Posts Tagged ‘Friendship’

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : Let Go

Pengarang        : Windhy Puspitadewi

Penerbit           : Gagas Media

Jumlah Halaman  : 244 halaman

Let Go

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Dari awal, aku penasaran sama karyanya kak Windhy, apalagi yang berjudul Let Go. Karena udah langka, aku beli online, deh. Cukup susah, loh, tapi untungnya ketemu. Dari semua karya kak Windhy, yang pernah kubaca baru Seandainya dan Let Go, dan terasa banget dua karya ini ditulis oleh orang yang sama. Dua-duanya punya moral lessons dan kisah yang menyentuh – bukan kisah romance menye-menye ala remaja. Ini yang kusuka – karya yang bermutu. Sayangnya, dari dua karya ini, jujur aja aku lebih suka Let Go, sih, karena tokoh-tokohnya lebih terasa nyata dan unik, terus kisahnya lebih menyentuh, somehow.

Kenapa aku penasaran sama Let Go? Karena banyak yang bilang novel ini bikin sedih – tipe yang kusuka juga, didukung oleh cover berwarna biru yang melambangkan ‘mellow’ atau ‘haru biru’, juga judul yang menarik – Let Go, melepaskan. Biasanya yang berhubungan dengan kata ini pasti ‘menyedihkan’ dan ‘menyakitkan’. Just an assumption, which is true, anyway – in this case. Dan seperti novel Gagas lainnya, novel ini juga memilik blurb yang bikin gregetan.

 

Kau tahu apa artinya kehilangan? Yakinlah, kau tak akan pernah benar-benar tahu sampai kau sendiri mengalaminya.

      Raka tidak pernah peduli pendapat orang lain. Selama ia merasa benar, dia akan melakukannya. Hingga, suatu hari, mau tidak mau, ia harus berteman dengan Nathan, Nadya, dan Sarah. Tiga orang dengan sifat yang berbeda, yang terpaksa bersama untuk mengurus mading sekolah.

      Nathan, si pintar yang selalu bersikap sinis. Nadya, ketua kelas yang tak pernah meminta bantuan orang lain. Dan Sarah, cewek pemalu yang membuat Raka selalu ingin membantunya. Lagi-lagi, Raka terjebak dalam urusan orang lain, yang membuatnya belajar banyak tentang sesuatu yang selama ini ia takuti, kehilangan.

 

Bedanya dari novel Gagas yang lain, blurb novel ini lebih jelas – sedikit mendeskripsikan isi novel, sedangkan novel lainnya – terutama novel-novel Gagas yang baru-baru ini dicetak, semua blurbnya hanya berisi kata-kata puitis yang menggugah hati, tapi justru membuat pembaca bingung, mana yang harus dibeli karena semua terdengar manis di telinga. Itu bagus, punya blurb yang menarik, tapi kelemahannya, kadang kata-kata manis itu memberi harapan kosong. Pembaca jadi mengharapkan sesuatu yang terlalu bagus, jadinya malah kecewa sendiri. Novel ini berbeda. Aku nggak kecewa sama sekali setelah baca novel ini – bahkan baca ulang-ulang dan ngumpulin quote-quote bagusnya.

‘Kehilangan’, sama seperti ‘melepaskan’, berkaitan dengan dua rasa yang kusebut di atas: ‘menyedihkan’ dan ‘menyakitkan’. Kehilangan dan melepaskan itu dua kata yang berbeda, tapi kadang saling berhubungan. Saat kita kehilangan seseorang, nggak ada yang bisa kita lakukan selain melepaskan orang tersebut. Kurasa semua orang tau melepaskan bukan hal yang mudah – sama sekali nggak mudah.

Caraka mengalaminya – kehilangan sang Ayah, dan sulit melepaskannya. Ia membenci ayahnya karena tega meninggalkannya dan ibunya, sehingga ia selalu menolak untuk mengunjungi makam sang Ayah. Lalu, ia bertemu dengan Nathan – cowok pintar yang selalu beraura dingin, Nadya – ketua kelas yang mandiri, dan Sarah – cewek pemalu yang sulit menolak permintaan orang lain.

Awalnya, ia tidak suka berteman dengan mereka, namun, situasi menjebaknya, dan lama kelamaan, ia pun terbiasa, bahkan menikmatinya. Sifatnya yang terlalu baik membuatnya menjadi ‘tukang ikut campur’. Ia tidak tahan melihat orang lain kesulitan dan selalu ingin membantu, tapi terkadang ia tidak menyadari batas-batas privasi seseorang. Beberapa orang senang akan sifatnya itu, sisanya merasa keberatan. Namun, berkat sifatnya itu, Raka belajar banyak – persahabatan, rela berkorban, dan tentu saja, melepaskan.

Seperti yang udah kusebut di atas, novel ini mengajarkan banyak hal, dan sanggup membuat pembaca terharu. Kisahnya sederhana aja, tapi nggak ditulis sembarangan. Konflik-konfliknya nyata, dialami oleh pembaca dalam kehidupan sehari-hari. Begitu pula tokohnya – sifat-sifat mereka sering ditemui di dalam diri kita maupun orang lain, tapi kak Windhy berhasil membuat mereka unik, in their own way.

Aku suka banget sama karakter Caraka. Kurasa semua fans kak Windhy yang udah baca novel ini juga kecantol sama dia. Nathan is fine, too. Dia yang bikin cerita ini makin sedih. Oh, bisa dibilang, it’s a sad ending, tapi karena tokoh utamanya belajar sesuatu dari itu, we can say it’s somewhere between.

Banyak banyak kalimat-kalimat bermakna yang bisa dijadikan pelajaran buat kehidupan kita. Aku ingat, aku baca novel ini selama liburan lebaran yang lalu. Aku pulang kampung, dan bawa novel ini. Aku baca tanggal 8, terus besoknya masih belum bisa move-on, jadi ulang baca sambil ngutip kalimat-kalimat bagus, dan (ehem, malu, nih) aku post di twitter.

Let Go

      Pokoknya, novel ini recommended, deh. Everyone should read it! Pengen rate 5 of 5, tapi entar dibilang mainstream, jadi 4.5 of 5, deh. Hehehe.

Advertisements

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku        : Swiss: Little Snow In Zurich

Pengarang        : Alvi Syahrin

Penerbit           : Bukune

Jumlah Halaman  : 308 halaman

Swiss

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Pertemuan antara Yasmine dan Rakel adalah pertemuan yang biasa-biasa saja. Mereka kebetulan sama-sama suka nongkrong di sebuah dermaga, dan selalu bertemu di sana. Namun, mereka tidak pernah menyangka bahwa kisah mereka akan lebih dari itu. Dimulai dari percakapan basa-basi, sampai janji untuk terus bersama.

Awalnya, mereka tidak menyadari ada sesuatu yang lebih besar dari rasa penasaran yang mengikat mereka berdua. Dan ketika akhirnya mereka sadar, semuanya terasa terlambat. Sebenarnya, mereka bisa terus bersama dari awal, namun kebutaan mereka terhadap rasa yang nyata itu membuat mereka harus menemui rintangan demi rintangan.

Saya sama sekali tidak menyangka kalau penulis novel ini adalah seorang laki-laki. Maaf, tapi jujur saja, namanya mirip nama cewek – well, karena ada teman cewek saya yang namanya Alvi, jadi ya, mindset saya langsung mengira Alvi yang ini juga cewek. Tapi, sepertinya saya tidak sendirian dalam hal ini. Gaya penulisannya jelas berbeda dari penulis cewek, tetapi ada unsur-unsur tertentu yang membuat saya terus menganggap kalau ini adalah tulisan cewek (sungguh maaf, Kak!).

Ide ceritanya bisa dibilang sederhana dan umum, namun ada unsur unik dan twistnya sedikit. Tetapi jujur saja, saya tidak begitu tertarik dengan novel yang ini. Settingnya keren di Swiss, tapi entah mengapa saya tidak terlalu merasakannya. Mungkin diksi dan pengembangan karakternya yang kurang, sehingga saya tidak terlalu terjerumus ke dalam cerita. Namun, akurnya cukup bikin gemas juga, sih.

Di novel inilah pertama kalinya saya lebih suka sama tokoh sampingannya daripada tokoh utama. Biasanya, saya tergila-gila sama tokoh utama cowoknya, tapi di novel ini, saya malah cenderung memihak pada tokoh sampingan cowoknya. Mungkin karena dia lebih manis.

Covernya keren, menggambarkan pemandangan Swiss yang bersalju – cocok sekali. Lalu ada bonus bookmark dan postcard yang tidak kalah keren. Novel ini tetap masuk daftar rekomendasi saya, namun kalau harus dikasih bintang, mungkin 3 of 5.

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : London: Angel
Pengarang        : Windry Ramadhina
Penerbit           : Gagas Media
Jumlah Halaman  : 330 halaman

London: Angel

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Menceritakan tentang seorang pemuda bernama Gilang, yang jatuh cinta pada sahabat masa kecilnya, Ning. Namun, sebelum ia sempat menyatakan perasaannya pada Ning, gadis itu sudah pindah ke London untuk berkuliah dan lanjut bekerja. Akhirnya, atas dukungan teman-temannya, Gilang berangkat ke London untuk menemui Ning.

Sesampainya di sana, ia menemukan bahwa Ning sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Gilang memang sengaja tidak memberitahu Ning tentang kedatangannya. Ia ingin membuat kejutan.

Selama menunggu kepulangan Ning, ia bertemu dengan seorang gadis berambut ikal berwarna emas yang sangat cantik bak malaikat. Namun, gadis itu selalu menghilang saat hujan berhenti. Ia meninggalkan payung merahnya begitu saja, dan Gilang pun membawa payung itu pulang. Ia bertemu beberapa kali dengan gadis itu, namun tidak berhasil mendapatkan jawaban mengenai kemisteriusan gadis itu.

Gilang berteman baik dengan Ed – pelayan di motel tempat ia menginap, dan Mister Loweslie – pemilik toko buku di seberang motel. Ia juga bertemu dengan Ayu, gadis pengoleksi buku cetakan pertama yang juga berasal dari Indonesia dan sedang berlibur di London.

Saat Ning pulang, ia benar-benar kaget akan kedatangan sahabatnya itu. Mereka pun menggunakan waktu yang singkat itu – Gilang hanya menetap selama lima hari, sebaik-baiknya. Suatu hari, mereka bertemu dengan seorang seniman yang sangat dikagumi oleh Ning, Finn – begitu Gilang memanggilnya. Gilang menyadari perbedaan pada Ning ketika ia berada di sekitar Finn.

Awalnya Gilang tidak memedulikan itu. Ia tetap menyatakan perasaannya pada Ning. Namun kemudian, saat Ning menerima cintanya, ia malah melepas gadis itu, karena tahu gadis itu mencintai pria lain. Ia tidak mau memaksa gadis itu untuk mencintainya.

Banyak hal yang terjadi selama lima hari itu. Dan payung merah milik gadis berwajah malaikat itu membawa keajaiban cinta bagi orang-orang di sekitarnya. Mister Loweslie yang akhirnya mendapat cinta dari Madam Maudge, pemilik motel tempat Gilang menginap. Lalu pria yang duduk di sebelah Gilang selama penerbangan ke London, tidak jadi bercerai dengan istrinya. Dan Ning, yang cintanya dibalas oleh Finn.

Sedangkan Gilang? Tanpa ia sangka, ia pun menerima keajaiban cintanya sendiri dari payung merah itu.

Kisah yang menarik, menggabungkan mitos (tentang malaikat yang turun bersama hujan) dan kenyataan. Penuh misteri, tidak tertebak kemana jalan cerita akan membawa kita. Sudut pandang orang pertama – sisi Gilang, sehingga kita bisa mendalami karakternya dengan baik.

Pendeskripsian setting yang luar biasa, membawa kita berkeliling kota London yang lembab. Benar-benar menyenangkan. Kita dapat membayangkan setiap adegan dengan jelas di dalam benak kita. Penggambaran fisik tokoh dan suasana yang terbentuk juga bagus, sehingga segalanya benar-benar terasa nyata.

Konflik yang ada kebanyakan konflik batin, dan rata-rata masalah cinta, namun pengembangannya sangat baik, sehingga tetap terasa fresh. Bisa dibilang kisah ini berakhir bahagia, namun di sisi lain masih menggantung. Saya rasa novel ini masih ada lanjutannya – atau setidaknya masih bisa dilanjutkan menjadi kisah lain.

Saya benar-benar jatuh cinta dengan covernya – berwarna merah dengan tulisan “London” yang terkesan royal. Benar-benar menggugah hati. Intinya, novel ini worth to read. Recommended!

[COPYRIGHTED!]

Judul Film          : Refrain

Produksi            : Maxima Pictures

Sutradara          : Fajar Nugros

Penulis Skrip      : Haqi Achmad

Adaptasi dari      : Novel ‘Refrain’ by Winna Efendi

Film Refrain

(http://www.youtube.com/watch?v=7waniQXMbxE)

Refrain. Setiap kali mendengar satu kata itu disebut, yang muncul di benakku hanya satu – kisah Niki, Nata dan Anna. Orang lain mungkin akan berpikir, “Oh, refrain itu kan, bagian dari lagu yang diulang-ulang. Reff. Chorus.” Memang itu arti asli dari kata ‘Refrain‘, tapi, yang pertama kali kuingat adalah novel ketiga kak Winna Efendi yang akhirnya difilmkan ini.

Aku sudah membaca novelnya, yang langsung masuk ke dalam list novel favoritku. Bisa dibilang aku fans berat kak Winna, jadi, saat  mendengar rumor Refrain akan difilmkan, aku langsung bersorak-sorai (literally). Padahal, aku tidak begitu menyukai film loka. Kebanyakan novel Indonesia yang difilmkan berakhir kurang memuaskan. Setelah meningat fakta-fakta itu, semangatku langsung ciut. Aku takut film Refrain tidak sebagus ekspektasiku.

Suatu hari, aku menemukan fanbase official untuk film Refrain di twitter. Di sana, diupdate perkembangan film Refrain, mulai dari pemain-pemainnya, kru yang bertugas, serta foto-foto selama syuting. Semakin dilihat,  aku menjadi semakin tertarik. Pemain-pemainnya good looking, dan setting yang digunakan juga kelihatan menarik. Apalagi, salah satu adegannya berlatar di Vienna, Austria. Awalnya, aku kurang setuju dengan pemainnya, karena agak berbeda dari ekspektasiku. Tapi, setelah dilihat-lihat, ternyata cocok juga. Apalagi pemain Olivernya – Maxime Bouttier. Ganteng!

Aku pun kembali bersemangat menanti-nanti film ini. Sayangnya, saat film ini akhirnya dirilis, aku belum bisa langsung menontonnya, karena aku sudah berjanji untuk menontonnya dengan temanku. Aku menjadi semakin tidak sabar untuk menontonnya. Akhirnya, aku menonton film ini di hari tayang kelima, yaitu pada hari Selasa, 25 Juni 2013.

Film dan novel memang tidak bisa seratus persen sama. Jelas ada bagian dari novel yang ditiadakan di film, atau dipersingkat. Novel selalu lebih rinci, sedangkan film harus lebih memerhatikan sisi entertainment – jangan sampai membuat penonton bosan. Karena faktor-faktor itulah, film Refrain menjadi berbeda dari novelnya. Namun, tetap saja ada bagian yang sama, dan aku merasa senang saat mengenalinya.

Film ini diawali dengan monolog Niki, tokoh utama cewek di film ini, yang diperankan oleh Maudy Ayunda. Ia menceritakan kedekatannya dengan sahabat masa kecilnya, Nata – tokoh utama cowok yang diperankan oleh Afgansyah Reza. Mereka sudah bersahabat sejak kecil dan melakukan hampir segalanya bersama. Rumah mereka bersebelahan, dan setiap pagi, Nata akan mengantar-jemput Niki ke sekolah dengan sepedanya.

Suatu hari, sekolah mereka kedatangan murid baru – Anna. Dan Anna pun masuk ke dalam lingkaran Niki-Nata dengan mudahnya. Anna diam-diam memiliki perasaan pada Nata, yang sayangnya sudah terlebih dahulu memiliki perasaan pada Niki. Sedangkan Niki, ia terlalu sibuk untuk mencari cinta pertamanya. Niki yang penasaran bagaimana rasanya jatuh cinta, akhirnya bertemu dengan Oliver, kapten basket dari sekolah lain. Mereka semakin akrab, dan akhirnya berpacaran. Ini membuat Nata menjadi uring-uringan, dan akhirnya persahabatan mereka pun merenggang.

Persahabatan mereka menjadi semakin kacau setelah Nata akhirnya mengetahui bahwa Anna menyukainya, tetapi ia menolak, dan mengatakan bahwa ia menyayangi Niki. Niki mendengarnya dan marah, lalu mulai menjauh. Niki bingung, mengapa persahabatan mereka menjadi kacau begitu. Saat prom, Niki yang seharusnya datang dengan Oliver, akhirnya pergi sendirian karena Oliver sakit. Sesampainya di sana, ia malah menemukan Oliver – yang ternyata tidak sakit, datang dengan Helena, salah satu teman Niki. Niki sakit hati, membuat emosi Nata tersulut, lalu menonjok Oliver.

Setelah itu, Nata- yang ternyata diterima di sekolah musik di Vienna, memberitahukan kepergiannya pada Niki, dan mereka pun berpisah. Selepas kepergian Nata, Niki menemukan amplop biru berisi surat dari Nata, yang menyatakan perasaannya. Niki mulai merasa kehilangan, dan menyadari bahwa ia juga memiliki perasaan khusus untuk Nata.

Beberapa tahun kemudian, Niki yang tampak lebih dewasa, tidak sengaja menemukan amplop biru dari Nata, dan memutuskan untuk menyusul Nata ke Vienna. Di akhir cerita, Nata dan Niki kembali dipertemukan, dan saling jujur pada perasaan mereka masing-masing.

Ada beberapa adegan dan tokoh di novel yang ditiadakan, dan endingnya juga dibuat berbeda. But overall, aku tetap merasa puas.  Kisah di novel dikemas dengan baik dalam bentuk film. Full of surprises. Sayangnya, adegan yang diambil di Vienna agak pecah, namun selebihnya tidak masalah. Dan yang membuat film ini lebih unggul dari film Indonesia lainnya adalah, film ini tidak pelit, jadi tidak tanggung-tanggung memilih setting. Selain itu, aksesori-aksesori yang digunaka dibuat semirip mungkin dengan yang dideskripsikan di dalam novel, sehingga semuanya terasa mendukung dan sinkron. Poster filmnya pun terlihat sangat menarik, sudah hampir setara dengan film-film luar negeri. Salut!

Aktor dan aktrisnya juga mendalami karakter dengan baik. Film ini bahkan membuatku jatuh cinta pada tokoh Anna yang kalem dan Oliver yang keren. Walaupun kadang terasa agak kaku, namun akhirnya tetap saja bagus. Soundtracknya juga menarik. Liriknya disesuaikan dengan isi ceritanya. Film ini film lokal terbagus yang pernah kutonton. Recommended!

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku         : Truth or Dare

Pengarang        : Winna Efendi dan Yoana Dianika

Penerbit            : Gagas Media

Jumlah Halaman  : 304 halaman

Truth Or Dare

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Persahabatan dan cinta. Agak sulit jika kita disuruh memilih salah satu di antaranya. Kebayakan orang, jika ditanya, mungkin akan menjawab “persahabatan” namun kenyataannya lebih banyak yang memilih “cinta” tanpa sadar. Begitu pula yang dialami Catherine dan Alice. Di saat Alice lebih memilih “persahabatan”, sahabatnya malah memilih “cinta”.

Novel ini mengisahkan dua orang sahabat, Alice dan Catherine. Mereka sudah bersahabat lama, dan persahabatan yang mereka jalin sangat kuat. Lalu, datang anak cowok baru di kelas mereka, Julian. Dan tiba-tiba saja, gelembung antara Catherine dan Alice diinterupsi oleh si cowok baru itu. Mereka sama sekali tidak keberatan. Terbentuklah rantai baru. Persahabatan antara Al-Cat-Julian.

Ada yang bilang, cowok dan cewek mustahil untuk bersahabat. Pernyataan itu terkadang benar. Well, itulah yang terjadi di antara Al, Cat dan Julian. Al menyukai Julian, namun Julian menyukai Cat. Dan rupanya Cat juga menyukai Julian. Al yang menyadari chemistry di antara Julian dan Cat memilih mundur, dan membiarkan mereka pacaran. Segalanya berjalan mulus. Persahabatan mereka masih tetap erat seperti biasa, hingga suatu malam. Ketika Julian sedang berkabung, dan memerlukan Cat di sisinya, namun yang hadir hanyalah Al, karna Cat sedang berhalangan. Lalu sebuah kecelakaan terjadi, membuat putusnya hubungan antara Cat dengan Julian, juga persahabatannya dengan Al.

Tetapi, ada juga yang bilang, persahabatan sejati tidak akan begitu mudahnya retak, bukan begitu? Namun, yang terjadi pada Al dan Cat sedikit mengenaskan. Ketika keretakan di antara persahabatan mereka hampir pulih, ada saja sesuatu yang menghalanginya, dan membenarkan pepatah yang mengatakan “Penyesalan datang terlambat”. Julian pun merasakan hal yang sama.

Kisah persahabatan yang sangat menyayat hati. Novel ini lebih menekankan sisi persahabatan daripada romance,  namun tetap saja unggul. Ini adalah duo dari dua penulis favorit saya. GagasDuet, berarti kolaborasi antara dua penulis. Sangat menyenangkan, karena kita bisa menikmati karya brilian dua orang sekaligus, dengan gaya menulis yang berbeda.

Winna Efendi mengambil sudut pandang Alice, dan Yoana Dianika mengambil sudut pandang Catherine. Keduanya sangat mendalami karakter yang mereka pegang. Karena masing-masing penulis fokus pada karakter yang dipegang, sehingga tokoh yang tercipta pun unik dan sangat hidup. Terasanya seperti mereka yang sedang bercerita.

Pendeskripsian latarnya juga sangat bagus. Menyenangkan sekali bisa membayangkan suasana pantai seakan sedang berada di sana. Pemilihan katanya juga menakjubkan, membuat pembaca mengikuti arus dengan senyum dan tetesan air mata.

Covernya yang berwarna biru sangat menggugah hati. Dengan gambar ombak yang sesuai dengan latar dalam novel. Desain layoutnya juga mengagumkan, seperti biasa.

Novel yang sangat bagus! Sangat direkomendasikan pada para remaja, karena cerita ini menceritakan persahabatan dan cinta di kalangan remaja. Kalian tidak akan menyesal setelah membacanya.

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku        : Remember When

Pengarang         : Winna Efendi

Penerbit            : Gagas Media

Jumlah Halaman  : 260 halaman

Remember When

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Persahabatan dan cinta. Dua hal yang berbeda tetapi saling melengkapi. Dua hal yang selalu berdampingan, namun sulit bersatu, bahkan bisa saling meniadakan. Ada persahabatan yang didasari cinta, atau cinta yang didasari persahabatan. Sahabat tentunya saling mencintai, layaknya sahabat. Dan dalam kisah percintaan, juga dijalin hubungan bersahabat yang erat. Tetapi ketika keduanya melebur menjadi satu, ada salah satu aspek yang mendominasi. Seperti ada yang mengatakan, sulit untuk memilih antara persahabatan dan cinta.

Adrian, Moses, Gia, dan Freya, empat tokoh utama dari novel Remember When, juga mengalami dilema yang sama. Awalnya, mereka dipersatukan melalui hubungan persahabatan. Adrian bersahabat dengan Moses, sedangkan Gia bersahabat dengan Freya. Moses menyukai Freya, dan Adrian menyukai Gia. Akhirnya, Moses berpacaran dengan Freya dan Adrian berpacaran dengan Gia. Lingkaran Gia-Freya dan Adrian-Moses pun melebur menjadi satu lingkaran yang lebih besar, dan terbentuk juga dua lingkaran kecil yang baru, yaitu lingkaran Moses-Freya dan Adrian-Gia.

Mereka mengira lingkaran mereka sudah simetris, cocok apa adanya, tidak akan berubah. Tetapi, perubahan adalah satu-satunya hal yang pasti di dunia ini. Apapun dapat berubah. Lingkaran-lingkaran kecil yang mereka bentuk pun akhirnya saling melebur. Ada yang membentuk lingkaran baru, ada yang hancur. Konflik-konflik bermunculan, dimana lingkaran baru terbentuk dan meniadakan lingkaran yang lain.

Untuk mempertahankan lingkaran itu, harus ada yang mengalah, bisa satu pihak, atau mungkin semua pihak. Siapakah yang sanggup melakukannya? Apakah di akhir lingkaran yang telah mereka jalin susah payah dapat pulih kembali?

Persahabatan memang sering didominasi oleh cinta, namun persahabatan sejati akan terus bertahan hingga akhir, walaupun melalui berbagai rintangan. Persahabatan mereka termasuk dalam kategori ini.

Remember When adalah salah satu karya cemerlang Winna yang mengisahkan tentang persahabatan dan cinta remaja. Tema ini memang sudah sering diangkat, bahkan oleh Winna sendiri, seperti pada novelnya yang berjudul Refrain dan Ai. Tetapi hebatnya, Winna dapat menyajikan kisah ini secara berbeda, sehingga pembaca tidak merasa bosan dengan tema yang diangkat. Bumbu-bumbu baru dipercikkan, memberikan sensasi yang berbeda pada kisah yang satu ini. Konflik yang diberikan cukup kompleks, dengan solusi yang tidak disangka-sangka, membuat pembaca tidak akan bisa menebaknya.

Gaya bahasa yang digunakan sederhana sehingga mudah dicerna oleh pembaca dan terasa mengalir sejalan dengan alurnya. Pendekripsian latarnya sangat baik, sehingga seluruh aspek dalam novel ini terasa hidup, mulai dari tokohnya, hubungan antar tokoh, latar, bahkan konflik yang ada pun terasa sangat nyata.

Akhir yang bahagia, siapa yang tidak suka akhir yang bahagia? Namun, akhir yang bahagia biasanya mudah ditebak. Sedangkan akhir dari novel ini, bahagia tapi tidak mudah ditebak. Akhir yang membuat gregetan, karena selama membaca, pembaca akan berusaha menebak bagaimana akhirnya dan menanti-nanti akhir yang bahagia tersebut.

Sampulnya yang berwarna pucat memberikan kesan mellow yang cocok dengan kisah di dalamnya. Gambar kursi taman yang kosong, hanya ada sebuah tas, payung, dan jaket memberikan kesan sepi, sunyi, dan hampa, mendukung kesan mellow yang ingin digalakkan.

Novel ini memberikan banyak pesan moral untuk para pembacanya. Novel ini memberi makna baru mengenai persahabatan. Friendship that lasts. Maka dari itu, saya sangat merekomendasikannya kepada semua orang, terutama para remaja, karena makna persahabatan yang diajarkan sangat berarti.

Define ‘Friendship’

Posted: March 12, 2013 in Flash Fictions
Tags:

[COPYRIGHTED!]

Joining  : Ngerumpi Days Out 2012 Writing Competition

Held by : ngerumpi.com

Status    : Didn’t win 

(P.S: I modified it a bit) 

Ah, pagi yang indah – udara yang segar, langit yang biru dengan awan-awan putih bersih yang menghiasinya, burung-burung yang berkicauan, pohon-pohon rindang yang melambai-lambai… Sungguh suasana yang nyaman. Aku sedang mendayuh sepedaku bersama teman terbaikku, Jeremy, menuju toko buku favorit kami.

Sesampainya di sana, kami memarkirkan sepeda kami dan memasuki toko buku itu. Berbagai jenis buku duduk manis di rak-rak yang berjejeran rapi. Setelah kami memilih buku yang kami inginkan dan membayarnya, kami pun berjalan keluar.

Kami baru saja menginjakkan kaki di  luar toko, ketika tiba-tiba seseorang menubruk Jeremy dengan kencang, hingga ia hampir saja kehilangan keseimbangan. Untung aku dapat menahan dan membantunya berdiri kembali. Ia mengimbangi tubuhnya, lalu mecari-cari sesuatu.

“Dia mengambil dompetku!” teriaknya tiba-tiba.

Tanpa pikir panjang, Jeremy langsung mengejar pencopet itu. Aku panik, lalu ikut mengejarnya. Kami berhenti di sebuah jalan buntu dan si pencopet terkepung di sana.

Jeremy mendekatinya perlahan. “Kembalikan dompetku!” bentaknya.

Si pencopet terlihat waspada, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah benda kecil berwarna silver yang terlihat tajam.

Oh no, be careful, Jer, batinku.

Si pencopet itu mulai menodongkan pisaunya ke arahku dan Jeremy. Dengan sigap, Jeremy langsung menendang tangannya dan pisau itu pun terjatuh. Si pencopet telihat panik, lalu Jeremy menendang perutnya hingga si pencopet jatuh tersungkur di tanah.  Jeremy mengambil dompetnya dari saku si pencopet, lalu berbalik ke arahku dengan senyuman bangga.

Aku mendesah lega. “Ayo kita pergi sebelum dia pulih,” ajakku.

Ketika kami berbalik, tiba-tiba saja si pencopet itu berdiri, lalu mengambil pisaunya dan menusuk punggungku. Jeremy hendak melawan, tetapi si pencopet dengan lincah menggoreskan pisaunya pada lengan Jeremy, lalu kabur dengan dompet Jeremy di genggamannya.

Aku merasakan darah yang mengalir deras dari punggungku. Rasa sakitnya mulai melumpuhkanku, membuat kakiku tidak sanggup lagi menahan bobot tubuhku.  Jeremy dengan sigap menggendongku, lalu berlari – berlari dengan sangat kencang, hingga aku tidak dapat melihat kemana arah yang ia tuju. Pandanganku mulai kabur, dan kemudian semuanya gelap.

Aku membuka mataku perlahan. Pandanganku masih belum terlalu jelas, tetapi aku dapat melihat dinding-dinding yang putih.

“Jen, kamu udah sadar?” Sebuah suara familiar menggema di telingaku.

Aku mengedipkan mataku beberapa kali hingga pandanganku mulai jelas.

“Masih sakit, Jen?” tanya suara itu lagi.

Aku mengernyit. “Dimana ini? Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Kita lagi di rumah sakit,” sahut Jeremy singkat. “Untung aku cepat membawa kamu ke sini, or you might lost a lot of blood.”

Aku mengangguk-angguk, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Tanganmu kan, juga luka. Udah diobatin belum? Terus, dompetmu gimana?”

Jeremy tersenyum tipis. “Tenang aja, udah nggak apa-apa kok. Soal dompetku, biarin ajalah, yang penting kamu selamat.”

“Wah, gara-gara aku, dompetmu hilang, deh. Sorry,” ujarku penuh rasa bersalah.

Jeremy mengerutkan dahi. “Bukan salahmu, kok. Nggak perlu sampai segitunya, kali,” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

AKu tersenyum tipis. “Thanks, ya.”

Jeremy mengangkat bahu. “No worries, that’s what friends are for,”  sahutnya sambil tersenyuman tulus.

P.S (again): The limit was 200 words, so that’s why it’s really short and simple. But I hope you still enjoyed it. Thanks for reading 😀

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku        : Summer Breeze

Pengarang         : Orizuka

Penerbit            : Puspa Swara

Jumlah Halaman  : 216 halaman

Summer Breeze

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Okke Rizka Septania, atau sering disebut Orizuka, adalah pengarang novel remaja yang telah melahirkan 18 karya. Orizuka lahir di Palembang, pada tanggal 14 Sepetember 1986.  Penulis ini sangat menggemari genre thriller dan juga mempelajari bahasa asing. Selain menulis, di waktu luang, ia gemar membaca, menonton, mendengarkan music, serta fangirling bersama para Kpoppers. (Sumber: http://orizuka.com/about/)

Karya keduanya yaitu Summer Breeze, mengisahkan tentang sepasang saudara kembar yang kepribadiannya bertolak belakang. Orion yang sangat unggul hampir di segala bidang dan berkepribadian baik, sedangkan Ares, preman kampus yang selalu tersisih dan hidup di bawah baying-bayang Orion. Hidup mereka diwarnai oleh kebencian terhadap satu sama lain, disertai persaingan di setiap aspek kehidupan mereka, termasuk cinta.

Kepribadian mereka memang berbeda seratus delapan puluh derajat, namun selera cinta mereka sama. Mereka sama-sama jatuh cinta pada sahabat masa kecil mereka, Reina. Reina menyayangi mereka berdua, tapi hanya satu yang ia pilih, dan ia sudah memutuskannya sejak awal. Tidak ada yang dapat mengubah keputusannya itu. Ada alasan di balik keputusan tersebut, seperti adanya alasan di balik kepribadian Ares yang keras.

Saudara tetaplah saudara. Kita tidak dapat membenci keluarga kita sendiri, apapun yang terjadi. Walaupun sudah dibangun tembok yang sangat tinggi di antara mereka berdua, tetapi untunglah Reina sanggup meruntuhkannya sebelum terlambat. Walaupun tidak berakhir manis, setidaknya tidak ada penyesalan yang mendalam.

Novel ini benar-benar menakjubkan. Bukan hanya kisah percintaan remaja yang biasa saja, tetapi juga membahas masalah keluarga dan persahabatan. Ada banyak moral lessons yang ingin disampaikan sang penulis melalui novel ini. Tentang arti cinta, persahabatan, dan juga keluarga. Penulis menyajikan konflik yang kompleks dan menarik, dengan penyelesaian yang tak terduga, membuat alurnya semakin menarik. Ada rahasia dibalik rahasia, yang akan terungkap satu per satu, membuat pembaca tidak sabar untuk membalik halaman berikutnya.

Setiap tokoh yang diciptakan memiliki kepribadian, ciri fisik, dan masa lalu masing-masing, membuat mereka begitu hidup dan nyata, serta menarik pembaca untuk mengenal mereka lebih dalam. Chemistry yang terbentuk di antara setiap tokoh juga kuat dan nyata. Hubungan kakak-adik, orangtua-anak, antar sahabat, hubungan dengan musuh, maupun hubungan sepasang kekasih.

Sampulnya yang ramai terlihat menarik, dengan gambar seorang gadis yang berdiri di tengah dua pemuda. Reina di tengah Ares dan Orion. Cinta segitiga. Namun, bukan hanya mengenai itu. Judulnya juga terdengar menarik, Summer Breeze. Menyimpan makna tersendiri, yang membuat pembaca bertanya-tanya tentang apa novel ini bercerita.

Selain itu, bahasa yang digunakan sangat sederhana dan komunikatif, sehingga para pembaca tidak akan kesulitan dalam menangkap maksud sang penulis. Novel ini tidak tebal, sehingga dapat diselesaikan dengan cepat untuk mengisi waktu luang.

Novel ini telah diangkat ke layar lebar pada tahun 2008. Plotnya yang menarik memang pantas untuk difilmkan. Saya sangat merekomendasikan novel ini kepada siapa saja, bukan hanya remaja, karena novel ini bukan teenlit biasa. Novel ini membahas permasalahan manusia yang umum, sehingga dapat dibaca oleh semua kalangan masyarakat.

Love United by Orizuka

Posted: March 12, 2013 in Book Reviews
Tags: , ,

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku        : Love United: High School Paradise 2nd Half

Pengarang         : Orizuka

Penerbit            : Puspa Populer

Jumlah Halaman  : 190 halaman

Love United

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Jatuh cinta? Semua orang pasti akan merasakannya. Tapi, bagaimana jika kita tahu kalau kita sedang jatuh cinta? Ada yang bilang, saat jatuh cinta, jantung kita akan berdetak tidak karuan, pipi kita memanas atau merona, nafas kita memburu, rasa bahagia yang meluap-luap, dan lain-lain. Tapi ada juga yang bilang kalau jatuh cinta itu sakit, mungkin kalau cinta kita bertepuk sebelah tangan. Ada banyak kisah cinta yang terjalin di dunia. Ada yang romantis, mengharu-biru, bahkan menggelitik saraf tawa. Cinta bisa kapan datang saja tanpa diundang.

Pada novel Orizuka yang berjudul Love United ini – sekuel dari High School Paradise, ada banyak kisah cinta yang terbentuk selama masa SMA. Ada yang kisah cinta yang kocak, menyayat hati, manis, semuanya bercampur aduk di novel ini, membuatnya menjadi satu paket lengkap. Setting yang digunakan adalah Jakarta, menyorot kehidupan para remaja yang bersekolah di sebuah SMA elite bernama Athens. Tokoh utamanya adalah empat cowok jenius sekaligus bengal yang sangat mencintai sepak bola, yaitu Rama, Cokie, Lando, dan Sid. Mereka berempat adalah cowok-cowok keren yang popular di sekolah.

Di novel ini, keempat cowok keren ini disambet virus cinta. Ada Rama, cowok yang baik luar-dalam dan dewasa, telah menjalin hubungan 4 tahun dengan cewek yang lebih tua 3 tahun darinya. Ada Cokie, cowok paling ganteng yang terkenal playboy, akhirnya tobat dan menemukan cewek sederhana yang sanggup membuat jantungnya tidak keruan. Ada Lando, cowok yang pendiam dan dingin, menemukan malaikat hidupnya. Dan yang terakhir ada Sid, cowok pirng yang imut tapi polos, yang menghadapi dilema dalam memilih cinta sejatinya – antara cinta pertamanya yang sudah 3 tahun dinantinya, atau cewek ceria yang selalu mengajaknya bertengkar, tetapi sangat cocok dengannya. Di akhir, masing-masing dari mereka menemukan cinta sejati mereka masing-masing.

Novel ini benar-benar top. Satu paket lengkap. Novel ini sanggup menumbuhkan bunga-bunga di hati pembaca, tetapi kemudian menyayat-nyayat hati pembaca, sekaligus menggelitiki saraf tawa pembaca. Tokoh-tokoh yang diperkenalkan ada sangat banyak, tapi penulis sanggup mendalaminya satu per satu. Setiap tokoh memiliki karakter dan latar belakang masing-masing, yang sangat unik dan nyata. Selain itu karakteristik mereka yang berbeda-beda dan menonjol membuat mereka tidak tertukar-tukar dan tidak sulit untuk menghafal mereka. Chemistry antar-tokoh juga dibangun dengan brilian, terlihat dari setiap dialognya. Itu semua membuat novel ini terasa hidup, membuat para pembaca mengenal akrab dengan para tokoh dan seakan memasuki alur ceritanya. Novel ini lebih fokus pada hubungan antar-tokoh, penokohan, dan alur, sehingga tidak begitu memperhatikan setting. Bisa dibilang, settingnya itu-itu aja, tapi secara ajaib, penulis sanggup membuat pembaca tidak merasa bosan, bahkan tidak sadar bahwa setting yang digunakan kadang berulang-ulang.

Bahasa yang digunakan sederhana tetapi komunikatif, sehingga mudah diserap dan terasa lebih akrab, serta sangat cocok dengan tokohnya yang masih remaja. Alurnya menarik, naik-turun, membuat para pembaca terhanyut dalam cerita, dan seakan sedang naik roller coaster yang seru. Karena ada banyak tokoh, kisah tiap tokohnya diselang-seling, diceritakan bergantian. Itulah yang membuat pembaca tidak merasa bosan, alurnya yang kompleks.

Novel ini sudah dicetak ulang untuk kedua kalinya, menandakan laris manisnya penjualan novel ini. Hal yang dapat dimaklumi karena teenlit model seperti ini bagaikan angin sejuk bagi para remaja, bahkan yang bukan remaja juga. Kebanyakan teenlit tidak memiliki alur cerita yang semenarik dan sekreatif ini. Walaupun ini adalah novel sekuel, tetapi tidak mengharuskan pembaca untuk membaca seri sebelumnya. Novel ini bisa berdiri sendiri, karena novel ini bukan kelanjutan dari seri sebelumnya, tetapi hanya berhubungan. Ada beberapa bagian yang dijelaskan ulang secara singkat oleh penulis, jadi pembaca yang belum membaca seri sebelumnya tidak akan kebingungan. Tapi tentu saja lebih seru jika Anda membaca seri yang sebelumnya terlebih dahulu, dan  setelah membaca yang ini, Anda melanjutkan ke seri selanjutnya yang berjudul Best Friends Forever.

Saya sangat merekomendasikan novel ini kepada semua orang, bukan hanya para remaja, karena novel ini bukan sembarang teenlit. Mutu ceritanya sangat tinggi, tidak kalah dengan novel bergenre lainnya. Novel ini sanggup menghilangkan jenuh dan mumet di kepala. Saya jamin tidak akan menyesal.

I For You by Orizuka

Posted: December 28, 2012 in Book Reviews
Tags: , ,

[COPYRIGHTED!]

Judul Buku        ​: I For You

Pengarang         ​: Orizuka

Penerbit​            : Gagas Media

Jumlah Halaman  ​: 380 halaman

I FOR YOU

(Semua gambar cover dan identitas buku dalam review-review novelku bersumber dari Goodreads)

Okke Rizka Septania, atau sering disebut Orizuka, adalah pengarang novel remaja yang telah melahirkan 18 karya. Karya keduanya yaitu Summer Breeze, telah diangkat ke layar lebar pada tahun 2008. Orizuka lahir di Palembang, pada tanggal 14 Sepetember 1986.  Penulis ini sangat menggemari genre thriller dan juga mempelajari bahasa asing. Selain menulis, di waktu luang, ia gemar membaca, menonton, mendengarkan music, serta fangirling bersama para Kpoppers. (Sumber:orizuka.com/about/)

Salah satu novelnya yang mengagumkan berjudul I For You, bercerita tentang seorang gadis blasteran yang sangat cantik bernama Cessa. Ia adalah anak dari seorang pengusaha yang kaya raya. Lalu ada seorang pemuda bernama Benji, yang juga blasteran yang sangat tampan dan anak seorang pengusaha kaya juga. Mereka berdua bagaikan putri dan pengeran yang diciptakan untuk satu sama lain. Mereka sudah bersama sejak lahir, dan selalu bersama hingga mereka besar. Mereka tak terpisahkan, seperti ada sebuah gelembung yang melingkupi keduanya dan memisahkan mereka dari dunia luar.

​Namun, suatu saat, mereka memutuskan untuk menerbangkan gelembung itu ke dunia luar, dan mencoba untuk keluar dari lingkupan gelembung itu. Mereka menemukan kebahagiaan mereka masing-masing, dan ada dua orang yang sangat spesial di hati mereka, yang berhasil memasuki gelembung milik mereka berdua itu.

Walaupun sudah menemukan cinta mereka masing-masing, Cessa dan Benji tetap tak terpisahkan. Mereka punya hubungan yang kuat dan kompleks, yang tak dapat dimengerti oleh orang lain, bahkan tambatan hati mereka. Pepatah mengatakan cinta butuh pengorbanan. Hal itu benar. Mereka pun terpaksa merelakan cinta mereka dan masuk kembali ke dalam gelembung yang mereka bentuk, yang sekarang hanya berisikan mereka berdua saja. Tetapi, cinta memiliki kekuatannya sendiri, yang sanggup menyatukan kedua orang yang telah dikaitkan oleh benang merah. Di akhir cerita, Cessa dan Benji berhasil memperjuangkan cinta mereka dan meraih kebahagian mereka masing-masing.

Novel ini benar-benar bagus. Topik yang dipilih sangat menarik, dimana percintaan, persahabatan, dan kekeluargaan dipadukan menjadi sebuah kisah yang luar biasa mengharukan. Alurnya sangat menarik, sanggup menghanyutkan para pembaca ke dunia yang berbeda. Diksi yang digunakan penulis pun begitu menyentuh hati. Ketebalan buku ini tidak menghalangi pembaca untuk terus membacanya hingga akhir. Justru ceritanya yang panjang membuat buku ini asyik untuk dibaca.

Pendeskripsian tempat dipaparkan dengan sangat baik, membuat pembaca merasa seperti sedang berada di tempat yang dideskripsikan. Cara penulis menggambarkan suasana juga membuat pembaca melihat apa yang dilihat sang tokoh, mendengar apa yang didengar, mencium apa yang dicium, dan merasakan apa yang dirasakan. Tokoh-tokohnya terasa sangat nyata. Penyajian ceritanya mengalir dengan lancar,  menenggelamkan para pembaca, membawa mereka sesuai arusnya. Novel ini sanggup mengontrol emosi dalam diri kita. Ceritanya dapat membuat kita tertawa, menangis, tersenyum, berbunga-bunga, marah, dan sebagainya.

Selain itu, setiap bab baru diawali oleh quote indah yang menggambarkan inti dari bab itu. Quote itu membuat pembaca semakin semangat dan penasaran untuk membaca keseluruhan bab maupun keseluruhan novel. Design layout novel ini menarik. Sampul dan judulnya juga sangat menggugah hati, benar-benar menggambarkan isi bukunya.

Namun, bahan yang digunakan untuk sampul kurang baik, sehingga mudah lecek dan koyak, maka dari itu sebaiknya novel ini disampul. Selain itu, karena novel ini cukup tebal dan tidak disatukan dengan baik, akibatnya beberapa halaman dapat lepas dari buku dan tercecer.
Above it all, saya benar-benar menyukai novel ini. Saya sangat merekomendasikan buku ini kepada siapa saja, terutama pada para gadis dan para wanita, karena genre ceritanya yang romantis lebih cocok untuk kaum wanita. Namun, bukan berarti para pria tidak diperbolehkan membaca novel ini. Novel ini ditujukan kepada seluruh kalangan masyarakat. Novel ini sangat baik untuk dijadikan sarana hiburan dan penghilang suntuk.