengan gedung ini, dalam keadaan yang seratus delapan puluh derajat berbeda. Hatinya telah dipenuhi harapan dan kobaran semangat, dan otaknya dipenuhi oleh wajah seorang gadis yang keras kepala itu, Kana. Saat ia kembali lagi ke tempat ini, ia pasti sudah menyandang gelar sutradara. Harus.

Yogas membayar supir taksi tersebut, lalu keluar sambil menenteng ranselnya. Setelah ia bisa duduk tenang di kursi kereta, Yogas memejamkan matanya dan mulai memikirkan apa yang hendak ia lakukan begitu ia sampai di Jakarta. Yang jelas, ia akan menemui keluarganya dan Wulan. Lalu, mendaftar kuliah di bidang perfilman? Ya, mungkin itu ide yang bagus.

Yogas merenggangkan otot-otot tubuhnya yang kaku setelah berjam-jam menghabiskan waktu di kereta. Begitu ia menginjakkan kaki di depan pagar rumahnya, ibu dan ayahnya langsung berlari keluar. Ibunya langsung menghambur ke arahnya dan memeluknya erat-erat, sampai Yogas kesulitan bernafas.

“Oh, Yogas. Akhirnya kamu pulang juga, Sayang. Kamu nggak apa-apa? Sudah makan? Sudah minum obat?” Ibu Yogas menerornya dengan ribuan pertanyaan.

“Yogas nggak apa-apa kok, Ma. Tenang aja,” jawab Yogas santai.

Ayah Yogas menepuk pundak anaknya pelan. “Selamat datang kembali, Gas. Maafin Papa, ya.” Pria itu tersenyum tipis.

Yogas sempat terpaku beberapa saat, memandangi wajah pria yang sudah begitu lama tak ditemuinya. Ia mengangguk pelan, lalu sudut-sudut bibirnya ikut terangkat.

Ah, akhirnya, takdir kembali menolehkan kepalanya pada Yogas. Hidupnya yang tadinya terasa begitu berantakan, pelan-pelan ditata ulang.

Welcome home, Gas,” sambut Wulan begitu Yogas memasuki ruang tamu rumahnya.

Yogas tersenyum dan menatap gadis di hadapannya. Gadis yang dulu sangat dicintainya, tetapi sekarang semua sudah berubah.

So, apa rencanamu selanjutnya?” tanya Wulan ketika mereka sedang berjalan-jalan di taman belakang rumah Yogas.

“Aku udah janji ke Kana, kalo aku bakal ngejar cita-citaku,” jawab Yogas sambil tersenyum kecil. Matanya menerawang, kembali mengingat janji yang ia buat dengan gadis itu.

“Kalo gue udah jadi sutradara, dan lo udah jadi penulis best seller, ayo kita ketemu lagi.”

“Kalo gitu, janji ya? Kalo kita sudah sama-sama ngeraih cita-cita kita, kita ketemu lagi.”

Senyum Yogas semakin melebar ketika mengingat janji itu. Semangatnya semakin tersulut. Ia jadi tidak sabar untuk cepat-cepat meraih cita-citanya, dan bertemu lagi dengan gadis itu.

Wulan menatap Yogas dengan pandangan haru. Akhirnya, sahabatnya yang satu ini dapat menemukan kembali harapan untuk berjuang hidup. “Jadi, apa yang bakal kamu lakuin demi ngeraih cita-citamu itu?”

Yogas tampak menimbang-nimbang sejenak. “Mungkin, masuk kuliah dan ambil jurusan perfilman?”

Wulan tersenyum puas. “Good idea.”

Dan di sinilah Yogas. Duduk di salah satu kursi di Jurusan Perfilman Institut Kesenian Jakarta. Sejauh ini, ia telah mengikuti pelajaran dengan antusias. Semua ini demi gadis itu.

Yogas sedang menyusuri lorong di depan kelasnya dan menemukan kerumunan orang di depan mading. Penasaran, ia pun menghampiri kerumunan itu. Ia menyelip di antara desak-desakan mahasiswa dan berhasil mencapai barisan terdepan untuk melihat poster besar yang terpajang di atas mading.

Yogas tersenyum penuh harapan setelah melihat tulisan demi tulisan yang tertera di poster itu. Ini adalah kesempatan untuknya. Kesempatan untuk unjuk gigi. Ia jelas akan mengikuti lomba film indie ini. Lagipula, ia sudah mendapat ide untuk film yang akan dibuatnya.

Semenjak Yogas mendaftarkan diri untuk mengikuti perlombaan itu, ia semakin terlihat bersemangat. Setelah pulang kuliah, atau setiap memiliki waktu luang, Yogas pasti berkutat dengan handycam dan filmnya. Tiada hari tanpa syuting. Ia benar-benar bertekad untuk memenangkan lomba ini.

Berkat kegigihan dan semangat yang berkobar-kobar, akhirnya film itu pun jadi, dan segera Yogas kumpulkan ke panitia. Yogas menunggu dan menunggu. Terus menghitung hari demi hari hingga akhrinya, hari yang ditunggu-tunggunya pun tiba.

Pada hari H, semua peserta diundang ke bioskop Hollywood XXI. Gedung bioskop yang megah itu benar-benar nyaman. Semua peserta telah duduk tenang di sofa empuk dalam salah satu theater yang telah disewa panitia.

“Selamat siang, para peserta Lomba Film Indie. Terima kasih telah hadir tepat waktu. Seperti yang telah Anda ketahui, hari ini kami akan mengumumkan hasil lomba yang telah Anda ikuti. Kami mengumpulkan Anda semua di sini karena film yang memenangkan lomba  ini akan langsung diputar di tempat ini.”

Suasana menjadi sangat hening. Masing-masing peserta terlihat gugup dan berharap-harap cemas film merekalah yang terpilih. Yogas meremas jarinya dengan gelisah. Ini dia waktu yang ditunggu-tunggunya. Dalam waktu beberapa menit lagi, ia akan mengetahui apakah ia akan mendapat setitik celah untuk menggapai mimpinya.

“Baiklah, kami akan segera memutar film yang menjadi pemenangnya. Selamat menonton.”

Lampu di ruangan itu mulai menggelap, dan layar lebar di hadapan Yogas mulai melebar. Layar kosongnya mulai menampilkan background hitam dengan tulisan putih di atasnya. Yogas menahan nafasnya ketika membaca serentetan kata-kata itu.

Setitik Harapan. A Short Movie by Yogas.

Layar berubah menampilkan sebuah ruangan praktik dokter di sebuah rumah sakit. Sang dokter sedang membaca sebuah berkas dengan saksama, kemudian menatap pasien di hadapannya dengan pandangan prihatin.

“Maafkan saya, Dik. Tidak ada kesalahan diagnosa. Anda memang positif mengidap penyakit HIV/AIDS.”

Raut wajah sang pasien berubah pucat pasi. Ia mengangguk dengan linglung, kemudian beranjak keluar dari ruangan itu. Pemuda itu menyusuri lorong rumah sakit dengan langkah gontai. Sebuah suara mengiringinya berjalan.

“Jika kau didiagnosa mengidap penyakit mematikan yang tidak bisa disembuhkan, apa yang akan kau lakukan? Bukan, bukan hanya mematikan dan tidak bisa disembuhkan, namun penyakit yang akan membuat orang-orang merasa jijik.”

“Kau akan dijauhi dan dicampakkan oleh orang-orang yang kau kasihi.”

Layar berganti lagi, kali ini menampilkan seorang pria paruh baya yang meninggalkan sebuah rumah, tidak menghiraukan tatapan sedih seorang wanita – yang tak lain dan tak bukan adalah istri pria itu, dan pemuda tadi – yang jelas merupakan anaknya. Lalu, adegan selanjutnya menampilkan seorang gadis – kekasih pemuda itu, yang pergi meninggalkan pemuda tadi sendirian.

“Saat satu demi satu orang yang berharga yang kau miliki pergi meninggalkanmu, siapa lagi yang dapat kau percayai? Pada akhirnya, kau tinggal sebatang kara, menenggelamkan diri ke lubang yang paling gelap, dan menyembunyikan diri dari dunia ini.”

Pemuda tadi mulai suka menyendiri, menjauhi teman-teman sekolahnya.

“Kau mulai menarruh dendam. Dendam kepada orang-orang yang mencampakkanmu. Dendam kepada orang yang menjadi dalang atas semua penderitaanmu. Kau mulai membenci hidupmu. Kau mulai membenci dirimu sendiri.”

Pemuda itu sedang berdiri di atas atap sebuah gedung tinggi, sendirian. Angin sepoi-sepoi bertiup dan memainkan ujung-ujung rambutnya.

“Matamu tertutup. Yang kau lihat hanyalah kebencian. Kau menutup diri. Tidak membiarkan siapapun memasuki duniamu. Kau menepis segala kebaikan orang di sekitarmu. Kau mengabaikan kepedulian dan ketulusan orang lain. Kau menghukum dirimu sendiri dengan tidak membiarkan dirimu merasakan secuil kebahagian.”

“Kau merasa dirimu tidak pantas menggenggam harapan. Tidak pantas menikmati sedikit pun kebahagiaan.”

Pemuda itu sedang berjalan di sebuah lorong yang panjang dan gelap, seakan tidak memiliki ujung.

“Namun, di tengah kegundahan yang kau alami, tidak tertutup kemungkinan kau akan menemukan setitik harapan.”

Di ujung lorong tersebut, mulai terlihat sebuah titik putih yang amat kecil.

“Semua orang pantas merasakan kebahagiaan. Semua orang pantas menggenggam harapan, sekecil apapun itu. Dan selama kita masih berharap, semuanya mungkin.”

Pemuda itu mulai melangkah menghampiri titik putih itu, dan semakin lama, titik itu semakin terlihat jelas.

“Perlu disadari, bahwa hidup ini berbicara tentang keseimbangan. Kita tidak mungkin terus  menerus merasakan kesedihan, pasti ada kebahagiaan yang menunggu kita di balik sana. Teruslah berharap.”

Pemuda itu sampai di ujung lorong dan menemukan sebuah pintu yang terbuka. Di balik pintu itu, ada keluarga dan sahabat-sahabatnya yang sedang tersenyum ke arahnya, lalu merentangkan tangan lebar-lebar.

“Terkadang, untuk bertahan hidup, yang kita perlukan hanyalah setitik harapan.”

Layar kembali berubah hitam, dengan tulisan THE END berwarna putih.

Tepukan tangan dan sorak sorai penonton menyentak Yogas ke alam sadar. Saat ia mengedipkan mata, ia baru sadar bahwa matanya kering dan pipinya telah basah. Yogas segera menghapus jejak air mata di pipinya ketika namanya dipanggil untuk maju ke depan.

Seorang pria memberikan sebuah piala kecil kepada Yogas, beserta sekeping CD yang Yogas yakini berisi film buatannya, lalu menyalaminya. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu bertepuk tangan sambil memuji-mujinya. Yogas tidak bisa menghapus senyuman di wajahnya.

Seusai acara, Yogas langsung bergegas pulang. Ia tidak sabar untuk memberitakan kabar gembira ini pada keluarganya dan juga Wulan. Sepanjang perjalanannya menuju halte bus, Yogas terus bersiul ria sambil sesekali tersenyum kepada orang yang berpapasan dengannya. Biar sajalah jika dikira orang gila. Ia tidak peduli. Suasana hatinya benar-benar baik hari ini.

Langkah Yogas terhenti ketika seorang anak kecil tidak sengaja menabraknya. Anak kecil itu menatap Yogas sebentar, kemudian berlalu begitu saja. Well, Yogas memang tidak mengharapkan permintaan maaf anak itu, mengingat umurnya yang masih kecil. Tetapi, sesuatu membuat kening Yogas berkerut. Kenapa anak sekecil itu berkeliaran di jalanan sendirian?

Yogas menoleh ke arah anak kecil yang telah melewatinya itu. Anak itu sedang berdiri di tepi jalan, bersiap untuk menyeberang jalan. Yogas berjalan pelan mendekatinya. Anak itu masih sangat kecil, jadi ada baiknya jika ia temani menyeberang.

Ketika jarak antara Yogas dan anak itu tinggal beberapa langkah lagi, tiba-tiba anak itu mulai menyeberang, dan tidak sengaja tersandung. Bukannya langsung bangkit, anak itu malah duduk diam di tengah jalan sambil mengelus-ngelus lututnya. Anak itu sama sekali tidak menyadari ada sebuah kontainer yang sedang melaju ke arahnya. Tanpa pikir panjang, Yogas langsung berlari ke arah anak itu dan mendorongnya ke tepi jalan, membiarkan kontainer itu menabrak dan mementalkan tubuhnya.

Supir kontainer itu langsung menginjak rem kuat-kuat, dan turun dari mobilnya, menghampiri tubuh Yogas yang mengalami pendarahan hebat. Yogas langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Ibu dan ayah Yogas yang telah dihubungi langsung bergegas menjenguk putra semata wayang mereka itu. Wulan juga segera datang. Mereka yang menunggu di luar hanya bisa berharap-harap cemas. Dokter dan para suster sedang sibuk menangani Yogas di ruang UGD.

Ketika akhirnya dokter keluar dari ruangan, mereka yang sedang menunggu dapat merasa sedikit lebih tenang.

“Yogas masih dalam keadaan kritis. Kami sudah melakukan semua yang kami bisa. Sekarang kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya,” ujar dokter.

“Boleh saya masuk, Dok?” tanya ibu Yogas dengan nada yang sarat kecemasan.

“Tentu saja.”

Ibu Yogas kembali terisak ketika melihat putra satu-satunya terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan perban di sekujur tubuhnya. “Gas, ini Mama, Sayang.”

Ibu Yogas mengelus pelan kepala anaknya. “Ayo dong, Gas. Bangun. Jangan tidur terus,” gumamnya lirih. “Kamu bikin Mama, Papa, dan Wulan khawatir saja.”

Ibu Yogas mengenggam tangan Yogas yang bebas dari perban. “Ayo, Nak. Berjuang hidup. Demi Mama. Demi Papa. Demi Wulan. Dan, demi Kana. Kamu selama ini udah berjuang melawan penyakitmu demi Kana, masa kamu malah pergi karena hal ini?”

Ibu Yogas kembali menangis tersedu-sedu dan membenamkan wajahnya di samping tangan Yogas. Tiba-tiba, ia merasakan gerakan dari tangan yang digenggamnya. Ibu Yogas mengangkat wajah dan menatap tangan dan wajah Yogas secara bergantian.

“Kana…” gumam Yogas lirih.

Mata Ibu Yogas berbinar. “Kamu udah sadar, Nak? Ayo buka matamu.”

“Kana…” Yogas kembali menggumamkan nama itu.

Ibu Yogas tersenyum sedih. “Kamu pasti kangen berat ya, sama Kana? Sayang, dia nggak bisa ada di sini.”

“Kana, maafin aku.”

Ibu Yogas memasang telinganya untuk mendengar lebih jelas gumaman lirih yang keluar dari mulut Yogas.

“Maafin aku karna nggak bisa nepatin janji itu.”

Tepat setelah Yogas mengatakan itu, mesin di sebelahnya berbunyi “beep” yang panjang dan datar, menampilkan garis lurus tanpa ujung. Ibu Yogas mulai meraung-raung dan mengguncang-guncang tubuh anaknya, namun tidak ada gunanya. Dokter dan para suster memasuki ruangan dengan tergesa-gesa dan segera menangani Yogas. Ayah Yogas dan Wulan juga masuk untuk menarik Ibu Yogas keluar dan menenangkannya.

Ada yang mengatakan, ketika kau sudah berada di ambang pintu kematian, potongan-potongan kehidupanmu akan muncul satu per satu di depan matamu. Itulah yang Yogas lihat saat ini. Seperti potongan-potongan rekaman yang disatukan menjadi sebuah film, begitulah kenangan-kenangan hidupnya terpampang jelas di depan matanya.

Dimulai dari awal segala penderitaannya. Saat Joe, sahabatnya, mengajaknya bertemu di belakang sekolah. Kemudian anak-anak berandal itu datang, menahan tubuhnya, tidak membiarkannya menghindar ketika Joe menyuntikkan jarum itu ke lengan kirinya.

Lalu saat Joe pindah sekolah karena ketahuan menggunakan narkoba, Yogas mengira hidupnya akan baik-baik saja dan kembali seperti sedia kala. Namun ia salah. Penyakit itu datang tanpa diundang, meluluhlantakkan kehidupan Yogas.

Semua orang yang disayanginya pergi meninggalkannya. Ayahnya, lalu Wulan, kekasihnya. Yogas merasa hampa. Dan akhirnya ia memutuskan ia tidak mau menderita sendirian.

Yogas ingat ketika ia memutuskan untuk pergi ke Yogyakarta, berharap akan menemukan Joe dan membalas dendam. Namun, ia malah bertemu Kana, gadis yang ngekos di kamar sebelahnya. Gadis yang entah mengapa membuat Yogas harus berjuang keras untuk mengabaikannya. Gadis yang selalu ada di sisinya, yang tulus peduli padanya, tanpa mengacuhkan penyakit yang diidapnya. Gadis yang membuat Yogas mencicipi secuil kebahagian dan memberi Yogas setitik harapan.

Lalu saat Yogas akhirnya menemukan Joe, namun malah mendapat berita pahit. Jarum suntik yang digunakan untuk menyuntik Yogas ternyata adalah milik Joe, yang berarti penyakit itu ditularkan dari Joe, sahabat masa kecilnya.

Semua kenangan, baik yang manis maupun yang pahit, semuanya berseliweran di hadapan Yogas, sampai kepada janji itu. Janji yang menjadi alasan Yogas untuk berjuang hidup, walaupun hidupnya harus mengejar waktu dan bergantung pada sebutir demi sebutir pil.

Maaf ya, Kana. Sepertinya pertemuan kita harus tertunda sedikit lebih lama lagi.