Archive for the ‘Short Stories’ Category

[COPYRIGHTED!]

Pintu otomatis lift terbuka dan pria itu pun melangkah keluar. Ia sedang menarik nafas dalam-dalam ketika sudut matanya menangkap sosok seorang gadis dalam balutan gaun putih. Ia sedang berdiri mematung di ujung atap gedung itu. Jika ia bergerak maju satu senti lagi, ia akan jatuh. Tatapannya menerawang ke depan. Wajah bersihnya terlihat pucat dan matanya terlihat merah dan bengkak. Entah mengapa perasaan pria itu tidak enak ketika melihat pemandangan itu.

Tanpa sadar, kaki pria itu bergerak pelan menuju gadis itu. Ketika jarak di antara mereka tinggal beberapa sentimeter lagi, tiba-tiba tubuh gadis itu oleng dan terhempas ke depan. Sontak tangan pria itu terulur, berusaha menggapai lengan gadis itu. Ia menghela nafas ketika tangannya berhasil mencengkeram lengan kecil gadis itu. Ia menarik tubuhnya yang ringan ke atas.

“Hey, kau gila, ya?” protes pria itu.

Gadis itu terlihat linglung. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu bergerak-gerak, berusaha melepaskan cengkraman kuat pria itu. Pria itu merenggangkan cengkramannya dan gadis itu bergerak menjauh dalam diam.

Pria itu memerhatikan gadis mungil yang saat ini sudah duduk di pojokan sambil mendekap kedua lututnya itu. Gadis itu meletakkan kepalanya di atas lututnya. Tubuh rampingnya berguncang, membuat saraf penasaran pria itu semakin tergelitik. Ia pun memutuskan untuk menghampiri gadis itu.

Ia berjongkok di sebelahnya, lalu menepuk pelan bahu gadis itu. “Hei, kamu nggak apa-apa?”

Gadis itu bergeming, tidak mengindahkan satu patah katapun yang keluar dari mulut pria itu. Melihat tidak ada respons dari gadis itu, ia pun mengulang pertanyaannya. “Kamu nggak apa-apa?”

Gadis itu mengangkat wajahnya yang basah. Matanya merah dan bengkak. Gadis itu merengut. “Nggak. Aku sangat apa-apa,” jawabnya skeptis.

Pria itu mengelus tengkuknya dengan canggung. “Kenapa tadi kamu mau loncat?”

Gadis itu mendengus, lalu menghapus jejak air mata di pipinya dengan kasar. “Bukan urusanmu. Pergi sana, lanjut kerja. Nanti kau diomeli bos brengsekmu itu pula,” usir gadis itu.

Pria yang berjongkok di sebelahnya itu mengernyit. “Bos brengsek?” ulangnya.

Gadis itu mendelik. “Iya! Bosmu itu orang terberengsek yang pernah kukenal!” teriaknya.

Pria itu kembali mengelus tengkuknya, bingung. “Kalau boleh tahu, kenapa ya? Setauku dia orang yang baik.”

Gadis itu mencibir. “Cih. Baik apanya. Serigala berbulu domba!” gerutunya.

Pria itu memerhatikan gadis di hadapannya dengan saksama, berusaha memilah-milah informasi yang ada. Gadis ini masih terlihat sangat muda. Wajahnya masih bersih dan mulus. Sinar matanya masih terlihat polos. Dan tubuhnya yang mungil semakin mendukung bukti-bukti yang ada.

Pria itu meneguk ludahnya. Bosnya itu memang baik, tapi reputasinya mengenai wanita sering dirumorkan yang tidak-tidak. Dengar-dengar, bosnya itu suka main perempuan, dan biasanya yang lebih muda. Apa gadis ini…

“Kenapa kau masih di sini?” tanya gadis itu dengan nada sengit, menyentak pria di hadapannya.

Pria itu menarik nafas. “Aku nggak akan pergi sampai kamu tersenyum dan pulang ke rumah,” sahutnya ringan.

Gadis itu mendengus. “Memangnya kau siapa? Kau bukan ayahku, jadi kau nggak berhak menyuruh-nyuruhku seperti itu. Lagian, orang patah hati mana sih yang bisa tersenyum?”

Pria itu terdiam sejenak, lalu tangannya terangkat pelan-pelan, dan jari terlunjuknya menunjuk ke arah dirinya sendiri. Ia mengangkat kedua sudut bibirnya. “Aku bisa,” sahutnya santai.

Untuk yang kesekian kalinya, gadis itu mendengus. “Memangnya kau lagi patah hati?”

Pria itu mengangkat bahu. “Begitulah,” sahutnya. “Kau juga? Apa karna…” Ia berdeham. “Bosku?”

Gadis itu mendesah. “Begitulah,” jawabnya singkat, meminjam jawaban pria tadi.

Pria itu mengerutkan dahi. “Jadi, kau mau bunuh diri cuma karena patah hati?” tanyanya tak habis pikir.

Gadis itu berkacak pinggang. “Enak saja! Aku nggak sedangkal itu! Jangan sok tau deh!” bentaknya.

Pria itu mengernyit. “Jadi?”

“Udah kubilang, bukan urusanmu. Kau nggak diajarin tata krama, ya? Mencampuri urusan orang lain itu nggak sopan, tau!”

Pria itu mengangkat bahu. “Ini kan kantorku, jadi aku punya hak dong buat mencari tau hal-hal yang mencurigakan, untuk menghindari masalah yang tidak diharapkan.”

Gadis itu merengut, memutuskan untuk tidak menjawab.

“Sudah, jangan sedih-sedih lagi. Udah gelap loh. Mending kamu pulang deh. Entar dicariin lagi,” usul pria itu.

Gadis itu kembali mendelik. “Dicariin siapa? Aku tinggal sendirian dan udah nggak punya pacar, jadi nggak akan ada yang nyariin,” sahutnya judes.

Pria itu kembali terkekeh. “Iya, iya. Jangan judes gitu, ah. Lupain aja si brengsek itu. Kamu pasti dapat yang jauh lebih baik darinya.”

Gadis itu mencibir. “Ogah, deh. Kapok sama yang namanya cinta.”

Pria itu mengangkat alis. “Wah, jangan sampe gitu juga, kali.”

“Habis mau gimana? Hatiku udah kebakar,” sahut gadis itu. “Dasar percikan api sialan!”  umpatnya.

Pria itu mengerutkan dahinya. “Maksudnya?”

Gadis itu mendesah. “Nothing. It’s just a theory of mine,” sahutnya pelan.

“Teori apa?” tanya pria itu, kelihatan tertarik.

Gadis itu kembali mendesah dan menatap langit biru tua di hadapannya dengan tatapan menerawang. “Cinta itu kayak percikan api di hati. Awalnya percikan itu hanya percikan kecil, menghadirkan rasa hangat di hati kita, lalu membuat rasa cinta yang ada membara, membuat kita berapi-api. Tapi lama kelamaan, api itu menjalar ke seluruh penjuru hati kita, semakin lama semakin besar, lalu akhirnya membakar hati kita. Rasanya sakit dan perih. Dan kalau dibiarkan saja, api itu akan menghanguskan hati kita.”

Pria itu terpaku di tempatnya, salut dengan serentetan kata-kata yang diucapkan gadis itu barusan. Teori yang unik, begitu menurutnya. “Aku juga punya teori sendiri,” komentarnya.

Gadis itu menoleh dan menatap pria yang kini duduk di sampingnya, menunggu kelanjutannya.

Pria itu memandang lurus ke depan. “Cinta itu seperti semburan air es. Hati kita terasa dingin dan sejuk berkat keberadaannya. Tapi jangan lupa, es itu bertemperatur sangat rendah, sanggup membekukan apapun, termasuk hati kita. Rasanya ngilu. Dan kalau dibiarkan saja, hati kita akan benar-benar beku dan lama-lama jadi mati rasa.”

Gadis itu terdiam. Lalu, pelan-pelan senyum di wajahnya mengembang. “Bagus juga teorimu,” komentarnya.

Pria itu balas tersenyum, puas karena telah berhasil menenangkan dan menghibur gadis itu.

Tiba-tiba, tubuh gadis itu menegak. Ia menoleh ke arah pria yang duduk di sebelahnya. “Eh, tadi kau bilang kau juga lagi patah hati. Ayo cerita! Aku kan udah cerita, sekarang giliranmu!” perintahnya. Oke, sekarang mereka benar-benar terlihat seperti dua sahabat yang saling mencurahkan isi hati masing-masing, bukan dua orang yang baru saja bertemu.

Pria itu terdiam sejenak, lalu akhirnya mendesah. “Kalau kamu mengencani pria yang lebih tua darimu, aku terbalik. Aku mengencani gadis yang lebih muda dariku.” Pria itu memulai.

“Aku sangat menyayanginya, tapi aku emang bukan orang yang romantis-romantis amat. Aku nggak gitu menganggap serius masalah percintaan. Menurutku, pacaran itu nggak harus ketemu dan memberi kabar tiap saat, nggak harus mesra-mesraan, atau hal-hal norak lainnya. Yang terpenting adalah komitmen. Komitmen untuk saling percaya pada satu sama lain. Komitmen untuk selalu ada untuk dia.”

“Tapi pacarku nggak sependapat. Menurutnya, cinta itu bukan hanya dirasakan, tapi harus diperlihatkan lewat setiap perkataan dan perbuatan. Ia suka hal-hal romantis, yang jarang ia dapatkan dariku. Jadi, ya… Lama-lama kami merasa nggak cocok, jadi kami putus.”

Gadis itu terdiam beberapa saat. “Sepertinya, aku harus mencari cowok yang lebih muda dan kau mencari cewek yang lebih tua. Ganti suasana,” guraunya.

Mereka tergelak bersama. Tiba-tiba, pria itu berhenti tertawa. “Jadi… apa alasanmu mau loncat tadi?”

Gadis itu seketika terdiam, lalu menunduk. “Orangtuaku meninggal sebulan yang lalu. Aku anak tunggal, and nggak ada keluargaku di sini, jadi aku cuma sendirian. Bosmu itu satu-satunya ‘keluarga’ yang aku punya. Aku sadar, sejak orangtuaku meninggal, aku jadi lebih manja, karna ya, you know, family complex. Tapi itu dianggap kekanakan sama mantanku. Tadi itu puncaknya, dia bilang dia ngerasa kami udah nggak cocok lagi, jadi dia putusin aku. Tentunya aku sangat terpukul. Aku ngerasa aku nggak punya siapa-siapa lagi. Aku nggak tau harus gimana, jadi kupikir…”

“Hey, jangan terlalu gampang mengakhiri hidup yang secara cuma-cuma Tuhan kasih,” sela pria itu. Ia memutar tubuhnya menghadap gadis itu. “Life is too precious to be ended that way.”

Gadis itu menunduk. “Ya, aku tau.”

“Akhir dari hidup seseorang itu keputusan Tuhan, bukan manusia. Jadi jangan bermain-main dengan keputusan itu, mengerti?”

Gadis itu mengangguk.

Pria itu bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan kanannya. “Kalau begitu, ayo, aku antar pulang.”

Baru saja gadis itu menerima uluran tangan di hadapannya, ia langsung tersentak ketika merasakan tarikan yang kuat dari tangan itu. Ia yang belum siap karena tubuhnya masih lemas, tersentak ke depan dan kehilangan keseimbangan. Pria yang menariknya tadi dengan sigap menangkapnya.

Lalu, segalanya seakan membeku. Mereka terpaku dalam posisi masing-masing – tubuh mungil gadis itu yang sedang setengah dipeluk oleh pria di hadapannya. Pria itu tersadar lebih dulu. Ia berdeham, lalu melepaskan cengkramannya. Ia berjalan mendahului gadis itu menuju lift.

“Ayo,” ajaknya.

Gadis yang diajak bicara masih terpaku di tempatnya berdiri sambil menangkup pipinya yang terasa hangat. Kehangatan yang sudah lama tidak hinggap di pipinya. Ia merasa seakan ada angin sejuk yang berhembus menerpa hatinya.

Sepanjang perjalanan pulang, mereka lebih banyak diam, sibuk dengan pikiran masing-masing, dan juga detak jantung masing-masing. Mobil yang mereka naiki telah berhenti, tapi tidak ada yang bereaksi. Gadis itu melirik pria yang duduk di sebelahnya, tepat ketika sang pria juga sedang melirik ke arahnya. Pandangan mereka bertemu, namun mereka segera mengalihkannya. Gadis itu menarik nafas dalam-dalam, berharap udara sejuk sanggup menghapus jejak kegugupan dalam hatinya, namun percuma saja.

“Kamu tau, teorimu itu benar.” Suara berat pria itu memecah keheningan. “Cinta itu seperti percikan api. Walaupun ia bisa menjalar dan membakar, tapi panas apinya sanggup meluluhkan hati yang beku.”

Gadis itu terdiam. Apa maksud pria ini…

“Kau tau, teorimu juga benar,” sahut gadis itu setelah terdiam beberapa saat. “Cinta seperti semburan air es. Walaupun mengilukan dan membekukan, tapi rasa dinginnya sanggup menyejukkan hati yang terbakar.”

Mereka berdua sama-sama terdiam, mencerna kata-kata masing-masing.

“Kamu tau,” suara pria itu kembali memecah keheningan. “Aku berumur dua puluh empat tahun.”

Gadis itu mengernyit. Lalu? Ia menoleh ke arah pria di sebelahnya, meminta penjelasan, tapi pria itu bergeming. Gadis itu mengerutkan dahinya, lalu teringat sesuatu. Ah, ya, pria itu lebih muda satu tahun darinya.  Ia jadi teringat kata-katanya sendiri.

“Sepertinya, aku harus mencari cowok yang lebih muda dan kau mencari cewek yang lebih tua. Ganti suasana.”

Ia melirik pria yang masih duduk diam di sebelahnya. Ia harus melakukan sesuatu. Ia bergerak ke kanan, mendekatkan wajahnya ke arah wajah pria itu, lalu mengecup pipinya dengan cepat. Lalu, ia melompat keluar dari mobil itu tanpa berkata satu patah kata pun.

Pria itu terpaku di tempatnya. Tangannya terangkat, mengelus pipi kirinya. Perlahan, senyuman mengembang di wajahnya. Ia merogoh saku kemejanya dan menemukan secarik kertas. Setelah mengecup pipinya tadi, gadis itu menaruh sesuatu ke dalam saku kemejanya. Ia membuka lipatan kertas itu dan menemukan sederet angka dan huruf yang tertulis rapi di atasnya.

Magenta Cerulean. +628xxxxxxxxx

 

Pria itu mengeluarkan benda kecil dari sakunya. Ia menekan-nekan tombol-tombol kecil pada benda itu dengan semangat baru.

Gadis itu melangkah riang menuju kamarnya. Langkahnya terasa semakin ringan. Ia meraih gagang pintu kamarnya dan hendak memutarnya ketika ia merasakan getaran di tas kecil yang ia tenteng. Ia mengeluarkan sebuah benda segiempat dari tasnya dan menekan beberapa tombol, lalu kedua sudut bibirnya terangkat.

From: +628xxxxxxxxx

I am no prince. I am no saint. I am not anyone’s wildest dream. But I will stand behind, and be someone to fall back on (;  – Valentino Roberts 

Nama dan nomor yang asing, tapi gadis itu tahu jelas siapa pengirimnya. Ia merasakan percikan api dan semburan air es di hatinya – keduanya sekaligus. Dan anehnya, kombinasi keduanya terasa… sempurna. Aneh memang, bagaimana ia begitu cepat pulih dari patah hatinya dan kembali jatuh cinta. Well, like they said, love is the best medicine. Ia tidak bisa menghindarinya seumur hidup. Lagipula, ia punya firasat baik tentang ini.

Bayang-Bayangmu

Posted: March 12, 2013 in Short Stories
Tags: , ,

[COPYRIGHTED!]

Aku memasuki ruang makan dengan langkah gontai. Begitu sampai di ambang pintu, aku melihat semua anggota keluargaku telah duduk rapi di kursi masing-masing – Papa di tengah, Mama di sebelah kirinya, dan Kak Fredrico di sebelah kanannya.

“Pagi, Pa, Ma, Kak,” sapaku sambil menyeret langkahku menuju kursi di sebelah Kak Fredrico dan duduk di sana – seperti biasa.

Kami semua sudah berpakaian rapi – aku dengan seragam sekolahku, Kak Rico dengan kemeja lengan pendek dan celana panjangnya, Papa dengan setelan jasnya, dan Mama dengan terusan biru mudanya. Sarapan pun telah terhidang rapi di atas meja makan – sepiring penuh sandwich untuk kami berempat, segelas susu coklat panas untukku, dua cangkir kopi untuk Papa dan Kak Rico, serta secangkir teh untuk Mama.

Setelah mengucapkan doa singkat, kami pun menyantap sarapan kami. Aku menggigit sandwichku dengan tak selera. Aku sangat tidak bergairah hari ini. Mengerjakan soal-soal Fisika semalam suntuk telah menguras habis energiku. Tetapi, aku sudah terbiasa.

“Pagi-pagi kok udah lesu begitu? Contoh dong kakakmu, tiap pagi wajahnya pasti cerah dan bersemangat,” tegur Papa.

Aku mengangkat bahuku acuh tak acuh. “Aku bukan dia,” jawabku dingin.

Ruang makan kami pun kembali hening. Semua sibuk dengan makanan masing-masing. Aku menghabiskan sandwichku dalam sekali suap dan dengan susah payah menelannya sambil meneguk habis susu cokelatku. Begitu selesai, aku langsung bangkit berdiri, lalu menggendong tas ranselku meninggalkan ruangan, sedikit terburu-buru. Bukan apa-apa, aku hanya tidak mau berlama-lama di sana dan membiarkan ocehan-ocehan yang keluar dari mulut Papa membakar telinga dan hatiku.

Aku muak dengan perlakuan Papa yang selalu mendewa-dewakan Kak Rico dan menganggapku tidak ada. Memang, Kak Rico adalah sosok yang nyaris sempurna. Seberapa kuat pun aku berusaha untuk menyamainya, tetap saja tidak berarti apa-apa di mata Papa. Jadi aku bertekad untuk membuktikan bahwa aku juga bisa sehebat Kak Rico, bahkan lebih. Apapun caranya, aku akan melakukannya, termasuk belajar tanpa henti 24/7.

Setelah berpamitan, aku melangkah ke luar rumah dan Jazz hitamku pun melaju pelan menuju gedung SMA Pelita. Aku benar-benar tidak berniat berangkat ke sekolah hari ini, tapi ada tujuan penting yang harus kucapai, yang membuatku tetap bertahan di sekolah ini.

Suasana kelasku pagi ini sangatlah ribut. Semua temanku sedang heboh membahas soal-soal Fisika. Aku berjalan pelan menuju tempat dudukku dan menghempaskan tubuhku di atas kursi.

“Udah siap ulangan, Ric? Dapat cepek lagi lah, ya?” ujar Rayan, teman sebangkuku.

Aku hanya mengangkat bahuku dengan lesu. Aku sudah belajar mati-matian, jelas saja aku mengharapkan nilai sempurna. Aku membuka buku Fisikaku dan mulai tenggelam di dalamnya. Tak terasa, bel masuk berbunyi nyaring, menghentakku kembali ke dunia nyata. Suara seorang guru dari speaker kelas pun mulai terdengar. Seperti biasa, kegiatan belajar mengajar diawali oleh renungan singkat dan doa pagi.

Begitu doa berakhir, Pak Rahmat, guru Fisika kami, memasuki ruangan sambil mengenggam tumpukan kertas yang penuh dengan tulisan tangan. Semua murid menatapnya dengan pandangan horor. Maklum, pelajaran Fisika selalu menjadi pelajaran yang paling ditakuti siswa-siswi, karena soal-soal killernya yang sanggup membuat kepala meledak dalam hitungan menit.

“Oke, ulangan akan segera dimulai. Ayo masukkan buku kalian,” perintah Pak Rahmat.

Semua temanku menurutinya dengan wajah-wajah gugup. Pak Rahmat mulai membagikan soal dan ulangan pun dimulai.    Aku menghela nafas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak, lalu mulai membaca tulisan yang terpampang di atas kertas di hadapanku. Soal demi soal dapat kujawab dengan mudah, walaupun ada beberapa soal yang memakan waktu lama dan mengobrak-abrik isi otakku. Aku sempat merasa pusing dan mual sejenak, mungkin karena otakku mulai penat dengan soal-soal pembunuh jiwa ini.

Saat tanganku sedang asyik menari-nari di atas kertas ulangan, tiba-tiba saja tulisan-tulisan di hadapanku mulai bergoyang-goyang. Meja di hadapanku berputar-putar, pandangan dan pendengaranku mulai mengabur, lalu sekonyong-konyong darahku terasa surut dari seluruh tubuhku.

Beberapa detik kemudian, aku membuka mataku perlahan dan melihat sosok-sosok familiar mengelilingiku. Berbagai macam suara bercampur aduk di telingaku. Aku mengerjap beberapa kali dan berusaha bangkit dari tempatku terbaring. Kepalaku terasa sangat pusing, seperti sehabis dihantam beban lima ton.

“Kamu nggak apa-apa, Ric?” Suara berat seorang laki-laki terdengar jelas di telingaku.

Aku menoleh dan melihat Pak Rahmat sedang berdiri memegangi lenganku. Ada apa ini? Apakah aku tertidur dan terbang ke alam mimpi? Pandanganku semakin lama semakin jelas. Wajah-wajah panik dan pucat sedang menatapku horor, yang kubalas dengan pandangan heran.

Felicia memasuki ruangan sambil membawa secangkir teh panas, diikuti oleh dua orang guru. Felicia menyodorkan cangkir teh itu ke arahku. Aku menyambutnya dan Pak Rahmat menyuruhku untuk meminumnya sampai habis. Setiap teguk teh panas itu seakan mengembalikan setiap tetes darah yang surut, membuatnya kembali mengalir dalam pembuluh darahku. Aku merasa seribu kali lebih baik sekarang.

“Ayo ke UKS, Nak. Kamu butuh istirahat,” ajak Bu Shanny, guru BPku.

Setelah beberapa menit termangu, akhirnya otakku sanggup mencerna semua kejadian ini. Aku mengangguk dan membuntuti langkah kecil Bu Shanny. Aku berbaring di tempat tidur UKS yang nyaman sambil memijat kepalaku. Mengapa aku bisa sampai pingsan? Padahal selama ini aku tidak pernah pingsan. Bisa dibilang, tubuhku kuat. Aku jarang sakit. Tapi mengapa di kala aku sedang berjuang keras demi mencapai tujuanku, aku malah tumbang tanpa sebab seperti ini? Benar-benar mengecewakan.

Bel istirahat pertama pun berbunyi. Aku sudah merasa pulih, jadi aku memutuskan untuk kembali ke kelas, daripada duduk diam di ruang UKS.

“Ric, kamu nggak apa-apa? Udah baikan?” sambut teman-temanku heboh begitu aku sampai di ambang pintu kelasku.

Aku tersenyum lemah. “Aku nggak apa-apa kok. Santai aja,” sahutku menenangkan.

“Ah, kamu ini! Jangan terlalu maksa diri dong! Nggak baik, tau. Kesehatan itu nomor satu,” omel Agatha.

“Yup. Kami tau kamu mau jadi yang terbaik, tapi kasihanin fisikmu juga. Jangan terlalu dipaksa,” sahut Stefani.

Aku memutar bola mataku. “Ya, ya, aku tau,” sahutku acuh tak acuh.

Hari itu kuhabiskan dengan mengangguk dan menenangkan teman-temanku yang terus menceramahiku akibat peristiwa pingsan tadi. Bukan keinginanku untuk pingsan tiba-tiba seperti itu. Kejadian ini benar-benar tak disangka-sangka.

Begitu sampai di rumah, aku segera beranjak menuju kamarku. Untung saja Papa dan Mama sedang tidak ada di rumah jam segini, jadi mereka tidak perlu tahu soal hal ini.

“Udah pulang, Ric?” tanya sebuah suara yang berasal dari ruang duduk.

Aku tersentak sedikit, lalu sedetik kemudian aku teringat kalau hari ini Kak Rico pulang lebih awal dari biasanya.

“Kakak dengar kamu tadi pingsan, ya?” tanyanya lagi.

Aku tersentak. Bagaimana Kak Rico bisa mengetahuinya?

“Yeah. Kok Kakak bisa tahu?” tanyaku heran.

“Tadi sekolah telepon ke rumah,” sahut Kak Rico singkat. “Kamu nggak apa-apa?” tanyanya lagi.

Aku meringis begitu mendengar pertanyaan itu. Entah sudah berapa kali aku mendengar pertanyaan itu dilontarkan hari ini.

“Tenang aja, Kak. Aku masih hidup kok,” sahutku sekenanya sambil berlalu menuju kamarku.

Aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur dan memejamkan kedua mataku. Karena peristiwa ini, aku jadi harus mengulang ulangan tadi. Sudah susah-susah belajar, malah begini pula hasilnya, keluhku dalam hati. Aku mendesah. Apa boleh buat. Yang terpenting adalah hasilnya. Walaupun ulangan ulang, aku harus mendapat nilai terbaik.

Tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamarku diketuk. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku dan merenggangkan tubuhku. Sepertinya aku sudah terlelap selama beberapa jam. Mungkin teman-temanku benar, aku memang kelelahan dan butuh istirahat.

“Ric, ini aku. Boleh masuk?” Suara Kak Rico terdengar dari balik pintu.

Aku mendengus. Kak Rico pasti ingin membicarakan masalah tadi. Aku sama sekali tidak berminat untuk membahas masalah itu. Aku melirik jam dinding yang terpajang manis di dinding kamarku. Pukul 6 tepat. Sebentar lagi Papa dan Mama pulang, dan aku yakin Kak Rico akan melaporkan kejadian tadi pada mereka. Daripada aku mendengar omelan-omelan pedas mereka, lebih baik aku pergi dari sini.

Aku mencuci mukaku dan beranjak menuju jendela besar di sudut ruangan. Suara ketukan pintu dan panggilan Kak Rico masih terdengar sesekali, tapi aku mengabaikannya. Biar saja Kak Rico menganggap aku sedang tidur dan akhirnya berhenti mengetuk pintuku. Aku membuka jendela kamarku, lalu menyelinap keluar.

Tanpa sadar, kakiku sudah membawaku pergi menuju padang ilalang di belakang gedung terbengkalai di dekat rumahku. Tempat ini sudah lama ditinggalkan oleh pemiliknya dan tidak pernah ada yang datang untuk mengurusnya lagi. Aku memilih tempat yang agak tersembunyi dan duduk di atas rumput yang hijau. Suasana di tempat itu sunyi dan tenang. Aku selalu datang ke sini untuk mencari udara segar dan menenangkan hati.

Udara sore menjelang malam yang dingin menyapu kulit dan wajahku. Suara jangkrik mulai terdengar dari berbagai arah, membuat suasana sunyi ini semakin hampa. Aku menyandarkan kepalaku pada tembok di belakangku dan memejamkan mata sejenak. Kejadian-kejadian tadi kembali terputar di otakku seperti sebuah film. Begitu mengingat usaha sia-siaku demi dihargai oleh Papa, kepalaku terasa berat dan dadaku terasa sesak.

“Suasana yang menenangkan, ya?” Sebuah suara familiar yang berasal dari belakangku membuatku terlonjak kaget.

Aku menoleh dan kembali tersentak ketika mengenali sosok tinggi yang tiba-tiba saja sudah berdiri di sampingku. Sosok itu sedang menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.

“Kamu sering ke sini?” tanyanya lagi.

Aku tidak menjawab. Entah karena masih kaget atau karena aku sedang tidak berminat untuk mengobrol.

Listen, you know you don’t have to study that hard,” jelasnya.

Aku mendengus. “Kelihatannya nggak seperti itu,” sahutku sinis. “Sudahlah, Kak, aku lagi nggak niat ngebahas ini, leave me alone,” pintaku.

Kak Rico tidak mengindahkan kalimat terakhirku. Ia malah duduk di sebelahku dan menatapku lekat-lekat. “Mungkin Papa emang sering ngebandingin kamu sama aku, dan kesannya kayak Papa mau kamu jadi seperti aku. Tapi itu bukan berarti kamu harus ngikutin semua jejakku. Kamu bisa ngeraih mimpimu dengan caramu sendiri.”

Aku membalas tatapan kakakku. “Aku capek selalu dibandingin sama Kakak. Aku mau buktiin kalau aku juga bisa sehebat Kakak, bahkan lebih. Dan satu-satunya cara ya, seperti ini,” jawabku.

Sorry, kalau kamu ngerasa terpojok karna aku. Tapi, kamu harus tau, kamu bisa jadi lebih hebat daripada aku. Dan caranya bukan dengan belajar nonstop seperti yang kamu lakukan sekarang. Kamu nggak harus selalu jadi juara umum, atau ikut olimpiade, atau menangin lomba ini dan itu. Kamu bisa buktiin dengan cara lain, caramu sendiri.”

Aku menatap pemandangan padang ilalang di hadapanku sambil menerawang. Aku tidak punya kelebihan yang spesial. Kak Rico bisa dibilang hampir sempurna – ia tampan, gagah, lembut tapi tegas, ceria dan bersemangat, pintar, cakap, serta bijaksana. Ia hebat dalam berolahraga dan bermain musik. Aku takkan pernah bisa menandinginya. Soal fisik, mungkin aku mirip dengannya. Tapi, untuk bakat dan keahlian, sampai saat ini, aku hanya sanggup menjadi juara umum berturut-turut sepertinya dulu. Aku tidak jago berolahraga ataupun bermain musik.

“Caraku sendiri? Seperti apa? Aku nggak punya bakat khusus kayak Kakak,” ujarku.

Kak Rico mengangkat sebelah alisnya. “Kamu salah. Siapa bilang kamu nggak punya bakat khusus?”

Kali ini, giliran aku yang mengangkat alisku. “Emangnya bakatku apa?”

Kak Rico memutar bola matanya. “Itu, foto-foto yang kamu pajang di kamarmu dan kamu masukkin ke album-album, itu apa namanya?” tanyanya gemas.

“Itu bukan apa-apa, hanya sekadar hobi. Lagian, itu semua nggak ada artinya di mata Papa,” sahutku ketus.

Kak Rico mendesah. “Kamu salah lagi. Aku udah sering ngelihat hasil fotomu, dan itu bukan cuma sekadar objek yang diabadikan dengan kamera. It’s so much more than that. Setiap fotomu punya makna tersendiri, dan nggak mungkin Papa nggak bangga ngelihatnya. Papa cuma nggak nunjukkin rasa bangganya aja,” jelas Kak Rico.

Aku terdiam. Benarkah begitu? Aku memang sangat menyukai fotografi. Ada banyak sekali objek di dunia ini yang sangat indah untuk diabadikan. Aku selalu membawa kameraku ke mana-mana, memotret setiap hal yang menurutku menarik untuk dipotret. Tetapi, aku hanya menganggapnya sebagai hobi. Aku tidak menyangka itu adalah bakat terpendamku.  Lagipula, Papa tidak pernah mengindahkannya. Ia menganggap itu hanyalah hobi tak berguna. Yang berharga di mata Papa hanyalah penghargaan-penghargaan dan sertifikat-sertifikat, seperti yang selalu diraih Kak Rico.

Are you sure? Kurasa Papa nggak nganggap bakatku ini sesuatu yang berarti.”

Kak Rico menggeleng dan kembali mendesah. “Ini yang salah. Mindset dan caramu menanggapi nasihat Papa. Emang bener Papa sering mojokkin kamu dengan kelebihanku, tapi itu bukan berarti kamu harus jadi seperti aku. Kamu selalu merendahkan diri, menganggap aku yang paling hebat. Kamu rasa, untuk menjadi hebat, kamu harus bisa ngalahin aku dan ngebuktiin kalau kamu juga bisa ngelakuin apa yang kulakuin. Padahal, kamu bisa ngebuktiinnya dengan cara lain. Misalnya, dengan nunjukkin bakat khususmu, yang nggak aku punya. Kamu jago fotografi, sedangkan aku nggak. It means something, right?

Aku kembali terdiam. Memang benar yang dikatakan Kak Rico. Tapi, apakah aku benar-benar bisa menjadi seperti yang Kakak katakan?

Seperti bisa membaca pikiranku, Kak Rico melanjutkan. “Jangan meragukan dirimu sendiri. Kamu harus yakin kamu bisa. Yang paling penting, kamu harus percaya sama dirimu sendiri dulu, baru orang lain bisa percaya sama kamu. Mulai sekarang, cari bakat dan minatmu yang sesungguhnya, temukan tujuan hidupmu, dan terus kejar mimpimu. Jangan terlalu pedulikan perkataan orang lain. Buktikan kalau kamu bisa meraih apa yang kamu mau.”

Aku menghela nafas dalam-dalam. Kata-kata Kak Rico barusan mulai teresap ke dalam otakku dan menjadi motivasi baru dalam hidupku. Aku tahu semua yang Kak Rico katakan benar. Mulai sekarang, aku akan menjalani hidupku dengan caraku sendiri. Walaupun aku masih berjalan di bawah bayang-bayang kesempurnaan Kak Rico, tapi aku tidak keberatan. Aku akan menjadikannya panutan, dan suatu hari, aku akan membuktikan bahwa aku juga bisa menjadi panutan seperti dirinya.

Message of Regret

Posted: March 12, 2013 in Short Stories
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

“Pagi, girls,” sapa Chelsea pada teman-temannya.

“Pagi, Chels,” balas mereka.

Chelsea pun meletakkan tas ranselnya ke tempat duduknya dan ikut berkumpul dengan teman-temannya yang sedang bergosip ria.

Aaron  memerhatikannya sambil merenung. ‘Ia sudah berubah,’ pikirnya.

Sepulang sekolah, Chelsea dan teman-temannya berjalan menuju gerbang sekolah bersama-sama. Beberapa temannya pamit pulang karena mereka sudah dijemput. Akhirnya sisa Chelsea sendiri yang belum dijemput.

‘Tumben dia belum dijemput,’ komentar Aaron dalam hati.

Sedaritadi ia memerhatikan Chelsea dari kejauhan. Ia ingin menawarkan bantuan, tetapi ia yakin Chelsea tidak membutuhkannya. Maka, ia pun melanjutkan perjalanan pulangnya.

Sudah selang satu jam dari jam pulang Chelsea, tetapi ia masih belum juga dijemput. ‘Mama kemana sih?’ gerutu Chelsea dalam hati.

Ia melihat sekelilingnya, karena tidak ada tanda-tanda bahwa mamanya akan datang menjemputnya, ia pun memutuskan untuk berjalan pulang. Untung rumah Chelsea tidak terlalu jauh dari sekolah, hanya 10 menit berjalan kaki.

Dari kejauhan, ia melihat ada beberapa orang yang berkerumunan di depan rumahnya. Ia juga melihat beberapa mobil polisi yang mengelilingi rumahnya.

‘Ada apa ini?’ batinnya.

Mama dan papa Chelsea sedang membawa beberapa koper keluar dari rumah mereka dan beberapa polisi sedang menempelkan kertas panjang berwarna kuning ke sekeliling rumah Chelsea. Chelsea pun segera berlari menuju rumahnya untuk mencari tahu apa yang terjadi.

“Ada apa ini?” tanya Chelsea begitu ia sampai di depan rumahnya.

“Nanti baru Mama jelasin ya, Sayang. Sekarang ayo ikut Papa Mama pergi dari sini,” ajak mamanya.

Chelsea pun menuruti mamanya. Mereka berjalan menjauh dari rumah mereka sambil membawa beberapa koper. Papa Chelsea memutuskan untuk menyewa sebuah rumah yang tidak jauh dari sekolah Chelsea agar mulai besok Chelsea dapat berjalan kaki menuju sekolah.

“Perusahaan Papa mulai bangkrut, jadi Papa minjem 3 milyar ke bank. Papa kira keadaan akan membaik, tapi malah sebaliknya, perusahaan Papa malah makin bangkrut, jadinya nggak sanggup bayar utang itu. Jadi bank nyita rumah dan mobil kita. Maafin Papa, ya.”

Chelsea terdiam sejenak setelah mendengarkan penjelasan papanya. Jelas ia tidak mungkin menyalahkan papanya atas kejadian ini. Tetapi ia sangat terpukul karena ia telah kehilangan segalanya.

Keesokan harinya, Chelsea masuk ke sekolah seperti biasa – tidak sepenuhnya, mulai hari ini ia berjalan kaki menuju sekolah. Sesampainya di sekolah, ia berjalan menyusuri lorong sekolahnya. Ia melihat beberapa orang berkumpul di ujung-ujung lorong dan berbisik-bisik sambil memandangnya.

‘Ada apa lagi sekarang?’ gerutu Chelsea dalam hati.

Ia memasuki ruang kelasnya dan menghampiri teman-temannya. Aneh, begitu Chelsea menghampiri mereka, pembicaraan mereka berhenti dan mereka bubar begitu saja. Chelsea merasa bingung dan sedih. Ia pun memutuskan untuk duduk diam di kursinya.

“Eh, kalian udah denger berita belum? Katanya, perusahaan papa Chelsea bangkrut, papanya nggak bisa bayar utang ke bank, jadi rumah dan mobilnya disita,” bisik sebuah suara di belakang Chelsea.

Chelsea mendengarnya, tetapi tidak menghiraukannya. ‘Cepat sekali berita menyebar. Semua orang sepertinya bakal ngejauhin gue mulai sekarang, bahkan teman-teman dekat gue sekalipun. Ternyata selama ini mereka cuma berteman sama gue karna gue kaya,’ batin Chelsea.

Ia tidak menyangka semua hal buruk itu terjadi dalam sekejap. Ia kehilangan segalanya – rumah, mobil dan teman-temannya. Untung keluarganya masih ada bersamanya.

‘Mulai hari ini, semua akan terasa berbeda,’ pikir Chelsea.

Aaron juga mendengar berita tersebut, tetapi itu tidak akan mengubah apapun. Ia merasa prihatin pada Chelsea dan keluarganya, tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Esok paginya, Aaron sampai di sekolah agak terlambat. Kelasnya telah ramai dipenuhi para siswa. Ia pun meletakkan tasnya dan duduk di kursinya. Bel masuk pun berbunyi dan semua siswa beranjak memasuki kelas. Wali kelas Aaron memasuki kelas dengan raut wajah yang sedih.

“Selamat pagi, anak-anak. Silahkan duduk di tempat kalian masing-masing. Ibu ingin menyampaikan berita dukacita.”

Semua siswa pun duduk di tempat mereka masing-masing dengan wajah heran. Semua tempat duduk terisi, kecuali tempat duduk Chelsea.

‘Kemana dia?’ pikir Aaron.

“Ayah dari salah satu teman kita, Chelsea, telah dipanggil Tuhan kemarin malam. Sebagai rasa amal dari kita, mari kita menyisihkan sedikit dari uang jajan kita untuk disumbangkan kepadanya.”

Semua siswa terdiam sejenak, kemudian merogoh saku mereka. Aaron tidak menyangka kejadian buruk berturut-turut akan menimpa keluarga Chelsea. Ia pun mengeluarkan selembar uang kertas berwarna merah dari dompetnya dan memasukkannya ke kotak sumbangan tersebut.

Chelsea kembali masuk ke sekolah setelah tidak masuk selama satu minggu. Banyak kegiatan belajar mengajar yang tidak diikutinya, maka ia pun berniat untuk meminjam catatan temannya. Tetapi, semua temannya sepertinya enggan untuk meminjamkan catatan mereka padanya. Ia pun mengurungkan niatnya itu.

‘Mengapa semua orang menjadi begitu jahat?’ tanyanya dalam hati.

Seusai istirahat pertama, Chelsea beranjak dari kantin menuju kelasnya. Ia berjalan perlahan menuju tempat duduknya. Dari kejauhan, ia melihat setumpuk kertas yang terletak di atas mejanya. Ia pun mengangkat tumpukan kertas itu dan melihatnya. Itu adalah hasil fotocopy dari semua catatan yang tidak ia ikuti.

‘Dari siapa ini?’ pikir Chelsea.

Ia melihat ke sekelilingnya lalu menyimpan setumpuk kertas itu.

Bel pulang pun berdering, semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Chelsea mengemas semua barang-barangnya dan bergegas pulang. Sesampainya di depan gerbang sekolah, ia baru menyadari bahwa hujan sedang turun dengan derasnya.

‘Kalau ujan begini, gimana gue mau pulang?’ batinnya dengan kecewa.

Ia pun terpaksa berteduh di depan gerbang sekolah sambil menunggu hujan berhenti.

Aaron sedang berjalan menuju gerbang sekolah ketika ia melihat hujan sedang turun dengan derasnya.

‘Untung gue bawa payung.’ batinnya.

Ia melihat Chelsea sedang berteduh di depan gerbang sekolah. Ia hendak membantunya, tetapi ia tidak berani. Ia pun melanjutkan perjalanan pulangnya.

Chelsea mendengar suara jejak kaki di belakangnya, tetapi saat ia melihat ke belakang, tidak ada siapa-siapa. Lalu pandangannya terpaku pada sebuah payung yang bersandar di dinding di sebelahnya dengan secarik kertas yang tertempel di atasnya, bertuliskan ‘Pakai saja payung ini dan pulanglah, mamamu pasti khawatir.

‘Dari siapa ini?’ batin Chelsea kebingungan.

Ia pun membuka payung itu dan berjalan pulang.

Esok paginya, Chelsea membuka matanya perlahan. Ia pun melirik jam, pukul 06.30 WIB.

‘Haiya! Gue telat bangun!’

Ia pun tergesa-gesa mempersiapkan dirinya untuk berangkat ke sekolah. Setelah selesai bersiap-siap, ia pun pamit pada mamanya dan berlari menuju sekolah.

‘Aduh, kok bisa telat bangun sih?’ gerutu Chelsea sambil berlari sekuat tenaga.

Karena terlalu tergesa-gesa, ia tidak melihat ada batu kerikil yang menghalangi jalannya. Ia pun tersandung dan terjatuh. Kakinya terluka dan berdarah.

“Duh!” Chelsea meringis. ‘Tidak ada waktu untuk mengobatinya.’ batin Chelsea sambil melanjutkan perjalanannya menuju sekolah.

“Akhirnya sampai juga.” ujar Chelsea ketika ia sampai di depan gerbang sekolahnya.

Ia berjalan perlahan menuju kelasnya sambil menahan sakit. Ia pun duduk di kursinya dan hendak meletakkan beberapa bukunya ke dalam laci mejanya. Ketika ia ingin meletakkan bukunya, ia menemukan sebotol betadine, selembar hansaplast dan secarik kertas yang bertuliskan ‘Cuci bersih lukamu biar gak infeksi, keringkan, lalu pakai betadine dan hansaplastnya.’

‘Aneh, udah berapa kali gue dapat bantuan dari orang misterius ini?’ batin Chelsea.

Ia pun segera mengikuti perkataan yang tertulis di secarik kertas itu.

“Eh, besok Valentine’s Day loh. Lo mau kasih coklat ke sapa?” tanya sebuah suara di belakang Chelsea pada seorang temannya.

“Nggak tau juga, ya. Belum ada rencana.” jawab temannya itu.

‘Ah, masih jaman ya Valentine’s Day?’ batin Chelsea sambil melirik jam.

Waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB.

‘Sudah waktunya untuk pulang.’ pikir Chelsea sambil mengemas barang-barang sekolahnya.

Valentine’s Day pun tiba. Biasanya Chelsea selalu menanti-nantikan hari itu. Tetapi tidak untuk sekarang. Ia tidak mengharapkan satu coklatpun hari ini. Ia yakin tidak akan ada yang memberinya coklat ataupun bunga. Ia berjalan memasuki kelasnya. Seperti biasa, ia langsung duduk di kursinya dan mengeluarkan beberapa buku yang akan ia gunakan dan meletakkannya ke dalam laci mejanya.

Kegiatan belajar mengajar hari itu terasa membosankan. Chelsea memerhatikan seluruh isi kelasnya. Ada beberapa temannya yang sedang memerhatikan penjelasan guru di depan dan ada juga yang sedang asyik mengobrol sendiri. Pandangannya terhenti pada sebuah kursi kosong.

‘Bukannya itu kursi Aaron? Kemana dia?’ batin Chelsea.

Tak terasa, bel pulang pun berdering. Chelsea mengemas barang-barangnya. Ketika ia mengeluarkan buku-buku dari laci mejanya, ia menemukan sekotak coklat. Ia penasaran dari siapa coklat tersebut. Sang pengirim tidak mencantumkan namanya. Chelsea merasa heran. Belakangan ini, ia sering menerima bantuan ataupun barang dari seseorang yang misterius.

‘Siapakah dia?’ pikir Chelsea. Ia pun menyimpan coklat tersebut dan bergegas pulang.

Sepulang sekolah, Chelsea membereskan isi tasnya dan menemukan sekotak coklat yang ia temukan di dalam laci mejanya tadi. Ia pun membuka kotak tersebut. Seperti yang diharapkan, kotak tersebut berisi coklat dan juga sebuah amplop putih yang bertuliskan ‘Untuk Chelsea.’ Aneh, tidak dicantumkan nama pengirimnya. Chelsea pun membuka amplop itu dan membaca surat di dalamnya.

Dear Chelsea,

Apa kabarmu, Chels? Sudah lama kita tidak bertemu. Mungkin kita sekelas, tetapi semenjak perusahaan papamu semakin sukses, kamu menjadi semakin kaya dan populer, teman-temanmu semakin banyak dan kamu pun lebih memilih berteman dengan mereka dibanding aku. Aku maklum akan hal itu, aku memang tidak pantas menjadi temanmu. Tetapi, mereka juga tidak pantas. Tidak sadarkah kamu bahwa mereka berteman denganmu hanya karena kekayaanmu?

Kurasa semua telah terbukti sekarang. Setelah perusahaan papamu bangkrut, mereka semua meninggalkanmu. Aku turut berdukacita atas apa yang menimpa keluargamu. Aku ingin membantu, tetapi tidak tahu bagaimana caranya. Aku hanya bisa membantumu secara diam-diam sebisaku. Tetapi kurasa sekarang akan lebih susah bagiku untuk membantumu. Kuharap keadaanmu akan segera membaik. Titip salam untuk mamamu.

P.S : I want you to know that I did it all because I love you.

                                                                                            Sign,

Your old friend

Tulisannya terlihat familiar.

My old friend? Sekelas? Siapa ya?’ pikir Chelsea.

Tiba-tiba, Chelsea terpikir sesuatu. Tulisan di surat itu mirip dengan tulisan ‘si misterius’. Chelsea menebak semua barang dari ‘si misterius’ – payung, hansaplast dan betadine, setumpuk kertas hasil fotocopy, coklat dan juga surat ini berasal dari orang yang sama. Kalimat ‘Aku hanya bisa membantumu secara diam-diam sebisaku.’ pada surat itu mendukung dugaannya.

It’s so sweet of him, tapi siapa dia?’ pikir Chelsea.

Ia mulai menerka-nerka. Tiba-tiba, sekelebat pikiran menyerbu otaknya. ‘Mungkinkah dia Aaron?’

Chelsea sudah mengenal Aaron sejak kecil, orangtua mereka adalah rekan kerja sehingga mereka saling berteman, tetapi sejak kelas 1 SMA, pertemanan mereka merenggang.

‘Mungkin itu maksudnya ‘semenjak perusahaan papamu semakin sukses, kamu menjadi semakin kaya dan populer, teman-temanmu semakin banyak dan kamu pun lebih memilih berteman dengan mereka dibanding aku.’

 Perasaan bersalah memenuhi pikiran Chelsea. Selama ini, Aaron tetap setia membantunya dalam kesusahan, padahal ia tidak pernah menghiraukannya. Tetapi apa maksudnya ‘Kurasa sekarang akan lebih susah bagiku untuk membantumu.’ ?

Kata-kata itu membuat Chelsea cemas. Bukan karena ia takut bahwa tidak akan ada lagi teman yang akan membantunya, tetapi ia takut sesuatu yang buruk sedang menimpa Aaron.

‘Ia tidak  masuk sekolah hari ini. Mungkin gue harus mengecek keadaannya.’

Ia pun melipat surat itu, menaruhnya ke dalam sakunya dan beranjak pergi menuju rumah Aaron.

Sesampainya di sana, ia menekan bel pintu rumah Aaron. Tidak ada yang menjawab atau membukakan pintu. Ia pun membunyikan bel tersebut sekali lagi. Tetap saja tidak ada yang membukakan pintu.

‘Apa mereka sedang pergi? Atau sudah pindah rumah?’ pikir Chelsea.

“Cari siapa, Dik?” tanya seorang ibu paruh baya yang tinggal di sebelah rumah Aaron.

“Pemilik rumah ini sedang pergi kemana ya, Tan?” tanya Chelsea.

“Oh, mereka semua sedang berada di rumah sakit. Katanya Aaron sudah lama terdiagnosa penyakit kanker otak, tetapi ia tidak mau dirawat ataupun diobati. Tadi pagi tiba-tiba saja ia pingsan dan akhirnya ia dibawa ke rumah sakit dan dirawat di sana.” Ibu tersebut menceritakan kronologi kejadiannya.

“Tante tau dimana ia dirawat?” tanya Chelsea dengan cemas.

“Di Rumah Sakit Harapan Kasih, ruang 147,” jawabnya.

“Terima kasih, Tan,” seru Chelsea sambil berlari.

Kepanikan memenuhi pikiran Chelsea, ia pun berlari sekuat tenaga. Sesampainya di rumah sakit, ia langsung berlari menuju ruang 147. Dari kejauhan, ia melihat seorang pria dan istrinya sedang menangis tersedu-sedu. Seorang dokter juga berdiri di sana sambil menenangkan mereka. Hal itu menghentikan langkah Chelsea. Ia berjalan perlahan menuju orang-orang tersebut. Ia mengenali kedua sosok suami-istri itu. Mereka adalah orang tua Aaron.

‘Mungkinkah..’

Chelsea segera memasuki ruangan yang bernomor 147. Begitu ia masuk, ia melihat seorang lelaki yang berbaring lemah di atas tempat tidur. Chelsea berjalan perlahan mendekati tempat tidur itu. Di sebelah tempat tidur itu, terpasang sebuah mesin yang layarnya menunjukkan garis horizontal yang lurus. Air mata menggenang di kelopak mata Chelsea, mendesak untuk keluar. Ia pun mulai menangis tersedu-sedu.

“Aku terlambat,” ujarnya di sela tangisannya.

Ia menenangkan dirinya, menghapus air matanya dan mengambil secarik kertas dan sebuah pena. Ia pun mulai menulis.

Dear Aaron,

Ada banyak hal yang ingin kusampaikan, tetapi pertama-tama, aku ucapkan terima kasih banyak. Terima kasih karena kamu sudah menjadi temanku selama ini. Terima kasih karena kamu masih setia menjadi temanku walau aku tidak menghiraukanmu. Terima kasih karena kamu masih setia menjadi temanku dan membantuku saat aku dalam kesusahan. Maafkan aku karena selama ini aku tidak menjadi teman yang baik untukmu. Aku menyesal atas semua perbuatanku. Andai aku dapat mengulang waktu, jelas aku tidak akan membiarkan semua ini berakhir seperti ini. Semoga kamu bahagia di dunia barumu. I’ll miss you. You’ll always be in my heart.

     Sign,

  Chelsea

Chelsea melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop dan menuliskan ‘MESSAGE OF REGRET’ di atasnya lalu menaruhnya di atas telapak tangan Aaron.

Paper Plane

Posted: March 12, 2013 in Short Stories
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Ah, sore yang indah. Matahari hendak kembali ke singgasananya. Langit yang berwarna oranye tua menghiasi suasana sore itu. Pemandangan sunset memang sangat indah. Jeremy sedang mendayuh sepedanya mengelilingi perumahan tempat ia tinggal.

Tiba-tiba, sesuatu menabrak kepalanya dengan pelan, lalu jatuh ke tanah. Jeremy sontak berhenti lalu mengangkat benda berwarna putih itu. Ternyata benda itu adalah sebuah pesawat kertas. Ia membuka pesawat kertas itu dan menemukan sebuah pesan di dalamnya.

Dear God,

Where are You? Aku sudah tidak tahan lagi. Kapan Engkau akan menjemputku? I’m waiting for You, God. Tidak ingatkah Engkau? Parasit mematikan ini telah menyiksaku sejak lahir. Sudah 16 tahun berlalu, mengapa Engkau belum juga datang menjemputku? I’ll wait for You, God. Come as soon as possible.

 

Wow, dari siapa ini?’ pikir Jeremy sambil mencari-cari orang yang menerbangkan pesawat kertas itu.

Ia melihat ke sekelilingnya, tetapi tidak menemukan siapa-siapa. Ia pun menyimpan surat itu, lalu melanjutkan perjalanannya. Dalam perjalanannya, ia melewati sebuah rumah yang cukup besar. Ia melihat sebuah tangga yang tersandar pada dinding rumah itu. Tangga itu berujung pada atap rumah tersebut. Sesosok gadis sedang duduk merenung di atas sana.

Tiba-tiba, Jeremy teringat pada pesawat kertas yang ia temukan tadi. Pagar rumah itu terbuka, Jeremy pun menyelinap masuk dan menaiki tangga menuju atap rumah tersebut. Ia berjalan mendekati gadis itu dengan hati-hati.

“Permisi, maaf bila saya tidak sopan memasuki rumah Anda tanpa izin, tetapi saya menemukan pesawat kertas ini saat saya sedang mendayuh sepeda, apakah ini milik Anda?” Jeremy berusaha berbicara sesopan dan selembut mungkin.

Si gadis terkejut, lalu menoleh ke belakang dan melihat selembar kertas yang dipegang Jeremy. “Oh, ya, itu punyaku. Maaf.” ujarnya sambil mengambil selembar kertas itu dari tangan Jeremy.

Jeremy hendak meninggalkan tempat itu, tetapi sesuatu menghentikannya. Isi surat tadi membuatnya penasaran. “Apakah Anda keberatan jika saya ikut duduk di sini?” tanya Jeremy.

“Tentu tidak.” jawabnya singkat.

Jeremy pun duduk tidak jauh dari si gadis. “Boleh saya tahu nama Anda?” Jeremy memulai pembicaraan.

“Aku Shinta. Tidak perlu pakai ‘saya’ dan ‘Anda’. Terlalu formal. Pakai ‘aku’ dan ‘kamu’ saja.” ujarnya.

“Oh, oke. Perkenalkan, namaku Jeremy.” Jeremy mengulurkan tangannya dan Shinta menyalaminya. Tangan gadis itu terasa dingin.

“Kalau boleh tahu, apa alasanmu berada di sini?” tanya Shinta.

“Well, aku sudah membaca isi surat itu, maaf bila itu tidak sopan, tetapi, aku sedikit penasaran dengan isinya. Bolehkah aku menanyakan sesuatu tentangnya?” tanya Jeremy ragu-ragu.

“Aku tahu apa yang mau kamu tanyakan. Apa itu tentang penyakitku? Aku mengidap penyakit anemia sel sabit, itu adalah penyakit turunan.” Shinta menceritakannya tanpa ditanya.

Anemia sel sabit adalah kondisi serius di mana sel-sel darah merah menjadi berbentuk bulan sabit. Sel darah merah normal berbentuk lingkaran, pipih di bagian tengahnya, sehingga memungkinkan mereka melewati pembuluh darah dengan mudah dan memasok oksigen bagi seluruh bagian tubuh. Sulit bagi sel darah merah berbentuk bulan sabit untuk melewati pembuluh darah, terutama di bagian pembuluh darah yang menyempit, karena sel darah merah ini akan tersangkut dan akan menimbulkan rasa sakit, infeksi serius, dan kerusakan organ tubuh. Sel sabit ini umurnya tidak panjang, sehingga menyebabkan jumlah sel darah merah sedikit.

“Penyakit itu menyiksaku sejak kecil. Itu membuatku harus bersekolah di rumah. Seumur hidupku kuhabiskan di dalam rumah. Aku ingin bebas seperti anak-anak lain, tetapi aku tidak bisa.” Shinta melanjutkan ceritanya.

Jeremy tertegun beberapa saat, lalu bertanya. “Lalu mengapa kamu ada di sini? Tidakkah berbahaya?”

“Inilah satu-satunya tempat di rumahku yang nyaman bagiku untuk menyendiri.” jawabnya.

“Apa mereka tidak mencarimu?” tanya Jeremy lagi.

“Siapa? Orangtuaku sibuk bekerja, aku anak tunggal, dan suster yang biasa merawatku sedang sibuk mengurus urusan rumah tangga. Ia bahkan tidak menyadari bahwa aku sedang berada di sini.”

“Apakah penyakit itu bisa disembuhkan?” tanya Jeremy dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik, tetapi Shinta mendengarnya.

“Kata dokter yang menanganiku, belum ada obat untuk penyakit ini.” jawab Shinta dengan raut muka putus asa.

Jeremy memperhatikan gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia terlihat sangat kurus, rapuh, lemah, dan kulitnya pucat. Tetapi di balik semua itu, ia tetap terlihat cantik. Rambutnya yang hitam legam dan panjang menghiasi wajahnya, kulitnya yang putih bersih, dan juga matanya yang besar.

Sebercak rasa iba memenuhi batinnya. Gadis itu cantik dan kelihatannya baik, tetapi ia harus melalui hari-hari sengsaranya sendirian. Tiba-tiba sesuatu menggerakkan hatinya.

“Jangan bersedih, Shin. Aku tahu penyakit itu menyiksamu dari kecil, tetapi itu bukan berarti kamu tidak bisa menikmati hidupmu.” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Jeremy.

Shinta terdiam sejenak, lalu menatap Jeremy dengan mata hitam kecoklatannya. “Bagaimana caranya?” tanyanya.

Well, kita bisa mulai dari hal-hal yang belum pernah kamu lakukan. Kamu bilang kamu menghabiskan masa kecilmu di rumah, kan? Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke tempat-tempat yang belum pernah kamu kunjungi? Kita bisa bikin jadwal berisi tempat-tempat yang akan kita kunjungi.” Jeremy memberi ide.

“Kedengarannya menyenangkan. Kamu yakin kamu mau nemenin aku?” tanyanya pelan.

Why not? It’ll be fun.” jawab Jeremy tanpa pikir panjang.

Mereka berdua pun menghabiskan sore itu sambil menyusun jadwal perjalanan mereka.

Keesokan harinya, Jeremy menjemput Shinta di rumahnya. Jeremy berhasil mendapat izin dari susternya untuk membawa Shinta berjalan-jalan seharian. Mereka pun memulai perjalanan mereka.

First day’s destination: Viva’s Zoo, Viva’s Sea World, and Viva’s Theatre. Tidak jauh dari perumahan Jeremy dan Shinta, terdapat beberapa tempat wisata yang cukup terkenal. Pertama-tama, mereka mengunjungi Viva’s Zoo. Kebun binatang ini cukup besar, terdapat sekitar 30 jenis binatang dari seluruh dunia di dalamnya.

Kebun binatang itu tidak begitu ramai pada hari itu, sehingga lebih leluasa bagi mereka untuk menikmati perjalanan mereka. Sesampainya di sana, mereka berkeliling sambil melihat-lihat binatang-binatang yang ada di sana. Shinta sangat bersemangat, ia tidak berhenti mengagumi setiap hewan yang mereka lihat.  Mereka menghabiskan sekitar satu jam di sana, lalu mereka melanjutkan perjalanan mereka.

Viva’s Sea World terletak tepat di sebelah Viva’s Zoo, jadi mereka cukup berjalan kaki menuju tempat itu. Viva’s Sea World tidak kalah  besar dari Viva’s Zoo. Ada beraneka ragam binatang laut di dalam sana. Shinta tidak bisa berhenti mengambil foto sepanjang perjalanan mereka. Melihat Shinta begitu bersemangat, Jeremy pun ikut merasa bersemangat. Ia merasa seperti sedang berjalan-jalan dengan adiknya sendiri.

Setelah berkeliling selama kurang lebih 45 menit, mereka mulai merasa lapar. Mereka pun mengunjungi rumah makan yang tidak jauh dari sana. Mereka memesan makanan seadanya lalu menyantapnya.

“Bagaimana? Asik nggak perjalanan hari ini?” tanya Jeremy sambil menyantap makanan yang dipesannya.

“Asik banget. Hari ini adalah hari terbahagia dalam hidupku. Thanks, ya.” jawab Shinta dengan semangat. Jeremy hanya membalasnya dengan senyuman.

Setelah mereka selesai menyantap makan siang mereka, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka. Untungnya, jarak antar tempat wisata yang akan mereka tuju tidak berjauhan, jadi mereka cukup berjalan kaki saja. Tujuan mereka selanjutnya adalah Viva’s Theatre.

Theatre itu cukup ramai hari itu, karena theatre itu akan menayangkan film yang cukup terkenal, yaitu Titanic. Film tragic-romantic yang sudah cukup lama, tetapi kembali terkenal karena tayangannya dalam bentuk third-dimension (3D), dimana ketika menonton, penonton harus menggunakan kacamata khusus yang akan mendukung efek tambahan pada film itu yang membuat penonton merasa mereka tidak hanya menonton, tetapi juga ikut masuk ke dalam film itu.

Jeremy sudah pernah menonton film itu sebelumnya, tetapi bukan dalam bentuk 3D. Film itu adalah film 3D pertama bagi Shinta, itu membuatnya sangat bersemangat. Petugas di theatre memberikan setiap penonton sebuah kacamata yang terlihat seperti kacamata hitam. Penonton pun duduk pada tempat mereka masing-masing dan mengenakan kacamata mereka. Film itu pun dimulai.

Film dalam bentuk 2D dan 3D tidak berbeda jauh, hanya saja pada film 3D, semua hal di dalam film tersebut terlihat lebih nyata. Hal itu membuatnya lebih menarik dan seru. Film berdurasi 3 jam itu pun selesai, para penonton mengembalikan kacamata khusus itu kepada petugas dan beranjak keluar.

“Bagaimana filmnya? Bagus?” tanya Jeremy, seakan-akan ia tidak ikut menonton film tersebut.

“Bagus banget. Sedih, ya.” jawab Shinta sambil menyeka air matanya. Film tragedi itu membuatnya menangis.

“Kok kamu gak nangis? Emangnya menurutmu itu gak sedih ya?” tanya Shinta tiba-tiba.

“Cowok gak boleh nangis.” jawab Jeremy diikuti tawa renyahnya.

“Mana ada peraturan kayak gitu.” balas Shinta jutek.

Perjalanan mereka hari itu pun berakhir, Jeremy mengantarkan Shinta ke rumahnya, lalu pulang ke rumahnya sendiri.

Second day’s destination: Fantasy Land. Tempat tersebut juga tidak terlalu jauh dari perumahan Jeremy dan Shinta. Mereka berangkat ke sana dengan menggunakan taksi, seperti hari sebelumnya. Setelah 20 menit perjalanan, mereka pun sampai di Fantasy Land. Shinta terlihat lebih bersemangat dari hari sebelumnya. Dengan senyuman di wajahnya dan semangatnya yang menggebu-gebu, ia tidak terlihat seperti orang yang mengidap penyakit sama sekali. Ia terlihat segar bugar, sehat wal’afiat.

Mereka memasuki Fantasy Land dan mencoba setiap permainan yang ada di dalamnya. Mereka menghabiskan sepanjang hari itu dengan bermain-main di sana. Shinta tidak dapat menghapus senyuman di wajahnya, ia terus tersenyum dan tertawa sepanjang hari itu. Jeremy merasakan kebahagiaan yang berbeda ketika ia sedang bersama Shinta. Membahagiakan orang lain memang hal yang menyenangkan. Hari itu pun berlalu dengan cepat, mereka berdua terlihat sangat lelah tetapi bahagia. Keduanya pun pulang ke rumah masing-masing.

Third day’s destination: Marina Beach and Central Park. Hari itu mereka berangkat pagi-pagi sekali.

“Kok kita berangkat pagi banget hari ini? Biasa kan kita berangkat jam 8, hari ini kita berangkat jam setengah 6.” keluh Shinta.

“Karena tempatnya jauh. Dan pemandangan pantai dan taman paling bagus pas sunrise and sunset. Jadi kita ke pantai pas sunrise and ke taman pas sunset.” Jeremy menjelaskan.

Tepat pukul 6.00 WIB, mereka sampai di tempat tujuan. “Wah, benar katamu. Indah banget pemandangannya.” ujar Shinta terkagum-kagum.

Mereka berjalan di sepanjang pesisir pantai sambil menikmati indahnya pemandangan di sana. Lalu Shinta mengambil sebuah ranting pohon yang tergeletak di tepi pantai, lalu menuliskan sesuatu di atas pasir. ‘Shinta & Jeremy were here’. Jeremy tersenyum melihatnya.

Setelah puas menikmati pemandangan pantai, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju Central Park. Central Park adalah taman yang luas dan sangat indah. Banyak orang yang mengadakan piknik keluarga di sana.

“Kamu pernah piknik di taman seperti ini?” tanya Jeremy sambil memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Shinta menggeleng pelan.

Well, ayo berpiknik.” ajak Jeremy sambil menarik tangan Shinta.

“Loh, bukannya perlu persiapan, ya? Kita kan gak ada bawa peralatan piknik?” tanya Shinta kebingungan.

“Siapa bilang?” Jeremy menarik Shinta ke atas bukit di dekat taman itu.

Mereka berhenti di bawah pohon yang rindang, di sana telah disiapkan peralatan piknik. Sebuah tikar tebentang luas dengan keranjang yang berisi makanan di atasnya.

Wow, kamu yang menyiapkan semua ini? How?” tanya Shinta.

“Di sini ada layanan buat menyiapkan peralatan piknik.” jawab Jeremy. Mereka pun duduk di atas tikar dan menikmati makanan yang telah disediakan.

Dari atas sana, pemandangan sunset yang indah itu terlihat lebih jelas. Jeremy sedang menikmati pemandangan di sekitarnya, lalu pandangannya terhenti pada sebuah stand gulali.

By the way, kamu pernah makan gulali?” tanya Jeremy tiba-tiba.

“Belum. Apa itu?” tanya Shinta polos.

“Aku beliin deh, tuh ada standnya di sana. Tunggu bentar, ya.” Jeremy beranjak dari tempat duduknya menuju stand gulali tersebut.

Shinta mengangguk lalu menyandarkan tubuhnya pada pohon di belakangnya dan memejamkan mata. Jeremy pun membeli dua batang gulali lalu kembali ke tempat Shinta berada. Sesampainya di sana, ia melihat Shinta sedang bersandar pada sebuah pohon, ia memejamkan mata dengan senyuman di wajahnya.

‘Apa dia sedang tidur?’ pikir Jeremy.

Ia pun duduk di sebelah Shinta, lalu menemukan sebuah pesawat kertas yang terletak di atas tangan Shinta. Dengan ragu, Jeremy mengambil pesawat kertas itu lalu membukanya. Isinya adalah sebuah pesan.

Dear Jeremy,

Mungkin ini adalah surat kedua yang kamu terima dariku dalam bentuk pesawat kertas, tetapi kali ini, surat ini untukmu. Tepat sebulan sebelum kita bertemu, dokter yang merawatku mengatakan bahwa hidupku sudah tidak lama lagi, sekitar satu bulan dari hari itu. Jadi pada hari dimana kita bertemu, saat aku sedang duduk di atas atap rumahku, aku sedang menanti ajalku. Tetapi, ajalku tidak kunjung tiba. Maka, aku memutuskan untuk menulis surat pada Tuhan, saat itu aku sudah tidak tahan lagi, jika Tuhan tidak segera mengakhirinya, aku akan mengakhirinya sendiri.

Aku sudah hampir melompat dari atap rumahku, ketika kamu menghentikanku dan mengembalikan surat itu. Aku pikir itu adalah tanda bahwa Tuhan tidak akan mengabulkan permintaanku. Rupanya aku salah. Tuhan memang tidak langsung membuat penyakitku sirna, tetapi ia mengirimmu padaku untuk membantuku menikmati sisa-sisa hidupku. 3 hari Ia tambahkan untukku, itu cukup bagiku, walau aku berharap aku dapat memperpanjangnya.

Selama 16 tahun aku hidup, hanya 3 hari itulah yang paling berkesan di hatiku. Bersamamu, penyakit itu terasa sirna walaupun ia masih ada. Thanks for everything, Jer. I’ll always remember you. The time that we spent together was priceless. I wish I could get it back to you, but I coudn’t. I could only wish you luck and love. Setelah ini, tetap jalani dan nikmati hidupmu, ya.

 

                                                                                                            Love,

         Shinta

Jeremy terpaku dan menjatuhkan surat itu. Ia memandang Shinta selama beberapa saat, lalu mengecek nafas dan detak jantungnya.

Oh no, you can’t leave me now, Shinta!’ seru Jeremy dalam hati, lalu memeluk Shinta dengan erat. Air mata mengalir deras di pipinya.

Jeremy tidak menyangka bahwa waktunya bersama Shinta akan berlalu begitu cepat dan sangat singkat. Jika ia mengetahuinya dari awal, ia akan membuat hari-hari terakhir itu lebih spesial. Setidaknya ia dapat mengucapkan selamat tinggal secara langsung, bukan melalui paper plane.

Dunia Kelabu

Posted: March 12, 2013 in Short Stories
Tags: ,

[COPYRIGHTED!]

“Hei, Jimmy! Udah berapa ratus kali gue bilang, jangan buang sampah sembarangan! Jangan mentang-mentang ada yang piket, lo seenaknya buang sampah sembarangan di sini. Pungut!” bentak Cherri, si seksi kebersihan yang sok bersih.

“Ah, bising! Terserah gue dong mau buang sampah dimana,” makiku.

Aku memang tidak pernah peduli dengan lingkungan sekitarku. Bagiku, bumi ini memang sudah rusak dan tidak ada gunanya lagi untuk dipulihkan. Toh nantinya bumi ini akan kiamat, jadi untuk apa peduli.

Bel pulang berbunyi, semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Aku berjalan kaki menuju rumah seperti biasa. Tiba-tiba, aku mendengar ada suara familiar yang meneriakkan namaku.

“Jimmy!”  teriak suara itu.

Dari kejauhan, terlihat sesosok gadis mungil yang sedang berlari ke arahku. Rambut hitamnya yang panjang dikuncir ekor kuda. Ia menggendong ransel kecil berwarna hijau dan melambai-lambaikan selembar kertas.

Ah, Cherri. Mau apa sih dia? Aku malas berurusan dengannya, jadi aku pun terus berjalan dan pura-pura tidak mendengarnya.

“Jimmy!” teriak Cherri sekali lagi dengan suara khasnya yang tinggi, sambil berusaha meraih pundakku.

Aku pun terpaksa berhenti dan menanggapinya. “Ada apa?” tanyaku sinis.

“Ini!” Ia menyodorkan selembar kertas padaku. “Itu brosur seminar. Gue rasa lo perlu ikut seminar itu,” ujarnya.

Aku pun melirik tulisan yang tertera pada secarik kertas itu. ‘Membasmi Musuh Dunia’.

“Tentang apa ini?” tanyaku.

“Ada deh, pokoknya datang aja. Tempat dan waktunya udah tertera di sana. See ya.” Ia pun beranjak pergi.

Aku memandangi selembar kertas itu. Ah, siapapun tahu aku tidak akan datang. Aku meremas brosur itu dan melemparnya ke sembarang tempat.

Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Pagi yang indah, udara yang segar, kicauan burung yang memecah keheningan pagi, langit yang biru, sang matahari pagi yang baru saja beranjak dari singgasananya, jejeran pohon yang rindang di sepanjang jalan, orang-orang yang berlalu lalang. Ah, suasana pagi yang selalu kunikmati. Aku memasuki gerbang sekolah dan menyusuri jalan setapak menuju gedung sekolahku. Bunga-bunga indah menghiasi taman sekolah, warna-warninya memperindah suasana.

Aku berhenti di ambang pintu kelas, lalu melihat ke sekeliling. Kelasku terlihat seperti biasa – lantai dan papan tulis yang masih bersih, meja dan kursi yang tersusun rapi, pot-pot bunga yang berjejeran di depan kelas, segala perabot kelas yang terletak pada tempatnya dan terlihat mengkilap, suasana yang nyaman untuk belajar.

Bel masuk pun berbunyi dan semua siswa beranjak memasuki kelas. Aku menyiapkan buku-buku dan alat tulis yang dibutuhkan dan siap untuk memulai kegiatan belajar mengajar hari ini. Kegiatan belajar mengajar pun berjalan seperti biasa.

Jarum jam menunjukkan pukul 1 siang, saatnya untuk pulang. Aku mengemas barang-barangku dan bergegas pulang. Sesampainya di rumah, aku melakukan hal-hal yang biasa lakukan, seperti makan, mandi, menyusun buku untuk esok hari, dan mengerjakan pekerjaan rumah.

Tiba-tiba, bel pintu rumahku berbunyi. Aku segera membukakan pintu. Ternyata, yang datang adalah Cherri, mengenakan terusan berwarna ungu muda, dengan bando yang menghiasi rambutnya dan sepatu sutra yang membaluti kaki mungilnya.

“Loh, Cher? Ngapain lo ke sini?” tanyaku kebingungan. Tidak biasanya Cherri berpenampilan seperti ini. Biasanya ia tidak pernah memedulikan penampilannya.

“Lo lupa, ya? Hari ini jam 6 kan ada seminar yang kemarin gue kasih tau. Jadi pergi, kan? Ayo siap-siap, terus kita berangkat,” ujarnya bersemangat.

Butuh beberapa detik bagiku untuk mencerna kata-katanya. “Loh, loh, loh? Sejak kapan gue bilang gue mau ikut? Ogah ah, gue ada banyak kerjaan.” tolakku.

“Ah, ayolah. Kan jarang-jarang kita pergi bareng.” Ia pun menarik-narik bajuku dan menatapku dengan pandangan persuasif.

“Iya, iya, gue ikut. Gue siap-siap dulu. Lo masuk dan duduk aja dulu. Mau minum apa?” tanyaku basa-basi, berusaha sopan, tetapi sepertinya gagal.

“Nggak usahlah, habis lo siap-siap kita langsung berangkat,” jawabnya.

Aku pun masuk ke kamarku dan mengambil kemeja lengan pendek dan celana panjang terbagusku dan mengganti pakaian. Beberapa menit kemudian, aku sudah selesai bersiap-siap dan kami pun segera berangkat. Sesampainya di tempat tujuan, beberapa orang yang sudah sampai di sana menyambut kami – lebih tepatnya, menyambut Cherri. Rupanya seminar ini adalah acara gereja Cherri yang memang terbuka untuk semua orang. Cherri pun berbaur dengan beberapa kenalannya dan memperkenalkanku kepada mereka.

Gerejanya cukup besar dan nyaman, full AC, ada banyak kursi yang tersusun rapi, proyektor dan laptop yang siap digunakan untuk seminar, spanduk besar yang bertuliskan judul seminar tersebut, dan beberapa pernak-pernik berbau rohani yang menghiasi sekeliling gedung gereja.

Selang beberapa menit, seminar tersebut pun dimulai. Pembicaranya masih muda, pria yang berusia sekitar 20-25 tahun, tubuhnya tinggi dan tegap, rambutnya tersisir rapi, mengenakan jas hitam yang terlihat masih baru, senyumnya yang ramah dan suaranya yang lantang membuat para pendengar bersemangat untuk mendengarnya.

“Selamat sore, saudara-saudari yang saya hormati. Terima kasih atas kehadiran saudara sekalian. Seminar pada sore ini akan membahas tentang bagaimana cara kita membasmi musuh dunia. Kata ‘musuh dunia’ memiliki banyak makna. Tetapi, masalah terbesar yang sedang dihadapi oleh dunia ini adalah polusi. Polusi ada banyak macam, contohnya polusi udara, tanah, air, dan sebagainya. Hampir semua hal di dunia ini telah terkontaminasi oleh polusi.

Pernahkah Anda bayangkan, apa yang akan terjadi 10 tahun lagi, bila kita sebagai penghuni dunia yang bertanggung jawab atas bumi ini, tidak peduli terhadap polusi dan membiarkannya begitu saja? Mungkin pohon-pohon yang rindang akan digantikan oleh tumpukan-tumpukan sampah yang berbau busuk. Atau mungkin udara segar yang kita hirup setiap pagi akan digantikan oleh bau asap yang menyesakkan dada. Kicauan burung akan digantikan oleh dengungan knalpot kendaraan-kendaraan bermotor. Langit yang biru akan berubah warna menjadi abu-abu karena diselimuti oleh gumpalan asap. Matahari tidak akan terlihat lagi, tidak akan ada hari cerah yang menyenangkan lagi. Pernahkah terbayangkan oleh Anda?

Mungkin terlintas di benak Anda bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. Tetapi, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Bila kita terus membiarkan polusi di bumi ini merajalela, tentu polusi itu akan membludak dan merusak bumi ini. Maka dari itu, kita harus menghentikannya.”

Ya, ya, ya. Semua orang juga sudah tahu itu, gerutuku dalam hati. Aku paling tidak suka membahas hal-hal seperti ini. Semua itu hanyalah omong kosong yang selalu menjadi motto banyak orang. Go Green, Save the Earth, bla bla bla. Aku sampai bosan mendengarnya. Kata-kata itu hanya sekadar keluar dari mulut, tetapi tidak benar-benar diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jika benar-benar diterapkan pun, tidak akan memberi dampak yang besar, toh masih banyak orang lain yang terus mencemari bumi ini.

Jarum jam seakan-akan sudah sangat lelah untuk terus bergerak, sehingga waktu berlalu dengan sangat lambat. 2 jam yang membosankan itu pun akhirnya berakhir. Seminar tersebut ditutup dengan hidangan ramah tamah.

“Ayo dimakan, Jim, jangan malu-malu,” ujar Cherri.

Aku pun mencicipi beberapa jenis makanan, lalu pamit pulang. Sesampainya di rumah, jarum jam rumahku telah menunjukkan pukul 9 malam. Aku pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk tidur. Sungguh hari yang melelahkan. Aku pun berbaring dan segera terlelap.

Aku melihat cahaya putih yang sangat terang menyinari kamarku. Tidak seperti biasanya, matahari bersinar sangat terik hari ini. Sepertinya matahari telah bertumbuh dua kali lipat dari ukuran semula. Tiba-tiba aku teringat, sudah jam berapa sekarang? Mengapa hari sudah terang begini? Aku pun segera membuka mataku dan melirik jam. Oh, untunglah, ternyata baru pukul 6 pagi. Aku pun bergegas bangun, membereskan tempat tidur, menggosok gigi, mandi, mengenakan seragamku, sarapan, dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Aku mengenakan sepatu sekolahku dan beranjak pergi.

Begitu aku membuka pintu, pemandangan pertama yang tertangkap mataku membuatku terpana. Benda-benda di sekitarku tidak terlihat jelas, seperti diselimuti oleh kabut yang tebal. Yang terlihat hanyalah warna abu-abu dimana-mana. Aku menghirup nafas, dan yang terhirup bukanlah udara yang segar, tetapi asap yang menyengat paru-paruku dan bau busuk sampah. Aku pun berjalan perlahan, berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi.

Aku menyusuri jalan yang biasa kulalui, tetapi jalan itu tidak terlihat familiar, sehingga aku pun ragu. Namun, tidak ada jalan lain yang mengarah ke sekolahku, jadi aku yakin aku menyusuri jalan yang tepat. Tidak ada lagi pohon-pohon rindang di sepanjang jalan itu, melainkan tumpukan-tumpukan sampah yang menggunung di sepanjang jalan, sungguh bau dan menjijikkan. Selama 15 tahun aku tinggal di pemukiman ini, baru pertama kali aku melihat lingkungan ini begitu kotor. Ada apa gerangan?

Kicauan burung tidak lagi terdengar, yang kudengar hanyalah dengungan mesin mobil dan motor yang berlalu lalang. Biasanya jalan-jalan di sekitar rumahku sepi, tidak pernah sepadat ini. Aku memasuki gerbang sekolah dan menyusuri jalan setapak menuju gedung sekolahku. Terlihat tanaman-tanaman yang layu di taman sekolah dan sampah yang bertebaran di sekelilingnya. Seperti habis hujan sampah aja, batinku.

Sesampainya di ambang pintu kelas, pemandangan tidak indah itu pun berlanjut. Kelasku yang biasanya bersih cemerlang, sekarang terlihat seperti gudang tua. Lantainya diselimuti oleh debu yang tebal, seperti tidak pernah dibersihkan selama 1 abad. Papan tulisnya pun berubah warna dari putih mengkilap menjadi kuning kecoklatan. Bunga-bunga di dalam pot-pot yang berjejeran di depan kelas layu, tidak terurus. Segala perabot di kelasku kotor dan penuh debu. Apa Cherri buta? Biasanya ia tidak akan pernah membiarkan satu titik debu pun mengotori kelas ini, tetapi mengapa ia membiarkan kelas kami menjadi sekotor ini?

Aku pun menghampiri teman-temanku dan menanyakan apa yang terjadi.

“Loh, nggak salah nih? Biasanya lo yang paling nggak peduli sama lingkungan, kok sekarang malah lo yang sibuk dan prihatin?” tanya Cherri dengan nada menyindir.

“Lo nggak baca berita? Polusi di bumi ini udah merajalela, nggak tertangani lagi. Ada terlalu banyak sampah, asap dan debu dimana-mana. Benar apa kata lo selama ini, emang nggak ada gunanya lagi mengatasi polusi di bumi ini. Bumi udah nggak terpulihkan. Semua orang angkat tangan mengenai hal ini,” ujar Sonia, si juara kelas.

Apa yang terjadi? Mengapa semua orang yang biasanya sangat peduli dengan lingkungan sekarang menjadi acuh tak acuh seperti ini? Apa telah terjadi ledakan bom dahsyat yang mengeluarkan asap yang menyelimuti bumi ini, dan meracuni pikiran-pikiran manusia sehingga mereka tidak peduli lagi terhadap habitatnya sendiri? Atau ada sebuah meteor yang sangat besar yang menghantam dunia ini sehingga terbalik seratus delapan puluh derajat? Aku terus berpikir keras mengenai apa yang menyebabkan semua hal buruk ini. Apa yang terlewatkan olehku?

Perjalanan pulang pergi yang selama ini selalu kunikmati, hari ini terasa sangat berbeda. Cahaya matahari semakin menyengat kulitku. Aku pun berlari menuju rumah – tidak seperti biasanya. Biasanya aku berjalan santai sambil menikmati lingkungan sekitarku yang indah. Tetapi tidak ada lagi yang dapat kunikmati, semuanya sirna begitu saja. Aku memang tidak peduli pada lingkunganku, tetapi itu bukan berarti aku tidak suka menikmati lingkunganku yang asri.

Sesampainya di rumah, aku segera menyalakan televisi dan komputerku bersamaan. Seraya aku mencari tahu apa yang terjadi melalui internet, aku juga menonton berita-berita yang ditayangkan televisi. Aku menggonta-ganti chanel di televisi dan hampir semua berita membahas hal yang sama. Informasi yang kudapat dari internet juga tidak jauh berbeda. ‘Pemerintah dan masyarakat angkat tangan dalam hal menangani polusi yang melanda bumi ini. Program Go Green gagal total.’

Tiba-tiba saja, polusi benar-benar merajalela dan menghancurkan bumi ini. Aku tidak mengerti, mengapa semuanya terjadi secara tiba-tiba seperti ini. Kemarin masih marak-maraknya program go green dan segala bentuk upaya untuk memberantas polusi, sedangkan hari ini, semuanya terhapus begitu saja tanpa alasan.

Hari aneh itu pun berlalu begitu saja. Aku tidak mendapat jawaban sedikit pun tentang apa yang sebenarnya terjadi. Sungguh hari yang membingungkan dan melelahkan. Aku pun beristirahat. Aku berharap semua ini hanyalah mimpi buruk dan akan segera berakhir setelah aku memejamkan mata.

Pagi pun tiba dan aku segera membuka mataku dan melongok ke jendela. Pemandangan yang kulihat masih sama dengan pemandangan yang kemarin pagi kulihat. Semuanya masih diselimuti oleh kabut yang tebal. Tetapi hari ini jauh lebih sepi dibandingkan kemarin. Kapan mimpi buruk ini akan berakhir? Hal buruk apa lagi yang akan terjadi hari ini?

Aku pun beranjak dari tempat tidur dengan lesu. Untungnya hari ini adalah hari Minggu. Aku tidak berniat untuk pergi kemana-mana. Kurasa aku akan menghabiskan hari ini di rumah. Aku pun menyalakan televisi.

“Berita aktual. Kabut asap yang dikeluarkan oleh industri-industri dan juga kendaraan bermotor telah menyelimuti sepertiga kota ini. Gas beracun yang terkandung dalam asap tersebut telah meracuni banyak orang sehingga beberapa diantaranya tewas karena tidak tahan oleh gas tersebut.” Reporter melaporkan berita di televisi.

Oh, tidak. Semua hal benar-benar bertambah buruk. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tahu mimpi buruk ini pasti dapat diakhiri. Aku pun berlari keluar. Sepanjang perjalanan, yang kulihat hanyalah asap, tumpukan sampah yang meninggi, beberapa orang yang lesu sedang berjalan, beberapa diantaranya terlihat hampir pingsan. Bumiku yang permai telah berubah menjadi dunia kelabu yang tak berujung.

Aku terus berlari sambil melihat sekelilingku. Hatiku sakit bagaikan tertusuk panah saat melihat semua pemandangan indah yang selama ini kunikmati hancur dan sirna begitu saja. Selama ini aku salah total. Seharusnya aku mendengar semua perkataan orang-orang yang mengingatkanku betapa pentingnya rasa peduli pada bumi ini. Pola pikirku yang terlalu sempit telah membutakan mata tubuh dan mata hatiku. Andai aku dapat memutar kembali waktu, jelas aku tidak akan bertingkah seperti dulu. Aku akan mendukung segala jenis upaya untuk memulihkan bumi ini. Memang bumi ini akhirnya akan kiamat, tetapi bukan berarti kita tidak perlu merawatnya. Aku tidak ingin bumi ini kiamat dengan keadaan seperti ini

Perasaan menyesal memenuhi pikiranku dan air mata pun menggenang di pelupuk mataku. Aku segera menghapus air mata itu. Menangis tidak menyelesaikan masalah. Mengapa rasa menyesal selalu datang terlambat? Rasa bersalah menggerakkanku untuk terus berlari dan memacu otakku untuk terus berpikir. Aku berlari tanpa tujuan. Amarah, rasa bersalah dan menyesal, semua bercampur aduk di hatiku. Semua ini menguncangku dengan sangat dahsyat, dan membuatku ingin meneriakkan seluruh isi hatiku.

Dari kejauhan aku melihat sekerumunan orang di pinggir jalan. Aku pun berhenti untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata sedang dilakukan pengambilan gambar untuk berita di televisi. Seorang reporter paruh baya yang berpakaian rapi, berdiri di tengah-tengah kerumunan tersebut, menghadap kamera sambil memegang mike, sedang melaporkan keadaan lingkungan di sekitarnya. Hanya berita buruklah yang keluar dari mulut reporter tersebut. Dan para manusia yang mengelilinginya tidak melakukan apapun, hanya berdiri mematung dan mendengar kabar buruk tersebut. Kurasa semua orang tahu apa yang sedang dan akan terjadi, tetapi mengapa mereka hanya duduk diam tanpa berbuat apa-apa? Tiba-tiba, sekelebat ide muncul di benakku. Aku pun segera berlari menuju kerumunan tersebut dan merampas mike dari tangan si reporter.

“Perhatian semua, saya Jimmy dari SMA Jalan Mas. Maaf bila saya menyela berita hari ini, tetapi saya rasa hal ini jauh lebih penting untuk didengar oleh Anda semua. Dulu saya tidak pernah peduli pada bumi ini. Saya pikir, bumi ini telah rusak dan tidak dapat dipulihkan lagi. Saya menganggap bahwa dunia ini akan kiamat juga pada akhirnya, jadi tidak ada gunanya memulihkan bumi ini. Tetapi saya salah total. Sekarang setelah semua hal buruk ini terjadi, barulah saya sadar betapa pentingnya memelihara bumi ini. Saya salah karena telah menganggap remeh bumi ini. Bumi adalah pemberian dari Tuhan sebagai habitat kita yang seharusnya kita lindungi dan pelihara.

Memang sekarang sepertinya sudah terlambat untuk mengubah mimpi buruk ini, tetapi kita tidak bisa hanya duduk diam dan menuggu kiamat tiba. Kita diciptakan Tuhan dengan akal sehat dan hati, maka gunakanlah. Mungkin kelihatannya sudah tidak ada jalan lagi, tapi saya percaya pasti akan terpikir jalan keluar yang tepat. Kita hanya perlu bersatu dan memikirkannya bersama-sama.”

Semua orang terpaku dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Akhirnya, seorang ibu yang terlihat lesu, memberi tanggapan. “Percuma saja, semua itu sia-sia. Apa yang dapat kita lakukan? Semuanya telah hancur lebur seperti ini. Lebih baik kita menunggu ajal datang menjemput daripada memperjuangkan sesuatu yang tidak mungkin.”

Semua orang mulai mengangguk-angguk dan membenarkan perkataan ibu itu. Beberapa orang berbisik-bisik, dan kerumunan itu mulai bubar, meninggalkanku sendiri, berdiri terpaku. Aku tidak percaya betapa tidak pedulinya mereka pada habitat mereka sendiri. Mengapa saat dunia masih baik-baik saja, mereka dengan tidak jenuh-jenuhnya menyorak-nyorakkan motto-motto untuk memulihkan bumi ini, tetapi saat bumi sudah menjadi seperti ini, mereka malah tidak peduli? Rasa geram pun menggetarkan seluruh tubuhku.

“Argh!” Aku berteriak sekuat tenaga sampai akhirnya aku merasa kehabisan oksigen dan semuanya terlihat kabur dan menjadi  gelap gulita.

Aku perlahan-lahan membuka mataku. Aneh, tiba-tiba saja aku sudah terbaring di tempat tidurku dan agak sulit bagiku untuk mengingat apa yang terjadi kemarin. Aku beranjak dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Ketika aku membuka pintu, pemandangan pertama yang kulihat mengagetkanku. Aku melihat ada sesuatu yang menjulang tinggi seperti gunung di depan rumahku. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas. Ada beberapa benda yang bulat dan berambut yang menghiasi benda itu, terlihat seperti batok kelapa. Tetapi ada yang berambut panjang, dan semakin dilihat semakin menyerupai kepala manusia. Aku pun berjalan mendekati benda itu dengan sikap waspada. Benda itu mulai terlihat jelas. Aku melihat benda yang menyerupai tangan dan kaki manusia menghiasi benda itu. Dan akhirnya aku menyadari bahwa benda yang menjulang tinggi itu adalah tumpukan manusia, atau lebih tepatnya tumpukan MAYAT.

Tiba-tiba aku membuka mataku dan sekujur tubuhku berkeringat. Aku sudah kembali ke kamarku. Mungkinkah semua hal buruk itu hanyalah mimpi? Dan hal buruk mana yang merupakan mimpi, tumpukan mayat mengerikan itu atau seluruh hal buruk yang terjadi? Aku segera beranjak menuju pintu dan membukanya. Ternyata pemandangan yang kulihat adalah pemandangan yang sama seperti yang biasa kulihat sebelumnya. Tumpukan-tumpukan sampah di sepanjang jalan telah sirna digantikan oleh pohon-pohon rindang yang memang tidak berpindah kemana-mana, tetap berdiri kokoh menghiasi sepanjang jalan setapak itu. Semua kabut dan asap telah tersapu bersih oleh udara segar yang menyejukkan. Matahari bersinar cerah, menerangi langit biru yang dihiasi awan-awan yang putih seperti kapas, sungguh pemandangan yang sangat kurindukan. Burung-burung berkicauan menyambut hari indah yang kurindukan ini.

Phew, semua hal buruk itu hanyalah mimpi. Semuanya telah kembali seperti semula. Mimpi buruk semalam merupakan mimpi terburuk yang pernah kualami. Tetapi aku bersyukur karena mimpi itu telah menyadarkanku betapa pentingnya memelihara bumi ini.

“AKU BERJANJI AKU TIDAK AKAN MEREMEHKANMU LAGI, BUMIKU TERCINTA! MULAI SEKARANG AKU AKAN MEMELIHARAMU DENGAN BAIK!” teriakku, meluapkan seluruh rasa legaku. Dan aku takkan membiarkanmu berubah menjadi dunia kelabu itu lagi, tambahku dalam hati.

He Knows The Best

Posted: December 26, 2012 in Short Stories
Tags: , ,

[COPYRIGHTED!]

​“Mi, temen-temenku udah pada punya Samsung Galaxy Mini nih. Aku juga pengen, tapi pengen yang lebih keren, biar mereka nggak bisa pamer-pamer lagi. Beliin ya, Mi?” bujuk Sarah dengan wajah memelas.

​“Oke deh, Sayang. Nanti Mami beliin iPhone 5 aja biar lebih keren,” sambut mama Sarah enteng.

​“Asik! Makasih, Mi!” seru Sarah kegirangan.

​Sarah adalah anak tunggal dari keluarga yang kaya raya, jadi tidak heran jika kedua orangtuanya memanjakannya dan memenuhi semua keinginannya. Papanya adalah seorang pengusaha yang sangat sukses, sedangkan mamanya adalah ibu rumah tangga yang gaul, suka berfoya-foya, dan selalu memanjakan anaknya.

​Keesokan harinya, pada jam istirahat, Sarah pun memamerkan iPhone terbarunya pada teman-temannya. Semua temannya memuji-mujinya, kecuali Ranee. Sarah dan Ranee memang saling tidak menyukai satu sama lain sejak mereka berdua bertemu. Orangtua mereka sama-sama kaya dan mereka saling memamerkan kekayaan mereka. Tentu saja Sarah merasa sangat puas karena handphonenya lebih canggih daripada handphone Ranee. Ia pun tersenyum penuh kemenangan.

​Bel pulang sekolah berbunyi, Sarah pun mengemas barang-barangnya dan bergegas pulang. Sesampainya di rumah, ia menemukan mamanya sedang berjalan mondar-mandir dengan wajah cemas.

​“Mi, ada apa? Kok kayaknya cemas banget?“ tanya Sarah.

​“Ayo coba duduk dulu. Ada yang Papi dan Mami mau omongin,” ujar mama Sarah.

​Mereka bertiga pun duduk di sofa. Suasana menjadi tegang seketika. Sarah meremas-remas jarinya dengan gelisah.

​“Gini, Sayang.” Papa Sarah pun memulai pembicaraan. “Keadaan ekonomi kita sedang memburuk, perusahaan Papi bangkrut karena ditipu puluhan juta, jadi untuk menutupi keadaan ekonomi kita yang sedang krisis ini, kita terpaksa menjual mobil dan rumah kita dan pindah ke rumah yang lebih dekat dengan sekolah biar Sarah bisa jalan kaki ke sekolah. Terus ada beberapa barang Sarah yang harus dijual karena kita sudah krisis uang. Papi dan Mami minta tolong, dalam keadaan seperti ini, kita harus mulai berhemat. Maafkan Papi, ya.”

​Sarah tidak bisa memercayai apa yang barusan ia dengar. “What?! Kok bisa begitu sih, Pi? Aku nggak mau ah, kalo barang-barangku dijual, apalagi jalan kaki ke sekolah. Nanti pasti temen-temen pada ngejekin aku. Argh! Nggak mau, nggak mau, nggak mau!” teriak Sarah histeris, lalu berlari ke kamarnya dan membanting pintu.

​Papa Sarah mendesah sedih. Mama Sarah pun mencoba menenangkannya. “Mungkin dia masih shock, Pi. Biar Mami coba tenangin dia dulu, ya.”

​Sarah tidak tahu apa yang harus ia perbuat. Perasaannya campur aduk. Ia tidak pernah menyangka ini semua akan terjadi. Ia tidak rela menjual barang-barangnya. Ia langsung membayangkan bagaimana Ranee dan teman-temannya akan mengejeknya karena keadaannya yang seperti ini. Ia tidak mau itu terjadi.

​Mama Sarah mengetuk pintu kamar Sarah. “Sayang, ini Mami. Bukain pintunya, ya?” bujuk mama Sarah.

​Sarah membukakan pintu kamarnya dan membiarkan mamanya masuk.

​“Sayang, kamu nggak apa-apa?” tanya mama Sarah prihatin.

​“Gimana mau nggak apa-apa, Mi? Aku bakal diejek habis-habisan sama Ranee kalo kayak gini keadaannya.” keluh Sarah.

​“Wah, wah. Dengerin mami ya, Sayang. Sekarang kamu jangan pikirin diri kamu sendiri dulu. Pikirin keadaan keluarga kita sekarang. Kalo kamu nggak mau berkorban sedikit, kita nggak akan bisa bertahan hidup. Kita nggak akan punya cukup uang buat makan dan nyekolahin kamu. Apa kamu lebih pilih nggak makan dan nggak sekolah dibanding jual barang-barang kamu?” tanya mama Sarah.

​“Nggak sih, Mi,” jawab Sarah.

​“Nah, makanya itu, berkorbanlah dulu. Semuanya pasti akan membaik kok di kemudian hari. Bukan kamu aja kok yang berkorban, Mami juga harus jual semua baju-baju dan perhiasan-perhiasan Mami. Ini semua kan buat kebaikan kita semua.”

​Sarah terdiam sejenak, lalu akhirnya menjawab. “Oke deh, Mi. Aku rela buat jual semua barang-barangku.”

​“Nah gitu dong. Ini baru anak Mami,” ujar mama Sarah sambil mengelus pelan kepala anak sematawayangnya itu.

​Sarah pun terpaksa menjual barang-barang kesayangannya, termasuk iPhone barunya. Keluarganya pindah ke rumah yang agak kecil, jauh berbeda dengan rumahnya yang lama. Selain itu, Sarah juga harus berjalan kaki ke sekolah. Dan seperti yang ia duga, setelah Ranee mengetahui keadaannya, ia pun mengejek-ejek Sarah.

​“Eh, ini kan yang kemarin baru mamer-mamerin iPhone barunya itu. Tapi kok sekarang dia jalan kaki ke sekolah? Dah sekarat loe sekarang?” ejek Ranee diikuti tawaan teman-temannya.

​Sarah hanya bisa diam dan mengepal tangannya kuat-kuat. Ia pun masuk ke kelas dan tidak menghiraukan ejekan Ranee. Teman-temannya mulai menjauhi dia, termasuk teman-teman dekatnya. Ia baru sadar, selama ini teman-temannya hanya mendekatinya karena ia kaya. Ia pun memutuskan untuk diam dan menyendiri.

​Hari-hari pun berlalu dengan penuh kesedihan. Sarah harus terbiasa dengan hidup barunya yang sulit. Ia mulai membenci hidupnya dan mengutuki hidupnya sendiri. Ia malah menyalahkan papanya, dengan berpikiran bahwa papanya tidak dapat mengurus perusahaannya dengan baik, sehingga perusahaan itu bangkrut. Ia juga mengutuki teman-teman yang mengkhianati dan mengejeknya. Nilai-nilainya menurun dan ia pun mulai kehilangan semangat hidup.

​Tak terasa, sudah sebulan penuh ia menjalani hari-hari hampanya, dan tak disangka, setelah bencana buruk itu menimpa dirinya, ada bencana selanjutnya yang menyusul. Suatu hari pada jam pelajaran Fisika, Sarah dipanggil ke ruang guru. Ia pun memasuki ruang guru dan menemukan mamanya sedang duduk di sana dengan wajah murung.

​“Ada apa, Mi?” tanya Sarah.

​“Papi masuk rumah sakit, Sayang. Ayo cepat bereskan buku-bukumu dan kita langsung ke rumah sakit,” ujar mama Sarah cemas.

​Sarah menuruti perkataan mamanya dan mereka pun berangkat menuju rumah sakit.

​“Papi kok bisa masuk rumah sakit, Mi?” tanya Sarah ketika sedang dalam perjalanan.

​“Bank tempat kita menabung dijebol orang, jadi semua uang kita yang ada di sana dicuri. Saking kagetnya, Papi kena serangan jantung. Sekarang dokter sedang menangani Papi di rumah sakit.”

​Sarah tidak sanggup berkata-kata. Ia tidak pernah mengira kejadian seburuk ini akan menimpanya. Sesampainya di rumah sakit, mama Sarah pun segera menemui dokter yang memeriksa keadaan papa Sarah.

​“Dok, bagaimana keadaan suami saya?” tanya mama Sarah dengan nada khawatir.

​“Maafkan kami, Bu. Kami sudah mencoba semua yang kami bisa, tetapi karena serangan yang mendadak dan akibat stress yang berkelanjutan, suami Anda sudah tidak dapat tertolong lagi. Maafkan kami, Bu. Kami turut berduka cita,” ujar sang dokter dengan wajah penuh kekecewaan.

​Kabar pahit itu menohok hati Sarah dan mamanya dengan sangat keras. Air mata pun mengalir pada kedua pipi mereka. Sarah tidak menyangka, papa yang ia salahkan selama ini, telah meninggalkan ia dan mamanya untuk selama-lamanya. Rasa bersalah dan penyesalan pun menyerbu benaknya. Sekarang ia harus menjalani hidupnya hanya berdua dengan mamanya. Ia tidak tahu hal buruk apa lagi yang akan menimpanya.

​Keesokan harinya, Sarah masuk sekolah dengan wajah murung. Semua temannya pun memerhatikannya. Seharian itu Sarah hanya duduk diam, tak bersuara. Ia masih sangat terpukul oleh kejadian kemarin. Ia tidak tahu bagaimana ia akan menjalani hidupnya yang sulit ini. Ia mulai menyalahkan Tuhan atas segalanya. Ia merasa ditinggalkan.

​Setelah ditimpa berbagai bencana itu, mama Sarah harus membuka sebuah restoran kecil dan setelah pulang sekolah, Sarah harus membantu mamanya di restoran tersebut. Sejak hidupnya mulai sulit, Sarah harus belajar mandiri. Ia tidak bisa bermanja-manja lagi. Ia mulai rindu dengan hidupnya yang dulu, tetapi ia tidak dapat melakukan apa-apa. Ia pun menjalani hari-harinya dengan berat hati.

​Ujian semester pun berlalu, saatnya pengambilan rapor, untungnya Sarah naik kelas walau dengan nilai yang pas-pasan. Sejak segala bencana buruk itu menimpanya, nilai Sarah menurun drastis. Ranee meraih juara 1 di kelasnya dan mulai memamerkan nilai-nilainya. Sarah hanya bisa diam, tidak ada hal lain yang dapat ia perbuat.

Class meeting pun berlangsung. Biasanya saat-saat itu menjadi sarana bagi teman-teman Sarah untuk membawa barang-barang mahal mereka dan memamerkannya, terutama Ranee. Sarah tidak dapat memamerkan apa-apa lagi, melihat keadaannya yang sudah sangat berbeda. Ia hanya bisa diam melihat teman-temannya yang sedang memamerkan barang-barang mereka. Ia sempat berharap, suatu saat nanti, mereka akan merasakan apa yang ia rasakan.

​“Ah, enaknya kalo lagi class meeting, bebas, bisa main handphone, bisa online. Kayaknya semua teman pada sibuk main handphone, ya. Ups, kecuali satu orang,” ejek Ranee sambil melirik ke arah Sarah.

​Sarah hanya bisa diam dan menahan amarahnya.

​“Duh, low bat lagi, untung bawa charger. Cas di kelas aja, deh.” ujar Ranee. Ia pun mencolokkan charger handphonenya ke salah satu colokan di kelasnya.

​“Pengumuman, diharapkan semua murid berkumpul di lapangan, segera!” ujar seorang guru melalui speaker.

​Semua murid beranjak pergi menuju lapangan. Ranee pun ikut meninggalkan kelas dan melupakan handphonenya yang sedang dicas. Kebetulan Sarah adalah orang terakhir yang meninggalkan kelas. Mereka semua pun berkumpul di lapangan. Setelah mendengar pengumuman dari kepala sekolah, mereka pun kembali ke kelas. Tiba-tiba, Ranee berteriak dengan panik.

​“Argh, handphone gue hilang!” teriak Ranee.

​Suasana di kelas pun mulai heboh. Seorang guru yang mendengar kabar tersebut segera menuju kelas mereka.

​“Aduh, ada apa ini pada heboh-heboh? Ranee, handphone kamu kok bisa hilang? Terakhir kamu taruh dimana?” tanya guru tersebut.

​“Tadi baterainya low, Bu, jadi saya cas di kelas. Pas mau kumpul di lapangan, saya lupa bawa handphone saya, dan pas balik, handphonenya udah hilang,” jawab Ranee dengan wajah cemas.

​“Wah, kamu kok bisa teledor gitu sih? Ayo, siapa yang terakhir kali meninggalkan kelas?” tanya guru tersebut dengan tegas.

​Sarah merasa bahwa dirinyalah yang terakhir kali meninggalkan kelas. Ia pun mengangkat tangannya. ​“Saya, Bu. Tapi, saya sama sekali tidak tahu tentang handphonenya Ranee,” jawab Sarah.

​“Alah, bohong, pasti dia Bu, pelakunya. Dia kan udah sekarat sekarang, pasti pengen dong punya barang-barang mahal lagi, jadi pasti dia yang nyolong handphone saya,” tuduh Ranee.

​“Eh, jangan sembarang ngomong loe!” bentak Sarah.

​“Sudah, sudah. Ayo kita lakukan pemeriksaan. Semuanya, bawa tas kalian ke depan!” perintah guru tersebut.

​Semua murid menuruti perintah sang guru dan pemeriksaan pun dilaksanakan. Saat memeriksa tas Sarah, guru tersebut menemukan sebuah handphone.

​“Nah, itu dia handphone saya, Bu. Benar kan apa yang saya bilang, Sarah yang ambil. Dasar tukang nyuri!” bentak Ranee.

​“Wah, jujur, Bu. Saya sama sekali tidak tahu kenapa handphone Ranee bisa ada di tas saya.” Sarah membela dirinya.

​“Alah, mana ada maling yang mau ngaku,” sindir Ranee.

​“Ayo Sarah, ikut Ibu ke kantor, kita bicarakan di sana,” ujar guru tersebut.

​Mama Sarah pun ditelepon oleh sekolah dan segera memenuhi panggilan tersebut.

​“Ada apa ini?” tanya mama Sarah begitu ia sampai di ruang kepala sekolah.

​“Silahkan duduk, Bu.” ujar Bapak Kepala Sekolah. “Anak Ibu dituduh mencuri handphone temannya.” Bapak Kepala sekolah menjelaskan.

​“Saya tidak melakukannya, Pak. Pasti ada yang sengaja memfitnah saya,” bela Sarah.

​“Iya, Pak. Tidak mungkin anak saya melakukan hal seperti ini,” sahut mama Sarah.

​“Tetapi tidak ada bukti bahwa kamu difitnah. Semua bukti mendukung fakta bahwa kamu melakukannya. Maka dari itu, saya terpaksa menjatuhkan hukuman skors 3 minggu. Maaf, peraturan harus dilaksanakan,” ujar Bapak Kepala Sekolah tegas.

​Sarah merasa sedih dan juga kesal, karena ia 100% yakin bahwa hal itu bukanlah perbuatannya. Namun apa boleh buat, mau tidak mau ia harus menerima hukuman itu. Ia dan mamanya pun beranjak keluar dari kantor kepala sekolah.

​Ranee dan teman-temannya yang menguping dari luar tersenyum puas melihat Sarah dihukum. Ternyata, setelah Sarah keluar dari kelas, seorang teman Ranee sengaja menaruh handphone Ranee ke dalam tas Sarah dan memfitnah Sarah yang mencurinya. Sarah tidak tahu apa-apa tentang hal itu.

​Sarah pun menjalankan masa skorsnya dengan berat hati. Ia mulai berpikir, ia memang diciptakan untuk menderita. Terkadang, saat memikirkan berbagai masalah yang ia jalani, ia menangis tiada henti. Seperti suatu malam, ia menangis sepanjang malam hingga ia terlelap.

​“Sarah.” Terdengar suara yang familiar yang memanggil namanya.

​Sarah pun menoleh ke belakang dan melihat papanya sedang berdiri di belakangnya. ​“Papi?” tanya Sarah kebingungan.

​“Halo, Sarah. Apa kabarmu?” tanya papa Sarah.

​“Kurang baik, Pi. Banyak banget bencana yang menimpa aku. Mulai dari perusahaan Papi yang bangkrut, rumah dan mobil dijual, pindah ke rumah kecil, jual barang-barang mahal, jalan kaki ke sekolah, diejek dan dijauhin teman, tabungan dijebol, Papi meninggal, harus buka restoran dan bantu Mami, dituduh nyuri handphone teman, dan diskors 3 minggu. What’s next?” Sarah menceritakan semuanya dengan air mata berlinang.

​“Wah, wah. Memang banyak bencana yang menimpa kita, tapi di balik semua itu, pasti ada hikmahnya kok, Sarah. Tuhan lakukan ini semua pasti ada maksudnya. Coba Sarah ingat-ingat lagi hidup lama Sarah yang serba enak. Sarah manja, sombong, dan nggak mandiri. Tapi sejak semua bencana ini terjadi, Sarah mau nggak mau harus belajar ini dan itu. Sarah harus belajar mandiri dan nggak manja lagi. Mungkin Sarah nggak kaya, tapi dengan begitu Sarah jadi nggak sombong lagi. Mungkin Sarah diejek, dijauhin dan difitnah teman, tapi dengan begitu Sarah belajar untuk sabar dan akhirnya Sarah sadar, ada beberapa teman yang selama ini dekat sama Sarah hanya karena Sarah kaya. Anggap saja semua bencana ini adalah proses pembentukan kepribadian Sarah. Tuhan mau Sarah berubah, maka dari itu berubahlah Nak, jalani hidupmu ini dengan penuh rasa syukur. Semua pasti akan membaik kok, Sayang. Kamu hanya butuh bersabar.” Papa Sarah menasihati Sarah.

​Setelah mendengar nasihat papanya itu, mata hati Sarah pun terbuka. Semua yang papa Sarah katakan benar. Semua bencana ini adalah pelajaran buat Sarah.

​Tiba-tiba terdengar suara alarm Sarah berbunyi. Sarah terbangun dari mimpinya dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa semua beban di bahunya telah terangkat. Ia pun menceritakan mimpinya itu pada mamanya.

​“Wah, yang Papi katakan itu benar sekali, Sayang. Mungkin Tuhan pakai Papi dalam mimpi Sarah buat sadarin Sarah,” ujar mama Sarah.

​“Betul tuh, Mi. Mulai sekarang aku janji aku bakal berubah. Aku mau jalani semua ini dengan semangat dan penuh rasa syukur!” seru Sarah antusias.

​3 minggu pun berlalu, masa skors Sarah pun berakhir. Ia kembali masuk sekolah dengan semangat. Ada beberapa teman Sarah yang menyindir dan mengejeknya, tetapi ia tidak memedulikannya. Ia tetap menjalani hidupnya dengan semangat. Ia rajin belajar, rajin pergi ke gereja, membantu mamanya dengan senang hati, banyak berdoa dan mengubah segala perilaku buruknya. Ia menjalani hidupnya dengan penuh syukur dan semua yang papanya katakan dalam mimpinya benar, semuanya membaik. Bisnis mamanya sukses dan keadaan ekonomi keluarga Sarah membaik.

​Tak terasa, 2 tahun berlalu, Sarah pun lulus SMA dengan nilai tertinggi di sekolahnya. Ia pun menerima beasiswa dari universitas impiannya. Sarah semakin percaya, bahwa dibalik semua bencana, Tuhan pasti punya rencana. He knows the best.