Posts Tagged ‘Fantasy’

[COPYRIGHTED!]

Movie Title      : The Mortal Instruments: City of Bones

Directed by     : Harald Zwart

Produced by    : Don Carmody and Robert Kulzer

Based on         : City of Bones by Cassandra Clare

Studio             : Constantin Film

Distributed by   : Screen Gems (US)

The Mortal Instruments

(http://en.wikipedia.org/wiki/The_Mortal_Instruments:_City_of_Bones)

The Mortal Instruments: City of Bones is a German-American adventure fantasy film, about the Mortal Cup – a cup that allows humans to become half-Angel. It was given to the first Shadowhunter – a warrior who has powers and is trained to secretly protect humanity by killing demons. But then, there’s this other Shadowhunter, named Valentine Morgenstern (Jonathan Rhys Meyers), who betrays his race and steals the cup for himself in order to gain control over all Shadowhunters and demons.

His wife, Jocelyn Fray (Lena Headey), manages to stop him and hide the Mortal Cup. Valentine tries to chase after her, but then Jocelyn drinks a potion that leaves her in a comatose state. Jocelyn’s daughter, Clary Fray (Lily Collins), has inherited her mother’s powers, including the ability to read runes. That makes her a key to find the cup, so Valentine is coming after her.

Unfortunately, Clary’s mind is blocked, so she can’t remember anything about Shadowhunters and other things. Hodge Starkweather (Jared Harris), the leader of Shadowhunters, instructs Jace Wayland (Jamie Campbell Bower) to take Clary to the City of Bones, where they learn about her connection to a powerful sorcerer, Magnus Bane (Godfrey Gao), who was apparently hired by Jocelyn to block knowledge of the Shadowhunters from Clary’s mind.

Clary starts to figure out the knowledge, abilities, and secrets that her mom hid from her, making her targeted to be chased. Jocelyn’s mate, Luke Garroway (Aidan Turner), Clary’s best friend Simon Lewis (Robert Sheehan) and some Shadowhunters fellow help her along the way. In the end, they manage to fight Valentine, by pushing him through a portal and destroy it, while the Mortal Cup is safely kept by Clary.

One word: AWESOME! The whole story is brilliant! It has many twists and unpredictable conflicts along the way. I kept being surprised while watching this movie, and I enjoyed it so much! The characters have different personalities and backgrounds, making them unique and lovable. The good-looking actors and actress play their characters really well. They manage to make audience feel what they want people to feel. The editing and settings are genius! I can’t praise them more! This movie is gonna be a series, since there are five novels: City of Bones, City of Ashes, City of Glass, City of Fallen Angels, and City of Lost Souls. I bet it’s gonna be an awesome series! Can’t wait!

Plot reference: http://en.wikipedia.org/wiki/The_Mortal_Instruments:_City_of_Bones

I also posted this review on my bubblews account. Check it out!

[COPYRIGHTED!]

Movie Title      : Beautiful Creatures

Directed by     : Richard LaGravenese

Based on         : Beautiful Creatures by Kami Garcia and Margaret Stohl

Studio             : Alcon Entertainment

Distributed by   : Warner Bros. Pictures

Beautiful Creatures(http://en.wikipedia.org/wiki/Beautiful_Creatures_(2013_film))

Beautiful Creatures is an American romantic fantasy film, telling about casters – humans who are capable of performing magical spells. There are two kinds of caster – light and dark. The male casters can choose who they want to be, but female casters can’t. They’ll be claimed by the moon, depends on their true nature.

Lena Duchannes (Alice Englert) is on her way to her sixteenth birthday, when she’ll be claimed. Her strong power makes her family worried. Her uncle, Macon Underwood (Jeremy Irons), changes from dark to light, to keep Lena’s true nature good and changes her into a light caster as well. Lena moves to Gatlin to live with her uncle and her other family members, who are all light casters. Then, she meets Ethan Wate (Alden Ehrenreich), her school friend, and they got close. Macon disapproves of their love and fondness of each other, and conspires with Ethan’s family friend, Amma (Viola Davis), to keep the two separated. However, Ethan continues to pursue Lena, until she confesses that her family are casters and tells him about the claim.

Ridley (Emmy Rossum), Lena’s cousin, and Sarafine (Emma Thompson), Lena’s mother – both are dark casters, want Lena to join them, becoming a dark caster. They keep trying to turn Lena into dark. Then Lena and Ethan find out about their ancestors, caster Genevieve Duchannes (Rachel Broanahan) and mortal Confederate soldier Ethan Carter Wate were in love. Ethan Carter was shot in battle and Genevieve revived him using a forbidden spell that caused her to go dark and curse all the Duchannes family’s women. Lena almost loses hope, but her family and Ethan keep encouraging her. In the end, she finds her own solution to her problems.

The ending is an open ending, which means there’ll be sequels. There are four novels – Beautiful Creatures, Beautiful Darkness, Beautiful Chaos, and Beautiful Redemption. I guess they’re all gonna be filmed. Can’t wait! Sorry for the short summary. I really don’t want to give any spoilers. It’s a really great movie, trust me. Highly recommended. You won’t be disappointed! It’s sweet and touching, not just any forbidden love story, it has moral lessons, too. About family, sacrifices, and love.

The conflicts and twists are engaging, and it made me curious during the whole scenes! It has its own sense of humor and I love it! Since they’re in South Carolina, they have this western accent, which is cute! The characters are lovable! The actors and actress are good-looking and very talented. They played their role very well. I can feel their strong chemistry and it made me shiver! So, what are you waiting for? Go watch it right away, you won’t regret it!

Plot reference: http://en.wikipedia.org/wiki/Beautiful_Creatures_(2013_film)

I also posted this review on my bubblews account. Check it out!

[COPYRIGHTED!]

Sorry it took so long for me to post the second part. I was quite busy here, and I could only write a bit. I hope you enjoy it!

Oh yeah, check out Part 1

Aku menatap orang-orang (oke, maksudku, vampir-vampir) di hadapanku dengan takjub, namun sedikit kecewa. Well, harus kuakui, aku sedikit berharap The Cullens mirip dengan para artis yang memerankan mereka di film. Tapi, aku tahu itu mustahil.

Namun, mereka tetap tampak mengagumkan, mirip dengan yang dideskripsikan oleh Stephenie Meyer di novelnya. Pria berwajah bak bintang film, yang duduk tepat di hadapan Vaughn, dengan rambut pirang sepanjang tengkuk dan tubuh tinggi agak berotot, kukenali sebagai Carlisle Cullen, pemimpin klan ini. Lalu di sebelah kanannya, wanita bertubuh ramping dengan wajah berbentuk hati dan rambut bergelombang berwarna cokelat karamel, itu pasti Esme. She looks really gorgeous.

Pria tinggi lain yang berdiri di ujung sofa, dengan rambut pendek berwarna pirang madu, kuyakini sebagai Jasper Hale. Aku tidak berani menatapnya lama-lama, karena ia sedang menatapku tajam. Wajahnya tampak sangat serius dan sedikit mengerikan. Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita mungil yang bergelayut manja di lengan kirinya. Rambut hitamnya yang pendek mencuat-cuat keluar. Ia terseyum tipis ke arahku, membuatku merasa sedikit lebih baik. Si vampir bertubuh kecil yang mirip peri, Alice.

Pria lain yang menyandarkan tubuh berototnya ke bagian belakang sofa, tepat di belakang Carlisle, sedang tersenyum lebar ke arahku, membuat lesung pipinya muncul, dan memberi kesan polos yang menggemaskan di wajahnya. Padahal, ia pria yang bertubuh paling besar dan paling tinggi, tapi aku tidak merasa takut sama awkali padanya. That’s Emmet!

Wanita yang berdiri tegak di sebelahnya tampak kontras sekali dengan Emmet. Bukan soal warna kulit atau warna rambut (Well, memang sih, warna rambut mereka kontras, Emmet berambut cokelat tua hampir hitam, sedangkan wanita itu berambut panjang bergelombang berwarna pirang), tapi soal ekspresi. Aku mengerti mengapa Jasper dan Rosalie dianggap kembar. Mereka memiliki cukup banyak kesamaan. Warna rambut mereka sama-sama pirang, dan mereka sama-sama sering terlihat serius dan…jutek? Pokoknya aku merasa tidak nyaman jika menatap Rosalie lama-lama. Padahal, ia berwajah sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Nikki Reed. Dan postur tubuhnya benar-benar mengagumkan. Pantas saja Emmet pernah mengiranya salah satu malaikat dari Surga.

Dan yang terakhir, dua pasangan favoritku, yang berkumpul beraam di ujung lain sofa. Si pria yang bertubuh paling tinggi dan terlihat sangat kontras dengan semua orang (err, vampir, atau makhluk) yang ada di dalam ruangan ini, dengan kulit sawo matang (mengingatkanku pada Ben), rambut cepak berwarna hitam, dan sepasang mata cokelat yang sedang menatapku tajam. Jacob Black berdiri dengan posisi siaga sambil menatapku lekat-lekat, berusaha menyembunyikan (oke, melindungi) gadis mungil yang berdiri di belakangnya. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas, hanya sekilas melihat rambut ikalnya yang berwarna perunggu. Seketika itu juga aku terkesiap. Itu… Renesmee? Wow, ia sudah tumbuh dewasa. Ah, tentu saja. Sudah tujuh tahun berlalu sejak ia lahir, jadi ia pasti sudah mencapai kedewasaan.

Dua vampir terakhir juga berdiri dengan posisi melindungi yang kurang lebih sama dengan Jacob, tetapi tidak semengintimidasi werewolf itu. Si pria tinggi yang – uh, sungguhan charming, dengan rambut perunggu yang acak-acakan dan tatapan tajam, awalnya sedang menatapku dalam-dalam dengan ekspresi datar, namun sekarang ia sudah mulai tersenyum tipis. Oh no, he must bee reading mu absurd minds. Ya, siapa lagi kalau bukan Edward!

Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita cantik yang sedang digandeng Edward. Aku mendesah kagum. Akhirnya aku bertemu dengannya. Vampir dengan rambut cokelat tua yang panjang, tebal, dan lurus, kening lebar, rahang sempit, dagu lancip, hidung runcing, bibir tebal, dan alis gelap yang tampak lurus itu tampak lebih cantik dari Kristen Stewart. Saking terpesonanya, sulit bagiku untuk mengalihkan pandangan. Ia tersenyum tipis ke arahku, membuatku merasa semakin senang.

Aku dan Vaughn akhirnya sampai di Kanada, setelah berminggu-minggu berkelana. Rumah keluarga Cullen jelas berbeda dengan yang ada di film. Jauh lebih besar dan megah.

Vaughn baru saja menjelaskan segala sesuatu tentangku, yang membuat seluruh anggota keluarga agak kaget, dan kelihatannya tidak sepenuhnya percaya pada cerita Vaughn, terutama perihal “daya tahan”ku terhadap darah.

Tapi Edward – yang jelas-jelas dapat membaca seluruh isi benakku, menyatakan bahwa Vaughn berkata jujur sambil menatapku takjub. Mau tidak mau aku merasa bangga.

“Katakan padaku, Nak. Apa kau sungguh-sungguh mengidolakan kami, sampai-sampai pernah mengimpikan untuk menjadi vampir?” tanya Carlisle dengan sedikit aksen Inggris yang membuatnya semakin….keren.

Aku mengangguk sambil tersenyum malu.

“Dan kau selalu membayangkan jika dirimu menjadi vampir, kau tidak akan meminum darah apapun?” tanyanya lagi, dengan nada yang terdengar seperti sedang mempertanyakan kewarasanku.

Lagi-lagi, aku mengangguk dengan senyuman malu.

“Luar biasa,” puji Carlisle tulus, membuatku merasa sedikit lebih baik.

“T-tapi akhirnya aku tetap meminum darah hewan, tetapi yang sudah diracik oleh temanku,” sahutku pelan.

“Teman?” ulang Edward dengan nada…menggoda?!

Tanpa sadar aku mendelik ke arahnya, membuatnya terkekeh.

“Kau hanya sanggup meminum darah yang sudah diracik? Berarti selama perjalanan ke sini, kau belum minum darah sedikitpun?” Kali ini, Jasper yang bertanya.

Aku mengangguk, lalu menggeleng. “Ben membawakan persediaan darah racikan itu untuk perjalananku ini,” jawabku.

Aku bisa merasakan tatapan takjub dari berbagai arah.

“So, what can we help you with?” tanya Carlisle ramah. “Kau berpikir untuk bergabung dengan kami?”

Aku mengangguk, lalu menggeleng, lalu mengangguk lagi. Oke, sebenarnya aku masih belum memutuskan apapun.

“Kau ingin bergabung agar tidak merepotkan Benmu itu, tapi kau juga tidak sanggup untuk hidup jauh darinya,” ujar Edward, mewakiliku untuk angkat bicara.

Aku segera menanggapi. “Bukan itu saja. Aku kan, hanya bisa menium darah racikannya,” elakku. Entah mengapa aku tidak suka diledek begitu oleh Edward – well, ia jelas-jelas meledekku dengan kata “Benmu” barusan.

“Kami – aku dan Carlisle, bisa belajar untuk membuat racikan itu untukmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu,” sahut Edward enteng, membuat mataku berbinar.

“Kalian sungguh mau melakukan itu untukku?” tanyaku penuh harap.

Edward dan Carlisle mengangguk bersamaan.

“Atau mungkin kau mau belajar meminum langsung darah hewan segar? Itu akan lebih baik,” ujar Emmet. “Don’t be a coward, Mildred,” ejeknya.

Aku mendengus. “Hate to admit, but I am a coward,” ujarku sambil mendesah.

“Tapi, bukan itu pokok masalah kita,” ujar Edward sambil melirik ke arahku.

Aku langsung merasa tidak enak.

Ia terkekeh. “Mildred, kalau kau memang tidak bisa hidup tanpanya, tinggallah bersamanya. Ia tidak merasa keberatan, kan?”

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. “Aku tidak mau merepotkannya.”

“Ah, love,” desah Emmet sambil tersenyum menggoda. “Kasusnya mirip denganmu, ya, Edward? Jatuh cinta pada manusia,” ejeknya sambil melirik Edward, yang langsung mendelik ke arahnya.

“Tapi kasus Mildred lebih complicated,” sahut Bella tanpa kusangka-sangka.

Edward tersenyum ke arahku, membuatku meleleh. “Tenang saja, Mildred, aku yakin Ben mencintaimu sebesar kau mencintainya,” ujarnya tenang.

Aku senang mendengarnya berkata begitu, tapi…. Sungguh, ini dilema yang menyebalkan.

“Atau kau bisa mengubahnya menjadi vampir juga dan membawanya ke sini. Jauh lebih mudah begitu, kan?” usul Emmet.

Aku ingin melemparnya dengan batu. “Enak saja. Aku tidak mau mengambil kehidupannya begitu.”

“Well, kau bisa meminta pendapatnya dulu. Siapa tahu ia memang mau menjadi vampir juga dan hidup bersamamu. You know,” ujar Bella sambil melirik ke arah Edward.

“Yeah.” Alice ikut menimpali. “I can see bright future for both of you, as vampires.”

Aku mengangkat sebelah alis. “Really? Tapi, aku…”

“Bella benar,” sela Carlisle. “Kau bisa mencoba menanyakan hal ini padanya.”

Aku menimbang-nimbang sejenak, dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

-TO BE CONTINUED-

[COPYRIGHTED!]

Hello, hello, Twilight Saga’s fans! I’m here to announce a good news. I have made a Twilight Saga fan fiction! Horray! But it’s half done. I promise I will finish it soon. It’s pretty long, though. So, enjoy!

P.S: It’s in Indonesian. I will make the English version soon. Amen to that!

Oh, mimpiku barusan benar-benar mengerikan. Aku bermimpi dibakar hidup-hidup! Segalanya terasa begitu nyata. Kurasa aku menggeliat seperti cacing kepanasan dan berteriak-teriak dalam tidurku. Seharusnya aku merasa lega setelah terbangun dari mimpi buruk itu, tapi…. Kurasa mimpi burukku itu berlanjut. Entah mimpi itu menjadi kenyataan, atau aku yang belum sepenuhnya terbangun.

Yang jelas, saat ini aku merasa tenggorokanku sangat sakit, seperti habis dibakar sungguhan. Entah haus macam apa ini, rasanya seperti belum minum selama ratusan tahun. Aku mencengkeram leherku kuat-kuat, berharap dengan begitu, rasa sakitnya akan berkurang, tapi percuma saja.

Lalu, aku melihat pemuda yang tampak familiar itu. Malaikatkah? Entahlah. Mungkin aku benar-benar dibakar hidup-hidup dan pemuda itu adalah malaikat penjemputku? Mungkin. Entah apa yang membuatku berpikir begitu. Yang jelas, aku sangat senang melihat pemuda-garis-miring-malaikat itu.

Aku menatap malaikat berwajah pemuda yang sangat familiar itu. Apa saking rindunya aku pada pemuda itu, sampai-sampai wajah malaikat penjemputku pun mirip dengannya? Bukan hanya mirip, tapi sama persis. Kulitnya yang berwarna cokelat, mata bulatnya yang berwarna hitam, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, rambut cepaknya yang hitam legam… Semuanya!

Beberapa saat kemudian, aku menyadari beberapa hal yang janggal. Aku sudah tidak memakai kacamataku, namun aku dapat melihat dengan sangat jelas, bahkan yang jarak pandangnya sangat jauh. Padahal, tanpa kacamata, aku nyaris buta.

Lalu, saat aku menarik nafas, ada nuansa aneh yang menyergap indera penciumanku. Aroma yang sangat menggiurkan, sekaligus menjijikkan. Berbagai aroma lain juga tercium, namun tidak sekuat aroma yang satu ini.

Aku juga mendengar dengan sangat jelas. Bunyi daun-daun yang bergesekan oleh angin, sampai suara nafas pemuda di hadapanku ini. Tunggu sebentar, apakah malaikat bernafas?

“K-kau… tidak apa-apa?”

Aku menoleh cepat ke arah pemuda yang barusan bersuara itu. Suaranya pun sama persis dengan sosok yang menghantui kalbuku tiap malam. Ingin sekali aku menyahutnya, tapi selain tidak tahu apa yang harus kujawab – karena aku tidak tahu keadaanku ini bisa dibilang “tidak apa-apa” atau tidak, aku juga tidak bisa bersuara. Tenggorokanku masih sangat sakit.

“Kau… terlihat sangat pucat,” ujarnya lagi sambil mendekat ke arahku.

Semakin ia bergerak mendekat, aroma yang begitu menggangguku itu tercium semakin kuat. Saat ia menyentuh lenganku, aku merasa kehangatan menjalar keluar dari tubuhnya. Bukan hanya hangat, nyaris panas. Dan ini bukan efek dari “jatuh cinta” atau semacamnya. Kau tahu? Biasanya jika kita disentuh oleh seseorang yang kita cintai, akan muncul “rangsangan-rangsangan” tidak jelas, seperti rasa hangat ini. Atau itu hanya terjadi padaku?

“Tubuhmu sangat dingin,” komentar pemuda itu lagi.

Ia semakin mendekat, dan tanpa sadar aku langsung bergerak menjauh. Aku tidak pernah menyangka aku punya refleks secepat itu. Maksudku, saat ini, aku sudah berjarak kira-kira lima meter dari pemuda itu, dalam waktu sepersekian detik – entahlah, aku tidak sempat menghitungnya. Lagipula, aku tidak memakai jam tangan atau stopwatch.

Dan kenyataan itu menendang otakku sampai terpental jauh. Aku menatap ngeri pemuda itu, yang balas menatapku dengan pandangan sejenis. Apa yang dilihat pemuda itu dariku? Apa…. kedua bola mata merah yang mengerikan dan kulit putih pucat yang tampak keras?

Dari tatapan kedua bola matanya yang dalam itu, aku bisa melihat pengertian yang sama. Apa ia juga menyadari kenyataan ini? Bagaimana mungkin? Maksudku, bahkan untukku, kenyataan ini masih sangat sulit untuk kuterima.

“A-aku rasa, kita sama-sama menyadari apa yang telah terjadi padamu,” ujar pemuda itu lagi, yang mulai sekarang akan kunamai…. Ben? Ya, aku suka nama itu.

“K-kau tahu?” Akhirnya aku berhasil bersuara. Dan rupanya suaraku tidak terdengar aneh seperti yang kukira.

“Ini memang sulit dipercaya, dan tidak masuk akal, tapi… Ya, kurasa aku tahu apa yang telah terjadi padamu. Maksudku, aku menemukanmu tiga hari yang lalu, dengan bekas gigitan di lehermu. Dan selama tiga hari itu, kau kejang-kejang dan tidak sadarkan diri.”

Aku menatap Ben lurus-lurus. “Kau menemaniku selama… proses transformasi? Kau tidak tidur?”

Ben mengangguk. “Dan aku melihat semua perubahanmu itu. Benar-benar ajaib. Aku bahkan tidak bisa memercayai mataku sendiri. Bagaimana lukamu itu pelan-pelan menghilang, kulitmu yang semakin pucat, namun terlihat sangat indah, dan segala hal lain dalam tubuhmu, seperti melalui proses penyempurnaan.”

“Jadi, kau percaya pada hal-hal itu? Dan bagaimana kau tahu tentang semua hal itu? Aku kira aku yang menjadi fans berat Twilight Saga di sini,” ujarku pelan.

Ben tertawa kecil, yang anehnya masih berefek sama seperti saat aku masih menjadi manusia. Menyenangkan.

Well, aku tahu cukup banyak hal. Ini memang tidak masuk logika manusia, tapi anehnya, inilah satu-satunya penjelasan yang cocok.”

Aku mengangguk setuju. Dan aku baru sadar, saat mengobrol dengannya, baik saat aku masih menjadi manusia maupun sekarang, aku selalu tenggelam dalam obrolan itu. Aku sampai melupakan rasa sakit di tenggorokanku. Dan bodohnya, aku malah membahas itu, jadinya sekarang aku kembali merasakan rasa sakit itu.

“Kau… haus?” tanya Ben, membuatku tersentak dan berhenti mencengkeram leherku.

Tentu saja itu yang membuat tenggorokanku sakit. Aku tahu jelas itu. Namun, membayangkan diriku meminum darah…

“Kau hebat,” ujar Ben lagi, membuatku menatapnya heran. “Sepertinya kau mendapat kekuatan yang mirip dengan Bella. Amazing self-control. Bahkan, kau lebih hebat darinya.”

Aku mencengkeram rumput yang ada di sekitarku, yang sedikit lagi akan tercabut dari akarnya. Ini benar-benar menyiksa, namun aku tidak mungkin menerkam pemuda yang ada di hadapanku ini.

Sebenarnya, apa yang terjadi? Yang aku ingat, aku tidak bisa tidur malam itu, lalu memutuskan untuk berjalan-jalan di tengah hutan, sendirian. Aku tahu itu berbahaya, tapi rasa cintaku pada hutan terlalu dalam untuk merasakan rasa takut itu. Lalu, aku mendengar suara-suara aneh dan berusah mencari tahu. Aku menemukan seorang pria berkulit pucat bernuansa zaitun, sedang menatapku tajam dari balik pohon.

Setelah itu, semua berjalan dengan sangat cepat. Ia bergerak ke arahku dan aku langsung merasakan rasa sakit luar biasa di leherku, yang langsung menjalar ke seluruh tubuhku dalam hitungan detik. Dan mimpi burukku itu pun dimulai.

Ya, pria itu vampir, sosok yang kuidam-idamkan, dalam dunia FIKSI. Aku tak pernah menyangka akan bertemu yang asli, apalagi menjadi salah satunya. Aku memang pernah mengimpikannya, tapi jelas itu hanya angan-angan yang tidak benar-benar ingin kucapai.

Semua ini masih terasa sangat semu. Mungkinkah aku masih bermimpi? Tapi bagaimana caranya untuk bangun dari mimpi aneh ini?

“Aku tahu semua ini sulit untuk diterima maupun dicerna, tapi mau tidak mau, kau harus menerimanya untuk saat ini. Dan kita harus bertindak cepat. Anggota camp lain akan bangun dan menyadari kepergian kita,” ucap Ben, mengembalikanku ke alam sadar.

Pikiranku mulai menerawang ke hal-hal lain. Hal-hal yang lebih penting. Oke, anggap saja aku benar-benar telah menjadi vampir. Lalu, apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kukatakan pada keluargaku? Teman-temanku? Orang-orang lain? Satu hal yang pasti…

“Mereka tidak boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi,” ucapku tegas.

Ben tampak bingung dengan pernyataanku itu.

Aku menjelaskan, “Anggap saja dunia supernatural ini benar-benar nyata. Tapi tidak mungkin kan semua orang akan memercayainya? Lagipula… kalau vampir sungguhan ada – setidaknya seperti yang digambarkan Stephenie Meyer, berarti Volturi juga ada. Which means, aku harus mengikuti aturan mereka. Aku harus merahasiakan eksistansiku.”

Pemikiran yang aneh, memang. Tapi, hanya itu yang terpikir olehku saat ini.

Ben tampak sedang berusaha menahan senyum geli, entah apa yang lucu. “Aku masih belum sepenuhnya menangkap hal-hal aneh ini,” akunya. “Tapi, baiklah. Kita memang tidak bisa memberitahukan ini pada siapapun. Selain mereka akan sulit menerima dan memercayainya, kita juga tidak tahu bagaimana reaksi mereka nanti. Jadi, apa yang harus kita lakukan?”

Aku berpikir sejenak, dan terpaksa memutuskan segalanya lebih cepat, sebelum fajar tiba. “Aku harus memalsukan kematianku.”

Mata Ben melebar. “Apa?”

Aku mengangguk mantap. “Dengan keadaan seperti ini, aku tidak mungkin kembali pada kehidupan manusiaku. Aku harus pergi. Dan segalanya akan lebih mudah jika semua orang menganggapku sudah mati.”

Ben masih tampak kaget dengan keputusan tiba-tibaku itu. Tapi kemudian, ia mendesah pasrah. “Sepertinya, itu memang satu-satunya cara, tapi… kau tidak kasihan pada orang-orang yang menyayangimu? Mereka akan merasa kehilangan.”

Aku tersenyum sedih. “Tapi aku tidak mau membahayakan mereka.”

Dan akhirnya, kami bergerak cepat. Aku memutuskan untuk pura-pura bunuh diri dengan cara menggantung diriku sendiri dan meninggalkan sepucuk surat. Mengenai isi surat itu… Intinya aku sudah bosan hidup dan memilih untuk mengakhirinya. Aku juga berpesan pada keluarga dan teman-temanku untuk tidak terlalu bersedih dan menjaga diri mereka baik-baik.

Ben tidak begitu setuju dengan isi surat itu, karena sulit untuk percaya kalau aku merasa bosan hidup dan memilih untuk mati. Dia bilang, “It’s so not you.”

Aku tersentuh, karena rupanya ia mengenalku cukup baik sampai bisa berkata begitu. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Lebih mudah untuk menerima fakta bahwa seorang gadis ceria ternyata merasa bosan hidup dan memilih bunuh diri, daripada seorang gadis yang berubah menjadi vampir penghisap darah, bukan?

Aku memilih gantung diri sebagai caraku bunuh diri, karena itu yang paling mudah diakali, dan juga paling mungkin kulakukan. Saat menjadi manusia, aku sangat takut pada darah, jadi mustahil bagiku untuk menggunakan pisau ataupun benda tajam lainnya.

Setelah selesai menyiapkan segalanya, aku menyuruh Ben untuk kembali ke perkemahan sebelum matahari terbit. Mereka harus menemukan dan menguburkanku sebelum sang raja siang mengintip dari balik awan. Untung saja hutan tempat kami berkemah ditumbuhi berbagai tumbuhan liar yang sangat lebat, sehingga sinar matahari agak sulit untuk menembusnya.

Aku menggantung diriku dengan sulur tanaman yang panjang. Agak aneh memang, jika setelah menggantung diri, kulit leherku tidak berbekas apa-apa. Namun, aku tidak bisa membuat luka bohongan. Tidak ada yang bisa melukai vampir, selain makhluk supernatural lain.

Aku hanya berharap mereka tidak terlalu memikirkan hal itu. Lagipula, Ben adalah seorang yang jenius. Ia bisa memberikan penjelasan yang dapat dipercaya.

Aku harus berusaha kuat untuk tetap diam dan berpura-pura mati, saat gerombolan anggota campingku mulai berdatangan menghampiri pohon tempat aku menggantung diri. Bukan hal yang sulit, karena vampir tidak perlu bernafas ataupun bergerak. Hanya saja, aku tidak tahan mendengar suara tangisan dan histeria teman-temanku itu. Juga aroma mereka. Untung aku tidak perlu bernafas.

Setelah beberapa waktu ditangisi oleh teman-temanku, mereka memutuskan untuk mengakhiri acara camping kami dan berangkat pulang. Yang berarti, setelah ini, aku akan dihadapkan dengan situasi yang lebih sulit. Entah bagaimana reaksi Mama dan adikku saat melihat “mayat”ku ini.

Seperti yang kubayangkan, reaksi Mama marah, sedih, histeris, semua menjadi satu. Mama marah dan menyesal karna telah memperbolehkanku mengikuti kegiatan camping itu, tapi lebih banyak menangis sambil memeluk tubuhku. Kalau vampir bisa menangis, mungkin aku sudah melakukannya sejak tadi.

Oh, aku tahu apa yang dipikirkan Mama saat ini. Ia pasti merasa sangat tidak berguna. Ia pasti merasa gagal menjadi istri dan ibu yang baik. Lima tahun yang lalu, ia kehilangan suaminya dengan cara yang kurang lebih sama. Sekarang, ia harus kembali menghadapi situasi buruk ini.

Aku jadi merasa bersalah, namun, apa lagi yang dapat kuperbuat?

Di luar prediksiku, adikku juga ikut menangis. Aku ingat, dulu, ia pernah mengatakan bahwa ia tidak akan menangis saat aku meninggal. Oh, ingin rasanya aku bangun saat ini juga, dan berteriak, “Aha! I knew it!” sambil menunjuk wajahnya dan tertawa mengejek. Sayangnya, aku tidak bisa melakukan itu.

Aku tahu Mama akan segera menghubungi kakak perempuanku – yang kini tinggal di Australia, dan aku juga yakin, ia dan suaminya pasti sama shocknya dengan Mama, dan pasti sama histerisnya juga. Bisa-bisa, kakakku itu akan segera memesan tiket pulang saat itu juga. Tapi untungnya tidak. Ia sedang hamil, dan mustahil pulang dengan keadaan itu.

Oh, aku jadi ingat. Aku tidak sempat melihat keponakanku. Oke, aku memang tidak benar-benar mati. Aku bisa saja mengunjungi mereka diam-diam untuk melihat keadaan keponakanku itu, tapi tetap saja, rasanya pasti berbeda. Sangat berbeda.

Aku tahu, aku telah menorehkan luka yang sangat dalam di hati Mama, adikku, dan juga kakakku. Luka yang pernah tertoreh juga di hatiku lima tahun yang lalu, kembali kutorehkan di hati mereka. Sekarang, mereka punya dua luka, yang sama dalamnya, dan tidak akan pernah sembuh. Sungguh, aku merasa sangat amat bersalah sekali.

Lucu. Di satu sisi, aku telah bertransformasi menjadi makhluk imortal yang sangat kuat. Namun, di sisi yang lain, aku tidak berdaya. Tidak ada yang dapat kulakukan untuk memperbaiki situasi kacau ini.

Aku dikuburkan di sebuah kompleks khusus pemakaman. Aku bisa merasakan suasana berkabung yang sangat dalam di sekitarku. Ini semua membuatku terharu. Aku memang sempat bertanya-tanya, jika aku mati, siapa saja yang akan bersedih? Dan sekarang, aku mendapat jawabannya. Ditangisi begini, membuatku merasa penting. Tapi, itu bukan hal yang sepenuhnya menyenangkan.

Aku tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya tinggal di bawah permukaan tanah selama berhari-hari. Sebagai manusia, aku tidak akan bertahan hidup. Namun untuk vampir, ini bukan hal yang sulit. Aku sudah sedikit terbiasa untuk mengabaikan rasa hausku, yang semakin hari semakin menyiksa ini.

Aku sengaja membiarkan tubuhku terkubur selama beberapa hari. Sampai akhirnya, pada suatu malam, saat aku yakin keadaan di sekitarku sudah aman, aku berusaha keluar dari kuburku, dan menutup kubur itu kembali, seperti semula.

Aku sempat berpikir untuk mengecek keadaan keluargaku, tapi itu terlalu berisiko. Akhirnya, aku tinggal di hutan dekat kompleks pemakamanku itu, sambil memantau orang-orang yang datang melayat. Aku bisa melihat sinar kesedihan di setiap pasang mata yang datang melayat makamku. Ingin rasanya aku menghampiri dan memeluk mereka semua.

Suatu hari, aku melihat Ben datang ke makamku sendirian, saat keadaan kompleks itu sudah cukup sepi. Aku memutuskan untuk memanggilnya. Bukan dengan teriakan atau telepon, tentu saja. Aku berjalan cukup dekat ke arahnya, dan melemparinya batu – oke, ini mungkin terdengar sadis, namun percayalah, ini tidak semengerikan yang kalian kira. Aku hanya melemparinya kerikil yang sangat kecil untuk menarik perhatiannya.

Setelah cukup lama mencoba, akhirnya aku berhasil. Ia menghampiriku dengan ekspresi lega.

“Untunglah kau tidak apa-apa,” ujarnya.

Tentu saja aku tidak apa-apa, secara fisik.

“Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” tanyanya.

Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tidak ada rencana apapun yang terlintas di benakku. Yang ada hanyalah rasa hampa yang sangat mengusikku.

“Aku… sempat terpikir sebuah ide,” ujarnya pelan, membuatku menatapnya. “Bagaimana kalau kau tinggal denganku?”

Mataku melebar. “What?” seruku tak habis pikir. “Mana mungkin bisa,” protesku.

Ben menggeleng. “Tentu saja bisa. Aku akan pindah ke Bandung untuk kuliah, kau ingat? Dan di sana, aku tinggal sendirian. Daerahnya terpencil, dekat hutan, lagi, jadi akan lebih mudah bagimu untuk berburu.”

Aku menatapnya ngeri. “Berburu…?”

Ben mengangguk. “Kau tidak mungkin meminum darah manusia, kan? Aku yakin kau pasti akan mengadopsi gaya hidup The Cullens yang kau idolakan itu.”

Aku tersenyum miring. “Aku memang pernah bermimpi menjadi vampir, tapi aku tak pernah mengharapkan mengonsumsi darah sebagai kebutuhan.”

Ben mengangkat bahu. “We’ll find a way. Kau tidak mungkin tidak minum darah. Kau memang tidak bisa mati kelaparan, tapi kau akan menjadi lemah, dan… tersiksa. Aku tidak mau melihatmu seperti itu,” ujar Ben pelan.

Oke, vampir mungkin tidak memiliki emosi seperti manusia. Do they? Aku tidak tahu bagaimana rasanya jatuh cinta saat sudah menjadi vampir. Yang jelas, aku senang mendapat perhatian dari pemuda itu. Ya, vampir yang senang mendapat perhatian dari seorang manusia.

Jadilah kami berangkat ke Bandung. Kami tidak berangkat bersama, tentunya. Ia berangkat naik pesawat, sedangkan aku… Aku berlari dan berenang menyeberangi lautan. Sesuatu yang benar-benar baru, dan menakjubkan. Semasa hidupku sebagai manusia, aku tidak pandai berolahraga. Seluruh tubuhku pasti sakit setiap kali selesai berolahraga. Dan aku tidak pernah bisa berenang.

Aku sampai di rumah yang disebut Ben itu, sesuai arahannya. Rumah itu memang terletak di pedalaman, dekat dengan hutan. Suasananya sangat nyaman dan menyenangkan. Ben sudah ada di sana terlebih dahulu. Aku sengaja berangkat sehari setelah ia sampai.

“Kau mau pergi berburu?” tanya Ben, setelah ia selesai berbenah.

Aku hanya menatapnya hampa. Seumur hidupku, aku selalu membenci darah. Aku takut setiap kali melihatnya – terutama dalam jumlah yang besar. Walaupun sekarang aku sudah menjadi vampir, aku tetap tidak punya hasrat untuk meminum darah. Rasa haus yang menyiksa inipun – yang menjadi satu-satunya hal yang bisa menumbuhkan hasrat untuk meminum darah, tidak sanggup membuatku cukup berani untuk melakukannya.

“Sepertinya, rasa takut-akan-darah-mu masih ada, walaupun kau sudah menjadi vampir, ya? Mungkin itu yang menumbuhkan self-control yang begitu kuat dalam dirimu,” ujar Ben. “Tapi, kau hanya takut dengan darah manusia, kan? Seharusnya tidak masalah meminum darah hewan, kan?”

Aku menggeleng lemah. “Kurasa, aku takut pada semua jenis darah,” sahutku sambil mengernyitkan wajah. Aneh, vampir yang takut dan merasa jijik dengan darah. Membenci hal yang bisa membuatmu bertahan hidup adalah hal yang konyol.

“Tapi, kau tidak mungkin menahan rasa hausmu begitu. Awalnya mungkin akan terasa menjijikkan, tapi setelah kau berhasil menembus rasa takutmu itu, aku yakin kau akan berubah pikiran,” ujar Ben yakin, seakan ia pernah mengalami hal yang sama.

Aku tahu yang dikatakannya memang benar, tapi… Aku tidak merasa aku membutuhkan darah. Jadi, aku hanya duduk diam di sofa, dan mulai membaca novel.

Ah ya, aku mencuri semua novelku yang ada di rumah. Saat keluargaku sedang pergi, aku menyelinap masuk ke dalam rumah dan mengambil beberapa barangku, termasuk novel dan pakaianku.

Mama sudah mengepack semuanya dalam kardus, jadi mudah bagiku untuk mengambilnya tanpa diketahui. Kecuali kalau Mama kembali mengecek isi kardus-kardus itu. Kuharap ia tidak melakukannya.

Ben mendesah pasrah melihat sikap keras kepalaku itu dan akhirnya membiarkanku melakukan apa yang aku mau. Aku senang mendapat perhatiannya, namun, aku benar-benar tidak ingin meminum darah. Hal yang sangat aneh, tapi begitulah kenyataannya.

Being a vampire is a gift and a curse. Gift, karena vampir tidak punya kebutuhan sebanyak manusia. Aku tidak perlu makan, mandi, dan tidur, membuatku punya banyak sekali waktu untuk melakukan hobiku. Inilah alasan mengapa dulu aku pernah bermimpi untuk menjadi vampir. Cursenya hanya satu, merasakan sakit luar biasa pada tenggorokanku ini.

Dan sekarang aku mengerti kenapa Edward suka memperhatikan Bella saat ia sedang tidur. Raut wajah seseorang yang sedang tertidur memang enak dilihat. Mereka terlihat damai dan polos. Terutama wajah Ben. Aku suka memerhatikan wajah tidurnya. Ia terlihat semakin tampan. Aku jadi penasaran, bagaimana tampangnya jika menjadi vampir. Pasti terlihat lebih menarik…

Aku menggelengkan kepalaku. Aku tidak mau ia menjadi vampir sepertiku. Walaupun itu artinya kami tidak akan bisa bersama, tapi tidak masalah. Aku tahu ia bahagia dengan kehidupan manusianya. Ia sudah diterima di universitas dan fakultas idamannya. He has got all the things he needs.

Aku menatap gelas hitam bertutup dengan sedotan mencuat keluar dari balik lubang tutupnya itu dengan bingung, lalu mengalihkan pandanganku pada orang yang memegang gelas itu.

“Cobalah minum ini,” pinta Ben sambil tersenyum lelah. Belakangan ini, ia sibuk dengan kuliahnya. Ia sering mengurung diri di kamar, dan itu membuatku merasa kesepian. Senang rasanya ketika aku kembali mendapat perhatiannya.

Aku kembali menatap gelas di hadapanku. “Aku kan tidak bisa mencerna apapun selain darah. Itu pun tidak bisa dibilang ‘mencerna’,” ujarku.

Ben menggoyang-goyangkan gelas itu. “Coba saja minum dulu.”

Aku menatapnya curiga. “Ini darah, ya?”

Ben mengerutkan dahinya. “Minum,” perintahnya lebih tegas, membuatku mau tidak mau menerima gelas itu dan menyeruput isinya.

Ajaib, rasa sakit di tenggorokanku mulai menghilang. Aku langsung meneguk minuman itu sampai tak tersisa dalam hitungan detik. Dan aku merasa jauh lebih baik. Ben tersenyum senang melihatnya.

Mataku menyipit. “Jadi…. Ini beneran darah?” tanyaku lagi.

Ben mengambil tempat di sebelahku dan duduk di sana. “Berhari-hari kuhabiskan untuk berburu, mengambil darah, dan meraciknya agar tidak tercium dan terasa menjijikkan,” jelasnya pelan, membuatku terbelalak.

“Ba-bagaimana kau punya waktu untuk semua itu? Bukannya kau sibuk kuliah?”

Ben kembali tersenyum. “Maaf. Aku berbohong soal itu. Aku baru akan mulai kuliah bulan depan.”

Aku menatapnya tak percaya. “Jadi… dari kemarin itu kau sibuk untuk melakukan semua ini? Untukku?”

Ben mengangguk dan menyunggingkan senyum lebarnya. “Tentu saja.”

Jawaban sesingkat itu berhasil membuatku merasa begitu tersentuh. Ingin rasanya memeluk pemuda yang duduk di sampingku ini, tapi aku takut aku akan meremukkan tulang-tulangnya.

“Jangan terlalu memikirkannya. Anggap saja itu susu yang kau suka.”

Aku mengangguk pelan. Aku merasa sedikit mual jika mengingat aku baru saja meminum darah, namun segera kutepis pemikiran itu. Ben sudah bersusah payah membuatkannya untukku, jadi aku harus menghargainya.

“Karna kau begitu takut dengan darah, aku yakin kau tidak berani memburu hewan itu sendiri dan langsung meminum darahnya seperti yang dilakukan vampir ‘vegetarian’ pada umumnya. Jadi kupikir, jika aku menghidangkannya dengan cara lain, kau pasti mau mencobanya,” jelasnya lagi, membuatku semakin tersentuh. “Jadi mulai sekarang, aku akan berburu untukmu, dan menyajikan minuman itu.”

“Tapi, apa itu tidak merepotkanmu? Kau kan sudah mau kuliah.”

Ben kembali tersenyum – senyum yang selalu membuatku meleleh. “We can work this out,” sahutnya santai.

Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “ITB tidak salah memilih. Kau pasti akan menjadi anak farmasi terbaik yang pernah mereka punya,” pujiku.

Ben terkekeh. “Anak farmasi yang memelihara vampir. Kedengarannya keren juga.”

Aku ingin memukulnya – untuk main-main, seperti biasa, tapi itu akan menghancurkan tulang belulangnya, jadi… Aku hanya memutar bola mataku.

Hari-hari selanjutnya berjalan dengan lebih menyenangkan. Aku rutin mengonsumsi ‘minuman’ buatan Ben, dan merasa jauh lebih baik sekarang. Karena sudah berkali-kali mengelola ‘minuman’ itu, tidak sulit bagi Ben untuk menghidangkannya.

Dan karena merasa tidak enak hati, akhirnya aku membantunya berburu – which is easier for me now. Tapi urusan mengolah darah, itu sepenuhnya urusan anak farmasi pemelihara vampir.

Ben sudah mulai kuliah, dan menjadi lebih sibuk dari biasanya. Aku kembali merasa kesepian. Aku sudah selesai membaca semua novel koleksiku, bahkan sudah mengulangnya beberapa kali. Akhirnya, aku mulai membaca buku-buku pelajaran Ben dan membantunya sebisaku.

Ajaib, memang. Aku tak pernah membayangkan aku bisa membantu Ben dalam hal apapun, terutama studinya. Ia terlalu jenius, dan aku jauh di bawahnya. Tapi, berkat daya tangkap vampir yang melebihi manusia, aku bisa mengerti bab-bab pelajaran Ben dan bisa membantunya. Itu membuatku merasa bangga.

Kalian mungkin akan merasa bingung dengan cerita ini. Terlalu nonsense. Vampir tidak mungkin ada di dunia asli, apalagi seperti yang diceritakan dalam novel Twilight Saga. Kalaupun ada, mereka pasti tersebar di daerah Amerika dan Eropa, seperti yang ada di buku. Apa mungkin bisa nyasar sampai ke Indonesia?

Aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga bingung dan merasa sangat penasaran. Sampai saat ini, aku masih menganggap semua ini mimpi. Terlalu sulit untuk diterima akal sehat. Tapi, sampai kapan aku akan terjebak dalam mimpi ini?

Rasa penasaranku terus bertumbuh, sampai akhirnya aku memutuskan untuk mencari tahu. Aku tidak tahu jelas mau mulai dari mana, tapi setidaknya aku harus berusaha mencari. Mungkin, aku bisa mencoba menjelajahi seluruh Indonesia untuk mencari jejak vampir penciptaku?

Aku mengungkapkan ideku ini pada Ben, dan pemuda itu menolaknya mentah-mentah. Ia mengkhawatirkanku. Aku senang mengetahuinya, tapi aku benar-benar ingin mencari tahu asal-usul semua ini.

Setelah membujuknya mati-matian, akhirnya ia mengizinkanku pergi, dengan perbekalan yang sangat lengkap. Ia menyuruhku berjanji untuk kembali lagi. Ia memberiku waktu satu bulan. Waktu yang lama dan singkat. Aku tidak tahu.

Aku pun berangkat, menyusuri hutan demi hutan, kota demi kota. Aku memulai pencarianku dari daerah Jawa terlebih dahulu, lalu terus ke Bali, Nusa Tenggara, dan sekitarnya. Setelah berkeliling dan tidak mendapat apa-apa, aku mulai menyeberang ke arah Sulawesi, terus ke Kalimantan, dan Sumatera.

Saat sampai di Sumatera, aku tidak bisa menahan keinginanku untuk mengecek keadaan keluargaku. Akhirnya, saat malam tiba, aku menyelinap masuk ke rumahku dengan sangat berhati-hati. Tidak begitu sulit untuk melakukannya. Dan aku bisa tersenyum lega saat menemukan Mama dan adikku dalam keadaan baik-baik saja.

Selama perjalanan ini, aku baru menyadari, bahwa menahan nafsu meminum darah manusia tidak sesulit saat sedang bersama Ben. Aroma darah manusia lain tidak sekuat dan semenggiurkan aroma Ben. Mungkin, Benlah yang disebut ‘penyanyi’ untukku. Darahnya bagaikan ‘menyanyi’, memintaku untuk meminumnya.

Butuh pertahanan yang luar biasa untuk tidak menerkam Ben dan menghisap habis darahnya. Sekarang, aku mengerti bagaimana perasaan Edward saat bersama Bella semasa manusianya. Darah Bella juga ‘menyanyi’ pada Edward, dan Edward mampu menahan nafsunya berkat rasa cintanya yang begitu besar pada Bella.

Same thing happens to me, with Ben. Aku tidak menyangka rasa cintaku padanya sebesar ini. Aku pikir, aku hanya ‘naksir’. Kami satu sekolah selama SMA. Hanya semasa SMA, tiga tahun yang singkat. Dan aku mulai suka padanya di tahun terakhir. Aneh, kan? Berarti, rasa itu tumbuh dengan sangat pesat. Terlalu pesat.

Saat tidak menemukan apapun di Sumatera, aku pun bertolak ke Papua. Dari ujung ke ujung, memang. Tapi, aku menikmati perjalanan ini. Berlari dengan kekuatan super, membuatku merasa seperti sedang terbang. Benar-benar menyenangkan. Dan sekarang aku mengerti mengapa teman-temanku suka berenang. Berenang memang menyenangkan.

Aku sampai di salah satu hutan belantara di Papua beberapa hari kemudian. Aku tidak pernah pergi ke Papua sebelumnya. Bahkan, aku tidak pernah keliling Indonesia seperti ini sebelumnya. Aku memang sering pindah-pindah sekolah dan tempat tinggal, tapi belum sampai keliling Indonesia. Ini pengalaman yang menyenangkan, sayangnya, dalam keadaan yang tidak mengenakkan.

Langkahku terhenti ketika mencium aroma yang tidak lazim. Darah segar. Bukan hanya sekedar darah segar. Darah segar manusia. Dalam jumlah yang banyak.

Aku mulai bergerak mendekati sumber bau-bauan itu dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Bisa saja ada perang saudara atau apa.

Aku terpana ketika melihat puluhan manusia tergeletak di rerumputan dalam keadaan yang mengenaskan – aku cukup yakin darah mereka sudah dihisap sampai habis. Dan mataku melebar ketika melihat sesosok pria sedang berjongkok di dekat salah satu mayat, dengan gigi tertancap pada lehernya.

“Ka-kau vampir juga?” todongku langsung.

Si vampir pria itu menoleh ke arahku dengan tenang, seperti sudah mengetahui kedatanganku sedaritadi. Pria itu menatapku lama, lalu menyunggingkan senyum. “Oh, kau rupanya.”

Aku membelalakkan mata. “Ka-kau mengenaliku? Bagaimana bisa?” tanyaku tak habis pikir. Lalu, suatu fakta menyetakku. “Oh! Kau… penciptaku?”

Pria itu tertawa. “Secara tidak sengaja,” jawabnya ringan. “Bagaimana hari-harimu? Indah? Oh, apa kau sudah makan?”

Aku menatapnya ngeri. “Mengapa kau mengigitku?” tanyaku langsung. Aku tidak perlu berbasa-basi lagi.

Pria itu kembali tertawa. “Itu hanya sebuah kecelakaan, kalau bisa dibilang begitu. Atau keberuntunganmu,” sahutnya.

Aku mengernyit. Beruntung, katanya?

“Tadinya, aku ingin meminum darahmu, tapi seseorang datang – bergerombol, sebenarnya, jadi aku terpaksa pergi. Hukum Volturi belaku, kau tahu? Kita harus merahasiakan keberadaan kita dari manusia,” lanjutnya.

“Dan ini caramu merahasiakannya?” tanyaku sambil melirik mayat-mayat yang tergeletak di mana-mana.

Vampir pria itu tertawa. “Tempat ini sangat sepi dan terpencil, kau tahu? Jadi, kurasa tidak masalah menyerang mereka seperti ini. Tidak akan menarik perhatian siapapun,” sahutnya santai.

Aku bergidik. “Lalu, kenapa kau bisa ada di sini? Bukannya… seharusnya kalian ada di daerah Amerika dan Eropa?”

Pria itu mengangkat sebelah alisnya. “Oh? Kau salah satu pembaca novel itu?” tanyanya, membuatku mengernyit heran.

“Kau tahu tentang novel itu?” Aku balik bertanya. Kurasa kami membicarakan novel yang sama.

“Ya, novel yang mengancam keberadaan kami,” sahutnya.

“Jadi… semua yang ada di dalam novel itu nyata?” tanyaku tak percaya. Apa aku salah menangkap maksud vampir di hadapanku ini?

“Ya,” sahutnya mantap. “Dan soal pertanyaanmu sebelumnya, kami memang tinggal di sekitar Amerika dan Eropa, beberapa mulai menyebar ke Afrika dan Asia juga. Kami ini berjumlah banyak, kau tahu? Dan kebanyakan dari kami nomaden. Kami berpindah dan mulai menyebar kemana-mana. Jadi, menemukan salah satunya di sini, bukan sesuatu yang mengherankan,” jelasnya dengan cepat.

“Untuk kasusku, memang sedikit berbeda. Aku penjelajah. Aku suka berkeliling, berpindah tempat kemanapun yang aku mau, sendirian. Dan tahukah kau, darah setiap manusia yang berasal dari tempat yang berbeda memiliki rasa yang berbeda-beda juga? Aku suka menikmati rasa yang berbeda-beda itu,” lanjutnya, membuatku mengangkat alis.

Ia mengatakannya seperti seorang wisata kuliner. Konyol, sekaligus mengerikan.

Ada sangat banyak pertanyaan yang hinggap di kepalaku, membuatku bingung, mana yang harus kutanyakan terlebih dahulu. Tapi aku tahu aku menemukan orang yang tepat. Ia yang mentransformasiku – walau tidak sengaja, dan sepertinya ia mengetahui banyak hal, jadi aku bisa memuaskan rasa penasaranku ini.

“Ceritakan padaku tentang novel itu. Bagaimana mungkin Stephenie Meyer tahu segalanya tentang vampir dan mengeksposnya begitu saja?”

Vampir pria itu menggelengkan kepalanya. “Bukan dia yang mengetahuinya, tapi vampir lain.”

Aku yakin mulutku sudah terbuka sangat lebar saat ini, mungkin akan robek jika aku bukan vampir. “Vampir lain? Dia berteman dengan vampir lain?”

Pria itu kembali menggeleng. “Kau tahu Vladimir dan Stefan?”

Aku mengangguk. “Mereka dalang di balik semua ini?” tanyaku tak percaya. Well, bisa jadi, sih. Vladimir dan Stefan mempunyai dendam dengan Volturi. Bisa saja mereka menggunakan ini untuk menjatuhkan mereka?

“Mereka menciptakan satu vampir berbakat bernama Bannister. Dia dulunya seorang penghipnotis yang handal, sehingga saat menjadi vampir, dia bisa mengontrol pikiran manusia maupun vampir lain,” ceritanya. “Bannister mengontrol Stephenie untuk menceritakan semua hal tentang vampir, untuk menjatuhkan Volturi, tentu saja.”

Limpahan informasi ini begitu sulit untuk kucerna, bahkan dengan ‘otak’ vampir. “Lalu, bagaimana tindakan Volturi terhadap kasus ini?”

“Karena manusia menganggap hal ini hanyalah sebuah cerita yang tidak nyata, Volturi tidak mempermasalahkannya. Mereka hanya menginstruksikan para vampir untuk lebih berhati-hati dalam berburu,” jawab penciptaku itu.

“Dan kau mengabaikannya,” tuduhku, masih sedikit kesal karena vampir di hadapanku ini telah merengut jiwa manusiaku seenaknya.

Vampir pria itu mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Aku tidak merasa begitu. Buktinya, belum ada yang menangkap basah perbuatanku, kan?” tanyanya – pertanyaan retoris, yang ia jawab sendiri. “Kecuali kau, tentunya.”

“Jadi, sekarang apa yang harus kulakukan?”

“Kau bisa ikut berkelana denganku, kalau kau mau. Atau berkelana sendirian. Terserah padamu,” sahut vampir itu santai. “Ngomong-ngomong, aku Vaughn,” ujarnya, dan bergerak dengan cepat – nyaris terbang, ke arahku.

“Aku Mildred,” sahutku singkat.

Vampir yang kini berdiri beberapa sentimeter dariku menatapku takjub. “Kau… vegetarian?” tanyanya heran, sambil menatap lurus-lurus ke dalam kedua bola mataku yang mulai berubah kekuningan. Mungkin sekarang warnanya jingga? Entahlah.

Aku mengangguk.

“Padahal kau baru saja melewati masa liarmu,” lanjut Vaughn.

Aku kembali mengangguk. “Aku… fans keluarga Cullens,” jawabku sekenanya. Well, itu memang benar. Walaupun bukan alasan utamanya. “Oh ya, apakah kau mengenal mereka?”

Vaughn tertawa. “Tentu saja, siapa yang tidak mengenal mereka?” tanyanya skeptis. “Apa kau mau bertemu dengan mereka? Atau mungkin bergabung dengan mereka?”

Aku berpikir sejenak. Sebenarnya, ide itu kedengaran sangat menarik. Hanya saja…

“Sekarang mereka tinggal dimana?”

“Kanada. Aku bisa mengantarmu kalau kau mau,” sahut Vaughn santai.

Kanada? Jauh sekali. Tapi, aku punya waktu yang cukup untuk itu.

“Baiklah. Antarkan aku ke sana.”

Check out Part 2