Masih dalam rangka memperingati HUT ke-10 GagasMedia. Para penulis dan editor pada nulis tentang kenangan mereka bersama Gagas, jadi aku tergiur untuk ikutan.

unforgotTEN GagasMedia

Sumber: https://www.facebook.com/gagasmediafanpage

Well, aku emang bukan (ralat: belum) menjadi salah satu kru GagasMedia, tapi nggak apa-apa, dong, ikutan? Pembaca kan, juga termasuk keluarga Gagas *wink-wink*

Aku udah suka baca novel sejak SMP, tapi dulu masih lugu (sekarang juga, sih *pasang innocent face*), jadi nggak kenal sama penerbit ini itu. Taunya cuma baca aja. Sejak SMA, saat mimpiuntuk menjadi penulis mendatangiku (halah!), aku mulai kenal sama berbagai penerbit, salah satunya GagasMedia. Novel Gagas yang pertama kali kubaca itu ‘Infinitely Yours‘nya kak Orizuka (see my review here), aku baca di tahun 2011/2012). Sejak itu, aku jadi #GagasAddict!

Aku selalu suka sama novel-novelnya Gagas, mulai dari cover dan desain layoutnya yang selalu memukau, blurbnya yang selalu menggugah hati, sampai aksesoris lainnya, dan tentu saja isinya. Genre novel-novel Gagas juga sesuai banget sama genreku!

Itu kesanku sebagai pembaca. Kalau sebagai calon penulis? Karna masih pemula, dan juga masih muda (ehem), jadi, aku masih ngincer penerbit-penerbit yang biasa-biasa dulu (Gagas itu luar biasa!). Selain itu, aku juga milih penerbit yang nerima via email, karna aku nggak dikasih ngeprint banyak-banyak sama Mama (habisin tinta, katanya. Dan aku belum 100% direstui dengan mimpiku ini. Hiks!), belum lagi kirim pos, yang mungkin ongkirnya mahal karna aku tinggal di kota yang jauh. Nah, karna Gagas nggak nerima naskah via email, dan juga terlalu tinggi untuk diraih, Gagas belum masuk ke list penerbit incaranku.

Tadinya aku pikir, yang penting diterbitin dulu. Urusan sama siapa, nggak peduli. Karna sekali aku berhasil tembus untuk diterbitin, kali aja bakal banyak tawaran dari penerbit lain. Tapi, ada satu kerinduan (tsah!) buat nerbitin novel di Gagas. Siapa sih yang nggak mau? Jadi, doain aku ya, Gas. Nanti kalau aku udah bisa biayain diriku sendiri, baru aku ngeprint naskahku sendiri dan kirim ke Gagas (lebih bagus lagi kalo bisa nganterin langsung ke kantor. Amin!).

Aku pengen (pake ‘banget’) jadi salah satu dari tim Gagas. It must feel good to be one! Apalagi setelah baca kisahnya penulis-penulis dan editor Gagas yang mengharukan itu (hiks!). Mohon doanya, ya, Gas!

Advertisements

Masih dalam rangka HUT ke-10 GagasMedia. Aku menangin kuis ‘10 Things I Hope for GagasMedia‘, dan ini hadiahnya.

Paket

10 buku GagasMedia!

10 Buku dari Gagas

Which are:

1. Derita Mahasiswa by Mbah Derma

2. Dreadfully Deadly History by Clive Gifford

Dreadfully Deadly History

3. Dear You by Moammar Emka

Dear You

4. All You Can Eat by Christian Simamora

All You Can Eat

5. Buku Pintar Cewek Juara by Zivanna Letisha

Buku Pintar Cewek Juara

6. The Truth About Forever by Orizuka

Truth About Forever cover baru

Read. My review is here. I even wrote a fan fiction of it.

7. Restart by Nina Ardianti

Restart

8. Always Laila by Andi Eriawan

Always Laila

Read. My review is here.

9. Murjangkung by A.S. Laksana

Murjangkung

10. A Cat In My Eyes by Fahd Djibran

A Cat In My Eyes

All the book’s covers are from Goodreads.

Rupanya, ini buku pilihannya kak Landy Achmad dan Gita Ramayudha, para layouter GagasMedia. Ada beberapa buku yang diganti sih, karena pilihan mereka buku lama. Nih, aku dapat surat cinta dari mereka:

Surat

Ah, senangnya. Makasih banyak ya, Gagas sayang! Makin sukses!

See what I wrote to win this quiz

Masih dalam rangka HUT ke-10 GagasMedia, ada kuis “10 Things I Hope for GagasMedia‘. Jadi, pembaca disuruh menulis 10 harapan buat penerbit kece ini. Yang menang bakal dikasih 10 buku dari Gagas.

unforgotTEN GagasMedia

Sumber: https://www.facebook.com/gagasmediafanpage

Di bawah ini, 10 harapanku buat GagasMedia:

1. Yang paling paling paling aku harapkan itu, Gagas mau nerima naskah fiksi via email. Aku tau, ada banyak kekurangannya kalo dikirim via email. Tapi, bagi aku yang masih kecil (17 tahun masih kecil, kan?), aku masih bergantung banget sama orangtua, dan takut kena marah kalo print naskah begitu banyak dan harus kirim via pos, lagi (ongkir dari sini mahal, aku jauh sih). I know, ini kedengarannya egois, tapi kan, aku cuma berharap. Boleh, dong? Nggak harus dikabulin, kok (kalo dikabulin, syukur).

2. Kendala di nomor satu nggak akan bikin aku nyerah jadi penulis. Habis ini, aku kuliah, terus kerja. Jadi, aku udah bisa biayain diri sendiri, buat print naskah dan kirim pos ke Gagas. Ini harapan keduaku: bisa jadi salah satu penulis Gagas! Well, lebih tepatnya, pengen bisa bergabung dengan keluarga besar GagasMedia. Doain ya, Gas. And wait for me!

3. Makin, makin, deh. Makin sukses, makin kece, makin hebat. Desain layoutnya makin kece. Covernya makin unik. Isinya makin badai. Tapi, sedikit berharap harganya nggak makin mahal. Lol.

4. Makin sering ngadain lomba menulis dan kuis berhadiah, ya, Gas. Walaupun aku belum tentu menang, tapi cukup bisa ikutan aja udah bikin aku senang!

5. Makin sering ngadain talkshow, bedah buku, dll, tapi jangan di daerah Jawa aja dong, sekali-sekali keliling Indonesia (baca: ke kotakujuga). Dan sering-sering ngadain di TV atau radio, biar aku bisa nonton/denger. Hal-hal kecil kayak gini aja udah bisa bikin aku bahagia banget, loh, Gas. So, yeah, if it’s not much to ask

6. Buka kantor cabang di kotaku! (abaikan aja ini. Aku lagi berkhayal tingkat tinggi. Tapi, kalau nggak keberatan, sih, boleh dipertimbangkan dulu…)

7. Semoga ke depannya Gagas juga dikenal di negara-negara lain, terus novel-novelnya diterjemahin ke bahasa lain dan diekspor ke luar negeri. Kan keren! (aku bakal kuliah ke luar negeri, dan bakal rindu setengah mati sama Gagas)

8. Aku liat kebanyakan novel Gagas genrenya romance, dan lebih sering digemari kaum perempuan (Gagas, si pujaan para wanita). Bukan hal yang buruk sih (toh, aku juga perempuan pemuja Gagas), cuman, yah, ada baiknya kalau Gagas ambil genre lain, biar kaum pria juga melirik (ya, cowok emang jarang sih yang suka baca, tapi bisa dipaksa #eh). Kan, udah mulai tuh, ada yang genre horor, dll. Udah bagus, jadinya lebih luas cakupannya. Habis ini, mulai ambil yang genre misteri atau fantasi, biar makin keren! Banyak cowok yang lebih suka genre begituan (teman-temanku sih begitu). Nah, jadi nanti Gagas bukan cuma pujaan wanita, tapi dambaan pria juga. Makin top!

9. Di kotaku cuma ada satu Gramedia, sisanya Karisma semua. Aku agak bingung kenapa buku Gagas cuma ada di Gramedia, nggak ada di Karisma (kotaku). Apa Karismanya yang payah atau gimana, ya? Jadi ya, aku berharap, habis ini makin gampang nemuin buku-buku Gagas di toko buku mana pun.

10. Wah, terakhir nih… Aku bingung mau nulis apa lagi. Hmm, oh! Semoga Gagas bisa punya toko buku sendiri. Bukan cuma Toko Buku Gramedia, tapi ada Toko Buku GagasMedia juga. It’ll be cool!

Pengumumannya tanggal 10 Juli 2013, dan…. YUP! AKU MENANG! *tiup terompet* *lempar bunga* *nari-nari* Hadiahnya? 10 buku GagasMedia!

Postingan ini dibuat untuk memperingati HUT ke-10 penerbit favoritku pada tanggal 4 Juli 2013 lalu.

“JULY 4TH!!”

“Apaan sih? Kok heboh banget?” Begitu temanku bertanya ketika aku sedang heboh-hebohnya saat menanti tanggal keramat ini.

FYI, tanggal 4 Juli itu bukan cuma HUT Amerika Serikat aja, tapi ULTAHNYA GAGASMEDIA – yang menurutku lebih penting daripada hari kemerdekaan negara yang nun jauh di sana (walaupun itu my dream country)

Happy 4th of  July

Sumber: http://www.circulonaval.com/Foro/foro_13.htm

Ultah yang keberapa? Yang unforgotTEN! Good one, Gas!

unforgotTEN GagasMedia

Sumber: https://www.facebook.com/gagasmediafanpage

Nggak terasa ya, GagasMedia udah sepuluh tahun menemani para pembacanya. Hiks! *elap ingus*. Nah, atas permintaan kak Mudin Em untuk memeriahkan ultah Gagas yang kesepuluh ini, aku udah memposting tulisan-tulisan yang berhubungan dengan ultah satu dekadenya Gagas ini.

#unforgotTEN

Aku juga udah ngucapin Happy Birthday ke Gagas sepuluh kali via twitter:

10 Birthday Wishes for Gagas

Happy #unforgotTEN birthday, GagasMedia. I love you! You’ll always be in my heart!

Love,

Me

Revanche

Posted: October 27, 2013 in Flash Fictions
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Joining  : Tantangan Nulis Seru 

Held by : nulisseru.com

Status    : Win

“Jangan mendekat!” teriak wanita itu sambil terus melangkah mundur. “Atau aku akan melompat!” ancamnya.

Pria di hadapannya tetap bergerak maju dengan langkah pelan, sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada. “Jangan takut,” ucapnya dengan nada menenangkan, tetapi malah membuat wanita itu semakin panik.

Pria itu melambaikan tangan ke arah pemandangan yang terpampang di belakang si wanita. “Indah, ya? Bukankah kau selalu mengagumi pemandangan ini?”

Pemandangan yang indah itu, dengan kerlap-kerlip lampu yang menghiasi tiap lekuk kota Paris yang tampak mungil, bukannya mengingatkan si pria pada kenangan manis yang terbentuk di menara ini, melainkan kejadian dejavu yang menyakitkan. Di menara yang sama, jam yang sama, tetapi hari yang berbeda. Saat itu, ia juga sedang meyakinkan seseorang untuk tidak melompat dari puncak menara ini.

Sedangkan si wanita, yang ia ingat hanyalah pertemuan sederhana yang tanpa disangka membawa malapetaka padanya.

Hari itu adalah hari yang indah, bahkan hampir menjadi hari terindah dalam hidupnya. Ia akhirnya berhasil mewujudkan mimpinya untuk mengunjungi menara fenomenal ini. Ia naik sampai ke puncak, dan begitu terpesona pada pemandangan indah yang terpampang di hadapannya. Saking terpesonanya, ia tidak sengaja menabrak seorang pria yang sedang menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, seakan-akan pemandangan menakjubkan di hadapannya tidak bernilai sama sekali. 

Beautiful, isn’t it?” komentar wanita itu tanpa berpikir. Ia pun tidak tahu apa yang mendorongnya untuk memulai percakapan. Ia hanya merasa penasaran, mengapa pria itu tidak tampak takjub sama sekali pada pemandangan indah yang disajikan kota Paris.

Pria itu menoleh. “Pemandangan dari atas Arc de Triomphe lebih bagus,” sahutnya datar, membuat lawan bicaranya melongo.

“Tetapi, suasana yang terbentuk di menara ini berbeda. Ini menara cinta, kau tahu? Banyak kisah cinta yang terjalin di sini.” Wanita itu tidak tahu mengapa ia merasa harus membela menara favoritnya ini.

Pria itu masih menatap lawan bicaranya dengan tatapan datar. “Kau tahu, di sini juga sering terjadi kasus bunuh diri.”

Wanita itu mengangkat kedua alis sambil meringis. “Ya, aku pernah mendengarnya.”

“Kita hidup di dunia nyata, bukan di dunia fiksi. Menara ini tidak seindah yang diceritakan oleh dongeng-dongeng,” lanjut pria itu dengan nada dingin, membuat lawan bicaranya meneguk ludah dan menatapnya lekat-lekat.

“K-kau tidak sedang berniat untuk melompat dari sini, kan?” tanya wanita itu takut-takut.

Si pria melirik ke bawah sambil tersenyum samar. “Aku penasaran berapa lama waktu yang kubutuhkan untuk sampai ke bawah,” ujarnya pelan sambil bergerak maju satu langkah, membuatnya berdiri tepat di ujung menara.

Wanita itu membekap mulutnya. “No, no! Jangan melompat!” serunya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, hendak mencari pertolongan. Namun, sedetik kemudian, terdengar suara tawa menggelegar, yang membuat wanita itu kembali menoleh ke arah lawan bicaranya.

“K-kau cuma bercanda, kan?” tanya wanita itu memastikan, sedangkan si lawan bicara masih terkekeh.

Pria itu melangkah ke arah lawan bicaranya, menjauhi ujung menara. “Ayo, akan kutunjukkan padamu kalau pemandangan dari puncak Arc de Triomphe lebih bagus dari ini.”

Saat itu, si wanita tidak tahu apa yang membuatnya menerima ajakan lawan bicaranya. Dan sekarang, ia sangat menyesali keputusannya itu, terlebih karena ia membiarkan pria itu mengantarnya pulang. Kalau ia tahu pria itu akan menculiknya seperti ini, ia tidak akan pernah membiarkan dirinya terlibat dengan pria gila ini.

“Sebenarnya, apa maumu?” tanya si wanita dengan nada sedingin mungkin.

Lawan bicaranya tersenyum misterius. “Siapa namaku?” tanyanya pelan, membuat si wanita mengernyit.

“Arthur. Right?” sahut si wanita ragu.

Pria yang bernama Arthur itu mendengus sinis. “Arthur-what?” tanyanya lagi,

“Kau tidak pernah memberitahu nama belakangmu,” sahut si wanita.

“Baiklah, akan kuberitahu sekarang. Namaku Arthur Clement. Does that ring a bell?”

Kedua mata cokelat wanita itu melebar. “Clement… Are you-”

Yes, I’m Lucas’s brother,” sela Arthur tak sabar.

Ekspresi wanita itu seketika berubah. “Wow, why didn’t you say so? How’s he? Sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya. Tiba-tiba saja dia bilang dia ingin pindah ke Eropa, tapi dia tidak menyebut ke negara mana. Apa dia pindah ke sini?”

“Tiba-tiba saja?” ulang Arthur skeptis. “Bukannya kau tahu jelas kalau dia memutuskan untuk pindah tepat setelah kau menolaknya?”

Wanita itu langsung terdiam. “A-aku… He said he was okay with it. Dia bilang dia mau pindah karena sudah bosan menetap di New York,” ujarnya membela diri.

Arthur mendengus sinis. “Kau ini polos sekali, ya,” komentarnya skeptis.

“K-kalau begitu, dimana dia sekarang?” tanya si wanita, benar-benar penasaran.

Arthur bergerak maju satu langkah, mempersempit jarak di antara kedua insan itu. “Kau ingat percakapan pertama kita di sini?”

Wanita itu mengangguk ragu. Lagi-lagi, pria ini mengganti topik seenaknya, gerutunya dalam hati.

Arthur meraba saku belakang celananya, membuat lawan bicaranya menahan nafas sambil memerhatikan gerak-geriknya lekat-lekat. Sebuntal koran tua terlempar ke arah wanita itu. Tercantum tanggal hari itu, tetapi dengan tahun yang berbeda – tahun lalu.

Wanita itu melirik pria di hadapannya sekilas, lalu memungut koran itu hati-hati. Sedetik kemudian, dahi wanita itu berkerut dalam. Semua tulisan yang tertera di koran itu ditulis dalam bahasa Prancis. Ia tidak mengerti sama sekali. Tetapi, foto yang terpampang besar di halaman pertama menjelaskan segalanya. Foto seorang pria yang sedang berdiri di ujung menara. Wanita itu membekap mulut saat mengenali pria itu.

“Kau tahu apa kata-kata terakhirnya?” tanya Arthur sambil menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.

Lawan bicaranya masih terlalu shock untuk merespon, sementara kenangan pahit itu menyerbu masuk ke dalam benak Arthur.

“Jangan lakukan ini, Lucas. Pikirkan keluargamu. Mom, Dad, aku. Aren’t we more precious than that ungrateful girl?” tanya Arthur dengan nada memelas.

“Kau tidak mengerti, Arthur,” sahut Lucas lesu.

Exactly. Aku tidak mengerti sama sekali. Jadi, jelaskan padaku!”

Lucas mendesah. “Inilah caraku untuk menjelaskannya padamu. Kau tidak tahu betapa aku sangat mencintai gadis itu, dan inilah buktinya.”

Setelah berkata begitu, semuanya bergerak dengan sangat cepat. Tubuh Lucas yang terhuyung ke belakang, Arthur yang berusaha menggapai tangan kakaknya, Lucas yang mengabaikan uluran tangan Arthur, dan tubuhnya yang terjun bebas dengan cepat.

“Ja-jadi, kau ingin membalas dendam?” Suara bergetar wanita di hadapannya mengembalikan kesadaran Arthur. Wanita itu sedang melirik ngeri ke arah benda yang dipegang Arthur.

Arthur tersenyum tipis. “Ah, itu terdengar terlalu kejam. Aku hanya ingin kau tahu betapa kakakku mencintaimu, dan aku ingin kau ikut merasakan apa yang dirasakannya.”

Wanita itu meneguk ludah, lalu memberanikan diri untuk menatap lawan bicaranya tepat di mata. “Kalau begitu, kenapa kau tidak membiarkanku melompat daritadi?”

Arthur tersenyum penuh arti, lalu sedetik kemudian, terdengar suara ledakan, bersamaan dengan terhuyungnya tubuh si wanita ke belakang. Kali ini, Arthur berani menatap tubuh yang berlumuran darah di bagian dada itu terjun bebas, hingga menghilang di balik kegelapan malam.

“Karena aku tidak hanya ingin kau merasakan apa yang kakakku rasakan. Aku ingin kau lebih menderita.”

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku        : Swiss: Little Snow In Zurich

Pengarang        : Alvi Syahrin

Penerbit           : Bukune

Jumlah Halaman  : 308 halaman

Swiss

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Pertemuan antara Yasmine dan Rakel adalah pertemuan yang biasa-biasa saja. Mereka kebetulan sama-sama suka nongkrong di sebuah dermaga, dan selalu bertemu di sana. Namun, mereka tidak pernah menyangka bahwa kisah mereka akan lebih dari itu. Dimulai dari percakapan basa-basi, sampai janji untuk terus bersama.

Awalnya, mereka tidak menyadari ada sesuatu yang lebih besar dari rasa penasaran yang mengikat mereka berdua. Dan ketika akhirnya mereka sadar, semuanya terasa terlambat. Sebenarnya, mereka bisa terus bersama dari awal, namun kebutaan mereka terhadap rasa yang nyata itu membuat mereka harus menemui rintangan demi rintangan.

Saya sama sekali tidak menyangka kalau penulis novel ini adalah seorang laki-laki. Maaf, tapi jujur saja, namanya mirip nama cewek – well, karena ada teman cewek saya yang namanya Alvi, jadi ya, mindset saya langsung mengira Alvi yang ini juga cewek. Tapi, sepertinya saya tidak sendirian dalam hal ini. Gaya penulisannya jelas berbeda dari penulis cewek, tetapi ada unsur-unsur tertentu yang membuat saya terus menganggap kalau ini adalah tulisan cewek (sungguh maaf, Kak!).

Ide ceritanya bisa dibilang sederhana dan umum, namun ada unsur unik dan twistnya sedikit. Tetapi jujur saja, saya tidak begitu tertarik dengan novel yang ini. Settingnya keren di Swiss, tapi entah mengapa saya tidak terlalu merasakannya. Mungkin diksi dan pengembangan karakternya yang kurang, sehingga saya tidak terlalu terjerumus ke dalam cerita. Namun, akurnya cukup bikin gemas juga, sih.

Di novel inilah pertama kalinya saya lebih suka sama tokoh sampingannya daripada tokoh utama. Biasanya, saya tergila-gila sama tokoh utama cowoknya, tapi di novel ini, saya malah cenderung memihak pada tokoh sampingan cowoknya. Mungkin karena dia lebih manis.

Covernya keren, menggambarkan pemandangan Swiss yang bersalju – cocok sekali. Lalu ada bonus bookmark dan postcard yang tidak kalah keren. Novel ini tetap masuk daftar rekomendasi saya, namun kalau harus dikasih bintang, mungkin 3 of 5.

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : London: Angel
Pengarang        : Windry Ramadhina
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman  : 330 halaman

London: Angel

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Menceritakan tentang seorang pemuda bernama Gilang, yang jatuh cinta pada sahabat masa kecilnya, Ning. Namun, sebelum ia sempat menyatakan perasaannya pada Ning, gadis itu sudah pindah ke London untuk berkuliah dan lanjut bekerja. Akhirnya, atas dukungan teman-temannya, Gilang berangkat ke London untuk menemui Ning.

Sesampainya di sana, ia menemukan bahwa Ning sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Gilang memang sengaja tidak memberitahu Ning tentang kedatangannya. Ia ingin membuat kejutan.

Selama menunggu kepulangan Ning, ia bertemu dengan seorang gadis berambut ikal berwarna emas yang sangat cantik bak malaikat. Namun, gadis itu selalu menghilang saat hujan berhenti. Ia meninggalkan payung merahnya begitu saja, dan Gilang pun membawa payung itu pulang. Ia bertemu beberapa kali dengan gadis itu, namun tidak berhasil mendapatkan jawaban mengenai kemisteriusan gadis itu.

Gilang berteman baik dengan Ed – pelayan di motel tempat ia menginap, dan Mister Loweslie – pemilik toko buku di seberang motel. Ia juga bertemu dengan Ayu, gadis pengoleksi buku cetakan pertama yang juga berasal dari Indonesia dan sedang berlibur di London.

Saat Ning pulang, ia benar-benar kaget akan kedatangan sahabatnya itu. Mereka pun menggunakan waktu yang singkat itu – Gilang hanya menetap selama lima hari, sebaik-baiknya. Suatu hari, mereka bertemu dengan seorang seniman yang sangat dikagumi oleh Ning, Finn – begitu Gilang memanggilnya. Gilang menyadari perbedaan pada Ning ketika ia berada di sekitar Finn.

Awalnya Gilang tidak memedulikan itu. Ia tetap menyatakan perasaannya pada Ning. Namun kemudian, saat Ning menerima cintanya, ia malah melepas gadis itu, karena tahu gadis itu mencintai pria lain. Ia tidak mau memaksa gadis itu untuk mencintainya.

Banyak hal yang terjadi selama lima hari itu. Dan payung merah milik gadis berwajah malaikat itu membawa keajaiban cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Mister Loweslie yang akhirnya mendapat cinta dari Madam Maudge, pemilik motel tempat Gilang menginap. Lalu pria yang duduk di sebelah Gilang selama penerbangan ke London, tidak jadi bercerai dengan istrinya. Dan Ning, yang cintanya dibalas oleh Finn.

Sedangkan Gilang? Tanpa ia sangka, ia pun menerima keajaiban cintanya sendiri dari payung merah itu.

Kisah yang menarik, menggabungkan mitos (tentang malaikat yang turun bersama hujan) dan kenyataan. Penuh misteri, tidak tertebak kemana jalan cerita akan membawa kita. Sudut pandang orang pertama – sisi Gilang, sehingga kita bisa mendalami karakternya dengan baik.

Pendeskripsian setting yang luar biasa, membawa kita berkeliling kota London yang lembab. Benar-benar menyenangkan. Kita dapat membayangkan setiap adegan dengan jelas di dalam benak kita. Penggambaran fisik tokoh dan suasana yang terbentuk juga bagus, sehingga segalanya benar-benar terasa nyata.

Konflik yang ada kebanyakan konflik batin, dan rata-rata masalah cinta, namun pengembangannya sangat baik, sehingga tetap terasa fresh. Bisa dibilang kisah ini berakhir bahagia, namun di sisi lain masih menggantung. Saya rasa novel ini masih ada lanjutannya – atau setidaknya masih bisa dilanjutkan menjadi kisah lain.

Saya benar-benar jatuh cinta dengan covernya – berwarna merah dengan tulisan “London” yang terkesan royal. Benar-benar menggugah hati. Intinya, novel ini worth to read. Recommended!

[COPYRIGHTED!]

Sorry it took so long for me to post the second part. I was quite busy here, and I could only write a bit. I hope you enjoy it!

Oh yeah, check out Part 1

Aku menatap orang-orang (oke, maksudku, vampir-vampir) di hadapanku dengan takjub, namun sedikit kecewa. Well, harus kuakui, aku sedikit berharap The Cullens mirip dengan para artis yang memerankan mereka di film. Tapi, aku tahu itu mustahil.

Namun, mereka tetap tampak mengagumkan, mirip dengan yang dideskripsikan oleh Stephenie Meyer di novelnya. Pria berwajah bak bintang film, yang duduk tepat di hadapan Vaughn, dengan rambut pirang sepanjang tengkuk dan tubuh tinggi agak berotot, kukenali sebagai Carlisle Cullen, pemimpin klan ini. Lalu di sebelah kanannya, wanita bertubuh ramping dengan wajah berbentuk hati dan rambut bergelombang berwarna cokelat karamel, itu pasti Esme. She looks really gorgeous.

Pria tinggi lain yang berdiri di ujung sofa, dengan rambut pendek berwarna pirang madu, kuyakini sebagai Jasper Hale. Aku tidak berani menatapnya lama-lama, karena ia sedang menatapku tajam. Wajahnya tampak sangat serius dan sedikit mengerikan. Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita mungil yang bergelayut manja di lengan kirinya. Rambut hitamnya yang pendek mencuat-cuat keluar. Ia terseyum tipis ke arahku, membuatku merasa sedikit lebih baik. Si vampir bertubuh kecil yang mirip peri, Alice.

Pria lain yang menyandarkan tubuh berototnya ke bagian belakang sofa, tepat di belakang Carlisle, sedang tersenyum lebar ke arahku, membuat lesung pipinya muncul, dan memberi kesan polos yang menggemaskan di wajahnya. Padahal, ia pria yang bertubuh paling besar dan paling tinggi, tapi aku tidak merasa takut sama awkali padanya. That’s Emmet!

Wanita yang berdiri tegak di sebelahnya tampak kontras sekali dengan Emmet. Bukan soal warna kulit atau warna rambut (Well, memang sih, warna rambut mereka kontras, Emmet berambut cokelat tua hampir hitam, sedangkan wanita itu berambut panjang bergelombang berwarna pirang), tapi soal ekspresi. Aku mengerti mengapa Jasper dan Rosalie dianggap kembar. Mereka memiliki cukup banyak kesamaan. Warna rambut mereka sama-sama pirang, dan mereka sama-sama sering terlihat serius dan…jutek? Pokoknya aku merasa tidak nyaman jika menatap Rosalie lama-lama. Padahal, ia berwajah sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Nikki Reed. Dan postur tubuhnya benar-benar mengagumkan. Pantas saja Emmet pernah mengiranya salah satu malaikat dari Surga.

Dan yang terakhir, dua pasangan favoritku, yang berkumpul beraam di ujung lain sofa. Si pria yang bertubuh paling tinggi dan terlihat sangat kontras dengan semua orang (err, vampir, atau makhluk) yang ada di dalam ruangan ini, dengan kulit sawo matang (mengingatkanku pada Ben), rambut cepak berwarna hitam, dan sepasang mata cokelat yang sedang menatapku tajam. Jacob Black berdiri dengan posisi siaga sambil menatapku lekat-lekat, berusaha menyembunyikan (oke, melindungi) gadis mungil yang berdiri di belakangnya. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, hanya sekilas melihat rambut ikalnya yang berwarna perunggu. Seketika itu juga aku terkesiap. Itu… Renesmee? Wow, ia sudah tumbuh dewasa. Ah, tentu saja. Sudah tujuh tahun berlalu sejak ia lahir, jadi ia pasti sudah mencapai kedewasaan.

Dua vampir terakhir juga berdiri dengan posisi melindungi yang kurang lebih sama dengan Jacob, tetapi tidak semengintimidasi werewolf itu. Si pria tinggi yang – uh, sungguhan charming, dengan rambut perunggu yang acak-acakan dan tatapan tajam, awalnya sedang menatapku dalam-dalam dengan ekspresi datar, namun sekarang ia sudah mulai tersenyum tipis. Oh no, he must bee reading mu absurd minds. Ya, siapa lagi kalau bukan Edward!

Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita cantik yang sedang digandeng Edward. Aku mendesah kagum. Akhirnya aku bertemu dengannya. Vampir dengan rambut cokelat tua yang panjang, tebal, dan lurus, kening lebar, rahang sempit, dagu lancip, hidung runcing, bibir tebal, dan alis gelap yang tampak lurus itu tampak lebih cantik dari Kristen Stewart. Saking terpesonanya, sulit bagiku untuk mengalihkan pandangan. Ia tersenyum tipis ke arahku, membuatku merasa semakin senang.

Aku dan Vaughn akhirnya sampai di Kanada, setelah berminggu-minggu berkelana. Rumah keluarga Cullen jelas berbeda dengan yang ada di film. Jauh lebih besar dan megah.

Vaughn baru saja menjelaskan segala sesuatu tentangku, yang membuat seluruh anggota keluarga agak kaget, dan kelihatannya tidak sepenuhnya percaya pada cerita Vaughn, terutama perihal “daya tahan”ku terhadap darah.

Tapi Edward – yang jelas-jelas dapat membaca seluruh isi benakku, menyatakan bahwa Vaughn berkata jujur sambil menatapku takjub. Mau tidak mau aku merasa bangga.

“Katakan padaku, Nak. Apa kau sungguh-sungguh mengidolakan kami, sampai-sampai pernah mengimpikan untuk menjadi vampir?” tanya Carlisle dengan sedikit aksen Inggris yang membuatnya semakin….keren.

Aku mengangguk sambil tersenyum malu.

“Dan kau selalu membayangkan jika dirimu menjadi vampir, kau tidak akan meminum darah apapun?” tanyanya lagi, dengan nada yang terdengar seperti sedang mempertanyakan kewarasanku.

Lagi-lagi, aku mengangguk dengan senyuman malu.

“Luar biasa,” puji Carlisle tulus, membuatku merasa sedikit lebih baik.

“T-tapi akhirnya aku tetap meminum darah hewan, tetapi yang sudah diracik oleh temanku,” sahutku pelan.

“Teman?” ulang Edward dengan nada…menggoda?!

Tanpa sadar aku mendelik ke arahnya, membuatnya terkekeh.

“Kau hanya sanggup meminum darah yang sudah diracik? Berarti selama perjalanan ke sini, kau belum minum darah sedikitpun?” Kali ini, Jasper yang bertanya.

Aku mengangguk, lalu menggeleng. “Ben membawakan persediaan darah racikan itu untuk perjalananku ini,” jawabku.

Aku bisa merasakan tatapan takjub dari berbagai arah.

“So, what can we help you with?” tanya Carlisle ramah. “Kau berpikir untuk bergabung dengan kami?”

Aku mengangguk, lalu menggeleng, lalu mengangguk lagi. Oke, sebenarnya aku masih belum memutuskan apapun.

“Kau ingin bergabung agar tidak merepotkan Benmu itu, tapi kau juga tidak sanggup untuk hidup jauh darinya,” ujar Edward, mewakiliku untuk angkat bicara.

Aku segera menanggapi. “Bukan itu saja. Aku kan, hanya bisa menium darah racikannya,” elakku. Entah mengapa aku tidak suka diledek begitu oleh Edward – well, ia jelas-jelas meledekku dengan kata “Benmu” barusan.

“Kami – aku dan Carlisle, bisa belajar untuk membuat racikan itu untukmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu,” sahut Edward enteng, membuat mataku berbinar.

“Kalian sungguh mau melakukan itu untukku?” tanyaku penuh harap.

Edward dan Carlisle mengangguk bersamaan.

“Atau mungkin kau mau belajar meminum langsung darah hewan segar? Itu akan lebih baik,” ujar Emmet. “Don’t be a coward, Mildred,” ejeknya.

Aku mendengus. “Hate to admit, but I am a coward,” ujarku sambil mendesah.

“Tapi, bukan itu pokok masalah kita,” ujar Edward sambil melirik ke arahku.

Aku langsung merasa tidak enak.

Ia terkekeh. “Mildred, kalau kau memang tidak bisa hidup tanpanya, tinggallah bersamanya. Ia tidak merasa keberatan, kan?”

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. “Aku tidak mau merepotkannya.”

“Ah, love,” desah Emmet sambil tersenyum menggoda. “Kasusnya mirip denganmu, ya, Edward? Jatuh cinta pada manusia,” ejeknya sambil melirik Edward, yang langsung mendelik ke arahnya.

“Tapi kasus Mildred lebih complicated,” sahut Bella tanpa kusangka-sangka.

Edward tersenyum ke arahku, membuatku meleleh. “Tenang saja, Mildred, aku yakin Ben mencintaimu sebesar kau mencintainya,” ujarnya tenang.

Aku senang mendengarnya berkata begitu, tapi…. Sungguh, ini dilema yang menyebalkan.

“Atau kau bisa mengubahnya menjadi vampir juga dan membawanya ke sini. Jauh lebih mudah begitu, kan?” usul Emmet.

Aku ingin melemparnya dengan batu. “Enak saja. Aku tidak mau mengambil kehidupannya begitu.”

“Well, kau bisa meminta pendapatnya dulu. Siapa tahu ia memang mau menjadi vampir juga dan hidup bersamamu. You know,” ujar Bella sambil melirik ke arah Edward.

“Yeah.” Alice ikut menimpali. “I can see bright future for both of you, as vampires.”

Aku mengangkat sebelah alis. “Really? Tapi, aku…”

“Bella benar,” sela Carlisle. “Kau bisa mencoba menanyakan hal ini padanya.”

Aku menimbang-nimbang sejenak, dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

-TO BE CONTINUED-

[COPYRIGHTED!]

I have heard this song once – my friend loves it, so she made me listen to it. I didn’t know who’s the singer and what I remembered was the song was slow. I knew these were the same song because of the lyrics, “We’re not broken just bent, and we can learn to love again.”

But I prefer the cover by Sam and Kylee. It’s much much much better (in my opinion). They sang it passionately, and they sounded really well together. Plus, Kurt played piano and drum really well… He’s awesome! As usual, the lyrics are really meaningful!

[KYLEE]
Right from the start, you were a thief, you stole my heart
And I’m your willing victim
I let you see the parts of me that weren’t all that pretty
And with every touch you fixed them

Now you’ve been talking in your sleep, oh, oh
Things you never say to me, oh, oh
Tell me that you’ve had enough of our love, our love

CHORUS [KYLEE AND SAM]
Just give me a reason
Just a little bit’s enough
Just a second we’re not broken just bent
And we can learn to love again
It’s in the stars
It’s been written in the scars on our hearts
We’re not broken just bent
And we can learn to love again

[SAM]
I’m sorry I don’t understand
Where all of this is coming from
I thought that we were fine (Kylee: Oh, we had everything)
Your head is running wild again
My dear we still have everything
And it’s all in your mind (Kylee: Yeah, but this is happenin’)

You’ve been havin’ real bad dreams, oh, oh
You used to lie so close to me, oh, oh

[KYLEE AND SAM]
There’s nothing more than empty sheets
Between our love, our love
Oh, our love, our love

Back to CHORUS

[KYLEE] Oh, tear ducts can rust
[SAM] I’ll fix it for us
[KYLEE] We’re collecting dust
[KYLEE AND SAM]But our love’s enough
[SAM]You’re holding it in
[KYLEE]You’re pouring a drink
[SAM]No nothing is as bad as it seems
[KYLEE] We’ll come clean

Back to CHORUS twice…

[KYLEE AND SAM]
Oh, we can learn to love again
Oh, we can learn to love again
Oh, oh, that we’re not broken just bent
And we can learn to love again

It’s about a couple who lost their relationship, but then they want it back. Sweet ❤

Lyrics Reference: http://www.metrolyrics.com/just-give-me-a-reason-lyrics-pink.html (with my own modifications)

Check out the video!

[COPYRIGHTED!]

This one…. has such awesome lyrics! Really meaningful and touching… And Sam sang it full-heartedly ❤ Kurt played the drum-pad, and Sam played the keyboard. They’re so talented!

Verse one
Aren’t you something to admire?
‘Cause your shine is something like a mirror
And I can’t help but notice
You reflect in this heart of mine
If you ever feel alone
And the glare makes me hard to find
Just know that I’m always parallel on the other side

*’Cause with your hand in my hand and a pocket full of soul
I can tell you there’s no place we couldn’t go
Just put your hand on the glass
I’ll be tryin’ to pull you through
You just gotta be strong

CHORUS
‘Cause I don’t wanna lose you now
I’m looking right at the other half of me
The vacancy that sat in my heart
Is a space that now you hold
Show me how to fight for now
And I’ll tell you, baby
It was easy comin’ back here to you once I figured it out
You were right here all along

It’s like you’re my mirror
My mirror staring back at me
I couldn’t get any bigger
With anyone else beside of me
And now it’s clear as this promise
That we’re making two reflections into one
‘Cause it’s like you’re my mirror
My mirror staring back at me, staring back at me

Verse two
Aren’t you something, an original
‘Cause it doesn’t seem merely a sample
And I can’t help but stare
‘Cause I see truth somewhere in your eyes
I can’t ever change without you
You reflect me, I love that about you
And if I could, I would look at us all the time

Back to * and CHORUS

Yesterday is history
Tomorrow’s a mystery
I can see you looking back at me
Keep your eyes on me
Baby, keep your eyes on me

Back to CHORUS

Aren’t you something to admire?
‘Cause your shine is something like a mirror
And I can’t help but notice
You reflect in this heart of mine

So sweet how Justin analogizes his “girl” as a mirror that is admirable, and reflected in his heart…. So touching xD

Lyrics reference: http://www.azlyrics.com/lyrics/justintimberlake/mirrors.html (with my own modifications)

Check out the video!