Archive for the ‘Flash Fictions’ Category

Revanche

Posted: October 27, 2013 in Flash Fictions
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Joining  : Tantangan Nulis Seru 

Held by : nulisseru.com

Status    : Win

“Jangan mendekat!” teriak wanita itu sambil terus melangkah mundur. “Atau aku akan melompat!” ancamnya.

Pria di hadapannya tetap bergerak maju dengan langkah pelan, sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada. “Jangan takut,” ucapnya dengan nada menenangkan, tetapi malah membuat wanita itu semakin panik.

Pria itu melambaikan tangan ke arah pemandangan yang terpampang di belakang si wanita. “Indah, ya? Bukankah kau selalu mengagumi pemandangan ini?”

Pemandangan yang indah itu, dengan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi tiap lekuk kota Paris yang tampak mungil, bukannya mengingatkan si pria pada kenangan manis yang terbentuk di menara ini, melainkan kejadian dejavu yang menyakitkan. Di menara yang sama, jam yang sama, tetapi hari yang berbeda. Saat itu, ia juga sedang meyakinkan seseorang untuk tidak melompat dari puncak menara ini.

Sedangkan si wanita, yang ia ingat hanyalah pertemuan sederhana yang tanpa disangka membawa malapetaka padanya.

Hari itu adalah hari yang indah, bahkan hampir menjadi hari terindah dalam hidupnya. Ia akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya untuk mengunjungi menara fenomenal ini. Ia naik sampai ke puncak, dan begitu terpesona pada pemandangan indah yang terpampang di hadapannya. Saking terpesonanya, ia tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, seakan-akan pemandangan menakjubkan di hadapannya tidak bernilai sama sekali. 

Beautiful, isn’t it?” komentar wanita itu tanpa berpikir. Ia pun tidak tahu apa yang mendorongnya untuk memulai percakapan. Ia hanya merasa penasaran, mengapa pria itu tidak tampak takjub sama sekali pada pemandangan indah yang disajikan kota Paris.

Pria itu menoleh. “Pemandangan dari atas Arc de Triomphe lebih bagus,” sahutnya datar, membuat lawan bicaranya melongo.

“Tetapi, suasana yang terbentuk di menara ini berbeda. Ini menara cinta, kau tahu? Banyak kisah cinta yang terjalin di sini.” Wanita itu tidak tahu mengapa ia merasa harus membela menara favoritnya ini.

Pria itu masih menatap lawan bicaranya dengan tatapan datar. “Kau tahu, di sini juga sering terjadi kasus bunuh diri.”

Wanita itu mengangkat kedua alis sambil meringis. “Ya, aku pernah mendengarnya.”

“Kita hidup di dunia nyata, bukan di dunia fiksi. Menara ini tidak seindah yang diceritakan oleh dongeng-dongeng,” lanjut pria itu dengan nada dingin, membuat lawan bicaranya meneguk ludah dan menatapnya lekat-lekat.

“K-kau tidak sedang berniat untuk melompat dari sini, kan?” tanya wanita itu takut-takut.

Si pria melirik ke bawah sambil tersenyum samar. “Aku penasaran berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk sampai ke bawah,” ujarnya pelan sambil bergerak maju satu langkah, membuatnya berdiri tepat di ujung menara.

Wanita itu membekap mulutnya. “No, no! Jangan melompat!” serunya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, hendak mencari pertolongan. Namun, sedetik kemudian, terdengar suara tawa menggelegar, yang membuat wanita itu kembali menoleh ke arah lawan bicaranya.

“K-kau cuma bercanda, kan?” tanya wanita itu memastikan, sedangkan si lawan bicara masih terkekeh.

Pria itu melangkah ke arah lawan bicaranya, menjauhi ujung menara. “Ayo, akan kutunjukkan padamu kalau pemandangan dari puncak Arc de Triomphe lebih bagus dari ini.”

Saat itu, si wanita tidak tahu apa yang membuatnya menerima ajakan lawan bicaranya. Dan sekarang, ia sangat menyesali keputusannya itu, terlebih karena ia membiarkan pria itu mengantarnya pulang. Kalau ia tahu pria itu akan menculiknya seperti ini, ia tidak akan pernah membiarkan dirinya terlibat dengan pria gila ini.

“Sebenarnya, apa maumu?” tanya si wanita dengan nada sedingin mungkin.

Lawan bicaranya tersenyum misterius. “Siapa namaku?” tanyanya pelan, membuat si wanita mengernyit.

“Arthur. Right?” sahut si wanita ragu.

Pria yang bernama Arthur itu mendengus sinis. “Arthur-what?” tanyanya lagi,

“Kau tidak pernah memberitahu nama belakangmu,” sahut si wanita.

“Baiklah, akan kuberitahu sekarang. Namaku Arthur Clement. Does that ring a bell?”

Kedua mata cokelat wanita itu melebar. “Clement… Are you-”

Yes, I’m Lucas’s brother,” sela Arthur tak sabar.

Ekspresi wanita itu seketika berubah. “Wow, why didn’t you say so? How’s he? Sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya. Tiba-tiba saja dia bilang dia ingin pindah ke Eropa, tapi dia tidak menyebut ke negara mana. Apa dia pindah ke sini?”

“Tiba-tiba saja?” ulang Arthur skeptis. “Bukannya kau tahu jelas kalau dia memutuskan untuk pindah tepat setelah kau menolaknya?”

Wanita itu langsung terdiam. “A-aku… He said he was okay with it. Dia bilang dia mau pindah karena sudah bosan menetap di New York,” ujarnya membela diri.

Arthur mendengus sinis. “Kau ini polos sekali, ya,” komentarnya skeptis.

“K-kalau begitu, dimana dia sekarang?” tanya si wanita, benar-benar penasaran.

Arthur bergerak maju satu langkah, mempersempit jarak di antara kedua insan itu. “Kau ingat percakapan pertama kita di sini?”

Wanita itu mengangguk ragu. Lagi-lagi, pria ini mengganti topik seenaknya, gerutunya dalam hati.

Arthur meraba saku belakang celananya, membuat lawan bicaranya menahan nafas sambil memerhatikan gerak-geriknya lekat-lekat. Sebuntal koran tua terlempar ke arah wanita itu. Tercantum tanggal hari itu, tetapi dengan tahun yang berbeda – tahun lalu.

Wanita itu melirik pria di hadapannya sekilas, lalu memungut koran itu hati-hati. Sedetik kemudian, dahi wanita itu berkerut dalam. Semua tulisan yang tertera di koran itu ditulis dalam bahasa Prancis. Ia tidak mengerti sama sekali. Tetapi, foto yang terpampang besar di halaman pertama menjelaskan segalanya. Foto seorang pria yang sedang berdiri di ujung menara. Wanita itu membekap mulut saat mengenali pria itu.

“Kau tahu apa kata-kata terakhirnya?” tanya Arthur sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.

Lawan bicaranya masih terlalu shock untuk merespon, sementara kenangan pahit itu menyerbu masuk ke dalam benak Arthur.

“Jangan lakukan ini, Lucas. Pikirkan keluargamu. Mom, Dad, aku. Aren’t we more precious than that ungrateful girl?” tanya Arthur dengan nada memelas.

“Kau tidak mengerti, Arthur,” sahut Lucas lesu.

Exactly. Aku tidak mengerti sama sekali. Jadi, jelaskan padaku!”

Lucas mendesah. “Inilah caraku untuk menjelaskannya padamu. Kau tidak tahu betapa aku sangat mencintai gadis itu, dan inilah buktinya.”

Setelah berkata begitu, semuanya bergerak dengan sangat cepat. Tubuh Lucas yang terhuyung ke belakang, Arthur yang berusaha menggapai tangan kakaknya, Lucas yang mengabaikan uluran tangan Arthur, dan tubuhnya yang terjun bebas dengan cepat.

“Ja-jadi, kau ingin membalas dendam?” Suara bergetar wanita di hadapannya mengembalikan kesadaran Arthur. Wanita itu sedang melirik ngeri ke arah benda yang dipegang Arthur.

Arthur tersenyum tipis. “Ah, itu terdengar terlalu kejam. Aku hanya ingin kau tahu betapa kakakku mencintaimu, dan aku ingin kau ikut merasakan apa yang dirasakannya.”

Wanita itu meneguk ludah, lalu memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya tepat di mata. “Kalau begitu, kenapa kau tidak membiarkanku melompat daritadi?”

Arthur tersenyum penuh arti, lalu sedetik kemudian, terdengar suara ledakan, bersamaan dengan terhuyungnya tubuh si wanita ke belakang. Kali ini, Arthur berani menatap tubuh yang berlumuran darah di bagian dada itu terjun bebas, hingga menghilang di balik kegelapan malam.

“Karena aku tidak hanya ingin kau merasakan apa yang kakakku rasakan. Aku ingin kau lebih menderita.”

Advertisements

Define ‘Friendship’

Posted: March 12, 2013 in Flash Fictions
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Joining  : Ngerumpi Days Out 2012 Writing Competition

Held by : ngerumpi.com

Status    : Didn’t win 

(P.S: I modified it a bit) 

Ah, pagi yang indah – udara yang segar, langit yang biru dengan awan-awan putih bersih yang menghiasinya, burung-burung yang berkicauan, pohon-pohon rindang yang melambai-lambai… Sungguh suasana yang nyaman. Aku sedang mendayuh sepedaku bersama teman terbaikku, Jeremy, menuju toko buku favorit kami.

Sesampainya di sana, kami memarkirkan sepeda kami dan memasuki toko buku itu. Berbagai jenis buku duduk manis di rak-rak yang berjejeran rapi. Setelah kami memilih buku yang kami inginkan dan membayarnya, kami pun berjalan keluar.

Kami baru saja menginjakkan kaki di  luar toko, ketika tiba-tiba seseorang menubruk Jeremy dengan kencang, hingga ia hampir saja kehilangan keseimbangan. Untung aku dapat menahan dan membantunya berdiri kembali. Ia mengimbangi tubuhnya, lalu mecari-cari sesuatu.

“Dia mengambil dompetku!” teriaknya tiba-tiba.

Tanpa pikir panjang, Jeremy langsung mengejar pencopet itu. Aku panik, lalu ikut mengejarnya. Kami berhenti di sebuah jalan buntu dan si pencopet terkepung di sana.

Jeremy mendekatinya perlahan. “Kembalikan dompetku!” bentaknya.

Si pencopet terlihat waspada, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah benda kecil berwarna silver yang terlihat tajam.

Oh no, be careful, Jer, batinku.

Si pencopet itu mulai menodongkan pisaunya ke arahku dan Jeremy. Dengan sigap, Jeremy langsung menendang tangannya dan pisau itu pun terjatuh. Si pencopet telihat panik, lalu Jeremy menendang perutnya hingga si pencopet jatuh tersungkur di tanah.  Jeremy mengambil dompetnya dari saku si pencopet, lalu berbalik ke arahku dengan senyuman bangga.

Aku mendesah lega. “Ayo kita pergi sebelum dia pulih,” ajakku.

Ketika kami berbalik, tiba-tiba saja si pencopet itu berdiri, lalu mengambil pisaunya dan menusuk punggungku. Jeremy hendak melawan, tetapi si pencopet dengan lincah menggoreskan pisaunya pada lengan Jeremy, lalu kabur dengan dompet Jeremy di genggamannya.

Aku merasakan darah yang mengalir deras dari punggungku. Rasa sakitnya mulai melumpuhkanku, membuat kakiku tidak sanggup lagi menahan bobot tubuhku.  Jeremy dengan sigap menggendongku, lalu berlari – berlari dengan sangat kencang, hingga aku tidak dapat melihat kemana arah yang ia tuju. Pandanganku mulai kabur, dan kemudian semuanya gelap.

Aku membuka mataku perlahan. Pandanganku masih belum terlalu jelas, tetapi aku dapat melihat dinding-dinding yang putih.

“Jen, kamu udah sadar?” Sebuah suara familiar menggema di telingaku.

Aku mengedipkan mataku beberapa kali hingga pandanganku mulai jelas.

“Masih sakit, Jen?” tanya suara itu lagi.

Aku mengernyit. “Dimana ini? Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Kita lagi di rumah sakit,” sahut Jeremy singkat. “Untung aku cepat membawa kamu ke sini, or you might lost a lot of blood.”

Aku mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Tanganmu kan, juga luka. Udah diobatin belum? Terus, dompetmu gimana?”

Jeremy tersenyum tipis. “Tenang aja, udah nggak apa-apa kok. Soal dompetku, biarin ajalah, yang penting kamu selamat.”

“Wah, gara-gara aku, dompetmu hilang, deh. Sorry,” ujarku penuh rasa bersalah.

Jeremy mengerutkan dahi. “Bukan salahmu, kok. Nggak perlu sampai segitunya, kali,” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

AKu tersenyum tipis. “Thanks, ya.”

Jeremy mengangkat bahu. “No worries, that’s what friends are for,”  sahutnya sambil tersenyuman tulus.

P.S (again): The limit was 200 words, so that’s why it’s really short and simple. But I hope you still enjoyed it. Thanks for reading 😀

Bet on Me

Posted: February 20, 2013 in Flash Fictions
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Joining  : FF2in1

Held by : nulisbuku.com

Status    : Didn’t win

(P.S: I modified it a bit) 

Aku sedang asyik mengobrol dengan kedua sahabatku, ketika tiba-tiba pemuda itu datang menghampiri kami.

“Nik, kamu kerja PR Kimia, nggak? Pinjem, dong,” pintanya pada sahabatku, Niki.

Niki mengangguk, lalu menyodorkan buku tulisnya ke arah pemuda itu.

“Kenapa coba, dia pinjem ke kamu? Kan, banyak teman yang lain,” komentar Alvin ketika pemuda itu sudah berlalu dari hadapan kami.

Niki mengangkat bahu. “Entah, tuh. Padahal kan, banyak temen yang lebih pinter dari aku.”

“Aku nggak suka lah, sama dia. Kayaknya belakangan ini dia suka gangguin kamu, deh. Dia sering sms kamu untuk nanya hal-hal yang nggak penting, kan?” tanya Alvin, dan Niki mengangguk.

Alvin mendesah. “Inget, ya, dia itu playboy, jangan mau sama dia.”

Niki mengernyit. “Siapa juga yang mau sama dia?”

Aku tergelak. “Niki kan, setia sama kamu, Vin. Jadi kamu tenang aja,” godaku sambil memasang tampang jail, dan kami semua tergelak.

Benar kata Alvin, belakangan ini, pemuda itu sering menganggu Niki. Entah melepas ikatan rambutnya lah, menyembunyikan barang-barangnya lah, dan lain-lain. Dan selalu aku yang membantu Niki untuk menghadapi pemuda itu.

Lama kelamaan, aku jadi kesal sendiri. Karena ulah pemuda itu, hubungan Niki dan Alvin – kedua sahabatku yang saling suka dan sedang kucomblangin itu, jadi berantakan.

“Eh, Jer, jangan suka gangguin Niki, dong. Gara-gara kamu, dia jadi berantem sama Alvin,” tegurku pada Jere, pemuda yang menjadi sumber masalah sahabatku itu.

Jere mengerutkan dahi. “Loh, apa hubungannya sama aku?” tanyanya heran.

“Alvin  itu orangnya cemburuan. Dia nggak suka Niki deket-deket sama cowok lain. Belakangan ini kan, kamu sering gangguin dan deketin Niki terus. Dia nggak seneng. So, please, stop it. Cari orang lain aja.”

Jere mengernyit. “Emangnya siapa yang ngedeketin Niki?”

Aku mendengus. “Pokoknya, jangan ganggu kami lagi, deh,” ujarku menutup perdebatan kami. Aku tidak mau berurusan dengan pemuda itu lebih lama lagi.

Aku baru saja berbalik untuk meninggalkan pemuda itu, ketika ia menghentikan langkahku. “Aku kan, belum setuju. Kok udah mau cabut aja?”

Aku kembali mendengus kesal. “Jadi, supaya kamu setuju, aku harus ngapain? Aku cuma minta kamu berhenti gangguin kami kok. Is it too much to ask?”

Jere tersenyum jahil. “Way too much.”

Aku memberengut, membuat Jere buru-buru melanjutkan kata-katanya. “Oke, aku bakal setuju, tapi dengan satu syarat.”

Aku mengerutkan dahi. “Apa?”

“Jadi pacarku.”

Aku hampir saja terjatuh dari kursiku. “Hah?!” seruku kelewat kencang.

Jere langsung tertawa terbahak-bahak, dan aku mencubitnya sekuat tenaga. “Cuma bercanda, kan? Nggak lucu!”

Tawa Jere seketika itu juga mereda. Wajahnya berubah serius. “Kamu kira aku gangguin Niki karna mau ngedeketin dia?”

Aku mengangguk ragu, membuat Jere memutar bola matanya. “Well, think again,” sahutnya ringan.

Aku memasang ekspresi menuntun. “To the point, please? You know I hate guessing.”

Jere mendesah pasrah – sedikit dibuat-buat dan berlebihan. “Buat apa coba aku ngedeketin Niki yang udah jelas-jelas sama Alvin? They look good together.”

So?” tanyaku, semakin heran.

“Well, I don’t know. Kadang, cowok nyari perhatian ke cewek yang dia suka dengan cara yang beda-beda, kan? Mungkin aku mau narik perhatian seseorang? Someone who is close to Niki.”

Aku memasang tampang kaget. “Alvin?” ujarku dengan nada shock yang berlebihan. “Aku nggak nyangka kamu gay, Vin.”

Jere menatapku datar. “Aku tau kamu pasti ngebelain Niki tiap aku ganggu,” lanjut Jere tanpa menghiraukan ejekanku.

Aku terdiam, memutar otak untuk memberi respon yang tepat. Sedangkan Jere mengambil diamku sebagai kesempatan untuk melanjutkan aksinya. “Aku masih sayang sama kamu, Lin.”

Aku tertawa skeptis, yang jujur saja terdengar sangat kaku.

Jere merengut. “Serius. Kita emang udah nggak deket lagi, tapi bukan berarti aku udah nggak ada feel lagi sama kamu. Aku tiba-tiba ilang, karna dulu aku masih ragu sama feeling aku. Sekarang aku udah yakin, you’re the one, jadi aku bakal ngejar kamu sampai dapat.”

Aku meneguk ludah. “Aku nggak suka cowok playboy,” sindirku, sengaja menekankan kata ‘playboy’.

Jere mendelik. “Siapa bilang aku playboy? Jangan dengar omongan mereka. Pacaran aja aku belum pernah.”

“Tapi kamu kan, sering PHPin cewek!” ujarku ketus.

“Bukan PHPin. Mereka aja yang kegeeran. Sejak awal, aku cuma suka sama kamu.”

Aku terdiam (lagi). Apa aku bisa memercayai perkataannya?

Jere mendesah. “Aku tau nama baikku udah jelek, tapi please, jangan percaya mereka. Kasih aku kesempatan. Aku bakal buktiin kalo aku nggak kayak yang mereka bilang.”

Aku menatap kedua bola mata pemuda itu, mencari-cari kesungguhan di dalamnya, dan tanpa kusangka, aku menemukannya. Dan aku pun mengangguk.

P.S (again): A lil bit about this event. So, I was given a topic and I only got 30 minutes to write a flash fiction, with maximum 500 words long (if I stand corrected). So as you can see, it’s a very short and simple story, and yeah, it is not good, that is why it didn’t win. But I hope you enjoyed it, though! Thanks for reading 😀

Senjata Makan Tuan

Posted: February 20, 2013 in Flash Fictions
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Joining  : FF2in1

Held by : nulisbuku.com

Status    : Didn’t win 

(P.S: I modified it a bit) 

Aku membenturkan kepala ke meja sambil memegangi perut. Entah kenapa, perutku tiba-tiba sakit sekali. Saat aku kembali mengangkat kepala, aku tersentak ketika menemukan seseorang sedang berdiri tidak jauh dari mejaku dengan tatapan tertuju lurus-lurus padaku. Begitu melihatku mengangkat wajah, pemuda itu langsung mengalihkan pandangan dan berjalan kembali tempat duduknya. Aneh.

Bel istirahat pun berbunyi, membuatku mendesah lega. Aku segera melesat menuju kantin sendirian. Selesai membeli makan, aku kembali ke kelas. Entah kenapa, sepanjang perjalanan pulang-pergi ke kantin tadi, aku merasa ada yang membuntutiku. Ketika aku sampai di lantai tiga, aku melewati sebuah cermin dan melihat pantulan seorang pemuda yang berjalan di belakangku. Wajah yang familiar.

Aku melahap makananku dalam kurun waktu tiga menit dan merasa jauh lebih baik. Pelajaran selanjutnya adalah Bahasa Inggris. Sepanjang KBM, aku merasa diperhatikan. Beberapa kali aku melirik ke arah pemuda itu, dan pandangan kami selalu bertumbukan. Aku jadi merasa… entahlah. Risih? Atau yang lain? Aku juga tidak tahu jelas.

Usai pelajaran Bahasa Inggris, teman-temanku mulai berkeliaran kemana-mana, mumpung guru yang mengajar pelajaran selanjutnya belum datang. Aku menghampiri kedua temanku yang duduk di deretan paling belakang dan bercanda ria dengan mereka. Tiba-tiba, terdengar suara dentingan gitar dan suara sayup-sayup orang yang sedang bernyanyi. Aku menoleh ke arah sumber suara dan menemukan dua orang temanku sedang bermain gitar di sudut kelas sambil bernyanyi.

Salah satu dari mereka adalah pemuda itu. Saat aku melihat ke arahnya, ia sedang memainkan gitarnya sambil bernyanyi dengan pandangan mata tertuju ke arahku. Aku bisa menangkap senyuman tipis di sela-sela nyanyiannya. Aku sontak menunduk dan kembali memusatkan perhatianku pada kedua temanku, tapi tidak bisa. Kedua bola mataku secara otomatis bergerak ke arah sudut kelas, dan setiap kali aku melakukannya, aku menangkap pemandangan yang sama – pemuda itu sedang tersenyum dalam nyanyian dan dentingan gitarnya, dengan tatapan tertuju ke arahku. Entah kenapa, hal itu membuat jantungku memompa darah lebih cepat daripada yang seharusnya. Oke, mungkin ini yang namanya ‘merasa risih karena diperhatikan’?

Selama beberapa hari ini, entah sudah berapa kali aku mendapati pemuda itu sedang memerhatikanku. Apa ini hanya perasaanku saja? Mungkin ia sedang melihat ke arah lain yang kebetulan searah denganku? Entahlah. Tapi, aku tidak bisa menghentikan gerakan bola mataku yang selalu melirik ke arahnya.

Sebenarnya, pemuda itu manis juga. Aku suka mata hitamnya yang dalam, seperti lautan kelam yang jernih. Pasti asyik jika bisa menyelaminya. Belum lagi senyumannya yang bisa dibilang breath-taking itu, dan sikapnya yang cool, tapi malu-malu, membuatnya terkesan imut dan menggemaskan.

Terima kasih pada rasa percaya diriku yang berlebihan, sekarang seperti ada magnet di antara kami. Apapun yang ada pada pemuda itu menarik perhatianku. Bola mataku tidak bisa berhenti meliriknya, dan jika ada kesempatan, aku selalu beranjak dari kursiku ke dekat tempat duduknya.

Aku juga jadi lebih bersemangat ke sekolah. Setiap masuk ke kelas, hanya satu sosok yang dicari-cari bola mataku. Dan setiap kali menemukannya, hatiku berlonjak girang. Aneh, padahal awalnya pemuda itu yang ‘sepertinya’ memerhatikanku. Kenapa sekarang jadi aku yang memerhatikannya? Dan sekarang, saat aku sudah memerhatikannya, aku malah merasa ia sudah berhenti memerhatikanku.

Saat aku meliriknya, kadang ia tidak sedang melihat ke arahku. Saat aku beranjak ke arahnya, aku merasa ia malah pergi menjauh. Aku merasa…. kecewa. Uh, apa sih maunya? Kenapa ia membuatku berharap? Dan kenapa pula aku berharap? Sepertinya, selama ini aku kegeeran. Ia tidak benar-benar memerhatikanku. Bodoh. Aku jatuh ke lubang yang kugali sendiri.

P.S (again): A lil bit about this event. So, I was given a topic and I only got 30 minutes to write a flash fiction, with maximum 500 words long (if I stand corrected). So as you can see, it’s a very short and simple story, and yeah, it is not good, that is why it didn’t win. But I hope you enjoyed it, though! Thanks for reading 😀

Pensil Warna Hidupku

Posted: January 9, 2013 in Flash Fictions
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Joining   : FF2in1

Held by : nulisbuku.com

Status    : Didn’t win

(P.S: I modified it a bit) 

Aku merasakan guncangan di bahuku, semakin lama semakin kencang, memaksaku untuk membuka mata. Aku  mendongak dan mendapati seorang pemuda sedang berjongkok di hadapanku dengan senyuman lebar.

Hey, you okay?” tanyanya lembut.

Aku mengerjapkan mata dan menatapnya heran. “What happened?

Pemuda itu terkekeh. “Kamu amnesia, kah? Tadi, waktu aku baru aja masuk lewat gerbang sekolah, aku liat kamu lari keluar sambil nangis. Penasaran, aku ngikutin kamu. Kamu berenti di bawah pohon ini dan terlihat sangat kacau, lalu kamu tertidur,” ceritanya panjang lebar.

Aku mengerutkan dahi, berusaha mengingat-ingat. Oh, ya. Karna orang sinting itu mendatangiku, dan memintaku kembali padanya setelah mencampakkanku begitu saja. Stupid jerk.

Aku memasang tampang datar. “Jadi, kamu ikut membolos juga?”

Pemuda itu terkekeh. “Mendingan nemenin kamu kan, daripada sekolah?” Ia duduk di sampingku. “So, will you tell me what happened? Atau amnesiamu belum sembuh?”

“Amnesiaku belum sembuh.” Aku membeo.

Pemuda itu mengangkat sebelah alisnya. “Udah baik-baik kutenemani di sini, masa tidak dihargai?” protesnya.

Aku mendengus. “Salahkan amnesiaku yang kambuh tiba-tiba,” sahutku ketus.

Pemuda itu mendekatkan wajahnya padaku. “Tadi aku melihat mobil Joe. Apa dia kembali ke sini?” tanyanya lirih.

Aku meliriknya tajam. “I don’t wanna talk about it.”

Pemuda itu mengangguk-angguk. “Fine,” sahutnya singkat.

Suasana menjadi sangat hening. Beberapa menit berlalu, tetapi kami tetap bergeming.

Akhirnya, aku menyerah. “Alright,” ujarku pasrah. ” Dia menyesal dan memintaku kembali,” ceritaku singkat. Aku tidak pernah tahan menyembunyikan sesuatu dari pemuda ini.

Pemuda itu menoleh cepat ke arahku. “Apa?”

Yeah, unbelievable, right,” sahutku skeptis, lalu membenturkan dahiku ke lutut.

“Lalu, kamu bilang apa?” kejarnya.

Aku mengangkat bahu. “Tentu saja aku tidak mau,” sahutku datar.

Pemuda itu menepuk-nepuk pundakku. “Hey, I’m here, okay? Kamu masih ingat apa yang Mark Gold katakan pada Maggie saat dia diputusin cowoknya di 17 Again?”

Aku sengaja tidak merespon, membiarkan lawan bicaraku itu menjawab pertanyaannya sendiri.

When you’re young, everything feels like the end of the world. But it’s not. It’s just the beginning. You might have to meet a few more jerks, but one day, you’re gonna meet a boy who treats you the way you deserve to be treated. Like the sun rises and sets with you.”

Aku memejamkan mataku, meresap kata demi kata yang diucapkan pemuda ini. Entah mengapa, kehadirannya selalu bisa membuatku merasa lebih baik. Aku menoleh ke arahnya dan tersenyum lemah. “Aku ingat, kok, dan itu betul sekali. Thanks, Jer.”

Jerome membalas senyumku dengan tulus. “You’re welcome.”

Aku menatap senyuman tulusnya itu. Setidaknya, aku punya sahabat sepertinya. Dan setiap kali aku menatap mata hitamnya yang teduh itu, aku tahu hidupku takkan abu-abu lagi.

Jerome mengangkat tangannya dan mengacak-acak rambutku. Aku memberengut, membuatnya mendekat dan mengecup puncak kepalaku. Saat itulah aku sadar, hatiku tidak lagi hancur, dan ruang yang kosong itu telah terisi kembali.

(This one is actually a sequel of this one)

P.S (again): A lil bit about this event. So, I was given a topic and I only got 30 minutes to write a flash fiction, with maximum 500 words long (if I stand corrected). So as you can see, it’s a very short and simple story, and yeah, it is not good, that is why it didn’t win. But I hope you enjoyed it, though! Thanks for reading 😀

Not Again

Posted: January 9, 2013 in Flash Fictions
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Joining   : FF2in1

Held by : nulisbuku.com

Status    : Didn’t win

(P.S: I modified it a bit) 

Aku menyusuri lorong sekolahku dengan langkah gontai. Lagi-lagi, hari yang membosankan – bangun pagi, siap-siap ke sekolah, belajar, pulang, kerja PR, tidur. Begitu setiap hari. Aku benar-benar muak.

Tiba-tiba, aku teringat saat hari-hariku yang abu-abu ini dihiasi oleh warna-warna lain. Tapi, warna-warna indah itu sudah pudar. Hari-hari menyenangkan itu sudah berakhir. Aku harus kembali ke lubang kelam ini, sendirian. Dan itu menyakitkan.

Karena masih agak mengantuk dan berjalan sambil menunduk, aku tidak begitu memerhatikan jalanan di depanku. sehingga aku tidak sengaja menabrak seseorang.

Aku segera mendongak. “Sorry, aku ti-” Kata-kataku terputus begitu saja.

Aku merasa mulutku sudah terbuka lebar saat ini, dan mataku tidak berkedip sama sekali. Aku tidak memercayai makhluk yang sedang berdiri di hadapanku sambil tersenyum lebar ini. Lidahku mendadak kelu dan lututku melemas.

“Hello, Cereza. Apa kabar?” sapa pemuda itu riang, seakan tidak pernag terjadi apa-apa di antara kami.

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku berjuta kali, berharap ini hanya mimpi buruk. Tapi, sosok sempurna di hadapanku ini tidak juga menghilang. Aku meneguk ludah, berharap suaraku kembali. “Baik. Sedang apa kau di sini?” tanyaku basa-basi, berusaha terdengar normal.

Pemuda itu kembali tersenyum, memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi. “Aku tidak jadi pindah,” sahutnya santai.

Aku merasa jantungku mencelos. “A-apa?!”

Pemuda itu mendesah, lalu menarikku ke lorong yang agak sepi. “Setelah sebulan di sana, aku merasa tidak betah. Aku merasa ada yang kurang. Dan aku sadar, yang kurang itu adalah kehadiran seorang gadis manis yang selalu mengoceh di sampingku. Makanya aku balik untuk mencari gadis itu,” jelasnya panjang lebar.

Aku menatapnya tak percaya, lalu memutar bola mata. “And who’s this girl you’re talking about?”

Pemuda itu kembali mendesah. “Look, I’m sorry, okay? Aku bodoh, mencampakkanmu hanya demi cita-citaku. Tapi sekarang aku sadar, ada yang lebih penting.” Ia mengelus pelan pipiku. “Will you forgive me?”

Dadaku sesak, walaupun pipiku yang disentuh mulai menghangat. Aku mendorongnya menjauh. “Aku bukan barang, yang saat terasa tidak berguna, dibuang begitu saja, lalu ketika diperlukan lagi, dikorek seenaknya dari tempat sampah,” ujarku dengan suara bergetar, berusaha sekuat tenaga menahan tangis.

Pemuda itu berusaha menggapaiku, tapi aku menepisnya dan berlari sekuat tenaga, meninggalkan pemuda itu, meninggalkan sekolah, meninggalkan masa lalu.

Aku berhenti di bawah sebuah pohon yang rindang, lalu terduduk lemas di sana. Aku mengatur nafasku yang terengah sambil menyeka air mata yang berhasil lolos dari pertahanan.

Sial! Memang dia kira dia siapa? Berhak memecah belah harapan orang, lalu kembali lagi untuk memberi harapan baru? Atau lebih tepatnya, harapan palsu Lebih sialnya lagi, ia masih punya pengaruh yang kuat padaku. Sentuhannya masih memberiku sensai yang sama seperti dulu, senyumannya masih sanggup menghipnotisku, dan tatapannya masih sanggup menghanyutkanku.

Aku menggeleng kuat-kuat. Tidak boleh! Aku tidak boleh jatuh ke dalam lubang yang sama. Aku sudah tidak punya hati untuk dihancurkan sekali lagi. Aku memejamkan mataku erat-erat, berharap saat aku membukanya lagi, rasa sakit ini sudah sirna.

(Read the sequel here)

P.S (again): A lil bit about this event. So, I was given a topic and I only got 30 minutes to write a flash fiction, with maximum 500 words long (if I stand corrected). So as you can see, it’s a very short and simple story, and yeah, it is not good, that is why it didn’t win. But I hope you enjoyed it, though! Thanks for reading 😀

Life Without You is Doom

Posted: December 27, 2012 in Flash Fictions
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Joining : FF2in1

Held by : nulisbuku.com 

Status      : Didn’t win

(P.S: I modified it a bit) 

Aku memasuki kamar dengan gusar dan membanting pintu di belakangku kuat-kuat. Aku menghempaskan diri ke atas tempat tidur dan menutup wajahku dengan bantal. Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar, disusul suara pintu terbuka.

“Ada apa, Sayang?” Suara lembut itu bertanya. Tanpa melihat pun aku tahu itu suara Mama.

Aku mendesah kesal. “Aku bosan sekolah. Aku mau berenti aja,” keluhku.

Mama berjalan mendekatiku dan mennyingkirkan bantal yang menutupi wajahku. “Kenapa ngomong begitu?”

Aku duduk dan menyandarkan kepalaku di bahu Mama. “Mama ingat tugas sekolahku yang disuruh bikin short movie itu?”

Aku merasakan anggukan Mama. “Udah cuman dikasih deadline dua minggu, yang bikin kami buru-buru kerja and aku ngedit cuman dalam sehari, pake acara bergadang lagi, eh, nggak dihargai sama sekali. Gurunya nggak bilang mau dikumpul dalam bentuk CD. Aku yang buru-buru kerjanya mana sempat lagi burn ke CD, jadi ya, aku cuman masukkin ke flashdisk aja. Dia dengan sombongnya bilang, dia sengaja minta dalam bentuk CD supaya nggak perlu simpan flashdisk orang. Takut ilang lah, kalo pake CD bisa dia simpan lah, bla bla bla. Ugh! Bete banget!” omelku panjang lebar. Aku menarik nafas dalam-dalam untuk menekan emosiku yang meluap-luap.

Mama mengelus lembut kepalaku. “Terus gimana, tuh?”

Aku menghembuskan nafas kuat-kuat. “Apa boleh buat. Kami nyusul kumpul besok dalam bentuk CD, tapi nilai tertinggi cuma B. Ah, percuma kerja susah-susah!” seruku kesal.

Mama menepuk-nepuk punggungku. “Yang sabar, ya. Sekolah kan, bukan soal nilai, tapi soal pengalaman. Jadikan ini pengalaman buatmu.”

Aku mendengus. “Pengalaman buruk buat apa disimpan?”

“Justru pengalaman buruk itulah yang berharga, Sayang. Kamu jadi dapat pelajaran,” nasihat Mama.

“Pelajaran apa? Nggak perlu kerja tugas susah payah karna nggak bakal dihargai?” sahutku skeptis.

“Ya, bukan begitu. Nanti saat kamu kerja, kamu kan, nggak tau bosmu bakal kayak gimana. Kamu nggak bisa pilih mau punya bos yang kayak gimana. Nah, bisa aja kamu ketemu bos yang lebih menyebalkan. Kalau sekarang kamu udah terbiasa dengan model orang menyebalkan yang seperti itu, kan jadi gampang buat kamu beradaptasi,” jelas Mama.

Aku mendengus. “Ogahlah kalau punya bos kayak gitu. Langsung berenti aku.”

Mama mengangkat sebelah alis. “Wah, kalau gitu, gimana bisa sukses? Cari pekerjaan susah, loh. Kalau tiap bentar mau ganti kerja, repot, dong.”

Aku menghela nafas. Ya, Mama benar juga. Well, Mama memang selalu benar. Kata-katanya selalu bijak dan menenangkan. Aku nggak bisa membayangkan hidup tanpa Mama. Ergh, pasti mengerikan.

Aku pun memeluk Mama erat-erat. “Yeah, you’re right. Thanks, Ma. Emang cuman Mama yang bisa redain emosiku. I can’t live without you.”

Mama tersenyum lembut, lalu mengecup keningku. “I will always be there for you, dear.”

P.S (again): A lil bit about this event. So, I was given a topic and I only got 30 minutes to write a flash fiction, with maximum 500 words long (if I stand corrected). So as you can see, it’s a very short and simple story, and yeah, it is not good, that is why it didn’t win. But I hope you enjoyed it, though! Thanks for reading 😀

[COPYRIGHTED!]

Joining : Our Book

Held by : Bookoopedia 

Status    : Didn’t win

(P.S: I modified it a bit) 

Aku menghempaskan tubuhku ke atas sofa. Sungguh hari yang melelahkan. Belakangan ini, aku sangat disibukkan oleh berbagai tugas sekolah. Saking banyaknya, aku jadi banyak pikiran dan susah tidur. Sungguh lelah, baik fisik maupun mental.

Hujan turun dengan derasnya hari ini. Suara gemericik air dan angin yang berhembus sejuk membuatku merasa sedikit lebih baik. Suasana seperti ini membuatku ingin tidur, tetapi aku tidak bisa. Aku harus…

“Jangan lupa ngepel, ya. Mama udah nyapu tadi.” Mamaku mengingatkan.

Aku menghela nafas. Yup, hari ini jadwalku mengepel. Aku tidak bisa tidur siang. Aku harus  mengepel, belum lagi belajar untuk ulangan besok. Aku mendesah kesal. Hidup ini benar-benar menyedihkan. Sejak Papa meninggal, Mama menggantikan Papa untuk menjadi tulang punggung keluarga.

Kehidupan kami memang tidak memburuk Everything’s under control. Hanya saja, karena tidak ada pembantu yang cocok, akhirnya Mama memutuskan untuk tidak memperkerjakan pembantu lagi, dan memilih untuk mengerjakan semuanya sendiri. Kami membeli mesin cuci, jadi urusan mencuci baju pun tidak menjadi masalah. Mama tinggal menjemur dan menyetrika baju yang sudah selesai dicuci. Urusan menyapu kadang diurus oleh Mama, kadang oleh adikku, sedangkan urusan mengepel itu bagianku.

Untung pekerjaan Mama tidak terlalu mengikat, sehingga Mama masih sempat mengurus rumah.  Dan untungnya rumah kami kecil dan tidak bertingkat, sehingga tidak sulit untuk membersihkannya.

Aku tidak terlalu keberatan dengan pembagian tugas ini. Toh aku hanya mengepel dua kali seminggu. Hanya saja, ketika aku sedang diserang kesibukan bertubi-tubi, rasa malas ikutan menyerbu. Aku berusaha untuk menerima dan mensyukuri hidup, tapi itu bukanlah hal yang mudah. I always end up complaining. Apalagi jika bertemu teman-temanku yang kadang menyebalkan. Aku selalu berusaha baik pada mereka, dengan membantu mereka di kala kesulitan. Tetapi, kebaikanku itu malah mereka manfaatkan untuk kepentingan sendiri. Sebenarnya, aku ingin membantu dengan ikhlas, namun, sepatah kata ‘terima kasih’ wouldn’t hurt, right? I bet saying that word is as easy as breathing. But they never did.

Mereka tidak mengerti kehidupanku sudah cukup berat. Aku harus bertahan hidup. Mungkin kedengarannya berlebihan. Bukannya aku hidup menderita karena miskin dan harus berjuang hidup demi mendapat sesuap nasi. Tidak, bisa dibilang hidupku enak. Semua kebutuhanku terpenuhi. Tapi, aku harus mengatur hidupku – terutama waktuku, dengan baik.

Terlebih saat aku sudah duduk di kelas 12. Aku harus memfokuskan diriku pada pelajaran, belum lagi memikirkan kuliah dan masa depanku. Aku juga harus mengerjakan chores dan membantu Mama di rumah. Aku juga memiliki hobiku sendiri, dan beberapa talenta yang ingin kukembangkan. Namun, waktuku tidak cukup untuk memenuhi semua itu, makanya aku harus pintar-pintar mengatur waktu. Aku harus selalu berlari mengejar waktu.

Tapi temanku kadang menambah beban saja, dengan meminta bantuan tanpa pikir panjang. Aku ingin menolak, namun entah mengapa, I will always end up helping them. Mereka membuatku merasa seolah-olah menjadi orang baik adalah hal tersulit di dunia. Kadang aku hanya bisa menggerutu dalam hati.

Di saat-saat seperti ini – saat aku benar-benar down, saat aku merasa kehidupanku benar-benar berat, aku menyempatkan diri untuk melepas semua beban itu, menarik nafas segar, dan menuangkan semua kelelahanku pada hal-hal yang kusukai, misalnya pada hobiku. Kadang aku meluangkan waktu untuk menonton televisi, mendengarkan lagu, menyanyi, menari, memainkan alat musik, dan yang paling sering, membaca dan menulis.

Suatu hari, setelah selesai melakukan semua tugas dan chores-ku, aku memutuskan untuk membaca novel Heaven on Earth, karya Kaka HY. Novel ini tidak terlalu tebal, dan alur ceritanya tidak sebagus novel-novel lain yang pernah kubaca. Namun, amanat dari novel ini benar-benar menyentuh hati dan menyadarkanku. Kehidupan salah satu tokoh di novel itu – Carla, mirip dengan kehidupanku. Ayahnya juga sudah meninggal, sehingga ia hanya hidup dengan ibu dan adiknya.

Heaven on Earth

Ibunya harus bekerja dan ia harus membantu ibunya. Ia mengeluh akan hidupnya yang sulit. Ia tertekan oleh semua tanggung jawab yang harus ia tanggung seorang diri. Ia ingin menjalani hidup seperti remaja lain. Ia terus mengutuki nasibnya, hingga akhirnya ia sadar, ia tidak sendirian. Bukan hanya ia yang menanggung beban, tetapi ibunya juga, bahkan lebih berat daripadanya. Namun, ibunya tetap gigih dan tidak mengeluh. Ia pun tersadar bahwa ia harus bertahan dan menopang ibunya.

Kisah ini menyadarkanku, bahwa aku harus bersyukur atas hidupku dan menjalaninya dengan tabah. Jika Carla saja bisa berjuang untuk hidupnya, maka aku juga bisa. Hidup Carla bisa dibilang lebih berat dariku. Ia lebih muda, dan ia harus menjaga adiknya yang masih kecil. Adikku sudah besar, bahkan bisa membantu urusan rumah tangga. Ibunya hanya bekerja dengan gaji kecil, sedangkan pekerjaan Mama cukup memadai, sehingga hidupku lebih mapan.

Walaupun in some points, hidupku terasa lebih berat, namun, aku tidak boleh mengeluh. Semakin aku mengeluh, semakin terasa berat hidup ini. Jika kita melihat sisi positif dari hidup dan terus mensyukurinya, maka hidup akan terasa lebih ringan. Berat atau ringannya hidup tergantung pada bagaimana kita menanggapi dan menjalaninya.

Begitulah bagaimana sebuah novel yang alurnya sederhana, ternyata sanggup menginspirasi dan memotivasi hidupku. Itulah sebabnya aku sangat gemar membaca buku – terutama novel, dan aku juga bercita-cita menjadi penulis, agar aku dapat menginspirasi dan memotivasi kehidupan orang lain, seperti para penulis yang menginspirasi dan memotivasi hidupku.

(Here’s the original one)

Unexpected Encounter

Posted: October 24, 2012 in Flash Fictions
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

Joining : Cerita Mini With You Giveaway

Held by : Readerizuka 

Status    : Didn’t Win

(P.S: I modified it a bit)

Aku menginjak pedal rem dan mobilku pun berhenti seketika. Tiba-tiba, aku merasakan guncangan yang sangat kuat. Aku sontak menoleh ke belakang dan melihat sebuah mobil Land Cruiser menabrak bagian belakang mobilku. Aku meringis, lalu keluar dari mobilku dan menghampiri mobil tersebut. Jantungku langsung berhenti berdetak begitu melihat siapa yang duduk di balik kemudi itu.

Thomas, cowok yang selalu membuatku merasa panas-dingin, keluar dari mobilnya dengan ekspresi shock. Ia meminta maaf dengan tulus, lalu mengajakku ke bengkel untuk segera memperbaiki mobilku. Sambil menunggu, ia mengajakku jalan-jalan di mall terdekat sambil mengobrol ria.

Sungguh, aku tak sanggup mendeskripsikan perasaan bahagia yang menghiasi hatiku hari itu. Such an unpleasant, unexpected, but a fantastic co-incidence.

P.S (lagi): Sorry singkat banget, karena kalau nggak salah ada limit berapa kata gitu – dikit aja, jadinya ya, simpel banget, deh. I hope you still enjoyed it, though. Thanks for reading! 😀

Takkan Penah Bisa

Posted: July 2, 2012 in Flash Fictions

[COPYRIGHTED!]

Joining : “Yuk, Rangkai 99 Kata Bersama GagasMedia” 

Held by  : GagasMedia

Status     : Didn’t Win

(P.S: I modified it a bit)

Ada EMPAT MUSIM CINTA, dan aku sedang berada di salah satunya. Inilah DONGENG SEMUSIMku.

Sejak kali pertama mataku menangkap sinar matanya yang berkilauan itu, aku yakin aku telah JATUH CINTA padanya. SIHIR CINTAnya menerbangkanku, membuatku melayang ke langit ketujuh – bahkan lebih tinggi dari itu. Ketika bibir tipis itu melengkung sempurna bak pelangi, gravitasi tidak lagi menahanku. DIA bagaikan BIDADARI di hatiku, selalu terlihat SEMPURNA di mataku. Aku selalu MENDAMBAkan cintanya.

SEANDAINYA saja aku memiliki waktu untuk menggapai cintanya.. Seandainya saja hatinya tercipta hanya untukku.. Seandainya.. Seandainya.. Tetapi, kenyataan tidak dapat berada di dalam kalimat yang sama dengan kata ‘Seandainya’.  Harapanku pupus. Mimpiku musnah. Hatiku hancur berkeping-keping. Aku sadar, aku takkan pernah bisa meraihnya. Takkan pernah bisa.

P.S (lagi): Yang di-bold itu judul-judul dari novel terbitan GagasMedia. Maaf kalau singkat dan simpel. Makanya disebut flash fiction, kan? I hope you enjoyed it. Thanks for reading 😀