Archive for the ‘Travel Notes’ Category

Tour Guide Dadakan

Posted: August 12, 2013 in Travel Notes
Tags: , ,

[COPYRIGHTED!]

Joining  : Giveaway

Held by : Clara Canceriana

Status    : Didn’t win

(P.S: I modified it a bit) 

Libur lebaran tahun 2013 lalu, kakak perempuanku pulang ke Batam dengan suaminya. Aku dan keluargaku pun harus menjadi tour guide dadakan dan membawa mereka jalan-jalan. Batam terletak tidak jauh dari Singapura dan sering kedatangan banyak turis, jadi Batam punya beberapa tempat wisata. Beberapa di antaranya:

1. Jembatan Barelang

Jembatan ini adalah ikon kota Batam. Totalnya ada 6 jembatan yang menghubungkan Batam ke pulau-pulau lain (info selengkapnya, silahkan tanya tante Wiki di sini).

Sekarang, jembatannya tinggal 5, karena jembatan keenam sudah roboh (katanya). Nah, yang menarik dari jembatan ini hanya satu: bentuknya yang mirip jembatan San Francicso (imho!). Tapi, cuma jembatan pertama saja yang didesain begitu. Ini foto jembatan pertamanya:

Barelang

(Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Jembatan_Barelang)

2. Kebun Buah Naga

Kebun Buah Naga ini terletak beberapa kilometer setelah jembatan 4 Barelang. Di sana, kita bisa melihat pohon-pohon buah naga, dan minum jusnya. Kadang disediakan puding dan keripiknya juga.

3. Restoran Sea Food

Batam yang dikelilingi laut ini jelas dilengkapi berbagai restoran sea food. Restoran favoritku: Golden Prawn, tapi makanan di Sri Rejeki juga enak dan terkenal.

4. Ocarina

Bisa dibilang, Ocarina itu ‘Dufan’nya Batam. Ada berbagai macam permainan, pantai, dan juga tempat penyewaan sepeda.

5. Resorts

Batam memiliki banyak pantai, membuatnya sering dikunjungi turis. Jadi, ada banyak resort yang dibangun di sekitar pantai, untuk tempat wisata bagi para turis. Ada banyak sekali resort di Batam, semuanya memiliki keunggulan masing-masing. Rata-rata resort-resort ini memiliki villa, pantai, kolam renang, dan fasilitas permainan air. Ada juga yang memiliki lapangan golf, tempat spa, restoran, dll.

6.  Mall

Ya, ujung-ujungnya pasti ke tempat yang satu ini. Batam memiliki beberapa mall, tapi yang paling diminati adalah Mega Mall, Batam City Square, Nagoya Hill, dan Kepri Mall. Ada juga Nagoya City Walk. Bukan mall, hanya toko-toko yang berjejeran dengan jalan setapak yang menghubungkannya. Suasananya seperti mall di luar negeri. Ada Mr Pancake di sana. Aku benar-benar suka interiornya. Homey, cozy, dan makanannya juga mantap!

Semoga setelah membaca postingan ini, kalian berniat mengunjungi Batam. Visit Batam! 😀

[COPYRIGHTED!]

Joining  : Giveaway

Held by : Winnaddict (twitter fanbase of Winna Efendi)

Status    : Win

(P.S: I modified it a bit)

Bulan Agustus tahun 2013, teman kakak perempuanku menikah di Singapura. Berhubung negara singa itu letaknya dekat dengan kotaku, maka kakakku dan suaminya, yang menjadi bride’s maid dan best man di acara pernikahan teman mereka itu, memutuskan untuk mampir ke kotaku. Pas sekali, kedatangan mereka berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri – alias lebaran, jadi kami memutuskan untuk sekalian mudik ke Pontianak. Tidak bisa dibilang mudik, sih, karena kami tidak merayakan lebaran, dan Pontianak bukan benar-benar “kampung” kami. Aku hanya pernah tinggal di sana selama 2 tahun. Tapi ya, anggap saja ini mudik.

Ada banyak saudara kami yang menetap di Pontianak, dan makam papaku juga berada di sana, jadi ya, sekalian, mumpung sekolah sedang libur. Jadilah aku dan keluargaku (Mama, adik, kakak dan kakak iparku) berangkat ke Pontianak. Kami numpang di rumah kakek-nenekku (orangtua Almarhum Papa) – yang dulunya sempat kutinggali semasa kelas 3-4 SD. Setiap kali pulang, kami selalu menginap di sini.

Begitu sampai, kami langsung dibawa ke sebuah rumah makan yang khas dengan nasi plus berbagai macam dagingnya.

Nasi Ayam

Kota ini memang khas dengan berbagai macam makanan lezat. Ada kakek dan nenekku, tante (kakak perempuan Papa), suaminya, dan anak laki-lakinya (sepupuku). Setelah makan siang, kami diantar pulang untuk mandi dan beristirahat. Pukul enam, kami kembali dijemput untuk makan malam bersama. Ada adik dari kakekku beserta istrinya, juga sepupuku yang lain. Kami makan di rumah makan lain, dengan meja makan bulat dan kursi-kursi yang mengitarinya.

Kakakku melanjutkan kuliah di Australia, lalu menikah dengan orang sana, dan sudah hamil. Semua orang merasa senang dengan kabar baik ini. Kami sekeluarga memang sering pulang ke Pontianak untuk ziarah makam Papa dan mengunjungi saudara, tapi ini kali pertama kakak iparku ikut pulang. Hampir semua anggota keluargaku tidak bisa berbahasa Inggris. Bahkan, rata-rata dari kami menggunakan bahasa Khek. Ini membuat kakak iparku kebingungan ketika mendengar percakapan kami. Terkadang, kakakku menerjemahkan untuknya.

Kedatangan bule di keluarga kami mengubah suasana. Bukan menjadi canggung, justru menjadi semakin ceria. Karena budaya keluargaku cukup terpengaruh keluarga kakek dan nenekku, maka kami (aku dan saudara-saudaraku) diajari untuk memanggil kerabat yang lebih tua dengan sebutan dalam bahasa Khek. Contohnya, kakekku dipanggil akung, dan nenekku dipanggil apho. Kakek dan nenekku pun meminta kakak iparku untuk memanggil mereka dengan sebutan yang sama.

Lucunya, beberapa kata dalam bahasa Khek sangat pas di lidah kakak iparku. Ia bisa menyebutkannya dengan pelafalan dan intonasi yang tepat. Namun, terkadang ia kesulitan dan salah sebut. Itu menjadi bahan tertawaan kami. Selain itu, setiap kerabat memiliki nama panggilan yang berbeda-beda, semua dalam bahasa Khek, sehingga kakak iparku kesulitan dalam mengingatnya. Kadang, ada yang sengaja mengecohnya, sehingga ia jadi salah panggil.

Kakakku juga mengajarkan suaminya untuk memanggil kerabat setiap kali bertemu, dan ia sungguh melakukannya. Kami tidak pernah lelah memintanya untuk melakukannya, dan selalu terasa lucu bila sebutan-sebutan itu keluar dari mulutnya. Akulturasi benar-benar menyenangkan.

Ada satu hal yang paling lucu. Di rumah kakek dan nenekku, kamar mandinya menggunakan bak, bukan shower ataupun bathtub. Jadi, air untuk mandi ditampung dalam satu bak penampungan, lalu diambil dengan gayung. Kakak iparku tidak tahu tentang cara mandi seperti itu. Ia kira, bak itu untuk berendam, dan ia hampir saja mencemplungkan diri ke dalamnya. Untung kakakku tahu, lalu mengajarinya.

Kami semua senang dengan kehadiran kakak iparku itu. Kasihan juga, sih, melihatnya dibully terus. Tapi, sepertinya ia tidak keberatan. Aku rasa ia menikmati kunjungannya. Ia bilang, ia suka dengan makanan-makanan yang ada di sini.

Di hari kedua, kami bangun cukup pagi, dan berangkat ke makam Papa pukul 6, supaya tidak panas. Setelah itu, kami pergi sarapan bubur. Siangnya, kami jalan-jalan ke mall dan makan siang di Pizza Hut, lalu makan chai kue di sebuah rumah makan khusus. Kakakku juga pesan es. Yum!

Chai Kue

Es

 

 

 

 

 

Memang tidak banyak yang bisa kami lakukan di kota ini. Kegiatan kami hanya berkisar pada makan, makan, dan makan. Oke, ada jjalan-jalan ke mall dan ngumpul-ngumpul juga. Dan hal-hal simpel itulah yang semakin mendekatkan kami.

Jarak kadang memisahkan kami cukup lama, jadi, ada banyak hal yang dapat kami ceritakan. Hubungan kami jadi terasa lebih dekat sekarang. Aku sangat menikmati kebersamaan kami. Saat-saat seperti ini sangat layak untuk dinikmati dan dihargai, karena tidak ada yang tahu apakah ini yang terakhir atau bukan.

Di hari ketiga, Mama dan kerabat lainnya pergi sarapan entah kemana, dan membelikan aku dan adikku nasi kari (dibawa pulang). Nasi karinya enak! Lalu, setelah mandi dan sebagainya, kami mengunjungi rumah adik kakekku, yang dipanggil Nyi Ku Pho dan suaminya Nyi Ku Chong Kung. Namanya lebih sulit dan panjang, membuat kakak iparku susah payah menyebutnya – terutama Nyi Ku Chong Kung. Awalnya, kakak iparku salah sebut, jadi Nyi Chu Khong Kung. Lucu sekali!

Sebelumnya, kakak iparku juga belajar berhitung dalam bahasa Khek. Satu sampai sepuluh: Jit Nyi Sam Si Eng Liuk Chit Pat Qiu Sip. Ia susah payah menyebut dan menghafalkannya. Kurasa sampai sekarang, ia masih belum hafal. Ia paling ingat nomor lima: Eng. Dan yang paling sulit disebut nomor sembilan: Qiu.

Lalu, kakak iparku juga pernah menirukan kami yang berbicara dalam bahasa Khek dan Indonesia. Ia berbicara dalam bahasa Inggris dengan nada yang dibuat-buat seperti orang Cina, dan mencampurnya dengan kata-kata yang ia sebut sembarangan, membuatnya menjadi sangat lucu. Ia juga bisa menirukan kelakukan kakakku dengan sangat mirip, saking miripnya, kami sampai tertawa terbahak-bahak. Kakakku selalu memarahinya jika ia menaruh benda apapun terlalu ujung. Ia menirukan kakakku yang marah-marah, dan itu benar-benar lucu. Seharusnya, aku merekamnya, ya. Sayang sekali.

Setelah itu, kami mengunjungi Ligo – supermarket favoritku sejak kecil. Di sana, kami belanja beberapa makanan, dan kakakku membeli beberapa keperluan hamilnya. Kakak iparku membeli ikat pinggang baru. Lucunya, saat ia ingin mencobanya, ia tidak tahu bagaimana cara memakainya, sampai-sampai pelanggan lain yang melihatnya tertawa dan bilang, “Wah, bule nggak bisa pakai ikat pinggang!”, lalu mengajarkan kakak iparku cara memakainya. Setelah selesai, kakak iparku mengucapkan terima kasih dalam bahasa Khek, padahal orang yang membantunya bukan orang Khek (pribumi). Sungguh lucu!

Setelah asyik belanja di Ligo, kami pulang dan makan siang di rumah. Nenekku memasak sayur-sayur favorit kami. Malamnya, kami makan malam di rumah makan yang sama dengan malam pertama, karena rumah makan lain tutup, dan rumah makan itu yang paling enak di antara yang lain.

Sepulang dari makan malam, kami mampir ke rumah adik kakekku yang lain (yeah, kakekku punya banyak saudara). Di sana, kami juga hanya mengobrol. Saat sudah mau pulang, kakak iparku menyalami semua orang dan berterima kasih, sambil menyebut panggilan tiap kerabat satu per satu. Saat sampai giliranku, ia menyebut nama Cinaku dengan tepat, padahal awalnya ia salah sebut (ia memanggilku “Keng-Keng”, dan aku hampir mati tertawa karenanya).

Kupikir ia tidak akan salah menyebut nama adikku, karena awalnya ia dapat menyebutnya dengan tepat, Tapi siapa sangka, ia malah memanggil adikku “Keng-Keng”, dan tidak merasa salah sama sekali. Kami semua tertawa terbahak-bahak. Keesokan harinya, hari Minggu (hari keempat lebaran), kami pulang. Empat hari itu adalah empat hari mudik yang paling menyenangkan dalam hidupku 😀

Aku ingin mengupload foto-foto kami selama di sana, tapi semuanya ada di kamera kakakku, jadi menyusul, ya! 😀

Anyway, untuk mengikuti giveaway ini, butuh beberapa perjuangan dan kreatifitas. Kenapa? Selama pulkam, tidak ada laptop dan internet. Hanya ada paket internet dari HP, itupun dengan pulsa pas-pasan (lupa isi pulsa sebelum berangkat. Tsk!). Tadinya, aku sudah mau menyerah, tapi ternyata, otakku yang lemot ini bisa bekerja dengan baik.

Androidku punya aplikasi Polaris Office, jadi bisa mengetik di Android dan disave dalam bentuk file Ms Word. Lalu, ada paket internet yang bisa dipakai untuk kirim email. Jadilah aku mengetik cerita ini di Android, lalu dikirim via Bluetooth ke HPku yang berkoneksi internet, dan mengirim email ke admin lewat HP itu. Aku bahkan tidak tahu jumlah kata yang kutulis, karena Polaris Office tidak punya fasilitas word count.

Untungnya perjuanganku itu tidak sia-sia. Aku menang! Sama sekali di luar prediksi. Senangnya! 😀

Yeeha!

Hadiahnya? Aku memilih novel London: Angel by Windry Ramadhina.

London: Angel

Sumber: Goodreads

What a lovely Lebaran!

[COPYRIGHTED!]

December 2010, my family and I had a family trip to Hong Kong and China. One of my favorite places was Windows of The World in Shenzhen, China. It has mini versions of some famous tourist attractions in the world! I took a lot of photographs there, and thought “Hey! Why don’t I put these photos together into a single video?” And that’s what I did.

Here is the video, originally by me. I hope I didn’t get the names wrong. Pardon me if it isn’t good. I’m still an amateur. But I hope you enjoy it! Happy watching! 😀

[COPYRIGHTED!]

Joining  : Giveaway

Held by : Bali Bids Aloha

Status    : Win

(P.S: I modified it a bit) 

Saat aku berumur 9 tahun, keluargaku pindah ke ibukota. Selama ini, Papa dan Mama selalu sibuk mengurus toko, sehingga kami jarang jalan-jalan sekeluarga. Sejak pindah ke Jakarta, Papa dan Mama memiliki pekerjaan baru yang tidak terlalu menyita waktu mereka, sehingga kami akhirnya bisa pergi liburan sekeluarga ke Bali, untuk yang pertama kalinya. Aku sangat senang. Walaupun sudah beberapa tahun berlalu sejak momen itu, aku masih bisa merasakan semangat dan rasa bahagia yang kurasakan saat itu.

Kami sekeluarga pun berangkat ke Bali dengan pesawat Garuda yang besar. Ada televisi di dalamnya, dengan 3 baris kursi. Untuk zamanku dulu, naik pesawat seperti itu saja sudah bisa membuatku mimpi indah setiap malam (P.S aku masih kecil, jadi maklum). Dan dulu itu, masih disediakan makanan yang enak dari pesawat (tidak seperti sekarang, roti pun belum tentu dikasih :p). Sayangnya, kakakku tiba-tiba demam saat itu. Setelah dites, ternyata temperaturnya 40 derajat. Jelas kami semua jadi khawatir dan sempat berpikir untuk meminta pesawatnya mendarat di kota terdekat atau bagaimana. Tapi akhirnya awak pesawat hanya memberikan obat, air hangat, dan selimut. Kakakku makan dan meminum obat, lalu tidur. Syukurlah temperaturnya menurun, dan saat kami tiba, ia sudah tidak apa-apa.

Kami menginap di hotel (aku lupa namanya, yang jelas dekat dengan Pantai Kuta). Sejak kecil, aku selalu menyukai hotel. Kalau tidak salah, itu hotel bintang lima, sehingga fasilitasnya sangat bagus dan memuaskan. Adikku mabuk darat, tapi belakangan sudah membaik, asalkan naik mobil kami (merek APV) dan duduk di depan. Akhirnya, kami menyewa mobil APV selama berlibur di sana. Kami pun membawa CD-CD yang biasa kami dengarkan di mobil dan memasangnya.

Kami juga menyewa tour guide yang dengan cekatannya membawa kami mengunjungi berbagai tempat wisata di Bali. Jujur saja, aku tidak ingat tempat-tempat yang kami kunjungi. Setidaknya ada ke pantai, lalu menyusuri jalan-jalan di Bali, toko-tokonya, dan menikmati berbagai pemandangan indah di sana. Aku sekeluarga benar-benar menikmati liburan kami itu. Kami berlibur selama 3 hari 2 malam. Tidak lama, memang, tapi aku benar-benar puas.

Dan siapa sangka, liburan sekeluarga pertama kami itu akan menjadi yang terakhir, karena, setahun (sepertinya) kemudian, Papa meninggal dunia, jadi, setiap kali liburan sekeluarga, sudah tidak sama lagi, karena tidak ada Papa 😦